Virtual CID-6 (Congress of Indonesian Diaspora)

233
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Bulan Agustus 2021 ini adalah bulan yang special bagi para Diaspora Indonesia dimanapun mereka berada, termasuk Diaspora yang berada di Australia. Acara perhelatan dua tahun sekali, Congress of Indonesian Diaspora (CID) yang ke-6 baru saja dilakukan pada tanggal 14 Agustus 2021.

Dengan mempertimbangkan alasan kesehatan public karena suasana Covid-19 pandemik, maka CID-6 ini kali dilakukan secara virtual atau online. Meski diadakan secara virtual, hal ini tidak menghalangi  semangat para Diaspora Indonesia serta masyarakat Indonesia untuk berpartisipai dan mengikuti agenda CID-6 pada tahun ini. Tercatat lebih dari 4,000 peserta yang mendaftar pada CID6 dan berasal dari 69 negara, termasuk publik di tanah air. Kongres virtual ini berlangsung selama 12 jam non stop dari pagi jam 09.00 WIB sampai jam 21.00 WIB.

Tema yang diusung pun berkaitan dengan situasi tersebut, yaitu: Post Covid-19 : A Stronger Indonesia With Diaspora. Tema tersebut diusung dengan harapan bahwa Indonesia akan lebih kuat dan lebih baik paska pandemic dengan partisipasi aktif dan kontribusi dari berbagai elemen masyarakat termasuk diaspora Indonesia.

CID-6 dibuka dengan mendengarkan lagu Indonesia Raya dan Bagimu Negeri yang dinyanyikan oleh paduan suara oleh beberapa diaspora Indonesia yang tersebar di seluruh dunia. Pidato sambutan dilakukan oleh Menteri Luar Negeri, H.E. Retno L.P. Marsudi yang mengajak Diaspora Indonesia untuk ikut serta secara aktif memberikan solusi dalam upaya penanggulangan pandemic Covid-19, dengan salah satunya adalah melakukan kerjasama dengan perwakilan pemerintah RI di berbagai negara. Menlu mengungkapkan bahwa sebanyak 132 perwakilan Indonesia di luar negeri siap bekerjasama dengan diaspora Indonesia dalam membantu warga negara Indonesia yang terdampak pandemi.

“Solidaritas diaspora Indonesia telah kita lihat dan telah ditunjukkan sejak awal pandemic,” ujar Menlu saat memberikan kata sambutan dalam Congress of Indonesian Diaspora 6 (CID-6).

Sementara itu, Chairman Board of Trustee IDN Global Dino Patti Djalal mengatakan selain perlunya dibentuk Badan khusus diaspora juga diperlukan database para diaspora yang terdiri dari identitas diaspora, keahlian, domisili negara. Sehingga pemerintah akan secara mudah menghubungi keahlian diaspora sesuai kebutuhan  dan bergerak secara konseptual.

Presiden IDN Global, Said Zaidansyah menambahkan bahwa acara CID-6 ini menunjukkan bentuk dukungan dan solidaritas Diaspora sebagai insan bangsa kepada kemajuan tanah air. Sejatinya Diaspora harus dilihat sebagai “Brain gain” dan bukan “Brain drain”.

Kongres diaspora ini menyajikan lima (5) acara seminar dengan tema dan para pembicara yang pakar di bidangnya. Selain itu, CID-6 menampilkan hiburan dari talenta Diaspora Indonesia, serta mengadakan forum  terbuka antara Diaspora Indonesia dari seluruh penjuru dunia, para pembuat kebijakan di Indonesia, dan publik di tanah air.

Diaspora Indonesia dari Australia turut aktif meramaikan acara CID-6, mulai dari bagian dalam acara Open Forum Millennial yang menghadirkan Luis Leeds (Motocross Racer) yang bercita-cita untuk berlaga dalam Formula 1 dan menggunakan Mobil balap berpola Batik, untuk menunjukkan sebagai bagian Diaspora Indonesia. Dalam acara Diaspora Showcase, yang menampilkan beragam aktivitas para diaspora di mancanegara, Australia diwakili oleh IDN Australia termasuk oleh IDN New South Wales, IDN South Australia dan IDN Victoria. Selain dari Australia, acara showcase juga disemarakan oleh utusan diaspora dari IDN Chapter lainnya, yang berasal dari 15 negara dan 5 Diaspora etnik (Jawa, Kawanua, Bonapasogit, Maluku dan Minang). Wakil dari Bonapasogit Sydney pun ikut berpartisipasi.

Partisipasi Diaspora dari Australia juga terlihat pada acara Open Forum Entrepreneur yang menampilkan salah satunya adalah Ivan Tandyo, dari Melbourne. Ivan menjelaskan mengenai perjalanannya dalam membangun Navanti Holdings hingga mencapai posisi saat ini. Ivan mengatakan bahwa “Perjalanan hidup saya membuktikan kalau modal itu bukan segala-galanya. Saya bangkit setelah kehilangan semuanya dan mulai dengan bisnis yang modalnya tidak terlalu besar, tapi tetap berbekal dengan kreativitas.”

Partisipasi lain dari Australia adalah mengawal acara Open Forum Stakeholders yang menghadirkan anggota DPR Dapil Luar Negeri, Christina Aryani, dan juga dengan Staf Ahli Menlu bidang Sosbud dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia di Luar Negeri, Siti N. Mauludiah. Pada sesi itu dibahas soal perhatian pemerintah (dalam bentuk bantuan dan peraturan) yang berkaitan dengan Diaspora di luar negeri, seperti KMLN – Kartu Masyarakat di Luar Negeri.

Terdapat sejumlah usulan yang terkait dengan diaspora Indonesia turut mencuat di dalam CID-6. Di antaranya adalah pernyataan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno untuk pembentukan 1000 Diaspora Kreatif serta Kementerian Kerja Parekraf Diaspora pada sesi ekonomi bertajuk “Upaya Percepatan Ekonomi Pada Masa Pandemi”. Sementara itu Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dalam sesi open forum menyatakan kesanggupannya untuk menyediakan Diaspora Desk di acara Trade Expo Indonesia (TEI) yang berlangsung setiap tahun sekali untuk memfasilitasi pengusaha Diaspora Indonesia di seluruh dunia agar dapat memperluas jaringan dan berkolaborasi dengan para eksportir Indonesia.

Rekaman ulang acara virtual acara CID-6 dapat didapatkan di website acara: congress.diasporaindonesia.org atau melalui official channel Youtube IDN Global (Diaspora Indonesia). Acara CID ini juga diisi dengan acara musik oleh sejumlah musisi diaspora Indonesia. Salam Diaspora! [IM/SM]

Previous articleRayakan Hari Kemerdekaan RI ke-76, Merah Putih Menyala di Brisbane
Next articleUNTUK INDONESIAKU