Indonesia Adalah Kita

41
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


What:
Webinar NASIONALISME DAN PERAN TIONGHOA SEJAK SUMPAH PEMUDA, MASA KINI DAN MASA DEPAN
Who: NKRI OZ & FMIA
When: Jumat, 23 Oktober 2020
Where: Zoom/Youtube/Facebook

Dalam rangka memeringati Hari Sumpah Pemuda ke-92, NKRI OZ Community Inc.
bekerja sama dengan Forum Masyarakat Indonesia di Australia (FMIA) mengadakan seminar daring yang sangat menarik ini. Ketua panitia acara Andrew Wanandy, juga
selaku ketua NKRI OZ, mengatakan bahwa acara ini ditujukan untuk mengulas peran orang-orang keturunan Tionghoa sejak peristiwa pergerakan pemuda, perjuangan kemerdekaan hingga masa pembangunan dan reformasi sekarang ini. Menghadirkan empat tokoh penting, Azmi Abubakar (pendiri Museum Pusaka Peranakan Tionghoa), Siauw Tiong Djin (pemerhati politik Indonesia), Nur Arif (Penasihat Lesbumi, PCNU Depok), dan Yunarto Wijaya (Direktur Eksekutif Charta Politika), diskusi ini dipandu oleh Soraya Permatasari, Bloomberg Asia Pacific Editor for Breaking News yang juga adalah Ketua FMIA.

Sie Kong Lian (photo: supplied)

Dalam paparannya, Azmi mengetengahkan peran penting orang-orang Tionghoa dalam peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda 1928. “Bahkan, rumah yang dipakai untuk acara tersebut adalah milik seorang Tionghoa, Sie Kong Lian.” Sementara Tiong Djin, peraih gelar PhD Ilmu Politik Monash University di Melbourne, Australia, mengemukakan pentingnya bagi generasi muda untuk mengerti betapa banyak stereotipe yang beredar tentang Tionghoa yang bertentangan dengan fakta sejarah yang diajarkan, yaitu
bahwa orang-orang Tionghoa memiliki andil besar dalam menginspirasi lahirnya nasionalisme Indonesia. “Sayangnya pemerintah kurang, atau tidak berupaya untuk memperbaiki bahan-bahan sejarah yang diajar di sekolah-sekolah atau memperbaiki bahan sejarah resmi yang dikeluarkan pemerintah.”

Berbeda dengan Azmi dan Tiong Djin, Nur Arif, penasihat Lembaga Seniman Budayawan
Muslim Indonesia (Lesbumi) PCNU Depok, mengajak peserta untuk memahami sejarah kedatangan kaum Tionghoa ke Indonesia bahkan sejak tahun 400 Masehi. Ia menghadirkannya dalam perspektif Islam Nusantara. Di akhir materinya, Nur Arif yang
juga seorang doktor ahli biomolekuler dari Fakultas Kedokteran UI dan Tohoku University, Jepang, ini mengemukakan pertanyaan menarik, “Masih relevankah kita memandang etnis Tionghoa sebagai sebutan non-pribumi?”

Yunarto Wijaya yang juga dikenal sebagai pengamat politik Tanah Air menampilkan materi berjudul “Nasionalisme dan Peran Tionghoa”. Toto, begitu ia akrab disapa, yang maish
berusia 40 tahun ini, menyoroti nasionalisme yang dalam konteks Indonesia adalah sebuah konstruksi sosial yang terus mengalami kontestasi. Mulai dari basis legitimasi berhadapan dengan tekanan globalisasi, kebangkitan ‘kesukuan’ dikomunikasikan dalam logika identitas primordial hingga begitu banyaknya yang menjiwai nasionalisme ini dalam konteks asli vs pendatang, menjadi alasan untuk anti-asing. Menurutnya, perlu upaya “menulis ulang” Tionghoa di Indonesia yang tidak berpatokan pada masa lalu dan tidak terpaku pada bidang politik dan ekonomi.

Secara realistis, cara pandang berbeda terhadap konsep kebangsaan sangat diperlukan apabila stigma tentang Tionghoa ingin kita ubah. Narasi baru Nasionalisme harus fokus pada sisi kemanusiaan, agar tidak terjebak pada kilau etnis tertentu. Webinar diikuti oleh
sekitar 300 orang yang hadir dari berbagai wilayah di Indonesia maupun di luar negeri.

Turut memberikan pernyataan adalah Christianto Wibisono, Christian Silman (cicit pemilik gedung Sumpah Pemuda di Kramat Raya), Grace Natalie (politikus wanita), dan Mari Elka Pangestu, Direktur Pelaksana Kebijakan dan Kemitraan Pembangunan Bank Dunia. Dalam video yang dikirimnya, Mari Pangestu menyatakan, “Walau kita ini keturunan (Tionghoa -red), kita adalah 100 persen orang Indonesia.” setuju! [IM]

 

Please follow and like us:
error