30 Hari Bersama Ramadhan

77
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail

Tubuh ini masih berselubung mukena putih
Di hamparan sajadah, bibir basah melafadzkan ayat suci
Mata tertunduk, hati pasrah hanya berkeluh kesah kepada-MU
Dalam sunyi, hanya helaan nafas memecah malam syahdu.
Gema takbir sayup terdengar bersahutan di semua penjuru
Tiga puluh hari bersama Ramadhan yang akan segera berlalu
Denting jam dinding mengiringi butir bening di pipiku
Gema takbir menyeru nama ILLAHI
Menyongsong hari raya Idul Fitri
Hari kemenangan bagi semua umat yang diuji
Dan bermuhasabah diri.
Disela alunan takbir, bergetar ungkapan bisikan lirih
Atas semua dosa dan khilaf selama ini
Serasa Kau belai dengan lembut tanpa kata
Bersimpuhlah dan mintalah ampunan-KU
Berkaca mata ini, sungguh malu
Ya Allah jadikanlah aku hamba-MU
yang selalu bersyukur atas nikmat dan karunia-Mu
Tiga puluh hari bersama Ramadhan
Fitrikan diri ini dalam pelukan hangat-MU
Bukakan pintu maaf-MU, maafkan aku, maafkan hambaMU

Puisi oleh Yoen Yahya


  Pengumuman the Grand Mufti of Australia sekaligus Chairman of the Australian Fatwa Council, Dr. Ibrahim Abu Mohamad, bahwa Idul Fitri ditetapkan pada hari Senin tanggal 2 Mei 2022, mendapat sambutan hangat seluruh umat Islam di Australia. Semuanya bersyukur menyongsong hari kemenangan setelah 30 hari penuh melaksanakan ibadah puasa. Disamping merasa bahagia telah melaksanakan ibadah puasa, banyak pula yang menitikkan air mata, karena merasa berat melepas tamu agung yang telah hadir di tengah umat Islam selama sebulan penuh.

Gema takbir pun berkumandang di semua masjid di Sydney, bahkan sampai turun ke jalan seperti yang terjadi di Lakemba. Rasa haru pun mulai terasa. Malam takbiran merupakan malam merayakan kemenangan oleh seluruh umat Islam. Menang karena puasa berhasil dilakukan di samping ibadah-ibadah lainnya. Suasana gembira di mana-mana menyambut hari Kemenangan. Pesan singkat yang dikirim melalui ponsel dari keluarga dan sahabat tiada hentinya menyambut hari raya Idul Fitri. Disamping bahagia merayakan lebaran dengan keluarga, sebagian juga harus merayakan tanpa keluarga karena tidak dapat pulang ke tanah air.

Idul Fitri 1 Syawal 1443 H. Semua umat Islam berkumpul di tempat-tempat yang sudah disediakan untuk sholat Ied. CIDE mengadakan di Diamond Venues, Punchbowl; FISI mengadakan di Hurstville; Ashabul Kahfi mengadakan di Wiley Park; dan ISOC (the Islamic Sociey) mengadakan di UNSW. Setelah selesai sholat Ied, silaturami berlanjut dengan saling mengunjungi teman dan kerabat.

Mari kita memutar kembali apa yang telah kita kerjakan dalam menjalani ibadah penuh tantangan di bulan Ramadhan. Berbagai pengalaman sebulan penuh dalam menjalankan ibadah untuk menjadi hamba-NYA agar menjadi manusia yang lebih baik. Ramadhan selalu membawa suasana berbeda. Bulan yang dihormati dan ditunggu. Bahkan suasana ini pun dapat dirasakan oleh sahabat-sahabat yang berbeda keyakinan. Keindahan, kebersamaan dan toleransi lebih terasa di bulan Ramadhan.

Sejak memasuki bulan Ramadhan, banyak program yang diadakan oleh berbagai majlis taklim di berbagai suburb untuk memudahkan masyarakat beribadah. Dibukanya tempat-tempat ibadah, selain masjid Al-Hijrah di Tempe, ada CIDE Academy yang tumbuh pesat di Mount Druitt. Disini mayoritas anak-anak muda yang lahir di Australia sangat aktif memperdalam agama. IQRO Foundation berkembang semakin besar. Surau yang dibentuk oleh Masyarakat Minang Sydney tidak ketinggalan pula mengadakan kegiatan-kegiatan bagi yang tinggal di Punchbowl dan sekitarnya. Ashabul Kahfi di Wiley Park dengan Bapak Chalidin Yakub yang tidak asing lagi. FISI yang didirikan oleh Bapak Amin Hadi, AIDA di Punchbowl, Al Ikhlas, Uswatun Hasanah dan Masdjid Dee Why. Tiap hari info-info kajian menarik oleh para asatidz, baik itu lokal ataupun dari luar disebarluaskan untuk menambah wawasan dan ilmu yang dapat kita serap. Khusus bagi saya pribadi yang masih kurang dalam pengetahuan agama, kajian-kajian yang diadakan tersebut sangat bermanfaat.

Rumah ibadah terbuka dengan tetap mengikuti prokes. Banyak muslimin melakukan safari taraweh dengan mengunjungi masjid secara bergiliran sekaligus merajut silaturahmi yang sempat tertunda selama 3 tahun. Rasa haru, dan syukur saat berjumpa teman lama. Makanan untuk berbuka dan tajil (makanan pembuka) berlimpah ruah mengalir kita jumpai di semua masjid, sumbangan dari berbagai lapisan masyarakat yang ingin memanfaatkan bulan penuh berkah ini. Selain itu undangan berbuka bersama dari teman dekat, organisasi dan masyarakat muslim merupakan wujud kebersamaan dan hangatnya hubungan antar manusia; yang tak segan mengulurkan tangan bagi siapa saja yang butuh bantuan. Banyak hikmah yang dipetik selama menjalani puasa. Apalagi tahun ini sudah tidak ada lagi lockdown, sehingga kesempatan berkumpul bersama merupakan momen yang indah untuk melepas rindu. Berbuka bersama keluarga, dilanjutkan sholat Maghrib berjamaah, kemudian bersama-sama ke masjid untuk taraweh.

Selalu ada cerita, pengalaman dan kesan tersendiri yang dirasakan setiap bulan Ramadhan. Di tengah khusyuk beribadah, suami yang kondisi kesehatannya belum 100% harus kurelakan merawat kakaknya yang tidak sekota dengan kami. Selama 21 hari tanpa suami di sampingku, hanya doa yang bisa kupanjatkan dalam malam-malam yang sepi, memohon kepada-Nya semoga semua berjalan lancar. Alhamdulillah, Allah SWT memberi kemudahan dengan mengirim sahabat, teman yang bergantian menjemputku, sehingga dapat menjalankan ibadah taraweh setiap hari. Telepon dan kunjungan anak di tengah kesibukan mengurus keluarga kecilnya dan menjalankan tugas-tugasnya serta mengirim makanan-makanan, meluluhkan hatiku. Terharu merasakan kasih sayang dan bakti seorang anak
yang mengkhawatirkan orang tuanya.

Waktu serasa berjalan begitu singkat. Padatnya program dan rutinitas malah membuat sehat dan menjadikan pikiran positif. Setiap pulang dari taraweh, rasa nyaman kurasakan. Tausiah-tausiah para asatidz mengingatkan siapa kita sebenarnya; manusia yang tidak luput dari dosa, khilaf dan tidak sempurna. Sebelum tidur kusempatkan introspeksi diri. Tanpa terasa butir bening mengalir di sela sesaknya dada mengingat dosa dan khilaf selama ini. Di hamparan sajadah, ditemani sunyi dalam denting jam dinding dan helaan nafasku, pengakuan jujur kupanjatkan dengan sang Khalik. Dalam hening yang menyiksa, di sapa tanpa kata seolah menyuruhku bersimpuh dan mengharap bimbingan dan ampunan hanya pada-NYA.

Ramadhan merupakan wadah ujian untuk menempa diri untuk menjadi lebih baik. Syukur atas nikmat-NYA, atas kebaikan teman-teman aku dapat melakukan safari Ramadhan dari masjid satu ke yang lainnya. Bangun malam serasa begitu mudah dilaksanakan dengan harapan mendapat malam Lailatul Qadr (malam 1000 bulan), yaitu malam ketika Allah SWT pertama kali menurunkan ayat-ayat Al Quran kepada Nabi Muhammad Saw melalui malaikat Jibril. Malam Lailatul Qadr juga dimaknai sebagai malam ketika malaikat turun ke bumi, membawa tugas memberi kedamaian, keberkahan dan bimbingan sampai fajar menjelang.

Berbuka bersama dengan teman-teman IWINA. Setelah lama tidak berjumpa, kemesraan itu tidak pernah hilang dan dilanjutkan dengan taraweh. Kegiatan sehari-hari di bulan Ramadhan berusaha semaksimal mungkin melaksanakan yang terbaik. Terharu dengan tampilnya generasi muda dalam mendalami agama, mendengar suara merdu dalam melafazkan ayat-ayat suci Al-Quran sebelum taraweh. Setelah 30 hari bersama Ramadhan, tiba saatnya berpisah. Malam itu adalah malam perpisahan dengan Ramadhan. Seorang teman yang begitu baik dengan ikhlas menjemputku, sehingga aku dapat menjalankan ibadah sholat taraweh terakhir di masjid Al Hijrah, Tempe. Suasana hening ketika tampil seorang anak muda sebagai imam sholat. Dia adalah Naufal Rifqi Haidar, berusia 20 tahun. Ayat-ayat suci yang dilantunkannya begitu indah. Sosok muda, kharismatik yang membanggakan ini adalah putra pasangan bapak Novianto dan ibu Meilina Widyawati.

Banyak pelajaran yang kita petik selama 30 hari. Ujian kesabaran, menjaga lisan dan perilaku. Lalu apakah yang tertinggal setelah Ramadhan berlalu? Apakah amal-amal kebaikan yang sudah biasa kita lakukan di bulan Ramadhan, akan pudar setelah puasa berakhir? Semoga tidak, dan kita menjadi orang orang yang beruntung yang dapat mengambil pelajaran terbaik selama Ramadhan.

Semoga Allah memberi kita umur panjang, dan dapat bertemu di Ramadhan berikutnya. [IM]

Oleh: Yoen Yahya

Previous articleBantuan Untuk Masyarakat Indonesia Dari Dampak Covid-19
Next articleEid Prayer Celebration