Memupuk Literasi Dalam Keluarga 

56
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail

Peran orang tua sangat penting dalam pendidikan anak karena memang merekalah figur utama anak (raw model). Rumah itu sekolah, orang tua adalah pendidik awal — guru agama, guru bahasa dan sosial bagi anaknya. Literasi padanan yang sangat laras adalah Iqro bismirrobbikaladzi kholaq. Seruan Iqro adalah makna dari literasi. Allah memberikan berbagai macam indera bagaimana kita menghatamkannya.

Tidak perlu diragukan kalau IWINA selalu hadir dengan program yang menarik dan bermanfaat. Pada 24 November 2021, Divisi Edukasi IWINA mempersembahkan Podcast episode-3, dengan mengangkat tema “Memupuk Literasi Dalam Keluarga”, dengan menghadirkan dua narasumber hebat yaitu DR. Dewi Utama Faizah dan Ibu Ade Kumala Sari dipandu oleh dua host profesional Meilina Widyawati dan Humaira Helmy. 

DR. Dewi Utama Faizah adalah doktor lulusan Jepang yang banyak berkiprah dalam Gerakan Literasi Sekolah, Founder Komunitas Ayo Membaca Indonesia, Kampong Rama-Rama dan beragam kegiatan Literasi lainnya. Sedangakan Ade Kumala Sari, adalah seorang penulis buku perjalanan, anak & remaja, dengan pengalaman parenting di Sydney, Jerman dan Indonesia.

DR. Dewi Utama Faizah, yang lebih dikenal dengan panggilan Nibu (Nenek dari Ibu) adalah ibu dari 4 anak dan 6 cucu. Ia merasa bersyukur diberi kesempatan sebagai seorang nenek. Menurut beliau tidak semua ibu dapat menyandang gelar nenek. Umur panjang yang diberikan Allah yang mewujudkan gelar tersebut. Atas ucapan syukur maka beliau lebih suka dengan panggilan NIBU.

Setelah mengikuti paparan DR. Faizah (Nibu), ternyata menggalakkan anak untuk gemar membaca tidaklah semudah membalik tangan. Orang tua tidak hanya menyediakan buku-buku dan menyuruh anak membaca tanpa mengarahkan. Sibuk bukan alasan yang tepat untuk tidak menemani anak membaca. Banyak cara dapat menemani anak sambil mengenalkan kata-kata.

Kesibukan orang tua, sehingga minim waktu untuk anak, mengakibatkan masalah berkepanjangan. Bagaimana dan kiat-kiat apa yang dapat dilakukan orang tua dalam mengatasi hal ini. Pertanyaan yang sering kita dengar, dirasakan juga oleh IWINA yang anggotanya terdiri dari ibu-ibu dari segala usia dan juga para remaja.

Kedua narasumber berbobot yang dihadirkan IWINA ini menjawab semua permasalahan para remaja, terutama bagi ibu muda yang mempersiapkan hadirnya buah hati dalam keluarga. Terlebih sejak pandemi, angka kenakalan anak meningkat drastis. Tiap hari ada berita yang disiarkan di televisi tentang vandalism, pencurian mobil, penusukan, dan banyak lagi yang pelakunya adalah para remaja. Hampir semua kenakalan anak bermula dari broken family, kurang kasih sayang, maupun aktifitas yang tidak diarahkan. Mengajarkan dan menggalakan anak suka membaca adalah salah satu dari sekian cara mengatasi kenakalan anak.

Gaya hidup orang tua pun sangat berpengaruh terhadap pendidikan anak. Disinilah pentingnya misi sebuah keluarga (mission of life) yaitu model dan akses ke buku. Ayah dan Ibu adalah model, panutan anak. Tergantung bagaimana keteladanan diterapkan kepada anak. Misalnya dengan cara membaca dengan keras atau dengan menyanyi atau cara-cara menarik lainnya yang menggelitik kemauan anak. Tanpa memberikan ketauladanan membaca, anak-anak tidak akan paham. Cara terbaik dan terlembut adalah dengan membaca buku menyapa dengan bahasa kalbu seorang ibu. Menyiapkan rumah agar anak mandiri, menjadi dirinya sendiri sebelum menjadi warga masyarakat. Jadi tugas ini tidak dibebankan kepada guru di PAUD atau TK.

Dengan hanya 15 menit setiap hari bersama anak, dapat membentuk pribadi seorang anak dan memperkaya kosa kata. Misalnya bisa di dapur sambil mengenalkan alat-alat dapur, bisa di kamar sebelum tidur sambil mendongeng, ataupun saat bermain. Dalam hal ini perlu juga bagaimana mempersiapkan ibu yang terdidik. Tahun 2015 pemerintah Indonesia pernah mengadakan gerakan nasional Ibu-ibu baca buku, hanya sayang program ini tidak berlanjut.

Literasi Penting Dalam Keluarga
Literasi bukan hanya membaca dan menulis saja. Literasi adalah kemampuan mengakses, memahami dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis dan berbicara. Sejak anak dalam rahim sudah mengalami peristiwa literasi. Usia 7 bulan sudah dapat mendengar dengan baik. Kontak batin antara anak dan Ibu. Jadi, kurikulum kehidupan terjadi saat sebelum anak lahir. Selama ini anak langsung diajarkan budaya aksara bukan lisan. Sehingga anak-anak di usia dini sudah pandai membaca sehingga lupa akan minat membaca. Anak usia dini yang dipaksa untuk membaca dan menulis tidak mempunyai sosial emosi. Yaitu kosa kata, kosa rasa dan kosa makna. Kosa rasa mempunyai emosi suka. Apabila anak suka apapun dengan mudah dilakukan.

Bagaimana dengan age approaching reading? Adanya levelling book sesuai dengan usia anak. Ada 7 level, pra membaca, membaca dini, membaca awal, membaca  lancar, membaca lanjut, mahir, dan kritis. Bukan berarti level book harus sesuai dengan umur. Semua tergantung bagaimana orang tua mempunyai cara mengedukasi anak. Buku adalah obat, buku itu imajinasi visual story yang sangat menarik terutama bagi anak-anak yang kurang kasih sayang. Dengan adanya gadget, computer, games, otak bisa tercemari. Apa yang ada di otak, didengar, dicicip, dirasa, diraba. Banyak hal sederhana yang kita lupa. Ini yang seharusnya orang tua pahami.

Akses ke buku, buku yang dibacakan adalah buku bacaan, bukan buku pelajaran. Buku yang diminati dan dibacakan dengan suasana santai dan menyenangkan. Dari membaca membuat anak kaya kosa kata sehingga anak dapat mempunyai banyak  ide untuk mencurahkan dalam tulisan. Harta karun untuk anak kita adalah kosa kata. Kalau kosa katanya terlengkapi minat baca akan tumbuh.

Menciptakan lingkungan kaya teks menumbuhkan budaya literasi di lingkungan sekolah. Dengan memasang poster yang terkait pelajaran dapat membantu minat anak membaca. Sedangkan televisi, games, orang tua yang jarang memberikan contoh membaca adalah kendala minat baca anak. Bahkan guru-guru juga banyak yang hanya tahu kurikulum tapi kurang adanya inisiatif. Pendidikan langsung keberaksaraan, sehingga menghilangkan kelisanan. Allah telah memberi kita inderawi yang lengkap, indera mata, penciuman, indera pendengaran, lisan bekerja bersama menghasilkan literasi seutuhnya. Untuk itu mari kita jaga apa yang telah diberikan Allah kepada kita.

Peran orang tua adalah menjadi pembimbing dan teladan bagi anaknya. Cara bertutur kata dengan anak melalui eye contact. Bertanggung jawab sehingga anak tumbuh menjadikan pribadi yang baik. Ada kata yang menginspirasi “satu hari saja bersama ibu akan diingat anak sepanjang masa”. Apabila ada 10 atau 15 menit dalam sehari kita memeluk, baca buku, bertutur kata maka alangkah indahnya.

Ade Kumalasari yang akrab dipanggil Mala, adalah satu di antara puluhan penulis baru di penulisan novel-novel remaja. Sederet profesi keren disandangnya. Profesi (10 tahun terakhir) adalah sebagai Penterjemah/editor lepas, Penulis buku perjalanan, Asisten peneliti di Sydney University, dan Penulis buku anak dan remaja.

Mala sangat setuju dengan apa yang dipaparkan Nibu. Apabila anak miskin kosa kata maka akan kesulitan mencurahkan ide-ide dalam bentuk tulisan. Dengan banyak mengajak anak mengunjungi festival buku, perpustakaan akan menambah perbendaharaan kata. Mengajarkan anak untuk bisa dan gemar menulis tergantung dari banyaknya asupan yang masuk dari indra. Semakin banyak asupan yang masuk dapat menghasilkan bahan untuk ditulis.

Di negara yang sudah maju dan mapan literasinya, guru punya banyak waktu cukup panjang menemani murid menulis hingga tuntas. Karena kurikulum nya tidak sepadat seperti di Indonesia. Dalam 1 term anak dibimbing sampai betul-betul dapat menulis dan membimbing mengeluarkan ide-idenya. Kadang anak-anak punya banyak ide tapi tidak tahu bagaimana mengeluarkannya. Di sini tugas seorang guru untuk membantu mengatur ide dan kerangka tulisan dengan alat bantu, misalnya dengan gambar atau urutan gambar. Setiap anak akan mempunyai imajinasi yang berbeda walau diberi gambar yang sama tergantung asupan yang masuk. Guru memberikan kerangka dengan jelas dari pembukaan sampai penutup. Bimbingan guru yang sederhana melekat dan sangat membekas hingga anak bisa menulis dengan rapi dan tertata.

Ada perbedaan yang mencolok antara setting kehidupan di Indonesia dan negara lain dalam menerapkan kemudahan kegiatan literasi dalam keluarga. Di negara maju, anak-anak dapat melihat dan menemukan contoh kegiatan literasi dimana-mana. Di taman atau transportasi umum sudah biasa melihat orang membaca buku, masyarakatnya menghargai dan hobi membaca. Juga banyak festival literasi dan festival buku. Hal ini mungkin jarang ditemukan di Indonesia. Walaupun mereka mungkin membaca tapi kebanyakan dari gadget, bukan dengan fisik bukunya. Jadi orang tualah yang harus lebih giat dan berusaha lebih keras untuk mengenalkan anak kepada buku. Pilih buku-buku yang diminati dan disukai anak-anak.

Dwi Bahasa Dalam Keluarga
Pembagian tugas orang tua antara ayah dan ibu, agar anak tidak bingung. Bisa dengan alat bantu audio books, bisa dengan mendengar musik atau film. Untuk ibu-ibu di Australia, pesan ibu Mala jangan lupa untuk tetap mempertahankan bahasa Indonesia dan mother tongue.

Di Australia, fasilitas perpustakaan dapat ditemukan di setiap suburb dan setiap council punya program-program yang sudah diatur. Di Indonesia pun sekarang sudah banyak perpustakaan yang bagus atau bisa juga bergabung dengan ibu-ibu yang mempunyai minat dan peduli dengan literasi, dari FB ada read aloud, atau dari website yang memberikan akses ke buku cerita. Badan Bahasa punya e-book buku cerita anak-anak berjenjang. Membaca bukan tergantung jumlah buku yang dibaca tapi lebih ditekankan kualitasnya, bagaimana anak memahami buku yang dibacanya. Yaitu membaca sampai jenjang kritis, bukan membaca jenjang lancar. [IM]

A Room without books is like a Body without a Soul
That’s the thing about books. They let you travel without moving your feet

Oleh yoen yahya

Previous articleSuara Natal dari Album Asia Pasifik
Next articleTiada Kata Menyerah Untuk Perjuangan Hidup