Cipto dan 8Pilar: Menjaga Kelestarian Alam Sambil Menebar Berkat

263
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Sejak dulu, properti memang acap digadang-gadang sebagai investasi paling menjanjikan. Karenanya, bisnis properti pun jadi salah satu bidang bisnis yang paling eksis dipilih, salah satunya oleh Cipto. Pilihan bisnis ini tak lepas dari latar belakang keluarga Cipto yang bekerja di bidang kontraktor dan developer.

Terlahir di Medan, namun ia pindah ke Jakarta sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Cipto tercatat lulus dari SMP Tarsisius dan STM Penabur Jakarta. 

Setelahnya, Cipto melanjutkan pendidikan di Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Atmajaya Yogyakarta. Kala itu, Cipto banyak terlibat aktif di kegiatan kampus. Mulai dari organisasi formal, olahraga, hingga kelompok pencinta alam semuanya ‘diborong’. Kecintaannya pada alam bahkan masih terus berjalan, Cipto bercerita dirinya masih hobi mendaki gunung hingga kini. 

Prinsip-Prinsip 8Pilar

“8Pilar dibentuk karena saya ingin mengajak banyak orang untuk dapat bersama-sama dalam menjalankan dan atau menikmati karya suatu properti yang bisa menjadi berkat. Bagi kita sendiri, bagi orang lain, dan bagi lingkungan hidup,” ujar Cipto. 

Cipto menjelaskan visi dan misi 8Pilar, yakni menjadi suatu perusahaan yang dapat dipercaya dalam pengembangan suatu properti. Selain itu, juga memaksimalkan nilai dari properti tersebut dan tetap menjaga kelestarian alam. Menurut Cipto, visi dan misi perusahaan itu senada dengan nilai pribadi yang dia emban. Nilai tersebut ialah menjadi pribadi yang dapat bertanggung jawab dan memberi nilai lebih kepada lingkungan sekitar atau orang lain, serta menjaga kelestarian alam. 

8Pilar menanamkan sikap tanggung jawab, disiplin, kreatif dan kekeluargaan sebagai budaya perusahaannya. Hal itu dilakukan dengan harapan agar seluruh tim yang ada di dalam 8Pilar bekerja maksimal dan penuh kehangatan sebagai satu tim yang solid! 

Cipto sadar bahwa bisnis properti itu banyak digandrungi pebisnis lainnya. Karenanya, Ia pun mempunyai jurus ataupun kiat-kiat untuk membuat bisnisnya mencolok dan berbeda ketimbang kompetitor. Ia mengungkapkan bahwa 8Pilar selalu mempunyai konsep-konsep dasar untuk setiap proyek-proyek yang akan dikembangkan. 

“Di mana konsep-konsep dasar bukan hanya konsep komersil tapi juga konsep kebersamaan dan kekeluargaan, konsep kelestarian lingkungan hidup, dan konsep yang menunjang untuk setiap daerah yang akan dibangun oleh 8Pilar,” jelas Cipto. 

Dalam budaya kerja 8Pilar, tanggung jawab, disiplin, kreativitas dan kekeluargaan yang ditanamkan. Dengan harapan seluruh tim yang ada di dalam 8Pilar, dari jajaran atas sampai bawah, dapat membuat setiap karyawan di 8Pilar bekerja maksimal dan penuh kehangatan sebagai satu tim yang solid.

Proyek-Proyek 8Pilar 

Menurut Cipto, 8Pilar masih termasuk perusahaan properti baru. Kendati demikian, kata Cipto, 8Pilar telah berani membuat konsep-konsep kawasan hotel yang berbeda dengan yang lain. Ke depannya, Cipto berharap 8Pilar berkembang sesuai dasar yang ada, yaitu harus mempunyai konsep-konsep pembangunan yang kuat agar dapat berkembang bersama, baik untuk karyawan maupun konsunen 8Pilar. 

Cipto mengaku pihaknya selalu belajar dan mengikuti perkembangan konsep-konsep properti, perhotelan, wisata, bahan bangunan, dan lainnya. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan setiap hal yang diterapkan dalam proyek-proyek 8Pilar adalah untuk kenyamanan. 

8Pilar sendiri tidak menetapkan satu standar dalam berkolaborasi atau bermitra dalam berbisnis. Namun, hal yang menjadi acuan 8Pilar adalah pihak yang bertanggung jawab, disiplin dan memprioritaskan hasil yang baik. 

Terdapat sejumlah proyek yang kini tengah dikerjakan 8Pilar, sekaligus ada juga proyek yang akan dikerjakan dalam waktu mendatang. “Proyek yang sedang berjalan adalah kawasan hotel di Ciater, Subang, Jawa Barat. Rencana berikutnya adalah kawasan hotel di DIY, Gunung Kidul yang lahannya kini sudah dimiliki dan sedang dalam tahap pembuatan konsep dasar kawasan,” ungkap Cipto. 

Motivasi Ikut IBC

Cipto bercerita, dirinya baru saja mengetahui tentang IBC dari Thomas, founder Antzman, beberapa bulan terakhir ini. Akhirnya, Cipto memutuskan untuk bergabung atas dasar motivasi ingin memperluas jaringan relasi. 

“Menjalin dan atau menambah tali pertemanan, bisa sebagai sarana untuk mengikuti perkembangan-perkembangan dunia usaha dari member-member yang ada di dalam IBC. Lalu, mencari kolaborasi dalam pekerjaan, dan menambah wawasan dari berbagai bidang usaha yang ada dalam IBC,” terang Cipto. [IM]

Penulis: Sari Puspita Dewi

Previous articleStephanie Judith Sutiono: Berpuas-Puas Menikmati Sydney
Next articleKota-Kota Terkaya Di Dunia Pada Tahun 2024