Hari Bumi – Untuk Kehidupan Anak Cucu Kita Di Masa Depan

31
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail

Menemukan kembali makna kemanusiaan, keserakahan, dan pengendalian diri agar Ibu Bumi kita yang tercinta ini tetap sanggup menjadi sumber kehidupan bagi kita, anak-anaknya.

Sehubungan dengan Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April, Indomedia ngobrol-ngobrol dengan Mahawira Singh Dillon dari Yayasan Indonesia CERAH, sebuah LSM yang bertujuan “mendorong transisi energi menuju energi terbarukan”. Secara formal, Wira, demikian akrabnya, adalah Senior Policy Researcher. Secara teknis, ia bertugas membantu riset dan hubungan dengan aliansi LSM seperti Bersihkan Indonesia. Sebuah tugas yang sangat tepat dengan gelar Master dalam Climate Change Policy yang ia raih dari Australian National University di Canberra.

Sebelum di Yayasan Indonesia CERAH, Wira adalah manajer program di Yayasan Pelangi Indonesia, juga bergerak di bidang kebijakan iklim. Pria kelahiran Jakarta, 35 tahun lalu ini hobi membuat permainan papan. Hobi itulah yang mendorongnya menciptakan permainan papan bernama Emisi, sebuah permainan simulasi untuk membantu pemain memahami perubahan iklim dan perkembangannya.

Semoga hasil obrolan via surat elektronik dengan Wira ini membuka mata fisik dan mata hati akan seriusnya perubahan iklim. Itu yang terjadi pada saya.

1. Anda berada di posisi perspektif ‘pejuang lingkungan’. Bagaimana Anda melihat kondisi Bumi berikut sumber dayanya selama 10 tahun belakangan ini?
Akselerasi eksploitasi demi pertumbuhan kapitalisme, sehingga banyak eksternalitas yang menyebabkan kerusakan sosial dan lingkungan yang semakin parah. Kita perlu menyadari bahwa pertumbuhan tidak otomatis hal yang baik–ada baiknya kita selalu mempertanyakan “mengapa?” untuk memastikan bahwa pertumbuhan yang kita dukung benar-benar untuk kebaikan umat manusia dan bukan hanya untuk kebahagiaan sesaat.

2. Bagaimana proyeksi Anda dalam 10 tahun ke depan?
Mostly masih akan sama, karena sepertinya manusia cenderung mudah lupa tiap sebuah krisis berlalu dan sepertinya planetary boundary limits baru akan mulai mentok pertengahan 2030.

3. Apa yang, kira-kira, masyarakat paling sederhana dapat lakukan untuk berkontribusi dalam pelestarian alam?
Lebih sadar akan apa yang dikonsumsi dalam setiap harinya, usahakan lebih efisien, dan budayakan menghargai pengalaman serta koneksi antar-manusia ketimbang kekayaan material.

4. Dalam konteks pelestarian alam dan segala upayanya, benarkah ada stigma bahwa “orang kecil” tidak dapat diedukasi karena kultur “hidup jorok” yang mengakar? Bagaimana Anda menyikapi stigma ini?
Menurut saya, stigma-stgma seperti ini adalah egoisme kelas yang counter-productive terhadap perubahan sistemik yang berarti. Bila ada orang yang merasa dirinya pejuang lingkungan, sebaiknya berusaha lebih keras untuk pertama mengerti mengapa klasifikasi “orang kecil” itu tidak membantu. 

Pertama-tama, ada konsep bernama The Environmental Kutznetz Curve yang menunjukkan bagaimana orang-orang cenderung baru akan peduli lingkungan setelah mencapai tingkat kesejahteraan tertentu. Teori EKC ini merupakan deskripsi tentang fenomena yang cukup baik, tapi untuk lebih mengerti “mengapa” hal ini terjadi, mungkin perlu mengerti juga bagaimana kebanyakan orang yang disebut “orang kecil” merupakan korban sistem kapitalisme di mana mereka terus dimarjinalisasi. Dengan memahami hal itu, maka kita akan dapat melihat bahwa hal-hal yang tidak perlu kita pikirkan (seperti apakah besok bisa makan lagi, apakah akan ada cukup uang untuk anaknya bersekolah, dsb.) masih merupakan hal-hal yang harus mereka perhatikan terlebih dahulu sebelum mereka bisa memikirkan permasalahan lingkungan. 

Jika kita benar-benar menginginkan perubahan lingkungan yang sistemik, kita perlu mengganti sebuah sistem yang memarjinalisasi dan melemahkan orang-orang di dalamnya serta membantu semua orang agar dapat hidup dengan lebih ramah lingkungan sesuai dengan kapasitas dan kesempatannya masing-masing, ketimbang melalui memaksakan kerangka berpikir kita sendiri.

5. Dalam kaitan dengan pelestarian alam, menurut Anda, apakah perekonomian masyarakat sederhana berhubungan erat dengan sumber daya alam dan pengelolaannya?
Tentunya. Tapi, sebenarnya perekonomian semua orang tentunya terkait dengan daya dukung alam–yang in turn sangat berkorelasi dengan pengelolaannya. Kita yang tinggal di kota-kota sebenarnya jauh lebih “berdosa” karena kita mempunyai pengaruh yang jauh lebih besar terhadap pengelolaan SDA di daerah-daerah sub-urban dan rural karena tiap luasan urban sebenarnya membutuhkan berkali-kali lipat luasan sub-urban dan rural untuk mendukungnya. Konsep ecosystem appropriation of cities cukup banyak dibahas secara akademis dan dengan melihat alur pertukaran uang dan materi maka kita akan dapat dengan mudah melihat bagaimana daerah kota menjajah daerah non-kota. 

6. Mari kita bicara sampah. Di Australia, pemerintah sangat peduli terhadap sampah yang dipilah sesuai dengan bahannya. Bahkan, diterapkan sistem denda jika tidak patuh. Bagaimana Anda melihat hal ini ini di Indonesia?
Beberapa unit kecil (seperti sekolah, universitas, dan perusahaan) di Indonesia berusaha memberlakukan hal ini. Tentunya, sistem ini berguna untuk membantu masyarakat luas lebih sadar mengenai konsumsinya dan pentingnya mengolah sampah dengan sesuai, tapi seringkali para implementer juga salah kaprah di mana mereka tidak melihat integrasi sistemik dengan baik sehingga–seperti yang saya sangka sering terjadi di banyak sistem seperti ini di Indonesia–yang terjadi adalah pemilahan terjadi dengan baik di unit tersebut, tapi, toh, nantinya semuanya dibuang tercampur di TPS (Tempat Pengelolaan Sementara) atau TPA (Tempat Pengelolaan Akhir). 

Menurut saya, sebaiknya tidak perlu ragu-ragu soal chicken-or-egg. Bila mau, ya, lakukan saja karena fungsi pendidikannya juga berguna. Tentunya, bila bisa melakukan integrasi dengan sistem produksi unit ataupun memperbaiki pengelolaan di luar unit, ya, harus juga diusahakan.

7. Melihat Singapura dan Denmark yang memiliki pembakaran sampah bertekanan supertinggi sehingga “tidak ada masalah dengan sampah plastik” dan bahkan dapat menghasilkan listrik, apakah memiliki incinerator secanggih itu menjadi jawaban terhadap masalah sampah plastik?
Menurut saya, tidak, karena, lagi-lagi, seringkali dalam framing seperti ini akan ada eksternalitas yang lupa diperhitungkan. Mungkin “solusi” teknokratik seperti ini bisa dianggap sebagai “selemah-lemahnya iman”, semoga ke depannya kita bisa lebih baik memikirkan dengan lebih baik keseluruhan life cycle produksi dan konsumsi plastik kita agar kita dapat mensintesiskan “jawaban” yang lebih berkelanjutan buat semua orang.

8. Bagaimana Anda melihat kebijakan pemerintah terbaru mengenai daerah konservasi dengan upaya pemerintah yang berupaya menggenjot ekonomi rakyat untuk tumbuh? 
Tentunya saya sangat mempertanyakan konsepnya–apalagi eksekusinya nanti. In theory, sebenarnya, kalau memang ingin menumbuhkan ekonomi selagi memerhatikan konsep konservasi bisa saja dilakukan selama memerhatikan berbagai hal seperti MSY (Maximum Sustainable Yield) dan juga mendorong penghargaan hal-hal yang selama ini kurang dihargai dengan baik, seperti NTFPs (Non-Timber Forest Products) dan ecosystem services (termasuk konsep carbon credits). 

Selanjutnya, perlu diperhatikan bahwa proses pengembangannya tidak hanya melalui proses FPIC (Free, Prior, and Informed Consent) yang baik, tapi juga merupakan prakarsa rakyat setempat atau dipastikan bahwa bentuk unit usaha, cara kerja, dan pembagian penghasilannya semua benar-benar merupakan hasil equal discourse antara pemodal dengan penduduk setempat.

9. Menurut pengalaman Anda, apa upaya tersulit WWF dalam memertahankan konservasi alam/satwa yang pernah ada?
Sepertinya, upaya tersulit WWF saat ini adalah memastikan bahwa pemutusan hubungan politik dengan pemerintah RI tidak menghancurkan usaha yang sudah mereka lakukan selama ini. Saya harap WWF dapat terus berhubungan dengan berbagai mitra lokal mereka saat ini, sehingga dapat terus mendukung upaya konservasi di Indonesia walau tidak dapat bekerjasama secara langsung dengan unit-unit pemerintahan.

10. Wabah virus Covid 19 rupanya memberi dampak baik bagi lingkungan, pencemaran udara jauh berkurang, salah satunya. Menurut Anda, inikah salah satu bentuk “karma” Bumi terhadap manusia? 
Saya mengerti mengapa banyak muncul narasi seperti demikian. Dan, tentunya, bisa dibilang begitu, tapi saya rasa itu semua tergantung definisi “karma” yang mau kita gunakan. Sejujurnya, saya sendiri kurang menyukai narasi itu karena masih sangat anthropo-sentris – seakan-akan manusia segitu “penting”nya hingga semesta segitu niatnya susah payah membalas manusia.

Menurut saya, kebetulan saja manusia sendiri yang melalui tindak tanduknya mencelakakan dirinya sendiri, bahwa dunia jadi “semakin baik”, juga penilaiannya mengasumsikan dan mengimplikasikan bahwa dunia–ketika berkurang polusi (yang disebabkan manusia)–menjadi “semakin baik” untuk manusianya sendiri juga, kan?

Dunia sudah jauh lebih tua dari manusia, dia juga kemungkinan besar akan ada jauh sesudah manusia terakhir punah. Segala kehidupan lain yang muncul hanya berusaha bertahan hidup–termasuk si virus covid-19 ini–kebetulan aja cara dia beranak pinak mencelakakan manusia. Padahal, kemungkinan besar, awalnya dia berevolusi juga bukan untuk menyerang manusia – cuma untuk mencari inang beberapa jenis sel aja yang cocok untuk jadi pabrik anakannya. Bahwa manusia mengembangbiakkan sel tersebut untuk fungsi pernafasannya, kebetulan evolusi saja.

Semoga aja, sih, ke depannya manusia jadi lebih bijak, biar kita nggak kayak sel kanker tindak tanduknya–menggilas segala sesuatu hanya untuk replikasi diri sendiri tapi malah jadi mati sendiri ketika mentok karena sumber daya habis.

Mohon maaf jadi ke mana-mana, tapi, intinya, saya rasa kalau mau mikir begitu silahkan saja. Tapi, kalau mau memerjuangkan lingkungan, saya rasa ada banyak pembahasaan narasi lainnya yang lebih simpatetik sehingga akan dapat meyakinkan lebih banyak orang untuk ikut peduli lingkungan (karena beberapa orang mungkin akan merasa bahwa narasi karma ini memosisikan lingkungan lebih penting dari manusia sehingga mereka mungkin malah antipati dengan gerakan lingkungan).

11. Tiga tip praktis dari Anda untuk mengupayakan Bumi yang berkesinambungan dan terbarukan.
Sadari tingkat konsumsi Anda, kurangi konsumsi material yang berlebihan, perkuat koneksi dan interaksi berarti dengan sesama manusia yang efisien materi dan energi (contoh: jalan ke taman bersama, olahraga bersama, bermain permainan papan bersama). [IM]

Please follow and like us:
error