Gema Ramadan Di Sydney

119
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail

 

“Wahai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS.Al – Baqarah 183)

Bulan suci Ramadan merupakan bulan yang paling dinanti-nantikan kehadirannya oleh segenap umat Islam di seluruh dunia. Dengan kondisi Covid di beberapa negara yang masih memprihatinkan, merayakan Ramadan terasa sulit dan dijalankan dengan segala keterbatasan tanpa mengurangi makna Ramadan.

Di Australia, kehadiran Ramadan yang dirindukan tahun ini disambut hangat dengan rasa syukur karena kondisi Covid jauh lebih baik, dan dibukanya kembali tempat-tempat Ibadah merupakan nikmat dan hadiah terindah dibanding tahun lalu, dimana masa itu semua kegiatan dilakukan dengan mengunci diri di rumah dan semua kegiatan dilakukan via online.

Tanggal 13 April lalu, umat Islam di Australia mulai menjalankan Ibadah puasa selama 30 hari. Berpuasa dari pagi (Sahur) sampai Maghrib, tidak saja menahan haus dan lapar, tapi juga menahan nafsu, diuji kesabaran dan disiplin, memperbanyak Ibadah menjaga lisan dan tingkah laku. Menjalankan Ibadah puasa (Shaum) memiliki banyak keutamaan baik untuk diri sendiri maupun untuk habluminanas juga habluminallah.

Bulan Ramadan bulan penuh berkah ini juga merupakan saatnya ber Muhasabah (intropeksi diri) untuk memperbaiki iman, moral dan menjadi umat Nya yang lebih baik lagi.

Bapak Heru Subolo, Konsul Jenderal RI beserta semua jajarannya bekerja keras menyajikan program-program menarik yang ditayangkan melalui zoom. Disamping itu juga mengadakan buka bersama, Taraweh tiap hari Jumat dengan mengundang Ustadz sebagai Imam dan memberikan tausiah agar warga Indonesia di Wilayah New South Wales dapat merasakan kebesaran bulan suci penuh ampunan yang didambakan ini. Tanpa mengabaikan sistim protkes dan yang berminat hadir harus melakukan registrasi via online.

Tidak ketinggalan, organisasi-organisasi Islam Indonesia di NSW juga berlomba mengadakan berbagai kegiatan. Beberapa masjid mengadakan buka bersama “BUK BER” yang dilanjutkan dengan Taraweh. Disamping itu banyak keluarga yang bersedia membuka pintu rumahnya mengundang para sahabat untuk berbuka bersama. Tahun ini selain rasa syukur atas kondisi Covid di Australia yang membaik, juga melepas rindu dalam merajut silaturahmi sambil beribadah.

Mari kita intip beberapa kegiatan masyarakat Indonesia di Sydney.

Beberapa organisasi Islam Indonesia yang terbentuk di Sydney, diantaranya CIDE dan IQRO dengan aktif mem-posting flyer dan susunan program menarik lengkap dengan nama para Ustadz yang disebarluaskan di medsos, sehingga memudahkan  dan memberikan banyak pilihan bagi masyarakat Indonesia dalam mengikuti kajian-kajian selama Ramadan.

Berbagai kegiatan sosial pun banyak digelar. IQRO secara rutin mempunyai program “Feeding Homeless” yang dipusatkan di Martin Place. Sedang organisasi Islam lainnya mengadakan pengumpulan dana-dana menyantuni saudara-saudara yang kurang beruntung di berbagai pelosok Indonesia. Walau program ini juga program rutin tapi di bulan Ramadhan program ini lebih ditingkatkan seperti yang dilakukan Uswatun Hasanah, CIDE, IQRO.

IWINA (Indonesian Women Islamic Network of Australia) pun tampil dengan program-program Kajian menarik disamping program khusus bagi Wanita seperti mengunjungi para Lansia, memantau kesehatan dan mengirim makanan dan memberikan bantuan yang dapat disediakan.

Bulan suci Ramadan kali ini adalah Ramadan kedua yang dijalani dalam masa Pandemi Covid-19. Bagi yang tiap tahun mudik mengunjungi orang tua dan keluarga, terpaksa harus menahan rasa rindu sampai keadaan kembali seperti semula.

Dengan semangat dan keyakinan yang kuat kita telah membuktikan bahwa bulan Agung penuh ampunan yang selalu kita rindukan tidak menyusutkan GEMANYA dan tetap menyapa kita dengan hangatnya.

Semoga tahun depan kita masih diberi kesempatan bertemu Tamu Agung yang kita sambut dengan suasana lebih baik dan tanpa Covid. Insya Allah. [IM]

 

Previous articleIndonesian Street Food and Fashion Festival di Brisbane
Next articleSinta Heru Subolo: Perempuan Di Tengah Keluarga, Teknologi Modern, Dan Keinginan Hati