Mahasiswa Canberra Siap Belajar Di Indonesia

206
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Canberra
– Minat mahasiswa Australia untuk belajar ke Indonesia terus meningkat, termasuk mahasiswa dari University of Canberra (UC) yang akan berangkat ke Indonesia untuk studi singkat pada minggu ke dua Juni 2023. Sebelum berangkat ke Indonesia mahasiswa mendapatkan pembekalan dari kantor Atase Pendidikan (Atdikbud) KBRI Canberra pada Rabu (31/5).

Kegiatan pembekalan kepada mahasiswa Australia yang akan belajar di Indonesia dimaksudkan untuk memberikan pengenalan awal kepada para mahasiswa agar tidak mengalami kebingungan atau gegar budaya ketika sampai di Indonesia. Menurut Atdikbud Mukhamad Najib, pembekalan kepada mahasiswa Australia sebelum berangkat ke Indonesia amat penting agar mereka tidak terkaget-kaget ketika datang ke Indonesia.

“Kami berharap mereka bisa cepat beradaptasi ketika berada di Indonesia, sehingga bisa mendapatkan apa yang ingin dipelajari dengan baik. Untuk itu pengenalan awal tentang Indonesia yang kita kemas dalam bentuk pre-departure training atau pembekalan sebelum keberangkatan menjadi penting untuk diberikan”, jelas Najib.

Dalam pembekalan tersebut mahasiswa dikenalkan dengan profil Indonesia secara sosial, ekonomi dan budaya. Mahasiswa diberikan gambaran mengenai sistem pendidikan di Indonesia yang sedikit berbeda dengan di Australia. Selain itu, mereka juga dikenalkan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Indonesia yang tinggal di Depok, Yogya, Solo dan Bali dimana mahasiswa dari University of Canberra akan belajar nantinya.

Menurut Convenor of Indonesian Program, University of Canberra, professor Riyana Miranti, kegiatan mobilitasi internasional mahasiswa Canberra ke Indonesia merupakan bagian dari program New Colombo Plan (NCP), dimana pemerintah Australia mendorong para mahasiswa untuk belajar ke negara-negara Asia Pasifik. Indonesia merupakan salah satu negara tujuan favorit bagi mahasiswa Australia yang mengikuti program NCP.

Riyana juga menjelaskan bahwa selama di Indonesia para mahasiswa akan belajar di Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Sebelas Maret dan Universitas Ngurah Rai. Keempat universitas tersebut dipilih menjadi tujuan studi mahasiswa karena memang telah memiliki kerjasama sebelumnya dengan University of Canberra.

Dalam acara yang berlangsung selama satu hari ini, mahasiswa di jamu sarapan pagi di Wisma Indonesia. Mereka diperkenalkan dengan budaya Indonesia melalui makanan yang secara langsung mereka bisa lihat dan rasakan. Beragam jenis sarapan pagi disediakan, seperti bubur ayam, nasi goreng, serabi bandung, bubur candil, dan makanan lain khas Indonesia yang sesuai untuk sarapan.

Selain kuliner pagi Indonesia, mahasiswa juga diberikan pengenalan tiga alat musik tradisional, yaitu Gamelan Jawa, Gamelan Bali dan Angklung. Para mahasiswa tidak hanya mendengar penjelasan mengenai ketiga alat musik tersebut, melainkan juga diberi kesempatan untuk mencoba memainkan ketiganya secara langsung.

Mahasiswa mengatakan sangat gembira bisa merasakan makanan Indonesia, serta mengenal dan mencoba ketiga alat musik tradisional yang populer di Indonesia, khususnya di pulau Jawa dan Bali. Salah seorang mahasiswa bernama Belle Bai mengaku jika di Solo nantinya akan belajar gamelan. Sehingga dirinya merasa senang sudah bisa mencoba terlebih dulu di KBRI Canberra sebelum datang ke Solo.

Sementara mahasiswa dari Fakultas Business, Government and Law, Hannah Blewitt-Gray mengatakan ingin belajar di Indonesia karena dirinya tertarik dengan perkembangan ekonomi dan perdagangan Indonesia. Bahkan Hannah telah menyiapkan diri dengan belajar bahasa Indonesia di kelas yang diselenggarakan oleh Australia Indonesia Association-Australian Capital Territory (AIA-ACT) dalam beberapa bulan terakhir.

Salah seorang dosen pendamping, Simon Hoy, yang juga sebagai Associate Dean Partnerships & Engagement di University of Canberra mengatakan jika program pembekalan seperti ini sangat bagus. Hal ini memberikan pengenalan awal yang nyata mengenai apa yang akan mahasiswa jalani selama di Indonesia. Dengan program ini Simon berharap mahasiswa jauh lebih siap ketika tiba dan menjalani studi di Indonesia. [IM]

Previous article“Ambassador Goes To Campus” KBRI Canberra Promosikan Asean Sebagai Pusat Pertumbuhan
Next articleMerantaunya Iskandar Harun