Siuaji Raja – Work Is Worship

197
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail

Pria kelahiran Medan, 30 September 1963 ini termasuk senior dalam urusan diplomasi antarnegara. Ia dan keluarganya selalu semangat berpindah-pindah tempat penugasan. Wah, kok, seru, ya? Apa yang membuat mereka antusias dan apa saja urusan WNI di luar negeri yang membuat tetap setia mengabdi pada negara? Mari kita berbincang dengan Konsul Protokol dan Konsuler yang bertugas di Darwin ini.

Sebelum bertugas sebagai Konsul di Konsulat RI Darwin di Northern Territory (NT), Australia, Bapak bertugas di mana saja?
Selama 33 tahun bekerja di Kementrian Luar Negeri, separuhnya, saya bertugas di luar negeri, yang hampir sama juga situasinya dengan mayoritas diplomat lain. Saya pernah bertugas di empat benua, minus Afrika; masing-masing yang pertama di KBRI Moskow, kedua di KBRI New Delhi, ketiga di KJRI Sydney, keempat di KBRI Washington DC, dan saat ini di KRI Darwin.

Isteri saya Kalawaty mengantisipasi setiap posting dengan antusias. Anak-anak kami, Rathi, Ratna dan Wisnu, ikut bersama, menyesuaikan dan menempa diri dalam pendidikan di berbagai negara tersebut. Di sini, kami bisa melihat exposure yang diperoleh anak-anak sehingga mereka bisa berteman dengan para sahabat dari berbagai negara, lebih global dalam memandang hidup, dan mengenyam pendidikan dengan sistem yang berbeda,
yang saya kira dapat mewarnai kreativitas mereka kemudian.

Tugas saya di KRI Darwin, Northern Territory, adalah posting kedua di Australia.
Konsep saya dalam bekerja yaitu melaksanakannya dengan sepenuh hati, karena
selain mengemban tugas, bekerja itu adalah mencapai kepuasan yang mendalam
di relung hati. Menurut saya, “Work is Worship”.

Biasanya, begitu ditempatkan di sebuah negara, hal-hal–di luar kantor–pertama apa sajakah yang biasanya Anda lakukan (kebiasaan khusus)?
Ini sama saja seperti seorang pindah ke suatu negara. Mencari sekolah terbaik untuk anak, hunting tempat tinggal supaya bisa mendapat akomodasi yang dekat dengan kantor dan lengkap dengan berbagai fasilitas lainnya–termasuk barang-barang yang khas Asia, membeli peralatan dapur kalau rumah atau apartemen yang biasanya disewa itu tidak furnished,dan sering kali juga menunggu datangnya barang-barang yang dikirim dari Jakarta.

Setelah itu, mengurus pembukaan rekening bank dan membeli kendaraan. Saya kira tidak perlu mobil baru tentunya karena tugas diplomat kan cuma tiga sampai empat tahun saja.

Kami juga harus bisa melakukan segala sesuatu secepatnya untuk menjadi warga setempat yang langsung siap untuk bekerja.

Bisa ceritakan masa kecil/remaja Bapak?
Saya kecil dan besar di Medan, Sumatera Utara, bersama seorang kakak dan adik.
Hidup sangat sederhana sebagaimana anak-anak lainnya di Jl. Pasundan. Sekolah sampai tingkat SMA kebanyakan berjalan kaki dan terakhir bersepeda. Pernah juga tabrakan
jatuh dari sepeda karena melihat poster film yang terpampang di satu bioskop hingga patah stang sepedanya. Suka mandi hujan dan mengambil jambu air milik tetangga dengan melempar secara sembunyi-sembunyi.

Ketika SMA saya termasuk anak baik-baik, sekolah ikut belajar bersama secara berkelompok, lari, dan main takraw. Pernah hiking ke Gunung Sinabung di Tanah Karo. Semasa kuliah, saya suka memelihara janggut to make a difference among others dan
ikut mengasuh majalah Humanika di FISIP Univeritas Sumatera Utara, serta mengajarkan pelajaran bahasa Inggris ke teman-teman dan menerjemahkan bahan kuliah yang berbahasa Inggris.

Pada semester kedua di FISIP USU ada kunjungan dari pejabat Kemlu yang mengajak anak-anak Fisip USU bergabung di Kemlu, Jakarta. Saya tertarik dengan tawaran itu.

Selesai kuliah pada tahun 1987, saya berangkat ke Jakarta dan tinggal di rumah kakak. Iseng-iseng untuk sekedar pengalaman saya juga coba cari kerjaan di sektor swasta. Diterima, tapi saya abaikan karena saya lebih senang masuk ke Kemlu.

Bagaimana Anda memulai di dunia diplomasi antarnegara?
Ketika masuk Kemlu tahun 1988, saya belajar bahwa pekerjaan diplomasi terkait representing (mewakili), protecting(melindungi), negotiating (merundingkan),
promoting (mempromosikan), dan reporting (melaporkan). Sambil belajar semua aspek tersebut, saya perlu banyak membaca, mendengar, dan mengikuti arahan pimpinan.

Diplomasi dengan berbagai tipe/kategori dan strategi bersifat bilateral, regional,
dan multilateral. Saat bertugas, saya bekerja di posting bilateral di kedutaan besar, konsulat jenderal, dan, terakhir ini, di konsulat.

Ketika bertugas di Ditjen Multilateral pernah menyampaikan pidato di PBB mewakili Delri, senang dan bangga rasanya dapat membacakan pernyataan di forum internasional.

Kita tahu kebanyakan urusan diplomat memang bersifat bilateral yakni memajukan
urusan dua negara, untuk hal mana kita harus mencari dan menemukan mitra kerja
yang tepat, bernegosiasi dalam memajukan suatu proses kerjasama.

Siapa diplomat panutan Anda dan mengapa?
Diplomat panutan saya adalah Ali Alatas karena berbagai alasan praktis, misalnya penampilan beliau, senyum beliau, penguasaan bahasa, dan istilah diplomatik tertentu yang sering dapat kita temukan dalam berbagai komunikasi dan capaian beliau.

Beliau menghargai setiap staf yang ditemui dan memberi kita semangat untuk selalu belajar terus berdiplomasi. Kita termotivasi melihat seni berdiplomasi yang dilakukan beliau.

Pernah ada perbaikan draft laporan yang saya siapkan untuk beliau koreksi.
Tulisan beliau demikian bagusnya dan rapi pula. Saya menyimpan dengan
baik koreksian beliau itu dalam kumpulan file saya.

Bagi Anda, apa saja suka dan dukanya menjadi diplomat?
Sukanya banyak. Dukanya saya kira nggak banyak. Sukanya dalam berdinas,
ketika kita melakukan perjalanan memakai paspor diplomatik, dianggap sebagai warga terhormat oleh host country, sebagai mitra, diberlakukan dengan baik dalam hubungan kerja, walaupun terkadang dalam proses bisnis yang bersifat birokratis dapat saja kita mengalami keterlambatan atau kendala.

Secara pribadi, sukanya adalah dapat menyekolahkan anak dengan lebih baik, mereka lebih bisa berbahasa asing dan mengenyam pendidikan dengan kualitas yang lebih tinggi. Anak-anak bisa punya teman dari berbagai negara yang mungkin dapat menjadi aset
untuk networking mereka di kemudian hari.

Dukanya misalnya harus tinggal jauh dari orangtua dan sanak/saudara, apalagi jika mereka kurang sehat atau meninggal di Tanah Air, dan kita tidak dapat kembali
karena jauh berada di negara orang, di benua lain.

Duka lainnya bagi saya, misalnya ketika bertemu situasi sedih dengan yang dialami
warga kita di luar negeri, kita juga ikut merasakan. Bagi saya, selama tahun 2000-2004 pemulangan sekitar 250 nelayan Indonesia yang ditahan di Port Blair, kepulauan Andaman dan Nicobar, India, ke Aceh, adalah salah satunya. Dari sebanyak enam kali repatriasi,
dua kali kami mendatangkan kapal TNI AL untuk langsung membawa sekitar 140 nelayan Indonesia dari Port Blair ke Sabang. Para nelayan ini ditahan oleh otoritas India dengan tuduhan melewati batas wilayah laut.

Sejauh ini, tantangan terberat yang Anda hadapi sebagai diplomat,
khususnya di NT?
Saya baru enam bulan di NT, tantangan pasti ada di dunia yang serba berkembang ini, apalagi dengan kemajuan IT di mana hampir semua pekerjaan terhubung secara online. Kini, pekerjaan bisa dilakukan di mana saja dengan gadget yang menempel di tangan. Sesuatu yang tak terpikirkan misalnya dalam dua dekade yang lalu.

Saya menangani masalah protokol dan konsuler, hal-hal yang terkait dengan urusan paspor dan masalah-masalah lain urusan imigrasi. Itu juga juga mengalami berbagai perubahan menuju efisiensi dengan tujuan pelayanan yang lebih baik, terutama bagi perlindungan WNI dan bantuan hukum Indonesia.

Dalam melihat urusan keseluruhan dari suatu perwakilan, seorang diplomat bisa luwes bergerak di berbagai bidang utama tanpa kekakuan dan ketika berbagai hal tidak ketemu solusi dalam waktu yang ditetapkan, berbagai tantangan (berat) bisa saja muncul.

Suatu tantangan bisa terkadang terpecahkan secara informal melalui perkenalan
yang sifatnya tentu tidak selalu resmi-resmian. Pengalaman menunjukkan banyak persahabatan dan hubungan informal telah membantu percepatan solusi bagi masalah formal. Jadi di zaman ini, lebih banyak bergaul secara informal nampaknya lebih baik
dan lebih menguntungkan.

Menurut Anda, bagaimana menumbuhkan minat generasi muda terhadap
dunia diplomasi di masa depan?
Diplomasi di masa depan nampaknya bersifat digital dan IT-based. Karenanya,
persiapan seseorang masuk ke dunia diplomasi mesti mengalami penyesuaian pula.

Berdiplomasi secara umum memang menarik. Jika secara politik masalah dengan suatu negara sudah oke, tentunya isu-isu lain akan mudah dijajaki. Mestinya seseorang perlu banyak membaca, misalnya terkait sejarah tentang diplomasi di dunia dan mengetahui situasi di mana berbagai perang, pertikaian dan sejumlah persoalan pelik lainnya diselesaikan di satu negara dan juga antarnegara. Contoh, misalnya dalam urusan penetapan perbatasan di darat dan di laut.

Sejarah perlu ditelusuri untuk menelaah bentuk-bentuk urusan menyangkut luar negeri yang diselesaikan di masa dahulu demi menjadikannya sebagai suatu modalitas dalam melihat suatu masalah yang mungkin mirip di zaman ini, walaupun terlihat dengan berbagai tantangan yang baru.

Untuk menjadi diplomat yang handal, salah satunya adalah banyak membaca.
Perlu pintar, tapi tidak sombong; ini penting dalam dunia diplomasi.

Hal-hal apa sajakah yang pasti berubah di wajah dunia diplomasi
masa depan yang tidak pernah Anda pelajari sebelumnya?
Ini pertanyaan menarik. Jika mau jujur, kita melihat banyak hal yang timpang
di dunia ini. Mulai dari kiprah PBB dan keinginan negara adidaya di sana, tarik menarik antara negara maju dan pergulatan negara berkembang, dan sejumlah negara miskin
yang terombang ambing karena permainan negara tertentu.

There is no free lunch kata orang yang saya kira benar. Diplomasi digital adalah
sesuatu yang tidak dipelajari banyak orang sebelumnya. Tapi ini menjadi kenyataan dengan kemajuan IT, yang mungkin terjadi pergeseran dari hard power ke soft power
dan kemudian menuju smart power.

Para diplomat mungkin bertemu resmi sekali, setelah itu kegiatan dilanjutkan secara virtual/online. Diplomasi menjadi lebih efisien tapi akankah memberi hasil yang lebih baik, adil, dan menyentuh kemajuan bersama dan rasa kemanusiaan; ini masih terus menjadi pertanyaan.

Life is a game, play it. Life is a challenge, meet it. Life is love, enjoy and share it. [IM]

Previous articleAkselerasi Pemanfaatan IA CEPA Bagi Industri Otomotif, Pemerintah RI Fasilitasi MoU Senilai AUD 6 juta
Next articleJessica Halim