Biaya Anak-Anak Sangat Mahal

365
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Mengapa wanita modern semakin banyak yang enggan punya anak?
Perempuan usia produktif yang tinggal di perkotaan saat ini umumnya memiliki dua sampai tiga pekerjaan untuk menopang gaya hidupnya.

Selalu Harus Memilih Antara Pekerjaan dan Keluarga
Seperti halnya Ana Winarta (bukan nama asli). Kalau tidak sedang sibuk bekerja sebagai seorang urban analyst, Ana mengajar kursus desain dasar ke mahasiswa S1. Ia juga punya side hustle sebagai desainer grafis.

Di waktu senggangnya, ia nge-gym, mendatangi seminar-seminar di kampus lokal, menjadi relawan di sebuah gerakan lingkungan nirlaba, mengurus anak-anak anjing, mencoba resep-resep baru, dan bush walking di sekitar kota Sydney. Kehidupan seperti itu tidak akan pernah Ana nikmati jika ia punya anak kecil, menurut perempuan yang lahir di Sydney dan berorang tua Indonesia ini.

“Saya berkesimpulan, dari tadinya enggan punya anak, sekarang saya sangat yakin untuk tidak memilikinya saat ini,” kata Ana. Sering ‘kebagian’ jadi “ibunya anak-anak” di antara teman-teman dekatnya sejak remaja, Ana sempat mengira akan menjadi ibu yang sesungguhnya suatu hari nanti. Seiring berjalannya waktu, Ana sangat menikmati kariernya, sambil menyaksikan teman-teman perempuan di tempatnya bekerja kesulitan menyeimbangkan kehidupan keluarga dan pekerjaan.

“Kesannya nggak menyenangkan, ya,” katanya sambil menambahkan bahwa saat ini, di zaman modern, tugas kerumahtanggaan yang masih harus dilakukan seorang perempuan setelah seharian bekerja. Belum lagi mengatur emosi dalam mengurus keluarga yang sama beratnya. “Saya nggak bisa membayangkan melakukan semua itu, membesarkan anak sambil mengurus diri sendiri.”

Menurut Datanya…
Meski data perempuan yang kehilangan minat menjadi ibu belum terlihat jelas, tapi di Amerika Serikat bisa menjadi gambaran. Dalam sebuah survei bulan November yang dilakukan Pew Research Center, terdapat 3,800 lebih wanita, 44%-nya berlatar bukan orang tua, mengatakan sepertinya enggan atau sangat enggan memiliki anak suatu hari nanti. Angka ini naik 7% dari survey yang sama di tahun 2018.

Menurut Pew, meski tidak ada faktor tunggal yang membuat angka ini naik, ekonomi menjadi alasan banyak wanita enggan menjadi ibu. Biaya childcare nyaris menyentuh $10,000 per tahun (Di Australia $70- $200 per minggu). Lalu, pandemi juga ada hubungannya. Beberapa responden Pew mengindikasikan faktor-faktor di atas di balik alasannya. Namun, 56% mengatakan dengan gamblang, “just don’t want to have children.”

Delapan wanita di usia 20, 30, dan 40-an mengatakan alasan mereka menjadi perempuan child-free. Bagi sebagian besar, keputusan ini mudah diambil karena rasa takut kehilangan kehidupan mereka seperti saat ini, yang telah mencapai kepuasan berkarier dan bepergian. Mereka ingin menjaga kebebasan yang memungkinkan mereka mengikuti gairah kehidupan.

Ana mengatakan bahwa bahwa dengan pengasuhan orang tua yang terbaik, kehidupan seorang anak di masa depan ibarat berjudi. Ia lebih baik fokus pada kualitas hidup bekerja keras, bepergian, dan pensiun dini untuk mengejar hasratnya. “I have fun enjoying my life,” katanya lagi.

Membesarkan Anak Atau Karier
Penelitian yang dilakukan Pew ini menyoroti baby bust (jebloknya kelahiran) pasca pandemi. Tingkat kelahiran di AS melorot 4% dari 2019 sampai 2020, sebuah penurunan paling tajam dalam nyaris 50 tahun, dan angka terendah kelahiran sejak 1979. Turunnya angka kelahiran ini memasukkan AS masuk ke dalam tren global negara-negara berpenghasilan menengah atas yang para perempuannya menunda punya anak hingga usia lanjut. Negara-negara lainnya itu adalah Spanyol, Norwegia, dan Yunani.

Adalah sebuah penanda kemajuan ekonomi bahwa setiap individu memiliki pilihan dan otonomi kaum perempuan. Kesempatan ini seperti sebuah dunia baru, membuat perempuan milenial meraih gelar sarjana, empat kali lipat banyaknya dibandingkan perempuan dari generasi Diam (mereka yang lahir tahun 1928-1945). Semakin terdidik perempuannya, semakin lama ia menunda kelahiran bayinya, mungkin di usia 30-an, atau tidak punya anak sama sekali.

Jennifer M, 40, mengetahui fakta ini. Ia sudah tahu apa yang dia inginkan sejak usia 11, saat berkata pada dirinya sendiri, “Aku nggak akan punya anak dan akan hidup seperti yang aku inginkan.”

Manajer di sebuah farmasi ini mengatakan bahwa kesadarannya itu adalah hasil didikan yang tidak biasa. Ayahnya berperan lebih besar dalam membesarkannya karena sang ibu sering mendahulukan kariernya daripada keluarga.

“Di bawah alam sadar, aku tahu kesulitan Ibu yang dalam menyeimbangkan keluarga dan karier yang sangat sulit dilakukan. Hal itulah yang membuatku berkeyakinan tidak akan menempuh jalan yang sama,” katanya. 

“Aku nggak bisa membayangkan juggling pekerjaan dan anak. Aku bahkan nggak mampu mengurus dua anjing tanpa bantuan suami.”

Tambahnya: “Aku tidak menyesal, aku sangat menyukai kehidupanku, dan berpikir minimal tiga-empat kali seminggu betapa bersyukurnya aku tidak memiliki anak.”

Penulis paruh waktu Jenata S, yang berusia di pertengahan 40-an, juga tak menyesal memilih karier dibanding anak. Menurutnya, memiliki anak bukanlah prioritas baginya dan suami, sambil menekankan betapa sulitnya membuat keputusan ini.

“Kami berdua bekerja keras untuk berada di posisi karier ini dan sejujurnya, kami merasa anak-anak tidak tepat dalam kehidupan seperti yang kami miliki saat ini, juga tidak sesuai dengan tujuan-tujuan yang ingin kami capai,” katanya. “Rasanya, kok, nggak adil buat anak-anak, mengharap mereka bisa memahami dan menerima kehidupan kami.”

Sebuah Intuisi
Ana Winarta merasa dirinya tidak pernah berkeinginan kuat menjadi seorang ibu, sebuah insting kuat yang dialami juga oleh banyak wanita. “Aku nggak merasa tertarik saat banyak teman-temanku menceritakannya anak-anaknya, dan ketika mengunjungi rumah teman-temanku yang memiliki anak, aku nggak bisa membayangkan diriku memiliki anak,” demikian pengakuan Sarah, 34 tahun.

“Aku merasa, jauh di dalam hatiku, aku bukan pengasuh yang alamiah dan bisa menjadi ibu yang hebat… Hal itu tidak lagi menarik hatiku sama sekali. I love my life the way it is, and I don’t feel like anything is missing.”

Beta, 21 tahun, mengatakan bahwa ia selalu kekurangan maternal instinct. “Aku sama sekali nggak pernah merasakan yang namanya ‘baby fever’ seperti halnya adik dan kakakku atau teman-temanku yang memiliki anak,” katanya. “Tentu saja aku sangat mencintai keponakan-keponakanku, tapi aku senang memulangkan mereka kembali ke rumah orang tua mereka masing-masing.”

Menurutnya, keinginannya memiliki anak tidak cukup kuat dibandingkan untuk diperjuangkan bersama pekerjaan dan gaya hidupnya yang suka bepergian.

“Rasanya, sih, aku nggak kehilangan apa pun dengan tidak memiliki anak,” lanjutnya. “Aku pernah berpikir mungkin aku akan menyesal dengan keputusan ini suatu hari nanti. Tapi, menyesalinya nanti dengan memilih untuk memiliki anak sekarang tanpa benar-benar menginginkannya dan kemudian malah menyalahkan mereka benar-benar pilihan yang lebih buruk, bukan?”

Beta mengacu pada sebuah sentimen yang telah menjadi ekspresi umum di tahun-tahun belakangan ini, saat para ibu membagikan opininya bahwa meski sangat mencintai anak-anak mereka, ada penyesalan di baliknya. Sebuah Facebook page, “I Regret Having Children,” memiliki 45,322 followers. Percakapan terbuka sekitar perasaan yang tabu ini memberikan dukungan dan konteks bagi mereka yang mempertanyakan apakah menjadi ibu adalah sesuatu yang mereka inginkan buat dirinya sendiri atau karena desakan masyarakat.

Kemandirian yang Kaya
Dikenal royal membayar untuk pengalaman dan hidup melewati dua resesi, Tragedi ‘98 dan pandemi sebelum berusia 40, para milenial memiliki definisi sendiri tentang hidup yang penuh makna. Buat beberapa dari mereka, kehidupan yang mengeksplorasi gairah di luar pendidikan formal atau pencapaian profesional, keduanya sulit didapat dengan kehadiran anak.

Sampai tahun 2012, para ibu menghabiskan kira-kira 104 menit per hari untuk mengurus anak, dua kali lipat waktu yang dihabiskan di tahun 1965, sebuah penelitian tahun 2017 oleh The Economist. Hal ini sebelum pandemi yang ‘mengharuskan’ para wanita meningkatkan jamnya mengurus anak sambil bekerja dari rumah, sebuah perjuangan yang membuat mereka, baik yang bukan orang tua dan orang tua lebih berhati-hati memberikan komitmen waktu dalam membesarkan seorang anak.

Bagi mereka yang tidak memiliki anak, leyeh-leyeh seharian di tempat tidur, membaca sampai larut, atau berkelana dari satu kota ke kota yang lain adalah kebahagiaan tersendiri, terutama bagi kaum wanita yang merindukan kemandirian dan ekspresi diri. Seperti yang diutarakan Yasmin T, hidup tanpa anak berarti waktu, uang, dan keputusan-keputusan yang menguntungkan dirinya.

“Aku bisa pergi tanpa rencana, tidur, dan merawat diri setiap weekend sebagai self-care, aku bisa ke mana-mana dan kembali lagi karena aku menginginkannya,” ujar wanita berusia 34 tahun yang bekerja sebagai project coordinator, sambil menambahkan bahwa dia tak melihat kekurangan dalam keputusannya itu.

Ia mengatakan, melihat teman-temannya ‘latah’ menjadi ibu membuatnya menyadari bahwa ia lebih memilih tidak ikut-ikutan. Mereka kesulitan mempertahankan identitas sebelum menjadi ibu sambil merawat sebuah kehidupan baru, menurut Yasmin, adalah sesuatu yang tidak ia alami sendiri.

Kristina, pengacara berusia 33 tahun, juga tak ingin menyerahkan kehidupannya. Menurutnya, dia pikir dia selalu ingin menjadi ibu saat beranjak dewasa, tapi begitu berusia 20 tahunan, ia kehilangan keinginannya itu.

“Aku mencintai apa yang kuinginkan di waktu yang kuinginkan,” katanya. “Sekarang kalau ceritanya seperti ‘apakah aku harus berpikir keras bagaimana hidup seorang anak jika ingin jalan-jalan sendiri ke Eropa?”

Tambahnya lagi, “Setiap orang bilang bahwa kebahagiaan memiliki anak itu luar biasa berbeda, but I’m already happy.” Pilihan tidak memiliki anak membuat para wanita dituntut untuk berpikir ulang, terutama jika usia mereka masih 20-an, seperti Beta. Ia bahkan mengakui bahwa bisa saja ia memilih jalan berbeda, tapi tetap saja memiliki anak bukan pilihan hidupnya.

Sebagaimana ia katakan, “Anak-anak itu mahal biayanya dan ‘lengket’ terus. Aku lebih baik memilih peran sebagai tante yang baik, yang bisa bikin prakarya, nyanyi bareng, dan membacakan buku buat mereka, sembari memiliki rumah yang nggak harus dipasangi child-proof.” [IM]

 

10 Perempuan Dengan Alasan Mengapa Tak Ingin Menjadi Ibu

Kalau kamu, apa alasannya?

“Aku takut berakhir seperti ibu kandungku, yang membuat anak-anaknya harus diasuh foster care.      Aku nggak ingin melakukan itu pada anak-anakku.” – Keke

2 “Ada dua alasannya: 1) Aku nggak suka ide hamil, kemudian melahirkan, hal itu membuat tubuhku berubah. 2) Aku nggak yakin mau mengubah seluruh hidupku untuk seorang anak.” – Carry

3 “Aku memiliki gangguan bipolar, juga ayahku. Anakku kemungkinan besar akan mewarisinya. Meskipun bisa diatasi hidup dengan gangguan lebih sulit. Aku juga merasa sangat tidak nyaman minum obat pengatur mood saat hamil dan menyusui; tapi, tanpa obat, risiko depresi setelah melahirkan sangatlah tinggi. Aku nggak bisa melihat diriku sendiri kuat secara mental sebagai seorang ibu dengan risiko-risiko yang mungkin muncul ini.” – Erika

4 “Aku di-bully sepanjang bersekolah, umumnya karena tampangku. Plus, sejarah mental health ada di keluargaku. Aku sendiri pernah menderita depresi, dan masih memiliki kegusaran. Aku nggak mau seorang anak mengalami hal yang kualami. Tanpa anak, aku bisa fokus mencintai para keponakanku.” – Karola

5 “Aku memiliki jiwa pengelana dan suka sekali bepergian. Kebetulan, pasanganku juga nggak ingin punya anak.” – Hali

6 “Rasanya, kok, terlalu egois untuk memiliki anak. Kehidupanku dan tunanganku senang makan apa yang kami sukai, makan malam bisa kapan saja, melakukan apa yang kami inginkan kapan pun kami inginkan, dan nggak harus pusing memikirkan siapa yang akan merawat anak kamu. I just love our freedom.” – Bella

7 “Aku nggak bisa punya anak kandung, dan sewaktu ibuku mengetahuinya, ia sangat terpukul,    aku sih, biasa saja. Sejujurnya, aku merasa tubuhku ini justru menolongku. Aku nggak pernah ingin punya anak bahkan sebelum tahu secara fisik memang nggak bisa.” – Natalie

8 “Dalam satu masa, aku adalah orang yang sangat keibuan. Dulu, aku tak mampu berpikir untuk tidak memiliki anak, lalu aku mengalami cedera kepala yang mengubahkan hidupku. Begitu parahnya sampai aku menyadari bahwa aku membutuhkan waktu untuk diri sendiri sebelum membaginya dengan orang lain. 

Ternyata, betapa sulitnya memerhatikan dan merawat diri sendiri, dan pastinya akan jauh lebih rumit saat membesarkan anak. Belum lagi melewati masa kehamilan dan bagaimana aku harus minum obat-obatan anti-nyeri supaya kehamilanku tetap sehat. Kenyataannya, aku tak mampu, dan malahan memberatkan hidup anakku kelak.  – Bina

9 “Sejak kecil, aku sudah tahu bahwa aku tidak ingin punya anak. Aku nggak mau main baby dolls dan tidak menyukai bayi sungguhan juga. Beberapa anggota keluarga menyemangatiku untuk berubah pikiran, dan saat remaja, usaha mereka makin keras dan bervariasi. Keputusanku nggak berubah. Aku nggak memiliki keinginan untuk menjadi ibu. Terlebih, masyarakat menaruh tanggung jawab pada perempuan untuk mengurus anak dan rumah. 

Itu dan kedua, aku melihat bagaimana kakakku berjuang keras untuk membesarkan seorang anak yang ia dapat di usia sangat muda. Ia berkorban begitu banyak dan berupaya keras bisa membayar tagihan-tagihan. Akhirnya, aku turut merawatnya kalau orang tuanya sedang nggak sanggup. Cukuplah itu buatku. Aku bersyukur dia bisa pulang ke rumahnya sendiri di akhir hari.” – Alicia

10 “Bukannya nggak mau punya anak, tapi sejak usia 11 tahun memiliki PCOS (Polycystic Ovary Syndrome) yang berat dan berdasarkan sejarah keluarga, aku pasti bakal susah sekali mengandung. Aku besar dalam budaya bahwa setiap wanita harus menjadi ibu, kedengarannya kuno, tapi itulah yang kuinginkan. Setelah menerima sepenuhnya bahwa perjalanan untuk memiliki anak sendiri akan begitu panjang dan menyakitkan secara emosional, dan kemungkinan gagalnya juga besar sekali, aku sangat depresi dan marah sampai orang tua berpikir untuk membawaku ke rumah sakit jiwa. 

Alih-alih, aku malah ikut terapi hamil yang membuatku secara sehat berpikir dan menyadari bahwa aku takkan bisa memiliki anak kandung. Pastinya, aku akan menjadi foster parents pada saat yang tepat.” – Amanda E.

 

Sementara Itu, Selebritas Sedang Beranak Pinak

Keluarga bisa berbeda bentuk dan jumlahnya. Bahkan ada yang sangat banyak jumlahnya! Sementara rata-rata keluarga di negara-negara maju dan modern memiliki dua anak saja, ada beberapa orang tua, sangat terkenal, masih terus menghitung…

1. Alec & Hilaria Baldwin

Mereka orang tua dari Carmen, 10, Rafael, 8, Leonardo, 7, Romeo, 5, Eduardo, 3,5 tahun, Lucia, 3,1 tahun, dan Ilaria, 11 bulan. Alec memiliki seorang putri berusia 26 tahun, Ireland Baldwin, yang dilahirkan oleh mantan istrinya, Kim Basinger.

2. Elon Musk

Bos Tesla ini adalah ayah 11 anak; enam dari istri pertamanya, Justine Wilson: Nevada, 10 minggu (meninggal karena SIDS), si kembar dua Griffin dan Xavier (berganti gender dan nama menjadi Vivian), 18, si kembar tiga Damian, Saxon, dan Kai, 16. Dengan penyanyi Grimes, Musk adalah ayah X, 3 tahun, dan Exa, 1 tahun, dan Techno Mechanicus, yang lahir September 2023 lalu. Selain itu, Musk membapakki bayi kembar yang dilahirkan Shivon Zilis, 2 tahun lalu.

3. James & Kimberly Van Der Beek

James Van Der Beek dan Kimberly adalah orang tua dari enam anak: Olivia, 13, Joshua, 12, Annabel, 10, Emilia, 8, Gwendolyn, 5, dan Jeremiah, 2,5.

4. Eddie Murphy

Komedian ini adalah ayah 10 anak yang usianya merentang dari 5-34 tahun. Mereka adalah Eric, 34 (dengan Paulette McNeely), Christian, 33 (Tamara Hood), Bria, 34, Myles, 31, Shayne, 29, Zola, 24, dan Bella, 22 Nicole Mitchell), Angel, 17 (Spice Girls Mel B.), Izzy, 7, dan Max, 5, (Paige Butcher).

6. Kevin Costner

Costner adalah ayah 7 anak yang berusia 13-39 tahun. Dari istri pertamanya, Cindy Silva, ia adalah ayah bagi Annie, 39, Lily, 37, dan Joe, 35. Dari kekasih singkatnya, Bridget Rooney, Costner memiliki Liam, 26. Kevin kemudian menikah lagi dengan Christine Baumgartner dan kembali memiliki tiga anak Cayden, 16, Hayes, 14, and Grace, 12.

7. Kris Jenner

Kris Jenner bermimpi memiliki anak banyak, dan impiannya tercapai! Pernikahannya dengan Robert Kardashian melahirkan Kourtney, 43, Kim, 42, Khloe, 38, dan Rob, 36. Pernikahan keduanya dengan Bruce (kini, Caitlyn) Jenner, ia melahirkan Kendall, 27, dan Kylie, 25.

8. Clint Eastwood

Pria yang kini dianggap legenda hidup Hollywood memiliki delapan anak dari berbagai wanita: Laurie, 69 (ibunya tidak disebutkan), Kimber, 59 (dari Roxanne Tunis), Kyle, 55, dan Alison, 51 (Maggie Johnson), Scott, 37 dan Kathryn, 36 (Jacelyn Reeves), Francesca, 30 (Frances Fisher), dan Morgan, 27 (Dina Ruiz).

9. Mick Jagger

Frontman Rolling Stones ini hanya sangar di panggung. Di baliknya, ia adalah ayah yang lembut bagi delapan anaknya: Karis, 53 (dengan Marsha Hunt), Jade, 52 (Bianca Jagger), Elizabeth, 39, James, 38, Georgia, 31, dan Gabriel, 25 (Jerry Hall), Lucas, 24, (Luciana Gimenez Morad), Deveraux, 5 (Melanie Hamrick).

10. Mel Gibson

Dengan total sembilan, anak-anak Gibson memiliki rentang usia dari 44 sampai 5 tahun. Ia mendapatkan anak-anaknya dari istri pertamanya dan dua kekasihnya. Siapa saja mereka? Hannah, 43, si kembar Edward dan Christian, 41, William, 38, Louis, 35, Milo, 31, and Thomas, 25 (dari Robyn Moore), Lucia, 12 (Oksana Grigorieva), dan Lars, 7 (Rosalind Ross). [IM]

Previous articleKolaborasi Historis Australian Institute of Music (AIM) dengan Farabi Music School Indonesia
Next articlePPLN Sydney Akan Adakan Sosialisasi Akbar Pemilu 2024 bersama Panwaslu di Maroubra Junction Public School