Mereka-Reka Masa Depan Perempuan

132
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail

Tenaaang. Masa depan perempuan akan semakin baik karena saat ini kita, umat manusia (pria dan wanita) menyimak, menyelesaikan, dan mencari solusi isu-isu yang ada sekarang.

Dalam 12 bulan belakangan, isu menyamaratakan masa depan pria dan wanita dalam bermasyarakat menjadi primadona bahasan dalam perubahan global challenges. Meskipun demikian, kenyataan di lapangan saat ini, indikator-indikator sosial ekonomi politik berbicara sebaliknya. Dari pelecehan dan gerakan #metoo sampai #timesup dan hak-hak mendapatkan upah dan akses setara di bidang pendidikan, pekerjaan, dan pengambil keputusan, kaum perempuan sudah berhasil membuat kaum pria menyadari akan isu tersebut dan menang dalam berdebat dalam hal hak-hak setara! Ya, iyalah, cewek dilawan! Nun, di masa depan, ada beberapa pertanyaan mendasar yang akan muncul. Apakah itu? 

1. Seperti apa masa depan perempuan? 

2. Apa masa depan perempuan berbeda dari masa depan pria?

3. Bagaimana kita hidup di masa depan dengan menerapkan pola pikir “kesetaraan gender” sekaligus menilai tantangan-tantangan unik yang hanya dihadapi oleh perempuan?

Perempuan Sejahtera? Ini Area-Area yang Bakal Bermanfaat
Saat kita melihat hal-hal yang membentuk dunia kita saat ini, jelaslah kalau masyarakat sebagai sebuah kesatuan dapat memberikan manfaat besar karena meningkatnya peran serta perempuan di masa depan pengembangan teknologi, peran dalam kepemerintahan, dan pendidikan tinggi. Contoh, kita perlu mengerti lebih baik bahwa sebuah algoritma dapat bersifat rasis atau seksis sebelum memasukkan rekayasa intelijensia (AI) ke dalam sistem-sistem sosial dan institusi. Sebuah buku karangan Dr. Safiya Umoja Noble, “Algorithms of Oppression,” adalah contoh terbaik dari jenis berpikir kritis tentang implikasi sosial yang lebih luas yang diperlukan sektor teknologi. 

Peran serta perempuan di bidang pengembangan teknologi dapat menjadi sumbangan besar bagi penciptaan produk-produk yang lebih berorientasi pada perempuan. Contoh, Natural Cycles, yang diciptakan oleh seorang perempuan, merupakan aplikasi kontrasepsi efektif yang memberikan perempuan pilihan alamiah tentang keluarga berencana, tanpa efek samping hormonal pil. Lebih banyak lagi solusi cerdas teknologi yang dapat dikembangkan dengan meningkatnya peran serta perempuan di bidang teknologi.

Jika sistem otomasi, termasuk yang ditenagai oleh AI, merupakan reprentasi si pembuatnya, mungkin sistem tersebut harus diwakili perbedaan genderyang kita lihat sekarang dalam masyarakat. Lebih banyak perempuan dalam bidang ini, seperti pembelajaran pemrograman mesin dapat membantu menciptakan keseimbangan gender di dalam kecerdasan teknologi. 

Peran Perempuan di Dunia Kerja yang Berubah
Sebuah pandangan pada perubahan peran wanita di dunia kerja tak lepas dari peran pria di dunia kerja yang juga berubah. Pekerjaan secara umum berubah karena dorongan ekonomi dan teknologi di suatu tempat yang berubah, contoh tempat kerja yang jauh. Evolusi pekerjaan memiliki dampak pada gender. Negara-negara di dunia seharusnya mengikuti contoh upah setara di  Islandia dan menghapuskan anggapan bahwa perempuan dan pria di tempat kerja perlu diperlakukan berbeda.

Di beberapa tempat dan negara, evolusi peran perempuan dalam pekerjaan mulai memerlihatkan sikap lebih percaya diri dan berdaya. Perempuan mulai mengambil alih situasi pekerjaan mereka dan secara aktif mengatasi ketidaksetaraannya. Berbagai studi memberi sinyal kepercayaan diri perempuan semakin meningkat saat ditanya setiap tahunnya. Perempuan menyadari bahwa tangga pertama dimulai dari dalam dirinya, dan perubahan-perubahan kecil ini memiliki dampak besar pada lingkungan kerja mereka. 

Masa depan, seperti yang dibayangkan banyak orang, menggambarkan dunia kerja yang didominasi robot. Hal itu mengakibatkan produksi massal, sehingga perku sekali memfokuskan perhatian pada sesuatu yang berbeda. Menjadi lebih dari sekadar manusia dan fokus pada hubungan bisnis dan pelanggan dapat menjadi pembedanya. Ya, fokus akan bergeser dari membangun landasan kompetensi dan nilai-nilai yang sering dicap sebagai sesuatu yang feminin, misalnya kolaborasi, pembangunan hubungan, dan empati. Pendekatan seperti itu dapat membantu mengukuhkan penciptaan manfaat kompetisi yang dibutuhkan di masa depan. Peran perempuan di semua bidang bisnis dapat meningkat dengan cepat dalam memimpin perubahan budaya yang diperlukan untuk mengukuhkan pembangunan anggapan baru tersebut.

Tantangan Besar Bagi Perempuan Profesional
Perempuan profesional menghadapi tantangan yang terus berlangsung dalam berumah tangga dan berkarier. Tekanan sosial untuk “mendapatkan semuanya,” bagaimanapun juga, akan berubah wujud. Perempuan dari generasi milenial belum menikah dan memiliki anak di tingkat yang sama seperti pendahulunya. Pada kasus itu, keluwesan seorang perempuan menyeimbangkan perannya di berbagai peran pribadi dan profesional di masa depan bisa jadi tidak harus menjadi ibu, tapi lebih pada pilihan kepuasan pribadi. 

Perempuan profesional menghadapi tantangan dalam membangun hubungan yang baru dengan seorang pria. Pria, sebagai teman kerja atau teman hidup, biasanya dianggap sebagai penyedia ekonomi dan pemimpin. Tantangannya kini adalah menciptakan cara-cara baru dalam saling berhubungan berdasarkan kerekanan otentik yang sama-sama menguntungkan. 

Norma-norma budaya sangat bervariasi di penjuru dunia, namun bukti semakin menguat bahwa perempuan semakin menguat di dunia bisnis dan menjadi tokoh yang lebih penting dalam masyarakat di Asia, contohnya. Bahkan, di negara maju, kita masih dapat menemukan diskriminasi di tempat-tempat resmi. Konteks budaya dan tertanam kuat bagi diskriminasi tampaknya perlu waktu untuk diperjelas dan hanya dapat berubah lewat perpaduan kampaye aktif, perubahan legislatif, modifikasi perilaku, dan tren turun temurun.

Apakah Pemisahan Pria-Perempuan Masih Terjadi? 
Jurangnya memang dalam. Di November 2017, forum The World Economic memperkirakan bahwa, rata-rata, perlu 217 tahun untuk menutup jurang perbedaan gaji dan kesempatan bekerja. Sedihnya, perkiraan itu malah naik 47 tahun dari angka sebelumnya di tahun 2018. Para ahli juga memperkirakan bahwa jurang pemisah yang semakin lebar ini – faktor-faktor penentunya di layanan kesehatan, pendidikan, dan keikutsertaan politik – naik dari 83 ke 100 tahun dalam periode yang sama.

Jika kita mendefiniskan “pemisahan pria-perempuan” sebagai dua gender dengan karakter yang berbeda (dimorphisme), misalnya perbedaannya lebih dari sekadar faktor organ fisik, tampaknya pemisahan ini akan terus berlanjut. Pemisahan pria-perempuan akan terus ada, meskipun timbul beberapa kekuatiran bahwa kesuburan pria di dunia Barat dapat terancam dengan disrupsi hormonal dalam rantai makanan dan ekosistem alami kita. Namun demikian, peran-peran tiap gender akan lebih serupa. Mungkin akan ada lebih sedikit pria-atau wanita yang berorientasi ke layanan, produk, dan peran-peran. Hal itu bisa menjadi permulaan era berikutnya di mana, dalam 20 tahun ke depan, pemisahan pria-wanita lebih sedikit diterima. 

Kemampuan Perempuan dalam Mengelola Risiko dan Tantangan
Apakah masyarakat bertangggung jawab terhadap persiapan perempuan dalam mnegelola risiko dan tantangan di masa depan? Bagaimana kita dapat menolong mereka meresponi gejolak ekonomi, kegagalan institusi sosial, dan tantangan mengadaptasi “pekerjaan robot” – yang mengancam tenaga kerja manusia secara luas? Mungkin, cara terbaik melakukannya adalah dengan meningkatkan peran serta perempuan di dalam penyelesaian pendidikan tingkat menengah secara global.

Anggapan sebelumnya adalah pria cenderung lebih “jago” mengambil risiko dan mengatasi tantangan daripada wanita. Riset psikologis telah mematahkan mitos itu, dan kini kita tahu bahwa perbedaan-perbedaan ini tergantung dari jenis perilaku berisiko yang kita masukkan dalam daftar pertanyaan riset. Bukan salah satu gender yang lebih berisiko dalam mengambil risiko. Faktanya, kita semua mampu membangun kapasitas ini tergantung daru pengalaman-pengalaman yang kita miliki dan situasi-situasi yang kita hadapi. 

Apakah kemampuan alami yang dimiliki perempuan dapat diasuh lewat pendidikan, pelatihan kerja, dan penggemblengan? Apakah hal tersebut membantu perempuan meningkatkan pengetahuan kemampuannya, selagi mereka terus dapat memerlihatkan kompetensinya dalam mengelola risiko dan tantangan dalam posisi kepemimpinan? 

Nasihat Bagi Perempuan dalam Menghadapi Masa Depan
Di dunia di mana teknologi meningkat dengan cepat, perempuan perlu menyesuaikan harapan-harapannya di dalam bermasyarakat. Walaupun kita menemui hikmat-hikmat yang jumlah membludak yang mengatakan manusia akan digantikan dengan teknologi–yang digaungkan oleh mereka yang gila teknologi dengan berbagai kepentingan, perempuan, secara khusus nggak boleh menjadi korban. Masa depan, yang secara khusus bakal banyak disusupi rekayasa buatan, tetaplah membutuhkan kemanusiaan, terutama perempuan, lebih dari sebelumnya. 

Masa depan menanti bagi perempuan untuk mengambil peran kepemimpinan di mana mereka merasa dapat memberikan sumbangsihnya pada masyarakat. Dunia yang kita kenal sedang berubah, dan kini saatnya untuk mengubah sebuah generasi baru dengan harapan yang lebih tinggi bahwa perempuan dapat melakukannya. Tantangan kritisnya adalah para permpuan harus dapat memercayai dirinya sendiri dan mendorong perempuan lainnya untuk melakukannya. 

Kuncinya adalah perempuan memfokuskan potensinya sebagai perempuan. Artinya, merayakan kemampuan alami mereka dan rasa akan pentingnya hubungan, empati, kolaborasi, dan perhatian. Pada akhirnya, semuanya itu akan menjadi “super power” perempuan yang dapat membuat perbedaan antara sebuah dunia distopia yang digerakkan teknologi dan masa depan yang sangat manusiawi. 

Capaian dalam Lima Tahun yang Layak Diperjuangkan
Dalam lima tahun, kita berharap dapat melihat undang-undang yang melindungi kesehatan wanita dan akses ke pendidikan. Berharapnya, lebih banyaj negara akan mengadopsi kebijakan kesetaraan upah ala Islandia. Juga, kami berharap melihat lebih besar lagi prioritas yang ditempatkan pada turunnya–mminimal mendekati nol–tingkat kematian ibu dan bayi yang baru lahir secara global dalam lima tahun ke dapan, dengan menggunakan strategi-strategi yang memberdaya perempuan dan menggunakan sebaik-baiknya pengetahuan lokal. 

Dalam lima tahun, kami berharap dapat menghilangkan sunat perempuan secara global. Juga, setiap perempuan mendapat akses penuh ke dunia pendidikan. Juga, peran serta perempuan minimal dalam setengah peran kepemimpinan di sektor korporasi dan politik. [IM]

 

Please follow and like us:
error