Piknik Kemerdekaan Minang Saiyo Sydney 2022

345
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Kangguru di tanganku, Garuda di dadaku

Di saat suku dan agama terkadang justru menjadi pemisah, di momen hari kemerdekaan, kata “Indonesia” menjadi pemersatu. Peringatan hari kemerdekaan masih sakti, walau dari benua berbeda, berjarak ribuan kilometer dari republik. Piknik Kemerdekaan Minang Saiyo Sydney 2022 adalah buktinya. Suku dan agama bukanlah penyekat.

Karena faktor cuaca, tujuan piknik semula ke kota pantai Newcastle di utara Sydney harus dialihkan ke Canberra, sekitar 300 km di barat daya Sydney. Sabtu siang, 3 September 2022, matahari bersinar cerah di ibukota Australia di awal musim semi dengan suhu nyaman 17 derajat celcius.

Di usianya yang sudah di kepala tujuh, Syahrida Djanaib selalu bersemangat dan ceria.
Akrab dipanggil Oma Ida. Di acara-acara komunitas, mantan jurnalis ini kerap bernyanyi, berdeklamasi, dan bergoyang. Oma Ida menginjak benua kangguru untuk pertama kali
di tahun 1970-an.

“Kangguru di tanganku, Garuda di dadaku”, sambil mengepalkan tangan dari bangku depan bus, demikian teriakan Oma Ida yang memang sudah memegang paspor Australia. Hal ini merupakan sebuah pengakuan bahwa Australia telah memberikan kehidupan yang baik. “Nasionalisme dan ke-Indonesian memang bukan persoalan secarik kertas, itu soal hati dan rasa,” kata Zulfan Tadjoeddin, ketua Minang Saiyo Sydney.

Acara puncak Piknik Kemerdekaan MSS diselenggarakan di tepi Lake Burley Griffin, danau buatan di tengah kota Canberra. Nama danau diambil dari nama arsitek Amerika yang memenangkan kompetisi merancang ibu kota Australia tersebut lebih se-abad yang lalu.

Setelah makan siang dengan menu dendeng balado, ayam goreng, dan gulai daun singkong,
acara dimulai dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya, lanjut dengan lagu heroik Hari Merdeka.
Tak ketinggalan, lagu Minangkabau-pun berkumandang. Acara dipimpin dan dikoordinasikan oleh Meilanie Buitenzorgy, yang juga menyiapkan quiz kemerdekaan dan lomba tebak lagu ala “berpacu dalam melodi” dalam perjalanan bus Sydney-Canberra.

Dengan dress-code merah putih, peserta piknik mengikuti berbagai lomba ala agustusan. “Membangkitkan jiwa muda, bahagia mengingatkan kembali ke masa lalu dengan lomba-lomba, gembira berkumpul dengan kawan-kawan yang berasal dari seluruh Indonesia,” kata Leli Hadi yang bermukim di Campbelltown.

Dhani Amry berharap acara-acara seperti ini bisa diteruskan ke generasi berikutnya di Australia, supaya mereka paham nilai-nilai kemerdekaan negara kelahiran orang tuanya.

Bagi Jon Imran, seorang penerima beasiswa Colombo Plan untuk kuliah di Australia di tahun 1960an, “momen 17 Agustus-an adalah untuk mengenang jasa pahlawan kemerdekaan kita.” Hal senada diaminkan oleh Etty Latief dari Padang Panjang dan Muhammad Adnan dari Sulit Air.

Hari merdeka menurut Yus Adnan adalah untuk, “mengingatkan kembali masa di tanah air dengan acara-acara HUT RI dan mengenang pahlawan.” Tetapi Yus mengingatkan realita yang sedikit berbeda, “enak di tanah air, ada yang bantu di semua urusan rumah, di Australia babu di kita, nyonya di kita.” Dengan nada canda, Herlina menambahkan, “semangat merdeka jaman now adalah merdeka dari utang di warung dan utang sama mertua…lol”.

“Cinta negeri kelahiranku, semoga tetap semangat dan menghormati perbedaan,” demikian Mel Latief yang dibawa hijrah oleh orang tuanya ke Australia saat menginjak bangku kelas dua Sekolah Dasar di tahun 1980-an.

“Menyegarkan kenangan sewaktu hidup di Indonesia,” tulis Taty Haryati Alex yang suaminya masih terbilang sepupu dari Bung Hatta.

Rangkaian cara ditutup dengan tari poco-poco. Tidak lupa, peserta piknik berfoto bersama di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Canberra dan Gedung Parlemen Australia. [IM]

Previous articlePekik MERDEKA di Pinggiran Kota Sydney
Next articleApa itu skrining kanker?