Introspeksi Diri dengan Meneladani Akhlak Rasulullah SAW & Menjaga Silaturahmi

100
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


“Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya.” 
(HR. Ahmad dan Al Hakim)

Minggu, 5 April, Sydney diguyur hujan lebat. Padahal aku sudah mengantongi tiket untuk acara
yang sudah lama ditunggu, bahkan sudah buat janji bareng teman-teman. Acara diadakan jam 12.30. Akh … masih ada waktu berharap hujan akan berhenti. Doa kami pun terkabul.

Pada jam 12:00 tepat, tiba di gedung LMA, Wangee Road, Lakemba, tempat acara diadakan. Harapan untuk mendapatkan tempat di baris depan sirna melihat antrian panjang di depan pintu masuk.

Acara yang diadakan oleh Majelis Sholawat Sydney ini menghadirkan pembicara Ustadzah Halimah Alaydrus yang namanya tidak asing lagi dan sangat dinantikan oleh para ibu. Selain merupakan ajang Halal Bihalal, acara ini juga menjadi kesempatan silaturahmi bertemu kerabat.

Salam dan tegur sapa mesra mengiringi pertemuan ini, sambil menambah ilmu dengan mendengarkan tausiah yang selama ini kami dengar melalui YouTube. Tausiah Ustadzah Halimah yang segar, enak didengar, mudah dipahami, dan sangat digemari oleh para ibu, termasuk saya sendiri.

Dalam sekejap, 400 tiket terjual dan masih banyak yang berminat. Sayangnya, kapasitas gedung sangat terbatas.

Acara diselenggarakan dengan sangat rapi. Panitia berseragam tampak anggun menyambut tamu dengan ramah. Di antara panitia, terlihat Ustadzah Uya, Ustadzah Aida, dan Ibu Nentis yang ikut membantu mensukseskan acara ini. 

Gedung sudah dipadati pengunjung. Sambil menanti acara dimulai, kami dihibur oleh lantunan shalawat merdu dipimpin oleh Ustadzah Faiz diiringi tabuhan Hadrah (seperti gendang).

Nabila Basri selaku MC membuka acara yang dilanjutkan dengan Tilawah oleh Desrina Arman. Suaranya begitu menakjubkan, merdu, dan menenangkan yang mendengarkan, dengan terjemahan oleh Nita Hajja Liana.

Ibu Fanny Erlita Buana, Ketua Dharma Wanita Persatuan KJRI, dan Ibu Weddy Rhamdeny Karnaelis, Ketua IWINA, tampak hadir dan memberikan sambutan.

Pada jam 1:30, yang dinantikan pun tiba. Ustadzah Halimah Alaydrus membuka acara dengan menyapa para hadirin yang disambut meriah.

Beliau begitu santai, dengan suaranya yang lembut namun tegas menyampaikan tausiah, diselingi senda gurau ringan dengan perumpamaan dan contoh sehari-hari yang mudah diterima, membuat suasana ceria. 

Tanya jawab yang seru dan interaktif menambah kehangatan dan keakraban. Begitu menariknya acara ini sehingga tidak ingin rasanya berlalu. Hari itu kami pulang membawa bekal ilmu yang sangat berharga.

Apa yang dipaparkan masih terngiang dan melekat, mengingatkan siapa diri ini sebenarnya. Manusia biasa yang tidak luput dari dosa dan salah. Mampukah kita mengikuti kebaikan-kebaikan, akhlak Rasulullah SAW, Nabi Besar junjungan kita?

Rasulullah adalah manusia pilihan Allah, Nabi dan Rasul terakhir yang menjadi sumber inspirasi dan motivasi kehidupan setiap insan beriman. Akhlaknya mulia, tidak ada sedikitpun kecacatan padanya. Tutur katanya lembut kepada sesama, namun keras dan tegas kepada kedzaliman dan kekafiran.

Memaafkan, ridha (ikhlas), dan menyayangi adalah tiga hal yang sulit dilakukan sebagai manusia yang tidak sempurna. Saat sedang diuji kesabaran, hati berperang dengan emosi. Memang tidak dipungkiri, apabila tidak suka pada seseorang, hal sekecil apapun membuat darah naik. Untuk itu, seperti yang disampaikan Ustadzah Halimah, agar kita melihat sisi positif seseorang. Jujur, ternyata sulit juga ya.

Untuk menghindari hal ini, alihkan dengan mengisi kegiatan-kegiatan bermanfaat. Misalnya, jalan pagi dan melakukan kegiatan yang membuat diri nyaman dan bahagia, sekadar ngopi, baca buku, atau menulis. Menjaga silaturahmi dengan sahabat, membekali diri dengan mengikuti kegiatan pengajian.

Diam adalah yang terbaik, bukan berarti lemah, tapi kadang lebih kuat dalam menahan emosi, menjaga lisan dan tingkah laku. Memang sabar butuh perjuangan. Dengan selalu bersyukur atas nikmat Allah yang tiada hentinya, semoga hati yang membatu pun perlahan mencair.

Dicintai, disetujui oleh semua orang adalah cita-cita yang mustahil. Berkaca dengan hati, jujur akan kekurangan diri, dan banyak berdoa serta mohon ampunan-Nya agar dibersihkan dari dendam dan benci. Hidup ini adalah seni menggambar tanpa penghapus; hargai setiap goresannya.

Semoga Majelis Sholawat Sydney sering mengadakan acara seperti ini, tausiah yang sederhana, mudah diterima oleh berbagai lapisan generasi, sebagai pengingat diri, khususnya diriku yang serba kurang dan masih banyak belajar untuk mengendalikan emosi dan bersabar.

Ketika berbuat baik dan tidak ada seorangpun menghargainya, itu karena Allah sedang menguji keikhlasan kita. Dan jika Dia melihatmu berhasil melalui ujian ini, Dialah yang menghargaimu. Berbahagialah karena penghargaan dari-Nya sangat sangat mahal.

Tentang Majelis Sholawat Sydney
Majelis yang banyak dibicarakan setelah sukses mengadakan acara dengan mengundang Ustadzah Halimah Alaydrus.

Sekilas mengenai Majelis Sholawat Sydney, terbentuk tahun 2012 berawal dari seringnya ibu-ibu berkumpul selain menjalin silaturahmi, juga diisi dengan membaca dzikir bersama yang dipimpin oleh Ustadzah Faizah Hasan dan Ibu Wida. Dari anggota yang hanya berjumlah 8 orang yang diadakan bergiliran dari rumah ke rumah, diberi nama Majelis Dzikir.

Dengan makin bertambahnya anggota, akhirnya diputuskan untuk mengganti nama menjadi Majelis Sholawat. Hanya sayang, Ustadzah Faizah Hasan harus kembali ke Indonesia sehingga kepengurusan diambil alih oleh Ibu Wida Jufri.

Seiring waktu, Alhamdulillah banyak ibu-ibu muda mulai bergabung sejak 2019 dan mengangkat Sister Fida & Ustadzah Gamar menjadi Wakil dari Ibu Wida Jufri. Atas kebaikan Ibu Anisa yang bersedia menyediakan tempatnya di Punchbowl untuk markas tempat berkumpul setiap bulannya hingga saat ini.

Kegiatan Majelis Sholawat selain membaca mawlid dan sholawat bersama yang diiringi tabuhan Hadrah. Tim Hadrah Majelis Sholawat tampil di acara Halal Bihalal bersama Ustadzah Halimah Alaydrus dan berhasil menarik perhatian para hadirin. [IM]


Oleh Yoen Yahya

Previous articleKebahagiaan dan Kesehatan Mental
Next articleTumbuhkan Minat Siswa Terhadap Seni, Budaya dan Bahasa Indonesia: KJRI Sydney Selenggarakan Workshop Tari Kecak dan Kuda Lumping