Mengintip Program Saling Sapa Bersama Soraya Ambadar

81
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail

Hari Minggu tanggal 26 September, IWINA kembali menyapa anggotanya melalui program zoom dalam program Saling Sapa (SALSA). Ini merupakan program ke 3, setelah 2 program sebelumnya mengundang banyak peminat dengan respons positif. Narasumber yang ditampilkan kali ini adalah Soraya Ambadar. Program selama 2 jam dengan pembawa acara Evy Djanaib yang luwes berjalan begitu menarik dan tidak membosankan.

Siapakah Soraya Ambadar yang mempunyai motto “Never give up on something you believe in”

Wanita yang dilahirkan 64 tahun lalu tepatnya 6 Juli 1957, masih tampak cantik dan anggun. Ia adalah anak ke 6 dari 13 bersaudara. Dibesarkan dalam lingkungan bisnis maka tidak heran kalau jiwa bisnisnya kental mengalir dalam darahnya, walau menurutnya andilnya di bisnis keluarga hanya sebagai back-up dan lebih menyukai mengotak-atik angka (accounting).

Mengenyam pendidikan di universitas bergengsi UI dalam Program Diploma Sastra Perancis. Sederet pengalaman kerja dan bisnis yang digeluti menempanya menjadi seorang ibu yang tangguh. Beberapa profesi dan bisnis yang sudah digelutinya adalah sebagai Human Resource (Kem Chick Supermarket, Jakarta), Finance Director (Lemonde Baby-Family Business), Founder and Coordinator Oztranfer Financial Remmitance Services (2003-sekarang), Finance/office Manager Fitzco (2006-sekarang).

Akhir-akhir ini namanya sedang ramai dibicarakan, setelah karyanya di kolom SIZinBIZ IWINA beredar di Medsos. Nama Soraya Ambadar identik dengan bisnis cup cake dan cookies yang dikelolanya yang diberi nama Oma Yaya.

Apa yang membuat IWINA melirik Soraya sebagai Narasumber

Sebelumnya mari kita simak perjalanannya bisa hijrah ke Australia.

Berawal dari perusahaan keluarga produk bayi berlabel “Lemonde Baby“ yang sangat dikenal masyarakat Jakarta. Atas saran kakaknya yang lebih dulu hijrah ke Australia, Soraya disarankan untuk mencoba apply business migrant ke Australia sekaligus mengembangkan Lemonde Baby. Maka pada tahun 1999 Soraya bersama suami Richard Sungkar dan 3 anaknya mengajukan Business Migrant Visa. Menurutnya, waktu itu persyaratan masih mudah dibanding sekarang. Tahun 2001 mereka mendapatkan business migrant visa, namun karena banyaknya persiapan yang harus diselesaikan maka baru tahun 2002 Soraya dan keluarga ke Australia. Sydney adalah kota pilihannya.

Walaupun persiapan begitu matang dan membawa modal yang cukup, Soraya sempat mengalami shock memulai hidup di negara yang sangat asing dan belum mempunyai banyak teman. Mahalnya biaya hidup (dari rupiah di convert ke Aust Dollar) membuat pengeluaran mengalir tanpa adanya pemasukan. Menipisnya tabungan, pahit getir yang dialami sempat menciutkan hatinya. Untuk menghemat,  ia rela belanja kebutuhan pokok di malam hari demi mengejar discount. Lemonde Baby yang semula diharapkan bisa dipasarkan di Australia tidak berhasil karena banyaknya peraturan dan tingginya pajak.

Soraya sempat mencurahkan rasa gundah kepada tantenya yang berdiam di Melbourne soal pengiriman uang tabungannya dari Indonesia ke Australia. Dari percakapan dan info-info yang didapat, maka timbul ide membuka bisnis transfer uang yang diberi nama Oztransfer Financial Remittance Services di tahun 2003 yang sampai sekarang masih aktif.

Bisnis transfer uang yang dikelolanya mulai berjalan tapi tidak langsung memberikan keuntungan yang diharapkan. Dengan bantuan teman-teman yang sudah dikenal ia menyebarkan flyer dikalangan masyarakat Indonesia, hingga akhirnya terjadi kerjasama dengan Lakemba Halal Market di bulan September 2003. Walau sudah mulai dikenal, bisnisnya masih belum menjanjikan dan masih belum bisa menggaji pegawai, padahal untuk mendapat Permanent Visa salah satu syaratnya adalah dapat menggaji 2 pegawai.

Tiada hari tanpa doa dan berbagai usaha bagi Soraya. Peran suami adalah andil terbesar dalam menyemangatinya.

Suatu hari, salah satu keluarganya yang bekerja sebagai delivery service datang berkunjung. Dari ngobrol santai sampai membahas bisnis, akhirnya timbul ide untuk membuka bisnis dibidang delivery service yang saat itu prospeknya sedang bagus. Soraya yang sudah mempunyai pengalaman dibidang finansial tidak ragu lagi. Maka pada tahun 2002-2005 berdirilah bisnis dengan nama Ambadar Aust Company yang bergerak dalam bidang export import dan delivery services. Richard sang suami dan saudaranya yang mengelola, sedang Soraya dibagian keuangan. Kerja kerasnya mulai membuahkan hasil sehingga Ambadar Aust Company bisa menggaji 2 orang pegawai, sehingga Soraya dapat memenuhi persyaratan untuk mendapat Permanent visa yang akhirnya didapat tahun 2005.

Pemasukan dari bisnis inipun masih belum memadai, hanya cukup untuk membayar gaji pegawai dan pengeluaran-pengeluaran pokok. Biaya hidup yang makin tinggi dan pemasukan hanya cukup untuk menjalankan bisnisnya. Keadaan ini yang membuatnya tergantung pada credit card dengan interest yang lumayan tinggi.

Menghadapi situasi dan kondisi bisnis yang dialami, Soraya selalu berdiskusi dan terbuka dengan orang yang terdekat dalam hidupnya yaitu Richard, sang suami. Sempat terpikirkan oleh mereka untuk kembali ke Indonesia, namun seorang Soraya tidak mengenal kata “Fail”. Tidak akan kembali ke Indonesia dalam keadaan  gagal. Apalagi anak-anaknya sudah sangat menikmati hidup di Australia. Satu-satunya jalan adalah melunasi credit card nya. Untuk itu, Soraya rela menjual semua perhiasan dan yang tersisa hanya cincin kawin dan cincin hadiah dari suami pada ulang perkawinan mereka yang ke 10.

Dengan permanent visa yang sudah didapat Soraya memutuskan untuk bekerja. Tidak terhitung banyaknya lamaran pekerjaan yang diajukan. Suatu hari Soraya mendapat telpon dari salah satu perusahaan (Fitzco) yang meminta Soraya datang dan diterima bekerja sebagai factory worker (packing hamburger). Soraya yang selama ini selalu menduduki jabatan penting tidak berpikir panjang, yang dipikirkan saat itu hanya adanya pemasukan.

Jalan hidup manusia dan rejeki tidak seorang pun tahu. Soraya pun tidak pernah menyangka nasib baik menghampiri justru saat bekerja di pabrik. Pada saat lunch break pemilik perusahaan datang menjumpai dan menyatakan sangat tertarik dengan resume Soraya yang mempunyai MYOB certificate dan menawarkan posisi di office. Soraya yang baru bekerja 2 jam sebagai factory worker tentu saja tidak percaya dan secara jujur menyatakan MYOB certificate nya baru didapat 3 bulan tapi pengalaman di bidang finansial sudah digeluti selama 15 tahun. Allah yang menentukan segalanya. Doa Soraya yang selalu mendambakan bekerja sebagai bookkeeper terwujud. Hari itu di tahun 2006 merupakan momen paling indah. Soraya pun memulai tugasnya menggantikan office manager yang resign dan hanya selama 1 minggu di training dibidangnya.

Dari semua pengalaman ini kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran berharga bahwa Allah memberi jalan setiap umatnya menentukan pilihannya. Percaya akan kemampuan diri dan tidak pernah menyerah oleh keadaan.

Saya jadi teringat satu kata bijak, “Kerja keras akan mengalahkan orang berbakat ketika orang berbakat tidak bekerja keras”

Yang terjadi pada Soraya adalah selain berbakat ia adalah pekerja keras, disamping berdoa. Maka terbukalah jalan menuju kesuksesan.

From Hobby to Business

Seolah apa yang ditangani Soraya selalu menghasilkan bisnis. Bisnis cup cake dengan nama Oma Yaya adalah home made cake yang diolah dengan cinta yang dimulai saat cucu pertamanya Adam di khitan tahun 2017. Sang putri Lamanda, yang adalah ibu dari Adam minta dibuatkan cup cake dengan dekorasi black dragon yang merupakan favorit Adam. Sejak itu Soraya sangat menikmati hobby barunya yaitu cake decorating. Menurutnya, hobby ini menyenangkan dan membuatnya relax karena sangat berbeda dengan 2 bisnis lainnya yang ribet bermain-main dengan angka.

Dalam mengolah cake-nya, Soraya menggabungkan unsur perasaan (Cinta) dan seni sehingga karyanya membuahkan hasil yang sangat indah. Jiwa bisnisnya kembali tertantang untuk menjadikan hobby ini menjadi bisnis. Dalam waktu singkat nama “Oma Yaya“ pun berkibar. Untuk membuktikan karya cup cake cantiknya, ikuti Instagram dan FBnya.

Sukses yang diraihnya bukan didapat dengan mudah seperti memetik buah dari pohon. Kerja keras, memeras otak dan keringat dan yang utama berdoa. Tuhan telah menyediakan wadah, kita yang mengisinya. Sampai sekarang 3 bisnis yang masih ditangani adalah Oztransfer, Fitzco dan Oma Yaya. Apakah Soraya Akan berhenti sampai disini? Ternyata tidak. Satu lagi impiannya adalah membuka Cake Decorating Workshop. Untuk berbagi keahliannya dan mengamalkannya. Mari kita bantu Soraya menggapai impiannya. Bagi yang berminat menambah ilmu cupcake decorating atau order silahkan hubungi 0434 896 744.

“Never give up on what you really want to do. The person with big dreams is more powerful than one with all the facts.”

Oleh Yoen Yahya

 

Previous articleITPC Sydney Menghadirkan Chef William Wongso dan CEO Nancy Craft Co Dalam Program “Indonesia Design Studio”
Next articleSoundquriang 8: Reminiscence of Nusantara