SOSOK KARTINI INDONESIA DI AUSTRALIA

128
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail

Perjuangan Ibu Kartini selalu menjadi motivasi bagi kaum Perempuan Indonesia dimana pun mereka berada. Di jaman yang semakin maju dapat kita saksikan banyaknya posisi penting yang kini diduduki kaum hawa.

Untuk memperingati Hari Kartini yang jatuh pada 21 April, saya ingin menampilkan
2 tokoh wanita tegar yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia di Australia.

Ibu Erna Tan
Dikenal oleh masyarakat karena dedikasinya sebagai seorang pendidik. Hal ini sudah pernah saya tulis pada edisi sebelumnya. Tapi masih banyak sisi lain yang tidak banyak diketahui orang. Hal ini yang mendorongku untuk menulis lebih jauh mengenai beliau, sosok pribadi yang sederhana, rendah hati dengan segudang pengalaman dan prestasi yang pantas menjadi panutan kita. Mari kita ikuti perjalanan beliau.

Erna Tan, dilahirkan di Bandung 80 tahun yang lalu, dan hingga kini masih aktif dalam mempromosikan Bahasa Indonesia.

Di Sekolah Dasar, Erna kecil mengikuti pelajaran Bahasa Mandarin tapi kemudian dipindahkan ke sekolah Belanda karena keluarga dari Ibu semuanya fasih berbahasa Belanda. Setelah merdeka dan Belanda kembali ke negaranya, Erna yang waktu itu
sudah duduk di SMP mengambil Bahasa Inggris.

Erna melanjutkan SMA di sekolah Katholik dan mengambil jurusan Bahasa. Pilihannya adalah Bahasa Perancis dan Jerman, disamping bahasa wajib yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa kuno dan Bahasa Arab oleh guru bangsa Indonesia.

Kecintaannya akan bahasa dan peluang yang sangat memungkinkan tidak disia-siakan. Dalam usia yang masih remaja Erna sudah fasih berbahasa Mandarin, Belanda, Jerman, Perancis dan Inggris.

Setelah menyelesaikan SMA, Erna melanjutkan ke Universitas Pajajaran di Bandung mengambil jurusan Sastra Inggris dengan minor Bahasa Latin, Perancis dan Jerman.
Saat mempersiapkan thesis yang berjudul “The similarities and differences between
The Great Expectations and the Tales of Two Cities”, Ibu Haryono (maiden name
Jones Minoque dari New Zealand
) adalah supervisornya. Ibu Haryono melihat
ketekunan siswinya dan mendaftarkan Erna untuk mengikuti Diploma in
Teaching English as a Foreign Language (Dipl. T.E.F.L) di Australia.

Pada 10 November 1967, Erna tiba di Australia.
Beliau dengan mudah dapat beradaptasi dan melanjutkan studinya di Sydney University. Atas info Trees McCormick–tentang dibutuhkannya tenaga pengajar di Presbyterian Ladies College (PLC)–membuka lembaran baru dengan diterimanya Erna
di PLC pada tahun 1978.

Kepala sekolah masa itu adalah Freda Whitlam (adik Prime Minister Gough Whitlam). Sepulang mengajar di PLC, Erna masih mengajar Bahasa Indonesia, 3 malam dalam seminggu di Sydney Technical College.Mary Lane adalah Kepala Sekolahnya dan salah
satu muridnya adalah Jan Linggard, yang juga seorang penulis buku. Erna bekerja di Sydney Technical College dari 1971 hingga 1981.

Karena visa statusnya sebagai Private Student, Erna diharuskan kembali ke Indonesia.
Tapi keberuntungan masih berpihak. Dengan bantuan Dr. Miller, G Whitlam dan Mary Lane, Departemen Imigrasi memberikan ijin tinggal untuk Erna setelah mengikuti interview yang dilakukan oleh Sekretaris PM William McMahon.

Saat Erna terpilih menjadi koordinator bahasa asing di PLC, kurikulum ditambah dengan bahasa Jepang. Selama bertahun-tahun Erna dengan sabar menjalankan program ini dan betul-betul mengenal struktur bahasa sehingga mempermudah komunikasi dengan orang tua murid.

Di PLC tidak ada sistim kontrak seperti di Universitas. Maka untuk membiayai hidupnya, Erna harus bekerja keras dengan memperdalam  dan mengambil kursus Bahasa Jerman agar dapat mengajar di kelas Senior. Erna juga sempat bekerja sama dengan Bapak
Jon Soemajono, membuat dan memeriksa ujian dalam Syllabus Commitee NSW dan Department of Education, serta membuat rekaman-rekaman Bahasa Indonesia yang dirangkumnya selama bekerja di PLC.

Setelah 41 tahun bekerja di PLC, Erna mengundurkan diri. PLC kehilangan salah
satu tenaga ahli yang pasti sulit untuk dicari penggantinya.

Di usianya sekarang, sudah seharusnya beliau menikmati masa istirahat. Tapi hal ini tidak berlaku bagi seorang Erna. Beliau masih semangat dan gesit. Di setiap acara penting pasti kita akan temui sosoknya. Meski usianya sudah diatas 80 tahun, beliau masih lincah dibelakang kemudi mobil mungilnya. Daya ingatnya sangat tajam, saat bercerita mengenai pengalamannya dan nama-nama orang yang ikut mewarnai perjalanan hidupnya.

Sebagai ungkapan rasa terima kasihnya kepada pemerintah yang telah banyak memberikan kontribusi dalam perjalanan hidupnya, Erna menyumbangkan tenaga, keahliannya dengan mengajar Bahasa Indonesia di IWA dan di kelompok belajar
bagi warga Australia yang ingin memperdalam Bahasa Indonesia, yang diadakan
setiap hari Selasa di KJRI.

Sumbangsih, dedikasi tanpa pamrih, membagikan ilmunya tidak saja bagi warga Indonesia, tapi juga warga asing adalah perjuangan yang patut kita hargai.
Menurutnya, membagikan ilmu adalah kepuasan yang tidak dapat dibeli dengan materi.

Jernih payah dan dedikasi sebagai pengajar yang tidak pernah mengenal kata lelah
dalam mengenalkan Bahasa Indonesia merupakan inspirasi bagi kita. Erna tidak
hanya sebagai seorang pendidik dan sahabat, tapi beliau juga adalah sosok panutan.
Jiwa pendidiknya yang tulus sangat peduli atas anak didiknya. Disamping itu, beliau memberi tanpa mengharapkan balasan. Ibu Erna adalah Pahlawan tanpa tanda jasa.

Weddy Rhamdeny Karnalies
Wanita satu ini tidak pernah diam, ada saja ide dan kegiatan yang dilakukan.
Saya mengenalnya sejak kedatangannya ke Australia 32 tahun. Dibesarkan dari keluarga Minang yang sangat menjunjung tinggi kebudayaan leluhurnya. Dilahirkan tahun 1956 dan menyelesaikan pendidikannya di Jakarta tahun 1979. Pada tahun 1982, Weddy menikah dengan Herry Yusril–yang merupakan cinta sejak masa sekolahnya–di Padang Panjang.

Saat ini Weddy aktif sebagai Presiden Indonesian Women Islamic Network of Australia (IWINA) yang dicetuskannya pada 2019. Sifatnya yang tegas bahkan terkesan “to the point“ seringkali banyak disalahartikan. Namun dengan sikap yang terbuka, menerima kritikan-kritikan dengan lapang hati,
ia dapat dengan mudah menyelesaikan permasalahan.

Pada tahun 2020, Weddy kehilangan orang yang sudah menemani perjalanan hidupnya selama 38 tahun. Rasa duka mendalam dirasakannya, meskipun persiapan mental
sudah dipersiapkan sejak mengetahui suaminya menderita sakit 3 tahun lalu.

Mari kita simak perjalanan salah satu Kartini ini.

Weddy mengawali kedatangan di Sydney dengan bekerja di Daihatsu Australia.
Setelah itu berturut-turut bekerja di beberapa perusahaan ternama di Australia
seperti Forward Australia International College, ANZ, Malaysian Consulate dan
terakhir di American Express.

Sifatnya yang selalu ingin belajar, membekali diri dengan menambah ilmu dan mencapai yang lebih baik, menggiringnya ikut bergabung dengan berbagai kegiatan bisnis, Internet Marketing, Network Marketing, bahkan pernah menjadi Business Coach/Team Leader yang membawahi 57.000 orang di Asia Pacific.

Kepercayaan dan pengalaman yang sudah digenggam serta ketekunan dalam bekerja, menambah keahliannya dalam berkomunikasi. Tanpa lelah berbagai macam training diikuti dan membuahkan hasil dengan berbagai penghargaan yang diterima, antara lain beberapa kali trip keluar negeri, sampai mendapat mobil dan hadiah-hadiah mewah lainnya

Kesuksesan dan semua yang telah dicapai tidak membuatnya menyerah dan puas.
Weddy tetap bekerja keras untuk mencapai impiannya, namun tidak membuatnya
menutup diri. Ia tetap ikut bergabung dalam organisasi Masyarakat Indonesia.

Sifat suka berorganisasi yang diturunkan mendiang ayahnya–yang juga seorang tokoh masyarakat di Indonesia–membuatnya aktif dan duduk sebagai pengurus di beberapa organisasi Masyarakat Indonesia di Sydney  antara lain IKAPPASBASKO, KOSGORO,
ICC, FISI, IAWA, CIDE dan IWINA.

Dengan segudang aktifitas, sebagai business woman, pengurus di beberapa organisasi ditambah kewajiban sebagai isteri dan Ibu, dapat dijalani dengan baik berkat pembagian tugas, saling memahami dan yang terutama dukungan dan ijin orang terdekatnya yaitu suami yang sangat memahami sifat isterinya.

Semua bidang sudah dijalani, namun nurani sebagai wanita tidak menutup mata dengan masalah-masalah “domestic violence”, kehidupan Lansia serta mengangkat derajat
dan posisi wanita. Hal inilah yang mendorong kuat hatinya untuk membentuk sebuah organisasi wanita. Bersama beberapa teman terdekat yang mempunyai prinsip yang
sama, terbentuklah Indonesian Woman Islamic Network of Australia (IWINA) dan
Weddy terpilih sebagai Presidennya.

Weddy giat memperkenalkan IWINA ke berbagai organisasi wanita internasional
dengan banyak menghadiri dan menjadi pembicara. Misi IWINA tidak hanya dikenal
oleh masyarakat Indonesia saja tapi juga masyarakat negara lain. Suara wanita Indonesia perlu didengar. Sekarang organisasi ini sudah banyak bergabung dengan organisasi wanita dari berbagai negara. Banyaknya kegiatan positif dan sudah dirasakan manfaatnya menarik banyak perhatian dan semakin menambah jumlah anggotanya.

Sejak kepergian sang suami, Weddy sempat menghentikan semua kegiatannya.
Pada tahun 2021 Weddy bangkit kembali dan mulai tampil di berbagai acara.
Beberapa kali memimpin rapat dan menyusun program IWINA tahunan. Impiannya, agar organisasi yang menjadi wadah untuk mencerdaskan dan memberi kesempatan para wanita untuk berekspresi dan berkarya ini, dapat diwariskan ke generasi selanjutnya dan berguna bagi anak cucu.

Kepergian sang suami memang meninggalkan luka yang dalam dan tidak mungkin tergantikan, tapi perjalanan hidup tetap berlanjut. Weddy yakin dengan kegiatan
yang bermanfaat dan membantu banyak masyarakat, suaminya pasti akan bangga.

Weddy bersama suami tercinta telah mengantarkan kedua anak laki-lakinya menempuh masa depan dan memberikan 2 cucu. Walau anak-anaknya sudah mempunyai keluarga sendiri, tapi tangan dan hati seorang Ibu tetap terbuka lebar bagi buah hatinya yang
butuh kasih sayang dan nasehat-nasehatnya. [IM]

Oleh Yoen Yahya

Previous articleALENG: Inspirasi Car Detailer/Song Writer
Next articleSkema Bantuan Untuk Bisnis Usaha Kecil