Gunawan Memory Capturer

649
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Charting your own path in Australia isn’t easy
. Namun, inilah yang Gunawan telah lakukan, dan sedikit demi sedikit, tantangan demi tantangan, keseruan demi keseruan, dia membangun kehidupan yang penuh dengan momen-momen yang menggerakkan hati dan mempesonakan. 

Halo, Bang G. It’s wonderful to have you with us today! Bolehkah share sedikit tentang dirimu, seperti family background, makanan favorit, hobi?
Nama gue Gunawan, lahir dan besar di Jakarta. Tapi, udah lumayan lama juga di Sydney.
Makanan favorit banyak banget: gado-gado, nasi padang, dan duren. Kalau hobi, gue suka main musik, travelling ke tempat unik, dan pastinya fotografi. 

Di Australia, nama gue disingkat jadi “G” karena dulu kerja di call centre. Kalo greeting pakai nama “Gunawan”, caller-nya bertanya, “How do you spell that?”. Jadinya disingkat saja jadi “G” biar lebih gampang.

Bang G pertama kali pindah ke Australia pada tahun 2005 ya? Apa alasan Pak G datang ke Australia dan apa yang membuat kamu memutuskan untuk berkarier di Australia?
Eh, kok, tahu gue pertama pindah ke Australia tahun 2005? Alasan gue untuk datang ke Australia karena waktu itu berasa sudah agak jenuh berkarier di Jakarta, dan terpikir ambil kuliah di Jakarta. Kebetulan, waktu itu ada kesempatan buat datang ke Australia. Jadinya, ‘gas’, deh.

Oh, begitu! So how did you first get into photography?
Dulu, pas SMA, gue punya poster Jean Claude Van Damme di kamar. Fotonya terkesan misterius. Setengah mukanya gelap dan setengahnya lagi terang. Nah, waktu itu gue cuma punya kamera point and shoot, film, yang flash-nya selalu nyala. Setiap coba bikin foto kayak gitu, gue nggak pernah dan nggak pernah ngerti. Akhirnya, bikin gue penasaran.

Enam tahun kemudian, baru gue tahu kalau ada kamera yang bisa foto kayak gitu namanya SLR. Bukan DSLR, ya, kan masih film. Dari situ baru akhirnya gue mendengar istilah-istilah fotografi, kayak aperture, shutter speed, dll. Terus, belajar dari temen-temen senior. Tahun itu belum ada Youtube, jadi infomasi cuma masih terbatas.


Bang G, you do both nature and wedding photography. Apa yang paling fascinating mengenai kedua subjek ini?
Kalau foto wedding, gue suka karena gue capture emotion dan moment yang nggak mungkin diulang lagi.

Bukannya mau gloomy atau very dark, ya. Tapi, kadang, momen-momen itu bisa jadi momen penting terakhir. Gue pernah memotret wedding yang ibu pengantin cowoknya sakit, dan cuma di tempat tidur pas kita siap-siap berangkat. Momen interaksi antara pengantin cowok dan ibunya itu jadi penting banget buat diabadikan. Nggak lama setelah hari wedding-nya kita mendapat kabar kalo ibunya meninggal. Foto-foto dari momen ini jadi sangat sentimental dan pasti berharga banget.

Terus, pernah juga foto keluarga, masih muda, anaknya tiga masih di bawah 10 tahun. Si ibu waktu itu udah didiagnosa cancer. Kita foto-foto di Sydney Harbour dan sesi foto itu emosional banget. Tiga bulan kemudian, gue dapat kabar kalo si ibu meninggal, dan umurnya baru 32 tahun.

Karena momen-momen kayak begini, gue jadinya melihat peran sebagai fotografer bukan cuma klik tombol dan bikin gambar bagus, tapi a lot deeper that that. Tujuan gue juga buat bikin memori buat mereka. Makanya, gue suka motret candid moment, yang emosinya raw, bukan cuma pose.

What fascinates me dari foto alam itu karena Bumi ini luar biasa banget. Beda bagian, pasti beda iklim. Vegetasinya beda, alamnya sudah pasti beda, dan secara budaya juga beda.

Jadi, selain kepuasan batin diri sendiri, gue juga merasa ada tanggung jawab moral untuk mempromosikan pelestarian alam, dan juga menunjukkan sisi indah alam itu ke orang-orang yang mungkin belom pernah tahu kalo alam seperti itu ada.

Photoshoot manakah yang paling challenging atau paling fun?
Kalau challenging, sih, everything’s challenging at first. First, waktu motret wedding, seascape, bintang, semuanya challenging. Ha… ha…ha… Jadi, kita ngomongin yang fun saja, ya.

Sebenarnya, banyak banget, sih, yang fun. Especially, kalau motretnya di luar kota dan ada waktu buat eksplor sendiri. Salah satu yang stand out itu waktu gue dan Michael, teman fotografer dari Lights Chaser Photography, di-booking buat shoot wedding di Bali. Itu Juli 2022. Planning-nya agak deg-degan karena covid restriction di Indonesia waktu itu masih ganti-ganti. Tapi, akhirnya semua lancar. Gue malah sempat sekalian naik ke Gunung Batur setelah wedding.

Bang G barusan diangkat sebagai “Nikon Creator” oleh Nikon Australia. Bisa ceritakan sedikit tentang pengalaman dan proses menjadi “Nikon Creator”?
Sebenarnya, officially menjadi Nikon Creator itu dari 2020, waktu lockdown. Karena nggak bisa ke mana-mana, gue jadinya foto-foto mainan Lego yang ada di rumah. Gue bikin scene seperti di Antelope Canyon, pakai brown paper bag buat jadi dinding canyon-nya.

Nah, nggak lama kemudian ada message dari Instagram, bertanya gue pakai kamera apa. Gue pikir orang itu perlu rekomendasi kamera. Ya, gue jawab, dong, Nikon D750 dan Nikon Z6. Terus, orang itu bilang, “I’m actually part of Nikon Australia Team.” Gue pikir scammer waktu itu. Ha…ha…. Setelah itu kami get in touch. Itulah awal dari semuanya.

Pengalaman, sih, sudah pasti seru. Kan ini impian juga buat dikontrak Nikon Australia. Gue jadi terlibat banyak di workshop-workshop mereka sebagai pengajar.

Pengalaman apa yang paling menyenangkan atau rewarding selama tinggal dan bekerja di Sydney?
Yang masih jadi highlight itu waktu kami sekeluarga road trip dari Sydney ke Uluru, lewat outback-nya South Australia, menyeberang ke Kangaroo Island, dan balik lagi ke Sydney di tahun 2019. Kami travelling 24 hari sama anak-anak. Akomodasinya mix antara camping dan motel.

Banyak banget pengalaman baru dari situ. Landscape-nya bervariasi banget dari pantai sampe outback yang gersang. Sisi sesungguhnya Australia, ya, di outback.

Menurut Bang G, challenge apa paling besar untuk imigran Indonesia yang ingin berkarier dan membangun sebuah kehidupan di Australia?
Challenge paling besar yang gue alami sendiri dan dari observasi ada dua: bahasa dan budaya. Budaya dalam arti cara orang lokal bersosialisasi di lingkungan kerja, lingkungan main, dan seterusnya. Tapi, the good news is, semua hal ini bisa dipelajari. Buat gue, ini, tuh, basic-nya. Kalau kalian nggak menguasai hal-hal ini, sebenarnya kalian tetap bisa berkarier, tapi akan selalu terbatas.

Dari pengalaman Bang G, what keeps you going in the midst of the challenges you have faced as an immigrant?
What keeps me going mainly karena gue memang passionate di fotografi. Lalu, gue punya mimpi seperti orang-orang. Agak cliche, ya , tapi very true. Dan, gue punya keluarga. Jadi, drive factor-nya passion dan tanggung jawab. Lagipula, the more you have, the more you can give. Kalau kalian have nothing, bagaimana bisa memberi? Terus, gue aware banget kalau semua ini long game. Nggak ada yang instan. Jadi, prosesnya harus fun. Kalau nggak, pasti burnt out.

Apakah ada pesan atau encouragement yang Bang G ingin sampaikan kepada orang Indonesia yang ingin pindah ke Australia dan menjalani kehidupan yang thriving di sini?
Sebelum ngomong thriving dan sukses, kita self assess dulu benchmark sukses buat diri sendiri itu apa, sih? Kalo buat gue, sukses itu adalah tiap bangun pagi nggak dragging, nggak terpaksa, dan punya kebebasan untuk berkreasi.

Gue yakin, kita semua punya mimpi. Kalo kita sudah tinggal di Australia, kesempatan kita ini setara sama orang-orang lokal. Okelah dari segi bahasa kita mungkin memulai posisi beberapa langkah di belakang. Tapi, kita bisa belajar Bahasa Inggris dan semua skill yang mereka punya, yang akhirnya membawa kita ke posisi yang setara, dan kesempatan yang sama. Ini benar, lho.

Buat thriving di bidang apa pun kita mesti berani keluar dari zona nyaman, termasuk melawan insecurity diri sendiri. Pilih lingkungan pergaulan yang positif juga penting banget. Karena kalau sudah di Australia, yang membatasi kita maju itu bukan karena lingkungan, orang tua, atau presiden, melainkan pembatasan, dan itu seringnya karena mindset dan langkah-langkah kita sendiri.

Gue masih ingat banget bagaimana kikuknya pertama kali motret wedding yang cuma gue orang Asia-nya. Masih inget juga pertama kali vlogging, pertama kali diminta buat tampil di Youtube-nya Nikon Australia, pertama kali dealing dengan CEO perusahaan buat jual paket foto dan video. Semua itu nggak perfect, namanya juga pertama kali. Tapi, proses ini penting buat kita mengembangkan diri.

Sebagai imigran kita itu punya satu advantage yang orang lokal belum tentu punya: kita ini pekerja keras dan survivor. Kita cuma perlu belajar buat me-manage ini supaya kita nggak cuma pekerja keras, tapi pekerja pintar. [IM]

Untuk melihat karya atau photography services G, kalian bisa menelusuri website atau IG-nya: Website: https://red-imagination.com/
Instagram: @red_imagination_adventure

Previous articleSENANDUNG NOSTALGIA 2023
Next articleSydney Menjadi Pusat Panggung Malam Tahun Baru Global