Dokter IGD: Penjaga Tanpa Pelindung

93
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail

Dr. Josephine Talitha Getruide Yvette Laksono, S. Ked. 

Sejatinya, para dokter IGD (Instalasi Gawat Darurat) adalah garda depan pertahanan terhadap wabah. Dialah juga barisan paling rentan jika sebuah wabah mengancam. Tapi, apa daya, umumnya mereka melakukan perlawanan tanpa perlindungan. Dr. Josie, salah seorang dari mereka, menceritakan pengalamannya.

Sejak lulus sekolah kedokteran, Josephine – Josie, panggilannya, merasa belum siap jika harus melaksanakan program dokter magang 12 bulan lamanya di daerah yang ditugaskan. Sebelum diteguhkan, gadis ini melakukan kerja lapangan di beberapa rumah sakit daerah. Dan, ketika program itu datang datang, gadis 26 tahun itu tengah berduka. Ayahnya baru berpulang untuk selamanya. Ia belum siap meninggalkan keluarga tercinta. Duabelas bulan memang bukan waktu yang lama, tapi segala sesuatunya dapat terjadi. Wabah Covid-19, salah satunya.

Kalimantan, Here I Come
“Aku awalnya ingin ke NTT atau Bali karena teman-temanku ke sana,” cerita Josie dengan suara lembutnya. Kenyataannya, ia ditempatkan di sebuah rumah sakit di sebuah kota kecil di Kalimantan Barat. Ia mulai bertugas di sana per Mei 2019. Bulan-bulan pertamanya ia lalui dengan sangat berat karena baru kali inilah Josie menginjakkan kaki di pulau Kalimantan.

Adaptasinya dengan budaya dan sosial setempat berjalan lambat. “Sampai sekarang pun aku masih sulit beradaptasi. Tapi, aku lebih kuat sekarang, karena tahu bahwa (magang) ini pasti selesai,” demikian ungkap Josie di bulan Desember lalu. Suaranya terdengar lebih optimis.

Walaupun kota yang ia tinggali termasuk salah satu kota besar di Kalimantan Barat dengan tingkat perekonomian yang cukup baik, kota ini sepertinya memang tidak diperuntukkan bagi Josie. Ia tak sabar untuk menyelesaikan program dan segera kembali ke Jakarta, dan melamar kerja di sebuah rumah sakit yang tak jauh dari rumahnya.

Bertempur Tanpa APD
Ketika kasus Covid-19 pertama kali muncul Jakarta pada 2 Maret lalu, kita tahu tahu ceritanya sebulan kemudian. Angka penularan COVID-19 di Indonesia bertambah secara eksponensial – mengikuti deret ukur yang jumlahnya berangsur membesar dan kemudian tak terkendali – jika tidak ada upaya segera mengurangi laju penyebaran. Caranya tentu dengan menghilangkan faktor-faktor penting yang dapat memperluas wabah penyakit ini.

Dan, kenyataannya, menghilangkan faktor-faktor penyebaran virus corona tidak semudah membalik telapak tangan. Kasus penderita terinfeksi Covid-19 merebak bak jamur di musim hujan di negeri berpenduduk 277 juta jiwa ini. Kota di mana Josie magang pun tak luput dari ancaman wabah. Tugasnya sebagai dokter IGD membuatnya langsung menangani pasien.

Setelah kasus pertama muncul di kota itu, ia mulai was-was. Bukan karena risiko profesinya yang ia sangat sadari, tapi tambahan APD (Alat Pelindung Diri) dan alat rapid test belum tiba. Wabah juga masih dalam tahap awal. Dokter-dokter IGD seperti dirinya dan juga perawat seperti “pasang badan” melawan musuh yang benar-benar tak terlihat dan belum diketahui. Josie juga tak mencurigai pasien-pasien yang datang tanpa gejala. Salah satunya yang ia tangani tanpa APD (Alat Pelindung Diri) standar penanganan virus corona, yang kemudian diketahui sebagai PDP (pasien dalam pengawasan). Josie nyaris tak percaya! Sampai saat ini, hasil swab pasien itu belum keluar.

“Kami memang punya APD, tapi sangat terbatas. APD diproritaskan bagi dokter yang langsung menangani pasien positif corona,” tuturnya dengan nada dalam. Ia jelas terdengar prihatin. Lalu, mengapa begitu lama diagnosanya datang? “Semuanya hasil swab diproses di Jakarta. Hasilnya baru datang satu-dua mingggu kemudian,” lanjut gadis yang pernah berlatih balet bertahun-tahun itu.

Pasien positif Covid-19 di kotanya kini bertambah satu lagi. Jumlah itu dikhawatirkan bertambah karena pemudik dari Jakarta tak terbendung. Berperisai alat pelindung yang ada dan Mazmur 91, Josie tidak terkesan optimis, tapi dia memutuskan untuk berjuang semampunya.

Serba Salah
Masa PTT Josie akan berakhir Mei 2020. Tidak ada sebulan lagi. Tapi, wabah ini membuatnya patah hati. Ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi. Menimbang wabah yang masih terjadi, masa PTT-nya mungkin diperpanjang. Kalau pun tidak, Josie khawatir kondisi dirinya saat ini.

“Aku nggak tahu apakah sudah tertular atau belum. Kami, tenaga medis di sini, belum diperiksa. Aku khawatir, kalau belum diperiksa dan pulang, bisa jadi “carrier”,” suaranya kembali tersendat, mengingat orang-orang yang dekat di hati yang tengah menantinya.

Sampai saat ini, Josie belum menemukan titik terang akan keputusannya. Tapi, apa pun itu, kita semua tahu dan sangat menghargai bahwa begitu banyak josie-josie lainnya yang telah membaktikan hidup mereka guna kepentingan perikemanusiaan, butir pertama dari lafal Sumpah Dokter Indonesia (Kode Etik Kedokteran Indonesia 2012, Penjelasan Pasal 1, halaman 7). Kami bersamamu dan mendoakan kesehatanmu, dr. Josie. [IM]

Please follow and like us:
error