Mengumpulkan Bekal Untuk Perjalanan Akhir (Catatanku Di Usia Senja)

216
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Apabila kamu berada di waktu petang maka janganlah kamu menunggu pagi untuk beramal, dan bila kamu berada di waktu pagi janganlah kamu menunggu petang untuk beramal, beramallah kamu di masa sehatmu sebelum datang sakit dan gunakan hidupmu (untuk beramal)

Masa kecil … oh begitu indah dan bahagianya hidupku. Tidak ribet, tidak mumet, tidak punya beban. Hanya disuruh rajin belajar, sekolah yang bener agar dapat meraih segudang impian.

Namun sejalan dengan perjalanan hidup, bertambah umur, ternyata hidup ini penuh tantangan dan sangat komplek. Masalahpun hadir silih berganti bahkan tidak jarang datangnya bersamaan.

Banyak kata bijak menyarankan untuk sabar “hadapi semua dengan sabar, saat indah tiba pada waktu yang tepat”. Kuikuti saran itu dengan harapan masalah akan menguap begitu saja. Nyatanya, tidaklah semudah membalik telapak tangan dan betul-betul membutuhkan kesabaran ekstra.

Kesabaran bukan berarti diam tak bergerak saat ditimpa musibah. Tapi sabar adalah aktif bergerak mencari kebaikan saat musibah datang. 

Dengan melihat masalah yang dialami orang lain, merasakan kesulitan saudara-saudara yang kurang beruntung adalah suatu pelajaran yang sangat berharga akan makna hidup.

Berpikir positif bahwa saat tertimpa musibah, hal yang harus kuyakini adalah Allah mempercayakan masalah ini kepadaku. Aku pasti bisa melaluinya jika ada niatan kuat untuk menyelesaikannya. 

Dibalik segala ujian dan cobaan pasti terselip hikmah didalamnya. Hikmah yang menjadi pelajaran berharga bagi perjalanan hidup.

Sejak kuputuskan pensiun, salah satu impianku adalah aktif dalam kegiatan sosial yang tersisihkan saat masih bekerja.

Dengan bergabung dalam Yayasan Sosial yang dibentuk di Sydney atau organisasi seperti IWINA, Uswantun Hasanah, juga yayasan sosial negara lain, sehingga dapat ikut berbagi walau dalam kapasitas kecil, sebatas kemampuanku.

Akhir-akhir ini banyak sekali berita duka saudara, sahabat atau yang sedang sakit yang kuterima. Kusempatkan waktu, mengunjungi, memberikan dukungan dan semangat kepada sahabat yang menjalani perawatan baik di rumah atau di rumah sakit.

Mengantar kepergian saudara, kerabat yang meninggalkan kita tanpa ucapan selamat tinggal, tidak mengenal tempat dan waktu menuju tujuan akhir perjalanan. 

Berat rasanya menahan runtuhnya air mata, menyembunyikan rasa sedih.

Menyaksikan semua ini membuka mata hatiku akan kenyataan hidup yang pada akhirnya menuju tempat yang sama, tidak memandang jabatan, kedudukan dan harta. Diriku kecil sekali, lemah tidak berdaya apabila saat tiba menjemput.

Suara-suara yang terngiang di kepalaku seakan teguran halus, “sudah cukupkah bekalku menuju tujuan akhir, apa amalanku selama ini?

Aku tertunduk malu.  Nikmat yang diberikan sepanjang umurku tidak terhitung banyaknya. Nikmat syukur yang tiada hentinya sampai di usia senja yang merupakan hadiah terindah diberikan Allah.

Masih diberi kesempatan bisa tiap hari bersama suami, anak menantu, cucu. Masih diberi kesempatan mohon ampunanNYA atas semua salah khilaf dan dosa.

Di usia senja ini sudah selayaknya aku bersikap dan bertindak bijaksana. Mencari kegiatan yang bermakna untuk masyarakat. Berbagi pengalaman hidup sehingga dapat menjadi contoh bagi generasi muda.

Disaat berdoa dalam hening malam terbayang wajah-wajah yang sudah tidak berada diantara kita. Kebersamaan dengan mereka hanya tinggal kenangan. Hangatnya air mata, bergetarnya bibir menyebut AsmaMu, menghalau dingin malam mengharap bimbingan dan lindunganNYA. Ya Allah aku berharap agar hidayah dan pertolonganMU menggiring setiap langkahku.

Di sujud malamku aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan sisa umur ini untuk kebaikan, beramal, meraih pahala bekalku pulang menuju perjalanan akhir. Ke Rumah Abadiku dengan mewariskan kenangan indah.

Sayup sayup terdengar suara adzan subuh memanggilku.
Semua untukmu… Ya Allah
Semua karenamu, Berikan kekuatan bagiku
Nafasku bagimu…
Jiwaku untukmu, Ya Allah

“Never underestimate the power of Dua (supplication).”
– “Allah makes the impossible possible.”

 

 

 

 

Oleh Yoen Yahya

Previous article17 Tahun Bethany Sydney: “Stronger Together”
Next articleIndra Herry Rondonuwu Selalu Di Hati – Oleh Julindra