Jangan Main-Main dengan Jam Tidur

937
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail

Hampir sepertiga hidup manusia dihabiskan untuk tidur. Hal itu dianggap alamiah karena tubuh memang membutuhkan waktu untuk berisitirahat setelah lelah bekerja, sekolah dan aktivitas lainnya. Seiring dengan berjalan waktu, ilmu pengetahuan membuktian bahwa waktu tidur sangat berpengaruh pada kualitas metabolisme tubuh seseorang. Nah,
kira-kira sudah tepatkah pola tidur kita saat ini?

Akhir pekan dan tidur sepanjang hari seolah dua kata yang susah dipisahkan. Pasalnya, pada akhir pekan lah karyawan atau pekerja memiliki waktu luang untuk beristirahat dan bersantai sepanjang hari. Jika pada hari kerja kita diharuskan membagi sepertiga hari dengan bekerja di kantor, maka porsi itu hilang pada akhir pekan. Maka tak heran jika aktivitas tidur akan berlangsung sejak pagi hari – bangun telat – kemudian berlanjut dengan tidur selepas makan siang, dan berlanjut hingga malam hari lagi.

Sebagian orang berpendapat kalau memperbanyak tidur di akhir pekan adalah proses balas dendam atau – mulianya, disebut juga – “recharge” tubuh setelah lima hari bekerja. Nah, sayangnya pendapat itu justru berbeda dengan temuan hasil analisis yang ditulis pada Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism. Mereka menyebutkan jika tidur seharian di akhir pekan justru berdampak buruk bagi kesehatan. Karena, pada dasarnya tidur yang lebih lama dari biasanya itu akan merusak pola tidur seseorang. Lebih jauh lagi, merusak pola tidur itu bisa meningkatkan timbulnya penyakit metabolisme seperti jantung dan diabetes.

Patricia Wong, peneliti dari University of Pittsburgh, menjelaskan jika tidur larut di akhir pekan dan bangun telat di pagi hari bisa sangat rentan terkena serangan jantung, diabetes dan penyakit berat lainnya. Semua perubahan metabolisme yang terjadi bisa memicu munculnya gejala obesitas, diabetes dan penyakit kardiovaskular.

Mungkin banyak yang tidak peduli pada pola tidur karena efek yang dirasakan tidak langsung. Hal itu karena dampak yang dirasakan dalam jangka panjang. Hal itu juga jadi perhatian Patricia Wong bahwa ada kesesuaian antara jam tidur dan jam kerja dengan jam tubuh manusia. Hal itu akan menimbulkan sebuah gejala ketika ada yang tidak sesuai.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para ilmuwan mempelajari pola kehidupan dari 447 orang dengan usia 30-54 tahun. Persentase 53 persen wanita dan 83 persen berkulit putih. Semua orang itu bekerja minimal 25 jam per pekan. Dari pengamatan, terlihat bahwa nyaris 85 persen orang yang diteliti mempunyai kebiasaan bangun siang pada akhir pekan. Sesuatu yang tidak bisa mereka lakukan saat hari kerja.

Dari penelitian itu, disebutkan juga bahwa orang yang mempunyai jadwal tidur yang kontras pada hari kerja dengan jadwal tidur pada akhir pekan mempunyai kandungan kolesterol yang buruk, insulin yang tinggi, angka BMI yang lebih tinggi, dan lebih resisten terhadap insulin dari pada orang-orang yang mempunyai jadwal tidur yang stabil sepanjang minggu.

Temuan ini tentu saja membuat banyak orang memikirkan kembali tentang pola hidupnya. Pasalnya, banyak studi sebelum ini yang mengungkapkan bahwa jam kerja yang tidak teratur memberi dampak buruk bagi kesehatan. Nyatanya, studi terbaru yang dirilis menyebutkan bahwa bangun tidur lebih siang dengan tujuan memperbanyak waktu istirahat pada akhir pekan juga berakibat buruk bagi kesehatan.

Lantas, bagaimana kah pola tidur yang ideal dan baik bagi tubuh? Sebuah penelitian di Universitas Wincosin, Amerika Serikat, menemukan bahwa durasi tidur seseorang berpengaruh pada Indeks Massa Tubuh. Penelitian ini dilakukan pada 1024 orang berusia 30-60 tahun. Ternyata, kebiasaan tidur kurang dari 7,7 jam berkaitan dengan peningkatan BMI pada anak, remaja, dan orang dewasa. Hal itu berkaitan dengan kadar hormon leptin dan ghrelin berubah drastis. Namun, tidur dengan durasi 8 jam atau lebih pun bisa meningkatkan risiko meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah baik pada wanita dan pria. Bahkan, penggunaan pil tidur yang sering digunakan untuk mengontrol insomnia juga berkaitan dengan peningkatan resiko kematian.

Pada penelitian yang sama di University of Wincosin, ditemukan bahwa angka kematian terendah didapat dari wanita dan pria yang mempunyai durasi tidur 7 jam, atau lebih tepatnya antara 6,5 – 7,4 jam per malam.

Bisa disimpulkan bahwa tidur yang baik dan sehat adalah tidur yang cukup; yaitu sepanjang 7 jam sehari. Bukannya memperbanyak waktu tidur dengan asumsi menyehatkan, atau bahkan mengurangi jam tidur dari waktu normal. Bila mengalami problem dengan waktu tidur, sebaiknya lakukan kegiatan-kegiatan yang sealamiah mungkin. Mulai mencoba dengan mandi air hangat, minum cokelat hangat atau membaca bacaan ringan untuk memberi efek rileks pada otot-otot tubuh sehingga lebih mudah untuk tidur.

Each night, when I go to sleep, I die. And the next morning, when I wake up, I am reborn.” — Mahatma Gandhi

Please follow and like us:
error