Perubahan Menjadi Seorang Ibu

59
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Para psikolog setuju bahwa menjadi seorang ibu adalah perubahan mendasar pada identitas seorang perempuan.

Tapi, beberapa perubahan itu terjadi begitu usai perang besar.
Mewawancarai lebih dari 60 perempuan Australia yang menjadi ibu antara tahun 1945 sampai sekarang, Carla Pascoe Leahy (penerima dana riset dari Australian Research Council) menciptakan sebuah sejarah ucap tentang perasaan menjadi seorang ibu. Walaupun setiap wawancara bersifat unik, kesemuanya membentuk tiga era besar dari pengalaman beda generasi. 

Ibu: Setelah Perang
Para wanita yang memiliki anak pertama di tahun 1950 dan 1960-an memiliki pengalaman yang sangat berbeda, yang disebut sebagai “postwar motherhood” (menjadi ibu pasca perang). Selama dekade itu, orang Australia merengkuh rencana pernikahan dan membangun keluarga yang tertunda oleh Perang Dunia II. Dengan syarat pekerja penuh dan tingginya upah pekerja pria, banyak keluarga dapat hidup hanya dengan satu pendapatan saja. 

Di tahun 1954, contohnya, hanya 15% perempuan menikah yang bekerja dengan upah. Umumnya, para gadis beranggapakan bahwa identitas mereka akan terpusat pada menjadi ibu. Buat kebanyakan orang, itu artinya a full-time housewife. Kaum perempuan menjadi ibu di usia lebih muda dan memiliki banyak anak: hampir setengahnya memiliki anak pertama di awal usia 20-an dan memiliki rata-rata 3-4 anak. 

Mewawancarai postwar mothers, apakah menjadi ibu mengubahkan mereka, banyak yang merasa biasa saja. Seorang ibu merasa “Saya adalah orang yang sama, hanya bertambah keahlian”. Hal itu menjelaskan bahwa ia tidak kerap memerhatikan betul dirinya, seperti banyak perempuan Australia di pertengahan abad 20-an.

Ibu pasca perang memiliki karakteristik stoik dalam mengingat motherhood. Dibandingkan kehidupan di era Great Depression atau Perang Dunia II, mereka cenderung nggak membesarkan tantangan latihan toilet memberikan makan anak.

Namun demikian, sebagian kecil generasi ini mengakui bahwa menemukan transisi menjadi ibu itu sulit. Ibu yang lain mengatakan bahwa ia menjadi “depresi serius” karena “mengurus dua bayi dan terisolasi sepanjang hari”. Sulit untuk bicara terbuka tentang depresi usai persalinan di era kesehatan mental masih dianggap memalukan dan kondisinya tidak banyak diketahui.

Ibu Gelombang Kedua
Wanita yang melahirkan di tahun 1970 dan 1980-an memiliki pengalaman yang dibentuk oleh gelombang kedua feminisme. Lebih banyak dan semakin banyak orang Australia menjadi percaya bahwa potensi seorang wanita melampaui kemampuan melahirkan dan membesarkan anak. Akses yang lebih baik ke keluarga berencana, aborsi, dan pendidikan seks memberikan perempuan kemampuan lebih besar untuk mengontrol reproduksi. Usia rata-rata perempuan yang melahirkan pertama kali naik menjadi 25 tahun di tahun 1971, dan perempuan memiliki anak kedua-ketiganya di umumnya di tahun 1976.

Keikutsertaan perempuan dalam dunia kerja tumbuh dari 34% di 1961 menjadi 62% di 1990, didukung oleh mulai maraknya, walau masih perlahan, tempat asuh anak yang dibayari.

Ada bahasan yang semakin berkembang di bidang psikologi dan emosi, saat feminisme mendorong perempuan terbuka tentang pengalaman pribadi, termasuk menjadi ibu. Banyak ibu gelombang kedua merasa bahwa berubah karena memiliki anak. Seorang ibu mengatakan, “memiliki bayi pertama membuatku merasa hidupku memiliki nilai” dan “mencapai sesuatu yang tadinya tak pernah mengira menginginkannya”.

Ibu gelombang kedua lebih terang-terangan dalam hal sulitnya menjadi ibu pertama kali. Seorang ibu merasa bahwa pengalaman pertamanya seperti “hell on earth” dan sebuah “syok ke semua sistem di dalam hidupnya”. Sementara kesulitan ibu tadi sifatnya singkat, beberapa ibu lainya mengalami tantangan kesulitan emosional yang lebih serius dan berlangsung lama.

Seorang perempuan bernama Miroslava teringat adiknya yang menderita depresi perinatal. Ibu mertua adiknya mengatakan “it’s nothing” dan “you’re being silly”. Di sebuah era saat penyakit mental mental menjadi stigma, keluarga sang adik tegas menyatakan “tidak ada anak mertua kamu yang akan didiagnosa bermasalah dengan mental”. Hal itu menjadi penghambat ketika sang adik ingin mengakses layanan dukungan. 

Kisah adik Miroslava menebalkan betapa tragisnya ketidakmengertian banyak orang terhadap depresi perinatal di era-era awal. Hal itu juga menunjukkan bahwa kesulitan menghadapi motherhood tidak terjadi secara terpisah, tapi lebih ke pada konteks sosial dengan banyaknya faktor kontribusi. 

Ibu Milenial
Perempuan yang menjadi ibu dari tahun 1990-an hingga saat ini disebut “ibu milenial”. Pengaruh feminisme berarti menjadi ibu dipandang sebagai sebuah pilihan, dan sekitar seperempat perempuan Australia yang hidup hari ini memilih untuk tidak memiliki anak.

Mereka ingin menunda punya anak, rerata menjadi ibu pertama di usia 31 tahun. Orang Australia juga kini memiliki jumlah keluarga yang semakin kecil. Di tahun 2020, angka kelahiran rat-rata setiap perempuan adalah 1.8. Norma-norma gender secara fundamental bergeser: para ibu milenial tumbuh besar menganggap bahwa identitas perempuan berakar di karier. 

Nilai-nilai budaya ideal tentang “ibu yang baik” juga telah berubah: dari menghakimi para ibu yang bekerja ke menghakimi perempuan yang tinggal di rumah mengurus anak. Teknologi-teknologi reproduktif membantu para wanita menjadi ibu yang tadinya mengalami kesulitan memiliki anak, atau bahkan tak mungkin, seperti ibu tunggal, ibu lesbian, dan perempuan dengan masalah kesuburan.

Seorang perempuan bernama Katerina mengingat kembali rasa tegang yang menjadi penanda di awal-awal bulan pertama menjadi seorang ibu. Ia menjelaskan bahwa hal itu “paling sulit” sekaligus “hal yang paling menakjubkan” yang pernah ia alami. Bahkan, kedua ekstrem ini dihubungkan dengan wawancaranya yang mengesankan bahwa kepuasan dan kebahagiaan menjadi ibu berakar dari kemampuan mengatasi, atau paling tidak mampu melewati, semua kesulitannya.

Setelah ia menentukan untuk memiliki anak sendiri, seorang perempuan lainnya, Connie, menemukan bahwa menjadi ibu ternyata lebih sulit daripada antisipasinya. Setelah beberapa kejadian yang diwakili sebagai “breakdowns”, ia diresepkan obat antidepresi. Depresinya itu berasal dari pengalaman melahirkan yang mengecewakan, staf rumah sakit yang tidak simpati saat ia menjalani pemulihan, dan kurangnya dukungan dalam merawat bayinya yang baru lahir. Semua itu membuatnya letih dan kesepian.

Citra yang Lebih Rumit
Dalam rentang masa 75 tahun ini terjadi pergeseran dari stoik dan pragmatis di karakteristik ibu paska perang ke yang lebih pribadi dan ekspresi seperti ibu milenial. Naiknya angka para perempuan yang setuju bahwa menyesuaikan diri menjadi seorang ibu itu sulit juga tak boleh diabaikan. 

Beberapa faktor menjelaskan pergeseran ini. Meningkatnya budaya ekspresif di paruh kedua abad 20 berarti lebih banyak orang merasa nyaman membagikan emosinya. Terkait dengan ini, populernya ilmu psikologi seolah menormalisasi penyakit mental (dalam batas-batas tertentu) dan membuatnya mudah bagi para ibu untuk mengakui kesulitan emosnya. 

Dinamika alamiah memori juga memiliki peran. Bagi ibu milenial, memori di awal menjadi ibu sangat kuat dan perubahan identitas itu mudah diingat. Bagi ibu pasca perang, memori akan kesulitan menjadi ibu di awal memudar dan perubahan identitas telah menyatu sejalannya waktu.

Juga, menjadi ibu pertama kali tidak terlalu “wow” bagi ibu pasca perang dibandingkan masa kini. Banyak yang tumbuh dewasa dengan berasumsi bahwa menjadi ibu adalah hal alamiah saat dewasa; dan mereka tidak menganggap bahwa menjadi ibu adalah pilihan. Sejak gerakan pembebasan wanita, banyak perempuan Australia melihat diri mereka lebih banyak terkait pada pekerjaan, dan menjadi ibu membuatnya terputus, paling sementara. 

Naiknya usia perempuan melahirkan pertama kali memberi sumbangan pada disrupsi ini. Para wanita pasca perang sangat muda ketika melahirkan anak pertama mereka. Bayangkan saja perempuan usia 20 tahun di masa itu dengan perempuan yang melahirkan di usia 35 atau 40 tahun saat ini. 

Semakin banyak dan lebih banyak perempuan memilih untuk tidak menjadi ibu di abad 21 ini. Carla Pascoe Leahy menduga bahwa ada pengaruh yang ikut menentukan perlawanan menjadi ibu karena sifatnya yang kodrati alias tak terelakkan dan sudah pasti sulit. Namun, menjadi ibu itu sendiri bukanlah masalah, bahkan berpotensi menjadi satu-satunya pengalaman yang paling memperkaya kehidupan seorang wanita, walaupun persiapan dan dukungannya yang diberikan kepada ibu baru membutuhkan perbaikan yang dramatis.

Menjadi ibu hadir dengan emosi yang intens, yang belum pernah ada dalam pengalaman hidup seorang perempuan. Ada dua kelahiran seorang bayi dan seorang ibu..

Dengan memperbaiki pemahaman kita akan transisi yang sangat mendalam ini, kita juga akan dapat menghargai lebih baik dukungan -dukungan efektif bagi kaum ibu, karena inilah momen metamorfosa yang sesungguhnya. [IM]

Previous articleSepasang Ibu-Anak yang Menceritakan Pengalamannya Menjadi Ibu
Next articleStephanie Judith Sutiono: Berpuas-Puas Menikmati Sydney