Sutradara Belanda, Joris Ivens

232
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail

Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Anda pernah mengetahui kemungkinan seorang Belanda dianggap Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia?

Orang Belanda ini bernama Joris Ivens, sutradara terkenal dari Hollywood yang menjabat sebagai Film Commissioner Pemerintah Belanda di Australia. Tugasnya, ‘to shoot the glorious return of the Dutch Colonial Government to Indonesia in 1945’. Joris memang ahli menembak (shoot film – red) menggunakan film kameranya tapi bukan dengan senapan mesin!

Tujuh puluh lima tahun yang lalu, surat kabar The Sydney Morning Herald melaporkan bahwa pada 21 November 1945, Joris Ivens, mengundurkan diri dari jabatan Film Commissioner di Netherlands Indies Government atau Pemerintah Belanda Kolonial di Australia.

Joris Ivens tidak setuju dengan Pemerintah Belanda yang tidak menepati janji
atas penerapan Piagam Atlantik terhadap Rakyat Indonesia.

Joris Ivens mengatakan – He could not reconcile the promises of self-government made
by the Netherlands Government to the Indonesian people with the attitude now taken.

The people of Indonesia had a full right to expect a realistic application of the Atlantic Charter (now the United Nations Charter) in their efforts to obtain national independence’, katanya.

Joris Ivens kemudian memutuskan untuk mendukung pejuangan membela kemerdekaan Indonesia dengan memulai film ‘Indonesia Calling’. Film selesai pada tahun 1946.

Film ‘Indonesia Calling’, memperlihatkan peristiwa luar biasa saat pemogokan buruh dermaga di pelabuhan Sydney pada akhirnya Perang Dunia Kedua, tahun 1945.

Joris tinggal di flat bertingkat tinggi di wilayah Kings Cross, Sydney dengan pemandangan indah sekitar pelabuhan Sydney. Dia menyaksikan tujuh kapal Belanda yang tidak dapat bergerak karena adanya larangan hitam/black ban oleh buruh dermaga Australia dan pelaut Indonesia. Kapal yang akan memuat serdadu Belanda dan senjatanya untuk
kembali menjajah Indonesia.

Film Indonesia Calling disutradarai oleh Joris Ivens dan diriwayatkan oleh Peter Finch actor film Australia yang terkenal

Perdana Menteri Australia Ben Chifley menolak menghentikan aksi buruh ini.
Dia mengatakan bahwa aksi ini, masalah Belanda dan penduduknya yaitu
orang Indonesia yang waktu itu masih dianggap warga negara Belanda.

Pembuatan film ini dilarang oleh polisi, karena dianggap menghina Belanda,
sahabat baik Sekutu dan juga atas perintah Panglima Sekutu Lord Mountbatten.
Tapi Joris tidak mempedulikan perintah Sekutu ini.

Film ‘Indonesia Calling’ mendapat pertunjukan pertama di bioskop di Kings Cross
pada bulan Agustus 1946, penuh dengan penonton. Wartawan surat kabar Australia
dan pendukung Belanda menuntut film ini harus dilarang.

PM Ben Chifley mengundang pemerintah Australia menonton film ini di Canberra.
Mereka setuju bahwa film ini tidak bohong dan berdasarkan kejadian faktual.
Larangan film ini ditarik dan pertunjukan akhirnya tidak hanya di negara Australia
tetapi juga di London dan New York – seluruh dunia barat mengetahui bahwa
Indonesia telah merdeka.

Para penumpang kapal Manoora dari Sydney menyelundupi film ini melalui
tentara Belanda di Jakarta. Pertunjukan film Indonesia Calling di Yogyakarta
meningkatkan semangat ribuan para pejuang dan masyarakat Indonesia.

Paspor Joris Ivens yang dianggap sebagai penghianat, dicabut oleh
pemerintah Belanda dan ia tidak bisa kembali ke negara asalnya.

Satu tahun sebelum Joris meninggal pada tahun 1989, Menteri Kebudayaan dan
Pendidikan Belanda memberi Orde Nedelandse Leeuw pada Joris dan mengatakan
bahwa ada banyak pertentangan dan perselisihan pada masa lalu tetapi akhirnya
Joris Ivens yang terbukti benar.

Film Indonesia Calling disimpan di National Film and Sound Archive NFSA di Canberra
dan Gamelan Digul di adegan tarian film ini disimpan di Monash University, Melbourne.
Film dan gamelan menjadi Benda Cagar Budaya Australia/ National Heritage of Australia.

WEBSITES:
https://stories.anmm.gov.au/blackarmada

FILMS:
JORIS IVENS – INDONESIA CALLING – 1946
JOHN HUGHES – INDONESIA CALLING; JORIS IVENS IN AUSTRALIA -2009

BLACK ARMADA EXHIBITIONS:
– AUSTRALIAN NATIONAL MARITIME MUSEUM, DARLING HARBOUR, SYDNEY, 2015
– MUSEUM BENTENG VREDEBURG, YOGYAKARTA, INDONESIA, 2015
– ARMA MUSEUM, UBUD, BALI, 2016
– TWO NATIONS, A FRIENDSHIP IS BORN, JAKARTA, SURABAYA, DEN PASAR,
MAKASSAR – NOVEMBER 2019

Oleh: ANTHONY LIEM, B.ARCH. (UNIVERSITY OF SYDNEY), AUSTRALIA-INDONESIA HISTORY RESEARCHER, NOVEMBER 2020.

REFERENCES:
RUPERT LOCKWOOD – BLACK ARMADA/ ARMADA HITAM
MARTIN O’HARE & ANTHONY REID – AUSTRALIA & INDONESIA’S STRUGGLE FOR INDEPENDENCE

JAN LINGARD – REFUGEES AND REBELS – INDONESIAN EXILES IN WARTIME AUSTRALIA
MARGARET GEORGE – AUSTRALIA AND THE INDONESIAN REVOLUTION
NATIONAL LIBRARY OF AUSTRALIA’S TROVE WEBSITE – THE SYDNEY MORNING HERALD, SEPTEMBER 24, 25, 26, 1945

[IM]

Previous articleCara Mengajukan Graduate Visa
Next articleAGM IBC-NSW Inc