Ivan Paulus & Resep Sukses Yang “Go A Long Way”

399
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Jika Anda bermimpi memiliki bisnis jutaan dolar di negeri orang, belajarlah dari pria ini. Cintanya pada Tanah Air membuat Ivan memfokuskan bisnisnya untuk menambah kemakmuran Indonesia. Indomedia mendapat kesempatan istimewa berbincang dengannya.

Tidak ada kesempatan lebih emas daripada belajar dari orang yang “mencari, dan mendapatkan”. Dalam hal berbisnis, Indomedia dengan mudah menemukan pelaku bisnis yang memiliki fokus dan etika bisnis yang jelas plus cinta Tanah Air, dan orang itu adalah Ivan Paulus, pemimpin perusahaan Livingstone International di Australia. Melihat sepak terjang bisnisnya, media Tanah Air menuliskan banyak tentangnya.

Dalam kesempatan berbincang dengan Indomedia, pria yang lahir di Jakarta dan mendapat pendidikan bisnis di Harvard Business School – Harvard University, UNSW, Australia, ini membuka dirinya lebih lebar lagi–seorang ayah, suami, anak, dan juga pemerhati nasib sesama yang getol membantu sekuatnya. Juga, dengan santai, pebisnis muda yang hobi bermain saksofon ini, mengisi kolom makanan favoritnya: mi pangsit, soto kuah saja dengan emping serta nasi putih. Nah, mari kita kenali lebih dalam lagi pribadi yang sederhana, apa adanya, dan good at Math ini!

Cinta Tanah Air

Bagaimana Anda bisa bermukim di Australia, khususnya di kota Sydney?
Apakah sudah menjadi warganegara Australia?

Saya datang ke Sydney untuk sekolah bahasa bulan di Juli 1995. Kemudian, secara
tidak sengaja, saya masuk universitas UNSW jurusan Finance and Information Systems.

Apa keuntungannya tetap menjadi WNI buat Anda di tengah besarnya keinginan kebanyakan orang Indonesia untuk mengganti kewarganegaraannya?
Saya tetap menjadi WNI dengan permanent residency saja karena saya cinta Indonesia dan tidak ingin melepas kewarganegaraan Indonesia. Tapi jangan diartikan bahwa
mereka yang mengganti kewarganegaraan tidak cinta tanah air. Itu hanya pilihan
pribadi (seseorang) saja.

Setelah menjadi diaspora, setiap mendengar kata “Indonesia“, rasa apa
yang timbul di hati Anda?

Indonesia berarti rumah saya – tanah kelahiran saya dan dibesarkan dengan banyak kenangannya.

Setiap mengunjungi Indonesia, adakah kebiasaan khusus yang Anda lakukan? (misalnya, makan makanan favorit, dll.)
Begitu keluar dari Bandara Soekarno Hatta, biasanya di rumah, sudah disiapkan nasi padang Garuda (tidak promosi, ya), sate ayam Pak Kumis, dan tahu isi. Itu menu tetap
di hari pertama. Sebisa mungkin, setiap pagi, saya sarapan mi pangsit. Kesukaan saya adalah mie pangsit SuiSen di daerah Pasar Baru, langganan kami sejak 39 tahun lalu. Juga, saya beribadah di Tanah Abang 3. Dan, tentunya, mengunjungi makam
almarhumah ibu saya di Karawang, San Diego Hills.

But First, A Family man

Bisa ceritakan tentang keluarga Anda dan bagaimana Anda dibesarkan?
Saya lahir di Jakarta di keluarga kecil dengan dua anak. Kakak wanita saya berselisih empat tahun, namanya Juliana Paulus. Saya anak paling kecil. Papi dan mami dekat
sekali dengan kami. Saya bersekolah di sekolah yang sama sejak Taman kanak kanak sampai SMA. Ya, selama empatbelas tahun, saya mendapat pendidikan di Sekolah Marsudirini Tanjung Priok, Jakarta Utara. Waktu kelas 6 SD, saya mewakili sekolah mengikuti kompetisi Cerdas Cermat Cepat Tepat di tingkat kelurahan, kecamatan, dan propinsi. Di tingkat propinsi DKI Jakarta, saya kalah dari SD Kemurnian. Lucu sekali pengalaman itu. Acara itu masuk berita televisi nasional. Sepulangnya, kami disambut dengan upacara resmi di sekolah. Kami memamerkan trofi yang diperoleh.

Kepada istri saya, Shirley Lim, dan anak saya, Joshua Paulus, saya sering bercerita
tentang masa kecil saya. Saya suka berkompetisi secara sehat tentunya. Kalau di Indonesia ada sistem ranking, jadi saya berlomba untuk selalu dapat ranking satu.
Sukses itu dimulai dengan perkara yang kecil kemudian menjadi besar. Jadi, tidak
instan dan overnight. Sukses di sekolah tidak lantas menjamin pasti sukses di bisnis.
Dan, sebaliknya, tidak sukses di sekolah belum tentu tidak sukses di bisnis.

… And Then Businessman

Nah, kalau begitu, tolong ceritakan pandangan Anda tentang bisnis.
Banyak yang tidak sukses di sekolah bisa sukses di bisnis. Poin saya adalah sukses itu dimulai hal yang kecil. Human being is a creature of habit. If you have the right habit
since young, most likely you will become successful. Untuk sukses di bisnis, diperlukan mentalitas dan attitude yang CAN DO, resilient, dan willing to take risk. Some people
said take a calculated risk. Itu mudah diucapkan, ya, but when you are bad in mathematics, your calculated risk is also way off. Hahaha. Oh, by the way my
maths is good…

Bagaimana Anda mendapat pengaruh bisnis, siapa mentor Anda,
dan penasihat Anda dalam berbisnis?

Saya jawab sebisanya, ya. Firman Tuhan menuntun dan memberi saya hikmat
bijaksana bagaimana berbisnis dan berelasi. Banyak cara berbisnis, tapi harus
yang memberi kedamaian dan sejahtera hati.

Bagaimana Anda melihat peluang bisnis?
Bisnis pada dasarnya adalah menyelesaikan masalah orang lain. Good problem solving skill is a good business skill. When you are a problem solver, you are half way there to become a successful business person. If you can solve a problem that is faced by many people and big population, you have a good business. Misalkan, di tengah panasnya summer time, Anda datang berjualan es krim dan minuman dingin di pinggir pantai, akan banyak orang datang membeli minuman dingin dan es krim dari Anda — you have what they need or want. When you see a problem faced by a lot of people, try to think of a solution. The business instinct will just follow after that.

Pernahkah gagal berbisnis?
Dan pelajaran berharga apa yang Anda dapatkan (jika ada)?

Semua bisnis dan usaha saya mulai bersama Tuhan. Tuhan yang memimpin kehidupan saya apa pun itu. Termasuk seluruh usaha. Tuhanlah yang membuat usaha berhasil. Tuhanlah yang memberi hikmat kebijaksanaan dalam mengelola usaha. Anda bisa
sukses dan kaya raya, tapi kalau tanpa Tuhan di hidup Anda untuk apa? Sia-sia.

The big NOs in doing business?
– It is a small world, so do business with integrity.
– It is a small world, so do not burn bridges with anyone if you can.
– Always do what you say you will do.
– Your mouth integrity is important in business.
– After a while, people can always believe so much.

Now, A Glimpse of Livingstone

Apa cerita di balik Livingstone International? Dan mengapa Namanya Livingstone? Livingstone bergerak di bidang apa saja?
Livingstone berarti batu hidup atau batu penjuru. Namanya diambil dari kitab suci.
Kami bergerak di bidang consumables dan disposable products di semua sektor, seperti fasilitas gedung, instansi pemerintahan, kesehatan, perkebunan dan peternakan, pertambangan, rumah sakit, rumah jompo, sekolah, taman kanak-kanak, laboratorium
dan scientific, safety and protection, first aid kits, beauty consumables, airlines, perhotelan, dan akomodasi. Kami memiliki 65,000 jenis produk yang mencakup semua yang disebutkan di atas, dengan customer base 26,000 aktif. Tim kami terdiri dari
392 staf dan dengan sepuluh pusat logistik tersebar di seluruh Australia untuk melayani konsumen kami. Selama ini, puluhan tahun kami mengimpor dari China dan negara lainnya, belum dari Indonesia.

Livingstone International membuat sebuah movement campaign
INDONESIA MAJU sejak Februari 2020, mengapa memilih slogan itu?

Movement INDONESIA MAJU adalah pergerakan aktivitas ekonomi yang menggantikan impor yang dulunya dari China dan negara lainnya dengan mengimpor dari Indonesia. Tujuannya supaya kami berkontribusi untuk memajukan kesejahteraan Indonesia dengan cara membantu perekonomian rakyat agar ekonomi Indonesia bangkit. Semoga volume pembelian kami senilai 1,7 trilliun Rupiah per tahunnya itu bisa membuka lapangan kerja untuk saudara-saudara kita di Tanah Air, khususnya daerah terdampak pandemi Covid-19.

Movement campaign ini tercipta setelah kunjungan resmi Presiden Joko Widodo di Australia. Apa yang membuat Anda tergerak untuk cepat menanggapinya? Apakah ada momen khusus buat Anda saat kedatangan Pak Jokowi?
Saya melihat Indonesia berpotensi tinggi dengan kekayaan alam dan populasi yang banyak. Indonesia bisa memproduksi barang-barang yang diperlukan dunia. Indonesia bisa menjadi alternative country selain China dengan menjadi pabrik dunia.
Ekspor Indonesia bisa melonjak dan ini akan bermanfaat untuk ekonomi dan kesejahteraan Indonesia. Dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat, stabilitas nasional akan lebih terjaga.

Saat kedatangan Pak Jokowi, Pak Dubes Kristiarto memperkenalkan saya langsung
ke Pak Presiden, ‘Pak Jokowi ini Pak Ivan pengusaha importir’. Pak Jokowi sangat ramah.

Pak Kristiarto Legowo, Dubes kita, sangat rajin.
Pak Heru Subolo, Konjen saya, juga sangat rajin.
Konsul ekonomi, Ibu Trisari sangat rajin. Direktur ITPC, Ibu Ayu, sangat rajin. Mereka menginspirasi saya untuk ikutan rajin untuk Tanah Air. Jadi, saya ini ikut-ikutan sebenarnya.

Menurut media Makassar Tribun, Livingstone International siap mengalihkan impor produk consumables 1,7 triliun per tahunnya ke Indonesia. Apa yang membuat Anda sangat optimistik bahwa produsen Indonesia dapat menyanggupinya?
Secara progresif dan intensif, kami mengalihkan impor senilai 1,7 triliun per tahunnya ke Indonesia. Kami mengerti adanya tantangan produksi skalabilitas dan kapasitas serta kualitas. Tetapi, pabrik-pabrik Indonesia secara progresif membangun kapasitasnya sehingga akan bisa menyerap volume pembelian kami. Kualitas team kami turun ke lapangan untuk memastikan kualitas bagus dan menjaga reputasi baik Indonesia di mata konsumen Australia. Kami menggandeng kementerian Luar Negeri dan kementerian Perdagangan setiap kali kami berbisnis dengan produsen Indonesia untuk memastikan bahwa kualitas harus terus dijaga, yang tentu menyangkut nama baik Indonesia.

Menurut Anda, selain Jawa, pulau-pulau apa sajakah yang sangat potensial
untuk dijajaki kerjasamanya dalam pengadaan barang?

Kami melihat Sumatera dan Bali berpotensi. Untuk pulau Kalimantan, Sulawesi,
Irian kami masih mencari. Untuk pembaca Indomedia, jika mengetahui produsen
yang sesuai dengan produk kami www.livingstone.com.au, bisa kirim e-mail ke
tim kami indonesiamaju@livingstone.com.au

Menurut Anda, bagaimana iklim berusaha di Indonesia bagi para pelaku
bisnis khususnya diaspora? (Suka dan dukanya berbisnis dengan pengusaha Indonesia di Indonesia dan berurusan dengan otoritas)

Saya dan tim kami menikmati interaksi kami dengan pengusaha-pengusaha Indonesia. Sebagian besar mereka sudah mengerti bahwa untuk mampu bersaing, mereka harus cepat, dalam arti cepat merespons, cepat memutuskan, cepat dalam semuanya, karena China sangat cepat. Jadi, kalau Indonesia bisa cepat, akan terbuka kesempatan lebar untuk menjadi alternatif China. Berurusan dengan otoritas relatif mudah karena kami menggandeng kementerian luar negeri dan kementerian perdagangan.

Bagaimana Anda melihat pasar produk ramah lingkungan dan Startup Bisnis
dari Indonesia?

Australia sebagai developed country lebih sadar lingkungan dan permintaan untuk
produk ramah lingkungan sangat tinggi. Kesempatan emas ini perlu dimanfaatkan
oleh UMKM di Indonesia untuk mulai memproduksi produk ramah lingkungan.
Misalkan, dengan bahan bambu, kayu, rotan, rumput laut. Saya lihat sudah ada tas
yang biasa dari plastik sekarang sudah dari singkong ‘cassava’, juga dari rumput laut. Skalabilitas produksi masih merupakan tantangan karena untuk bahan bahan organik
ini kita bergantung dengan alam dan panen dan cuaca yang mendukung.

Harapan & Impian

Apa harapan Anda, sebagai pengusaha diaspora, untuk menjawab tantangan “SDM Indonesia yang lulusan universitas di Indonesia selalu kalah bersaing dengan SDM Indonesia lulusan luar negeri?”
Sebagai pengusaha diaspora, saya berharap SDM Indonesia yang lulusan universitas
di Indonesia mampu lebih praktis dan mengambil calculated risk. Berani berwiraswasta dengan entrepreneurial skill. Banyak SDM Indonesia lulusan luar negeri pun tidak bagus. Banyak SDM Indonesia lulusan universitas di Indonesia bagus-bagus, hanya saja tidak memiliki kesempatan untuk kuliah di luar negeri. Saya berharap, apabila SDM Indonesia lulusan universitas di Indonesia berkemampuan bahasa Inggris dan Mandarin, pasti akan mampu bersaing dengan lulusan luar negeri. Komunikasi menjadi kebutuhan utama dalam berbisnis dan aktivitas ekonomi. Serta menguasai e-commerce dan digital economy yang menjadi tren saat ini dan ke depannya.

Kalau Anda tidak rajin dan tidak pandai serta tidak berani, perlu refleksi diri.
Kalau Anda rajin dan pandai, tapi tidak berani, Anda masih bisa berkehidupan.
Kalau Anda rajin dan pandai serta berani, you will go a long way.

Bagaimana Anda menyikap UU Cipta Kerja yang kini sedang menjadi
kontroversi itu?

UU Cipta Kerja adalah berita super baik untuk kemajuan ekonomi Indonesia.
Perijinan di tanah air sangat rumit dan rentan pungli di berbagai tingkatan oleh
mafia perijinan. UU Cipta Kerja dibuat untuk mempermudah perijinan, mempermudah investasi masuk, melindungi buruh dari pengusaha yang tidak bayar pesangon.
Begitu banyak manfaatnya. Tentunya mafia perijinan yang notabene periuk nasinya
diambil melawan dengan semua cara termasuk menggerakkan massa sebisa mereka.
Saya pikir demikian. Semoga UU Cipta Kerja bisa diterima dan berjalan mulus.

Apakah Anda masih memiliki impian? Jika ada, apakah itu?
Impian saya mendirikan yayasan dan ‘perpetual fund’ dana abadi untuk membantu
orang-orang membuka bisnis mereka sendiri dan menjadi mandiri. Daripada saya memikirkan bagaimana membuka lapangan pekerjaan untuk membantu orang,
saya berimpian membuka dana abadi untuk membantu orang menjadi pebisnis
juga dan membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain juga. Dengan cara ini,
kita menciptakan sel-sel pebisnis baru dan akan lebih cepat bermanfaat.
Jadi, fokusnya mencetak pebisnis untuk job creations. Ini masih jauh,
tapi tidak mustahil. [IM]

 

IVAN’S PICK

1. Buku bisnis terbaik: “Rich Dad Poor Dad” Robert Kiyosaki.
2. Buku non-bisnis terbaik: Buku dengan gambar-gambar makanan? Hehehe
3. Hobi yang tidak ada sangkut pangkutnya dengan profesi Anda:
bermain saksofon – sudah 27 tahun!
4. Koleksi: None. saya tidak suka menyimpan benda.
5. Tempat liburan favorit: It has to be Singapore.
6. Tempat nongkrong favorit: in my spa bathtub watching
Hong Kong movies with a travel magazine in my hands.
7. The thing that makes me happiest in life is…
family time eating a meal together with a grateful heart.

 

 

 

Previous articleUmur Hanyalah Angka: Upaya-Upaya Menuju Forever Young
Next articleDubes Ri Australia Beri Sambutan Di Acara Serah Terima & HUT ICC NSW Inc. Ke 20