Perahu-Perahu Menembus Sydney Festival 2022

226
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Sejak tahun 1977, setiap bulan Januari ditengah-tengah musim panas, kota Sydney selalu disemarakkan dengan aneka ragam acara kesenian yang menakjubkan. Festival ini diselengarakan di banyak tempat termasuk di Sydney Opera House. Seniman dan kelompok seni dari berbagai penjuru dunia dihadirkan, termasuk yang berasal dari Indonesia seperti Jack Lesmana Quartet di tahun 1981, Senyawa di tahun 2015, dan Ekosdance Company tahun 2017.

Januari nanti, grup kesenian asal Indonesia, namun yang sudah lama menetap di Austalia akan tampil di Sydney Festival dengan pertunjukan wayang kontemporer berjudul Perahu-Perahu. Ratusan wayang berbentuk aneka perahu yang pernah mengarungi perairan nusantara akan dihidupkan oleh dua dalang bersama musikus yang menggunakan beberapa lantunan syair berbahasa Jawa, Indonesia dan Inggris.

Premiere pertunjukkan ini berlangsung di Adelaide bulan Oktober lalu dan diterima dengan hangat oleh penonton OzAsia Festival. Sebuah review oleh Paula Thompson dalam ArtsHub, memberi pertunjukan ini 4 bintang dan menyatakan “… the shadow puppets and their design is incredible in itself, but the way the artists use them to tell a story is masterful.

Kelompok ini diprakarsai oleh Jumaadi, seniman kelahiran Sidoarjo, Jawa Timur yang karyanya sudah banyak dikoleksi oleh museum, gallery dan perseorangan termasuk Museum of Contemporary Art Sydney dan National Gallery of Australia di Canberra. Jumaadi pernah mewakili Australia ke Moscow Biennale 5 di tahun 2013 dan Gwangju Biennale di Korea Selatan pada tahun 2021. Saat ini karyanya sedang ditampilkan di Asia Pasific Triennial 2021 di Gallery of Modern Art, Brisbane.

Singkat cerita, Jumaadi merasa kurang puas berkecimpung hanya di media seni lukis, patung dan instalasi. Ketika sedang di Sidoarjo beberapa tahun lalu, ia menekuni guntingan-guntingan kertas dan kardus sebagai media seni rupa. Eksperimentasi ini mendapat sambutan bagus dari beberapa museum termasuk Art Gallery of New South Wales (AGNSW) yang kemudian mengoleksi karya-karya seni yang terbuat dari guntingan kertas.

Guntingan kardus dan kertas dibentuk menjadi manusia, tumbuh-tumbuhan, landskap laut atau suasana hujan, lalu digunakan dalam media seni pertunjukan. Seperti wayang atau film bisu, pertunjukan awal Jumaadi hanya diiringi oleh bunyi kardus yang dipukul-pukul atau petikan gitar. Lalu berkembang dengan tambahan gamelan dan alat musik lain, hingga bunyian dan musik sintetik.

Di tahun 2020, salah satu karyanya seperti ini ditampilkan di Mosman Art Gallery dengan tema pertukaran antara pulau Run dan pulau Manhattan selepas perjanjian Breda di tahun 1650an. Pertunjukan ini berjudul Island of Shadow. Musik keroncong menjadi iringannya sebagai pengingat masa penjajahan bangsa Eropa di Nusantara. Dalam pertunjukan ini, satu cerita kelam dipaparkan. Belanda membantai penduduk pulau Banda dengan memperkerjakan samurai dari Jepang. Dalam waktu 3 bulan, 12 ribu jiwa lenyap.

Untuk pertunjukkan Island of Shadow ini, Jumaadi pertama kali mengajak Michael Toisuta untuk berkolaborasi. Sebenarnya saat itu, Michael sudah mulai jenuh dengan tipe pertunjukan teater di Australia dan sedang mencari jalan untuk berkarya di Indonesia. Kolaborasi mereka berjalan dengan baik dan berlanjut sesudah Island of Shadow. Perahu-Perahu adalah ketiga-kalinya mereka berkerja sama. Dalam pertunjukan ini, Michael berperan sebagai co-director bersama Jumaadi, dan tampil sebagai salah satu pemusik dipanggung. 

Michael yang besar di Salatiga ini, bermarga Toisuta dari kepulauan Maluku. Namun keluarga ayahnya telah lama hidup di pulau Timor Barat. Ibunya berasal dari Australia. Michael telah lama berkarir sebagai sound designer dan komposer untuk pertunjukan teater dan contemporary dance, termasuk untuk Sydney Theatre Company (STC) dan Belvoir. Salah satu karyanya bersama kelompok teater TerrynTheCuz dari Malaysia, pernah tampil di New York City. Kolaborasinya dengan beberapa seniman teater Asia Australia yang berjudul White Pearl, akan tampil di STC di bulan Maret 2022. 

Dalang (dari kiri ke kanan): Julia Westwood, Jumaadi, Maki Ogawa. Photo credit: Emma Luker for Replay Creative

Tampil sebagai shadow makers atau dalang adalah Maki Ogawa dan Lisa Djuandhi. Maki adalah seniwati dengan orang tua berasal dari Jepang yang turut mendesain dan membuat guntingan kertas menjadi wayang. Lisa adalah ilmuwan muda kelahiran Surabaya, seorang ilmuwan di bidang kimia. Lisa adalah anggota termuda dari kelompok ini yang bersama anggota lainnya, rajin berlatih memainkan guntingan-guntingan kertas ini supaya menghasilkan bayang-bayang yang hidup dan bisa bercerita.

Diantara 4 pemusik yang tampil dipanggung adalah veteran rocker dan seniman panggung kondang, Sawung Jabo. Musisi legendaris Indonesia ini dulunya memimpin super band Swami, bersama Iwan Fals di tahun 90an. Jabo memulai karirnya di dunia teater sewaktu bergabung dengan Bengkel Teater yang dipimpin W. S. Rendra sejak awal tahun 70an.

Musisi (dari kiri ke kanan): Michael Toisuta, Mick Stuart, Kyati Suharto, Sawung Jabo. Photo credit: Emma Luker for Replay Creative

Kyati Suharto tampil sebagai penyanyi, pemain biola, seruling bambu dan perkusi. Dengan latar seniman keramik, Kyati berpengalaman sebagai musisi dan komposer yang membuat instrumennya sendiri dari tanah liat. Kyati adalah komposer musik untuk karya video art bersama Leila Stevens, yang pernah dipamerkan di AGNSW. 

Mick Stuart memainkan polymba, alat musik bikinannya sendiri, dan drum kit. Alat-alat musik kontemporer seperti ini dipadukan dengan alat musik tradisional seperti bonang dan saron dan menghasilkan suguhan musik dan bunyi-bunyian yang menyatu dengan image-image yang disuguhkan dalam pertunjukan ini. Karya ini diproduseri oleh Contemporary Asian Australian Performance. 

Perahu-Perahu akan tampil di Sydney Festival dari tanggal 13-16 Januari di Carriageworks.
Tiket bisa dibeli di sydneyfestival.org.au.

Previous articleITPC Sydney Gandeng Mahasiswa Australia Mengkampanyekan Produk Indonesia Berkelanjutan
Next articleSebuah Refleksi, 2021 DALAM 3 KATA!