Lebaran Di Negeri Orang

205
Melanie Novia Latief dan keluarga
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail

Pertama kali Lebaran di Australia, dua tahun lalu, saya sedih karena tidak ada ketupat, rendang, dan sajian khas Lebaran Indonesia lainnya. Memang, kita dapat menemukan sajian itu semua di restoran Indonesia. Tapi, tentu saja, rasanya tidak seperti sedang berlebaran, bukan? 

Lebaran tanpa ketupat dkk, terasa ada yang kurang. Unsur budaya dalam berlebaran begitu kuat, terutama jika kita berasal dari negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim.

Coba saya ingat-ingat unsur apa saja paling dominan, mulai dari malam takbiran, di hari Lebaran di Tanah Air. Pertama, gema takbir yang berkumandang sejak shalat maghrib selesai, bunyi petasan yang memecah malam, lalu dimulailah tradisi yang sangat saya nanti-nantikan: antar-mengantar rantang makanan khas Idul Fitri dari dan ke tetangga dan kerabat.

Saya masih ingat sekali, saking kentalnya tradisi antar mengantar makanan, saya tahu sekali ketupat model begini dari rumah nomor sekian, sambal goreng ati yang pedasnya minta ampun dari keluarga A, dan rendang yang enak sekali berasal dari rantang warna perak kiriman si Anu. Lalu, kunjung mengunjungi keesokan harinya usai shalat Idulfitri. Saat para tetangga pulang sholat dari mesjid setempat, kami, para keluarga non-Muslim sudah menanti mereka di luar rumah, menyambut para pemenang bulan Ramadhan tersebut. Kami saling mengatupkan tangan, sambil mengucapkan “Mohon maaf lahir batin”. Oh, indahnya…

Dan, keseruan itu berlangsung nyaris seminggu penuh. Di kampung-kampung, konon bisa lebih dari seminggu.

Tradisi Lebaran adalah berkumpulnya keluarga, makan bersama, ketupat, rendang, sambal goreng ati, sirup Marjan merah dan hijau, nastar, dan baju baru. Semua ini dilatari dengan lagu-lagu Lebaran khas Indonesia. Ah!

Lebaran 2020, seperti dua tahun lalu, belum berubah. Yang membedakannya adalah kali ini dibarengi dengan wabah Covid-19 yang merajalela di seantero dunia. Siapa yang dapat mengira, Lebaran di negeri orang, tahun ini, semakin menjauhkan kita dari “Lebaran ala Indonesia” yang sudah cukup berbeda.

Nah, supaya kita memiliki pandangan lain tentang berlebaran di negeri orang, mari kita baca pengalaman keempat keluarga yang saat ini berdomisili di luar Indonesia, baik yang baru setahun sampai puluhan tahun.

Zulfan Tadjoeddin dan keluarga

Dari Pekerjaan Sampai Pernikahan
Alasan pindah negara, sementara atau tetap, sejatinya memang beragam sekali. Mokhamad Ali Zaenal Abidin dan keluarganya pindah ke Sydney, Australia, 2019 lalu. Ia bekerja sebagai pekerja sosial di salah satu cabang lembaga filantropi terbesar di Indonesia. Tepat setahun ia lalui, dan Lebaran 2020 adalah lebaran pertamanya di Benua Kangguru ini.

Berbeda dengan Zulfan Tadjoeddin. Ia mulai tinggal di Australia sejak pertengahan tahun 2007. Ketika itu Zulfan datang untuk memulai program PhD di Western Sydney University dengan beasiswa dari kampus. Awal 2010, ia mendapat pekerjaan sebagai dosen kontrak fixed-term. Tahun berikutnya, pekerjaannya menjadi permanen (tenure/continuing). Sekarang, Zulfan sudah mencapai jenjang Associate Professor. 

Sedangkan Koen Perry punya jalan cerita yang berbeda. Ia menikah dengan seorang berkebangsaan Amerika Serikat dan pindah ke negeri Paman Sam, tepatnya di Elizabethon, Tennessee.

Bagi Melanie Novia Latief, ia tiba di Australia pada Februari 1987 bersama ibunya dan tiga saudara kandungnya. Ayahnya telah tiba beberapa bulan sebelumnya. Pada awalnya ia agak sulit untuk beradaptasi dengan budaya dan berasal dari latar belakang non-Inggris. Ia kemudian mengikuti kelas ESL khusus. Kedua orang tuanya juga harus bekerja, sehingga meninggalkan kakak perempuannya dan Melanie untuk membantu adik-adik mereka dalam rutinitas sehari-hari (sekolah, pekerjaan rumah, dan kegiatan lainnya di rumah).

Setelah lulus dari sekolah menengah, Melanie menempuh pendidikan tinggi di bidang Travel and Tourism (Diploma) dan juga Business Administration and Financial Skills (Diploma) di TAFE. Setelah lulus, ia memperoleh pekerjaan dan mendapatkan banyak pengalaman dan kualifikasi di sektor: Pariwisata, Percetakan, Manufaktur, Layanan Pelanggan, dan Keselamatan PPE di perusahaan Amerika. Melanie juga menemukan pasangan hidupnya dan menikah pada tahun 1999 dan Tuhan memberkati mereka dengan lima anak yang cantik.

Lebaran Pertama yang Berbeda
Bagi Mokhamad Ali Zaenal Abidin, wabah Covid-19 membuat lebaran pertamanya di Australia terasa sepi. Tidak ada shalat Eid di masjid. Ia mengisi hari lebaran itu dengan silaturahim ke orang-orang terdekat, melakukan panggilan video dengan keluarga di Indonesia, dan mengikuti halal bihalal daring.

Saat Zulfan Tadjoeddin datang pertama kali di Sydney di tahun 2007, harinya pas menjelang Idul Fitri. Jadi, tahun itu ia berlebaran untuk pertama kali di Australia. Dan, sendirian, karena istri dan anak-anak masih berada di Indonesia. Itulah kali pertama Zulfan berlebaran jauh dari keluarga. Beruntung, saat itu, Zulfan masih dapat merasakan hangatnya Hari Raya karena ia merayakannya dengan keluarga angkat yang berasal dari Asia Selatan. Beruntungnya lagi, saya berkenalan dengan satu keluarga Indonesia yang pertama ia kenal di Sydney. Keluarga ini mengajaknya ke Open House Idul Fitri di Wisma Indonesia di Rose Bay. Senang sekali saat itu ia dapat menyantap ketupat, opor ayam, dan sate Padang.

Buat Koen Perry, ia merasa kesepian di Lebaran pertamanya di Amerika Serikat. Saat itu ia belum punya teman, belum mengenal siapa-siapa. Hari itu, ia hanya ke Islamic Centre terdekat, waktu itu ia masih tinggal di Asheville, North Carolina.

Untuk Melanie, pada awalnya itu adalah penyesuaian karena, seperti yang dia ingat, merayakan Idul Fitri adalah acara tahunan (yang juga merupakan hari libur di Indonesia). Sementara, di sini, jika hari itu jatuh pada hari kerja, ia harus meminta cuti dengan pekerjaannya atau minta ijin absen saat ia masih sekolah. Juga sedikit berbeda merayakan Idul Fitri di Australia, karena mereka tidak memiliki kemudahan memiliki pembantu atau sopir untuk mengantar mereka berkeliling seperti di Indonesia. Melanie dan kakak perempuannya harus membantu sang ibu dalam persiapan merayakan hari besar Idul Fitri. Mereka akan membuat kue-kue, serta menyiapkan hidangan utama, seperti sate padang, gulai kapau (lontong sayur), rendang, dendeng, dll.

Yang Paling Dirindukan Saat Lebaran
Mokhamad Ali, Zulfan Tadjoedin, Koen Perry, dan Melanie Latief memiliki kesamaan yang hampir sama dalam hal yang paling dikangeni saat Hari Raya Idul Fitri, yaitu berkumpul dengan keluarga besar. Mokhamad Ali paling merindukan suasana mudik dan berkumpul dengan keluarga besarnya.

Sedangkan Zulfan lebih logis dan detail menyatakan jawabannya. Menurutnya, secara ritual keagamaan, Lebaran di mana pun sebenarnya sama saja, yaitu merayakan berakhirnya Ramadan. Tetapi, Lebaran di Tanah Air memiliki dimensi sosio-kultural unik yang berbeda dengan negara-negara lain. Tentu, Zulfan rindu dengan lantunan takbir, silaturahmi keluarga, saling mengunjungi, dan semua hiruk-pikuk lebaran termasuk mudik ke kampungnya di kaki Gunung Singgalang.

Bagi Koen Perry, tidak ada yang dapat menggantikan suasana malam takbiran dan shalat Eid bersama keluarga dan tetangga terdekat. Juga, suasana open house rumah yang selalu ramai dipenuhi tamu. Tak lupa juga menyantap masakan dan kue-kue Lebaran bersama.

Dalam kasus Melanie, di Indonesia, perayaan Idul Fitri adalah hari libur umum di mana ia benar-benar bisa merasakan suasananya di sana. Ia memiliki keluarga besar dari kedua orang tuanya, dan Idul Fitri adalah waktu khusus untuk orang-orang yang dicintai dan keluarga.

Mokhamad Ali Zaenal Abidin (kiri) dan Koen Perry (kanan)

Lebaran di Indonesia Lagi?
Meski baru setahun di Australia, Mokhamad Ali yang tinggal di Bankstown ini sudah dapat mengira-ngira apa yang akan membuatnya kaget jika suatu saat nanti dapat pulang ke Tanah Air untuk merayakan Idul Fitri. Baginya, pastilah suasana lebaran yang lebih meriah dan ramai.

Berbeda dengan Zulfan, ia mengaku tidak lagi kaget dengan berlebaran di Tanah Air meskipun terhitung baru dua kali berlebaran di Bukittinggi sana sejak tinggal di Australia. Yang agak kaget (terhadap beberapa hal) mungkin anak-anaknya. Namun demikian, mereka sangat menikmati suasana lebaran di kampung dan bermain dengan sepupu-sepupu mereka.

Sedangkan Koen Perry kaget dengan harga baju-baju Lebaran yang mahal sekali. Buat Koen, tentu saja lebih murah beli baju di AS. Tahun 2019, adalah Lebaran terakhirnya bersama almarhum ayah, Koen keluarga beruntung masih sempat dapat merayakannya di Indonesia.

Dan, tentu saja, Melanie merasa beruntung dapat kembali ke Indonesia dan merayakan Idul Fitri bersama keluarganya. Orang tua Melanie membawa mereka sekeluarga ke Sumatra, kota kelahiran orang tuanya. Merayakan Idul Fitri disana sangatlah istimewa karena mereka dapat menghabiskan waktu dengan kedua neneknya yang masih hidup saat itu. Di Sumatra, shalat Eid diadakan di lapangan sepak bola, di mana mereka bisa berjalan kaki dari rumah sang nenek.

Di Hari H
Nah, lalu, apa saja kegiatan mereka di Hari Raya jika tidak sempat pulang ke Tanah Air, ya?

Mokhamad Ali mengisinya dengan membayar kewajiban berzakat, takbiran di rumah, menjalankan shalat Eid, dan silaturahim ke orang-orang terdekat.

Pak dosen Zulfan dan keluarganya tentu sudah menyiapkan hidangan istimewa lebaran ala Indonesia di rumah mereka yang berlokasi di Mount Annan. Biasanya, di hari itu mereka mengikuti shalat Ied dengan komunitas Indonesia. Namun, karena pandemi, tahun ini mereka sekeluarga menjalankan shalat Ied di rumah dengan mengundang dua keluarga lain. Temannya menjadi Khatib dan Zulfan, yang mengajar di Western Sydney University jadi Imam. Untuk merayakan hari Lebaran, Zulfan mengambil cuti, sehingga ia dan keluarga biasanya dapat mengunjungi 2-3 keluarga dan menerima tamu 2-3 keluarga. Ternyata, jadwal Zulfan di hari lebaran pun sudah sangat padat.

Sedangkan Koen Perry yang sudah bermukim di AS selama 14 tahun ini menceritakan kebiasaannya di Hari Raya. Biasanya, ia membuat makanan khas Lebaran dan kue-kuenya di malam takbiran sambil mendengarkan takbir di youtube dari laptop-nya yang sengaja dibawa ke dapur. Paginya, ia membawa dua baki untuk breakfast potluck ke Islamic Centre; satu untuk kaum laki-laki dan satunya lagi untuk perempuan. Ia lalu sarapan di masjid, dan pulang kembali untuk berlebaran dengan keluarga kecilnya. Siangnya, Koen biasanya mengundang teman-temannya untuk datang ke rumah dan mencicipi sajian yang telah ia siapkan, seperti rendang, opor, lontong sayur, pecel, rempeyek, dan tak ketinggalan kue-nya, seperti nastar dan kastangel yang selalu setia dihadirkan.

Merayakan Idul Fitri di Australia selalu menjadi momen istimewa dalam keluarga Melanie, dan juga suaminya. Mereka menghadiri shalat Taraweh di masjid. Itu adalah momen refleksi, kebersamaan, kekeluargaan, pengampunan, dan waktu seperti itu membawa mereka lebih dekat kepada Sang Pencipta. Sebagai keluarga, mereka akan bangun di pagi hari (sahur), dan kemudian berbuka puasa bersama (iftar). Beberapa hari sebelum Idul Fitri, Melanie akan membantu ibunya memanggang kue dan menyiapkan hidangan utama lebaran. Ketika mereka masih anak-anak, sebagai bagian dari hadiah puasa, orang tuanya akan memberikan uang dan pakaian baru untuk dikenakan pada hari raya, kenang Melanie.

Berlebaran di negeri orang sesungguhnya tidaklah terlalu nelangsa. Jika benar-benar sendirian, komunitas sebangsa yang kita ikuti dapat menjadi keluarga yang hangat. Lebaran sejatinya tidak hanya saling memaafkan, juga saling mengasihi dan berbagi. Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. [IM]

 

 

 

Please follow and like us:
error