Perayaan Idul Fitri di Western Sydney

355
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Rabu (10/4) lalu, saya melaksanakan salat Idul Fitri di wilayah Western Sydney, tepatnya di Kevit Bets Stadium, Mount Druitt, di wilayah Blacktown City Council. Sohibul bait dari salat Ied adalah Komunitas Muslim Indonesia Al-Ikhlas.

Diperkirakan lebih dari 1000 orang hadir. Hebatnya, Al-Ikhlas menyediakan makanan setelah salat dan khutbah Ied. Ada lontong sayur dengan aneka kuah: opor ayam dan gulai daging sapi, lengkap dengan kerupuk. Tersedia pula burger, sausages, aneka makanan kecil, serta kopi dan teh.

Selain itu, tersedia juga bingkisan untuk anak-anak dan sesi permainan untuk mereka, termasuk momen seru pemukulan Pinata hingga pecah dan permen bertaburan untuk diperebutkan. Pinata adalah budaya populer Barat untuk selebrasi, terutama untuk anak-anak. 

“Kita ingin memberikan moment yang menyenangkan untuk kenangan yang indah buat anak-anak kita”, begitu kata Rizal Rabiun, ketua Al-Ikhlas. Salat Ied menjadi ajang silaturahmi. 

Menurut Rizal, mereka telah rutin menyelenggarakan salat Ied sejak 15 tahun yang lalu. Sebagai komunitas pengajian keluarga, Al-Ikhlas telah berdiri sejak pertengahan tahun 1990-an, atau sekitar 30 tahun yang lalu.

Rizal Rabiun lahir dan besar di Jakarta. Orang tuanya berasal dari Sungai Puar di kaki Gunung Merapi, Sumatra Barat. Dia merantau ke Sydney tahun 1974, saat itu usianya masih sangat belia, 21 tahun. 

Salat Ied yang diselenggarakan oleh Al-Ikhlas ini adalah satu-satunya salat Ied komunitas Indonesia di wilayah barat Sydney, Backtown dan sekitarnya. Sementara di wilayah barat Sydney agak ke tengah, seputaran wilayah Bankstown, terdapat dua tempat salat Ied komunitas Indonesia, yaitu yang diselenggarakan oleh CIDE dan AKIC.

Masyarakat Indonesia di Sydney tentu punya banyak pilihan tempat melaksanakan salat Ied. Tetapi, salat Ied dengan komunitas Indonesia memiliki nuansa yang berbeda, rindu pada tanah air akan sedikit terobati. Selain berdimensi religius, Ied juga memiliki dimensi kultural yang penting. 

Sejak beberapa tahun terakhir ini saya menjadi jamaah salat Ied Al-Ikhlas karena alasan akses dan kenyamanan.   

Al-Ikhlas bukanlah organisasi yang besar. Anggota intinya hanya sekitar 20-an keluarga. Group percakapan mereka hanya beranggotakan sekitar 80 orang. Tetapi, salat Ied mereka didatangi banyak orang. Sebagian datang dari tempat yang cukup jauh seperti Wollongong, yang berjarak dua jam berkendaraan dari Sydney. Bahkan ada orang Bangladesh, Pakistan dan Turki yang rutin menjadi jamaah salat Ied Al-Ikhlas. 

Al-Ikhlas tumbuh dan berjalan secara organik, menebar kebaikan untuk internal mereka dan masyarakat luas. Al-Ikhlas rutin mengadakan pengajian bulanan dari rumah ke rumah. Setiap bulan mereka rutin pula menyalurkan bantuan sembako yang dikirim ke berbagai daerah di tanah air. 

Idul Adha dan Idul Fitri adalah dua event besar mereka yang memberi manfaat bagi masyarakat luas. Jadi, Al-Ikhlas memiliki jamaah rutin pengajian bulanan dan jamaah yang lebih besar yang ikut salat Ied dengan mereka.

“Hidangan setelah salat Ied merupakan sumbangan swadaya para anggota Al-Ikhlas. Sewa gedung bisa ditutupi oleh keropak yang dijalankan saat khutbah Ied, yang biasanya cukup untuk menutup biaya-biaya penyelenggaraan Ied. Jika kurang kita punya uang kas,” demikina kata Yus Adnan, wakil ketua Al-Ikhlas. Dua salat Ied tiap tahun telah menjadi sumbangan Al-Ikhlas untuk Muslim Indonesia di daerah Western Sydney.  

Setelah salat Ied, saat menikmati lontong opor ayam, saya melihat Ed Husic datang. Ed adalah Menteri Perindustrian Australia dan seorang anggota parlemen dari Partai Buruh. Politisi berusia 54 tahun ini adalah anak imigran asal Bosnia yang berturut-turut terpilih sebagai anggota parlemen nasional Australia sejak tahun 2010. Dia adalah Muslim pertama yang terpilih sebagai anggota parlemen dan Muslim pertama yang diangkat menjadi menteri di Australia.   

Ed lahir dan tumbuh besar di wilayah Western Sydney. Sebagai anggota parlemen dia hadir menyampaikan sambutan dan menyapa jamaah salat Ied Al-Ikhlas yang berada di daerah pemilihannya (electorate). Sepertinya dia datang sendiri. Saya tak melihat rombongannya atau asisten sosial media yang akan mendokumentasikan kegiatannya. 

Ed adalah alumni Western Sydney University, tempat dia menyelesaikan pendidikan jenjang bachelor. Saya mengenalkan diri sebagai dosen di Western Sydney University. Kepadanya, saya mengapresiasi Australia yang telah memberi saya beasiswa doktoral dan kehidupan yang baik.  

Kepada Ed, Rizal menyampaikan kesulitan untuk mendapatkan venue salat Ied jika lebaran jatuh pada hari Sabtu atau Minggu. Ed meninggalkan nomer telpon dan meminta Rizal untuk menghubungi kantornya. Rizal mengatakan bahwa tahun lalu kedatangan Ed ke salat Ied Al-Ikhlas didampingi olehMayor (walikota) Blacktown. [IM]

Oleh Zulfan Tadjoeddin –  Associate Professor di Western Sydney University, bermukim di Australia sejak tahun 2007.

Previous articleDari Panitia Pemilihan Luar Negeri PPLN Sydney 2024
Next articleIndra Lesmana: Garap Album Kolaborasi Reuni 40 Tahun dan Rayakan International Jazz Day di Sydney