Nathanael Ferry Ferdian Suhendro

148
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Selamat Makan Dalam Damai

Rasa-rasanya sulit menghilangkan imej Sydney dengan restaurant Shalom dalam benak diaspora Indonesia dan turis Indonesia di kota terpadat di Australia ini. Dengan klaim rasa otentik Indonesia, Shalom adalah salah satu tempat “terdamai” jika rindu makanan rumahan ala Tanah Air

Oke, harus diakui kalau orang Indonesia doyan sambal. Yang menyebalkan, sambal di luar Indonesia pedasnya umumnya nggak “nampol”! Tapi, secara khusus, argumen itu, mohon maaf, nih, terbantahkan di Shalom Indonesia Restaurant. Coba saja makan ayam goreng dengan sambel Shalom. Dijamin, tubuh ini bakal jejingkrakan untuk meredam rasa pedasnya. Saking favoritnya sambal ini, Shalom menyajikannya dalam botolan agar mudah dijual. 

Nah, apa saja yang ingin kita ketahui dari Shalom? INDOMEDIA berbincang langsung dengan sang owner Shalom yang juga menjabat sebagai Presiden Indonesian Restaurant Association (IRA) 

Bagaimana awal mulanya mendirikan restoran? Apa motivasinya?
Sebenarnya, Shalom Restaurant ini adalah bisnis keluarga dan sudah berdiri sejak tahun 1998. Shalom pertama ada di Kingsford didirikan oleh orang tua. Saya bersama istri dan adik hanya meneruskan apa yang sudah dibangun untuk membawa Shalom lebih maju ke depannya.

Sebenarnya, motivasi pertama kali untuk mendirikan Shalom Restaurant karena dahulu masih belum banyak restoran Indonesia di Sydney. Kami ingin memerkenalkan dan membawa masakan Indonesia untuk lebih lagi dikenal dan dapat dinikmati oleh banyak orang Indonesia dan lokal Australia di Sydney.

Apa konsep Shalom sebagai restoran? Oh ya, mengapa diberi nama Shalom?
Soalnya, Namanya Kristen sekali, apakah nggak kuatir terlalu “segmented”?
Konsep Shalom Restaurant adalah membawa rasa sumptuous authentic indonesian cuisine di tengah masyarakat Sydney supaya membawa cita rasa yang sama seperti di Indonesia. Jadi, ketika customer menikmati makanan Indonesia di Shalom Restaurant, mereka seperti menikmati masakan Indonesia di Indonesia.

Nama Shalom sendiri sebenarnya pemberian dari orang tua rohani kami Ps. Samuel Yusuf. Shalom memiliki arti “peace with you”. Jadi, ketika pelanggan makan di Shalom harapannya dapat mendapatkan “damai di hati dan jiwa”. Kalau kuatir (terlalu christian segmented), sih, nggak pernah ya. Justru, kadang banyak orang berpikir kalau Shalom adalah jewish restaurant (karena “shalom” adalah bahasa Yahudi). Tapi, seiring berjalannya waktu, banyak orang yang sudah mengenal Shalom sebagai Indonesian restaurant dan selama ini nggak ada masalah.

Mengapa memilih makanan tradisional Indonesia?
Masakan tradisional Indonesia adalah masakan khas asli Indonesia, dan masakan yang paling dicari orang Indonesia yang jauh dari kampung halaman. Jadi, banyak orang Indonesia ingin makan masakan Indonesia yang khas walaupun mereka tinggal di Australia dan merasakan rasa yang asli Indonesia.

Bagaimana Shalom membangun reputasi sehingga dapat terus eksis sampai hari ini?
Kepercayaan dan komitmen adalah kunci utama untuk kami untuk dapat bisa bertahan sampai hari ini. Karena tanpa kepercayaan dan komitmen untuk memberikan yang terbaik buat pelanggan mungkin Shalom tidak bisa ada hari ini. Kami selalu berusaha untuk dapat memberikan yang terbaik buat semua customer Shalom, juga memberikan cita rasa yang tidak pernah berubah-ubah, serta pelayanan yang memuaskan yang selalu kami tingkatkan.

Bagaimana awalnya memilih menu? Dan siapa yang bertanggung jawab untuk menata menu?
Menu Shalom kebanyakan di-create oleh istri saya, karena ia seorang chef dan suka sekali masak masakan Indonesia. Dulu, sebenarnya, menu makanan Shalom tidak banyak seperti sekarang ini. Tapi, dengan berjalannnya waktu, kami selalu berusaha memberikan pilihan baru buat customer dengan membawa menu-menu baru Indonesia, baik klasik dan (yang lagi) trendi di Indonesia supaya customer punya alternatif variasi baru. Tujuannya supaya mereka nggak bosan. Masak iya, tiap kali makan makanan yang sama… Percaya atau tidak, Shalom tidak pernah menghilangkan menu. Buku menu kami semakin tebal tiap tahun.

Tantangan terberat apa saja yang pernah Anda alami sebagai pebisnis restoran? Dan, bagaimana Shalom bisa survived?
Tantangan terbesar bagi kami adalah pandemi Covid-19. Mungkin sebagian orang juga merasakan hal yang sama, karena hampir semua omzet turun sejak lockdown dan border ditutup. Tetapi, thanks God, kami masih bisa survived karena kepercayaan pelanggan setia Shalom yang selalu mendukung sampai Shalom terus ada hingga hari ini. Dukungan pelanggan setia Shalom setidaknya dapat membantu kami untuk dapat bertahan sampai hari ini.

Bagaimana Anda merekrut staf? Adakah syarat khusus?
Syarat khusus, sih, sebenarnya tidak ada. Kami hanya mencari staff yang bisa bekerja sama dalam tim kerja.

Dan, bagi Anda, staf adalah…
Bagi kami, staff adalah seorang partner kerja dan saudara dalam suka dan duka. Tanpa mereka, Shalom belum tentu bisa berkembang sampai saat ini. Jadi, kami selalu bilang kepada mereka bahwa Shalom adalah milik mereka juga. Jadi, mereka punya andil dalam mengambil keputusan dan tindakan. Saya selaku owner mengucap syukur dan berterima kasih telah diberikan jajaran staff terbaik dan selalu loyal kepada Shalom. Bahkan, jika saya mengajukan menu baru, mereka duluanlah yang mencicipi dan turut menentukan enak nggaknya. Jadi, layak jual atau tidaknya menu baru juga tergantung mereka, lho. Dan, saya cukup percaya penilaian mereka.

Menurut pengamatan Anda, menu apa sajakah yang menjadi favorit pelanggan Shalom?
Hampir semua menu Shalom disukai customer dan setiap orang punya favorit yang berbeda-beda. Yang jelas, menu Ayam Shalom masih tetap lebih disukai oleh customers yang suka pedas. Sedangkan mereka yang tidak suka pedas biasanya pesan Ayam Bakar Bumbu Rujak. Untuk pelanggan asli Australia lebih menyukai Rendang, Sedangkan customer asli malaysia lebih suka pesan Nasi Campur karena rasanya seperti Nasi Lemak. Sebagai gambaran betapa favoritnya Ayam Shalom, kami menghabiskan 180kg ayam per minggunya.

Menurut Anda, bagaimana profil pelanggan Shalom?
Profil pelanggan Shalom bermacam-macam; student, pekerja, keluarga. Mereka juga punya background yang berbeda, dari segala macam budaya, agama, etnis ataupun negara. Jadi, tugas kami adalah harus bisa menempatkan posisi sebagai restoran yang bisa dijangkau untuk semua kalangan pelanggan.

Dan, buat Anda, pelanggan adalah…
Shalom berusaha untuk selalu memberikan pelanggan menu kesukaan masing-masing. Jadi, apa pun keinginan mereka kami berusaha memberikan yang terbaik, karena kepuasan pelanggan adalah yang terpenting. Saat merasa puas, pelanggan akan selalu kembali lagi.

Bagaimana Anda mengatasi keluhan pelanggan?
Setiap keluhan pasti kami tanggapi dengan serius. Pasalnya, kita sadar bahwa kami tidaklah sempurna. Pastilah ada keluhan dari customer. Yang paling penting adalah bagaimana kami tetap mengatasinya secara profesional dan memberikan solusi yang terbaik untuk semua pelanggan supaya mereka dapat kembali datang dan puas makan di Shalom.

Bagaimana Anda mengatasi persaingan restoran Indonesia yang makin banyak di kota Sydney?
Sebagai salah satu pemilik restoran Indonesia yang ada di Sydney, saya selalu beranggapan tidak ada kata SAINGAN dalam berbisnis. Saya sadar bahwa setiap berkat itu adalah pemberian dari Tuhan dan Tuhan sendiri yang mengatur dan memberi.

Tidaklah tepat kalau kita judge restoran lain karena setiap restoran pasti memiliki ciri khasnya masing-masing. Lebih tepatnya, punya trademark tersendiri di mata pelanggan. Tugas kita adalah bagaimana selalu memperbaiki dan melihat ke DALAM restoran kita masing masing. Apa sajakah yang harus ditingkatkan dalam pelayanan dan kualitas makanan yang kita berikan kepada setiap customer kita.

Jadi, selama ini, saya dan pemilik restoran Indonesia lainnya berusaha menjalin hubungan yang baik karena sesama pelaku usaha. Saya percaya, ketika kita bersatu, kita lebih kuat. Kita bahkan bisa membantu antara pemilik restoran dengan memberikan ide ataupun masukan supaya kita semua bisa sukses dan berkembang, serta berjuang bersama-sama membawa masakan Indonesia untuk dapat dikenal lagi di Austalia.

Bagaimana Anda dapat menjaga mutu masakan?
Kami selalu berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik. Caranya yaitu dengan memberikan rasa aman dan kepercayaan kepada pelanggan bahwa setiap makanan yang dijual aman bagi semua customer dengan kualitas dan mutu yang baik. Jadi, kami selalu berusaha menjaga mutu semua bahan makanan layak untuk dikonsumsi. Juga, menjaga penampilan fisik bahan makanan, yaitu ukuran, bentuk, warna, ataupun aroma dan kesegaran selalu kami utamakan supaya customer tidak kecewa.

Apa harapan Anda sebagai pemilik restoran Indonesia di Sydney?
Harapan saya, sih, semoga pandemi ini cepat berakhir dan border kembali dibuka, sehingga banyak turis datang dan ekonomi bisa dapat kembali normal dan masakan Indonesia makin digemari di negara Australia.

Oh ya, Anda sekarang juga presiden Indonesian Restaurant Association (IRA). Tolong jelaskan, dong (bagi yang belum tahu), apa, sih, IRA itu?
IRA ini sebenarnya dibentuk buat memfasilitasi pemilik restoran Indonesia untuk dapat saling bekerja sama dan saling berkenalan antar pejuang bisnis, khususnya pemilik restoran. Pasalnya, saya sadar, ketika kita semua jalan bersama-sama, beban yang ada akan terasa lebih mudah dihadapi dan lebih ringan dipikul. Kita sama-sama berusaha maju dan sukses membawa nama Indonesia untuk lebih dikenal di Austalia, khususnya dalam hal cita rasa makanan khas Indonesia.

Bisa terangkan bagaimana cara untuk bisa bergabung dengan IRA? Apa saja keuntungan yang bisa didapatkan bagi pemilik restoran?
Bergabung dengan IRA bisa langsung masuk website IRA di www.ira.org.au dan gabung dengan gratis. Keuntungannya yaitu kita bisa saling support dan membantu sebagai sesama pebisnis yang bergerak di bidang kuliner makanan. IRA saat ini sudah bekerja sama dengan beberapa distributor Indonesia, seperti Living Stone, Sony Trading, dan Eastern Cross. Kerjasama ini mempermudah kita untuk mendapatkan harga khusus dan ada fasilitas yang baik dari mereka. IRA saat ini juga di-support penuh oleh KJRI Sydney, sehingga ada hubungan yang baik antara kita sebagai pelaku usaha dan pemerintah.

Apa program kerja IRA yang sedang atau akan dilakukan?
IRA akan selalu berusaha mencari program yang menguntungkan bagi setiap member IRA. Mungkin, ke depannya, kami akan mengadakan festival masakan Indonesia atau Indonesia Market. Mungkin juga kita bekerja sama dengan para distributor lainnya dengan memasarkan produk-produk unggulan mereka.

Potensi apa yang Anda bisa lihat apabila semua restaurant-restaurant Indonesia bisa bergabung dan bekerja sama di IRA?
Kalau semua restoran bergabung dengan IRA, pasti ada kemudahan buat kita untuk sama berjalan dengan satu tujuan. Kita juga bisa mendapat harga pokok yang jauh lebih murah. Pada akhirnya, saya yakin, restoran Indonesia akan semakin kuat berdiri di Australia karena ada support dari semua pemilik restoran.

Apakah ada pesan khusus yang mau disampaikan untuk para pelanggan Shalom dan juga para pemilik restaurant Indonesia terkait dengan IRA?
Buat semua pelanggan Shalom, saya ucapkan banyak terima kasih buat kepercayaan selama ini sudah menjadi pelanggan setia Shalom Restaurant, terutama dalam kondisi pandemi saat ini. Shalom Restaurant masih bisa ada saat ini karena support dan dukungan dari semua masyarakat Indonesia yang tinggal di Sydney. Kami minta maaf jika masih ada yang kurang dalam pelayanan kami. Bersama dengan tim Shalom Restaurant, saya akan selalu berusaha memberikan yang terbaik buat semua pelanggan Shalom.

Dan buat semua pemilik restoran Indonesia yang ada di Sydney, saya, selaku Presiden IRA, ingin mengundang Anda untuk bergabung bersama IRA supaya kita bisa sama-sama maju dan membawa nama Indonesia lebih lagi dikenal lagi melalui masakan Indonesia yang menjadi ciri khas restoran kita masing-masing. Tetap semangat dan optimis, kita pasti melawati pandemi Covid-19 ini dan makin maju ke depannya. Terima Kasih. [IM]

Previous articleVaksin Booster Tersedia Di Klinik NSW Health Mulai 1 November
Next articleSIAPAKAH PAHLAWANMU?