Indonesia Promosikan Investasi Hulu dan Hilir Pertambangan di IMARC Australia

255
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Untuk pertama kalinya, Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bersama KBRI Canberra, KJRI Sydney, IIPC Sydney, dan Australia-Indonesia Business Council (AIBC) berpartisipasi pada gelaran International Mining and Resources Conference & Expo (IMARC) yang diselenggarakan di International Convention Centre (ICC), Sydney, Australia
(2-4/11/2022).

Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM, Indra Darmawan, menggarisbawahi bahwa IMARC merupakan salah satu event strategis untuk menyampaikan berbagai perbaikan kebijakan investasi yang telah dilakukan, termasuk adanya Undang-Undang Cipta Kerja (UUCK) sejak November 2020 dan implementasinya berupa percepatan perizinan berusaha melalui sistem Online Single Submission (OSS) Berbasis Risiko di Kementerian Investasi/BKPM.

“Partisipasi Kementerian Investasi/BKPM dalam IMARC adalah untuk menyampaikan informasi reformasi kebijakan, khususnya dalam hal layanan perizinan berusaha melalui sistem OSS yang lebih cepat dan mudah, serta mempromosikan potensi industri pertambangan, tidak hanya industri hulu namun juga pengembangan industri hilir yang saat ini menjadi prioritas pemerintah Indonesia dalam rangka menciptakan nilai tambah melalui beberapa proyek investasi yang siap ditawarkan,” ujar Indra.

Partisipasi Indonesia dalam gelaran IMARC ini diawali dengan pendirian booth seluas 6mx3m yang dimanfaatkan Kementerian Investasi/BKPM untuk mempromosikan peluang investasi di Indonesia dalam 5 proyek pengolahan hasil pertambangan, termasuk aluminium dan nikel. PT Dahana, salah satu BUMN Indonesia yang juga bergabung dalam booth pameran, turut menyediakan informasi terkait dengan potensi perusahaan dalam sektor jasa pertambangan.

Booth pameran delegasi Indonesia diresmikan melalui prosesi pengguntingan pita oleh Duta Besar Republik Indonesia di Canberra, Siswo Pramono; Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM, Indra Darmawan; Konsul Jenderal RI di Sydney, Vedi Kurnia Buana; Direktur Promosi Wilayah Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, dan Pasifik Kementerian Investasi/BKPM, Saribua Siahaan; Kepala Indonesian Investment Promotion Centre (IIPC) Sydney, Haryo Yudho Sedewo; serta Chair – Minerals, Energy and Industry AIBC, Geoffrey Gold.

Sebagai side event partisipasi pada IMARC, Kementerian Investasi/BKPM menyelenggarakan kegiatan “Luncheon: Fostering Indonesia-Australia Investment in Mining, Resources, and Downstream Industries” yang dihadiri oleh 20 orang peserta yang terdiri dari perwakilan pemerintah dan pelaku usaha bidang pertambangan dan keuangan dari Indonesia dan Australia. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat hubungan investasi antara kedua negara dalam sektor pertambangan.

Duta Besar Siswo Pramono dalam sambutan pembukaannya menyampaikan bahwa pertemuan tersebut dapat menjadi momentum untuk mewujudkan berbagai potensi kerja sama sektor pertambangan antara kedua negara. “Saya gembira melihat bagaimana pelaku usaha Australia telah menunjukkan ketertarikan mereka untuk mengembangkan industri kritikal baru di Indonesia. Dengan implementasi IA-CEPA, UU Cipta Kerja, serta upaya hilirisasi, berbagai peluang kerja sama terbuka lebar,” tambahnya.

Dalam kegiatan luncheon tersebut, Konjen RI Sydney, Vedi Kurnia Buana, menyampaikan kesiapan Pemerintah Indonesia dalam memfasilitasi para investor dari kedua negara. “Pertambangan merupakan salah satu sektor investasi antara Indonesia dan Australia. KBRI, KJRI, dan IIPC Sydney akan siap sedia untuk memberikan asistensi kepada pelaku bisnis dalam merealisasikan investasi dua arah di Indonesia dan Australia,” ujar Konjen Vedi Buana.

Di antara peserta pada kegiatan luncheon, hadir pula MACH Energy Australia, EMR Capital, dan Merdeka Copper and Gold. Kehadiran ketiga perusahaan besar tersebut merupakan bukti keberhasilan kerja sama investasi sektor pertambangan antar kedua negara.

Selain kedua kegiatan di atas, Delegasi Indonesia juga berpartisipasi pada sesi diskusi Global Opportunities di IMARC yang mengangkat tema “Indonesian Mining and Downstream Investment.” Sesi diskusi tersebut menghadirkan tiga panelis, yakni Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM, Indra Darmawan; Executive Director EMR Capital, Tony Manini; dan General Manager DTU 2 PT Dahana, Abdul Haris.

General Manager DTU 2 PT Dahana, Abdul Haris, menyampaikan kegembiraannya menjadi salah satu delegasi Republik Indonesia dalam berbagai rangkaian kegiatan IMARC 2022 ini. “Kami berharap, dengan hadirnya PT Dahana dalam ajang IMARC ini, Dahana menjadi lebih dikenal di industri pertambangan di Australia dan dapat meningkatkan penjualan produk-dproduk Dahana di Australia ke depannya,” pungkas Haris.

IMARC merupakan event pertambangan terbesar dan paling berpengaruh di Australia yang mempertemukan para pemimpin perusahaan pertambangan, investasi, dan teknologi untuk mendiskusikan berbagai peluang dan pengembangan industri pertambangan, dari hulu hingga hilir. Pada tahun ini, IMARC telah mendatangkan 7800 delegasi dari 110 negara, serta 436 exhibitors dari berbagai perusahaan pertambangan maupun negara-negara dengan potensi pertambangan. [IM]

Previous articleFGBMFI Indonesia ANZ Regional Convention 2022
Next articleUji Nyali dan Jalin Persaudaraan Melalui Sepak Bola Api