DR. Salut Muhidin

92
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Ada Gula Ada Semut, Mari Belajar (Sedikit) Tentang Demografi Dengan Profesor Salut!

Nun, di benua Kangguru ini, ada seorang profesor Indonesia yang mengajar dan meneliti di sebuah universitas terpandang di NSW. Beliau seorang dosen dan begitu bangga akan Indonesia. Apa katanya soal keistimewaan Indonesia dan prinsip Ada Gula Ada Semut? Yuk, belajar soal Demografi!

Membaca profil singkat Dr Muhidin di laman Macquarie University membuat saya cukup terhenyak. Salahudin Muhidin mulai bergabung di Macquarie University di bulan Januari 2011 sebagai seorang dosen Demography di Fakultas Bisnis dan Ekonomi. Sebelumnya, beliau sibuk sebagai Postdoctoral dan ResTeach Fellows di Queensland Centre for Population Research, University of Queensland, mengajar dan meneliti di Department of Human Geography selama lima tahun. 

Dr Salut, demikian akrabnya, masih menurut laman ini, datang ke Australia berbekal pengalaman internasional yang sangat luas, termasuk penempatannya di belahan utara Amerika (Brown University dan University de Montreal), Eropa (Groningen University dan IIASA-Austria), dan tentu saja Asia (Universitas Indonesia).

Melihat domisilinya yang menclok sana dan sini, tak heran jika suami dari Anni E. Ratnaningsih ini memiliki tiga putri yang lahir di tiga negara berbeda. Nadya lahir di Jakarta, Jasmin lahir di Kanada, dan Sasha lahir di Australia.

Riset Dr Muhidin yang kelahiran Jakarta, 10 September ini memberikan sumbangsih pada UNDP (United Nations Development Programme) berupa Human Development Reports di tahun 2009. Selain itu, anak ke-6 dari 8 bersaudara ini berpartisipasi di banyak forum ilmiah, termasuk di Australian Population Association (APA), the Population Association of America (PAA), dan International Population Geography. Wah… Ternyata, masalah kependudukan ini penting banget, ya. Sepenting apa? Marilah kita simak wawancara INDOMEDIA dengan DR Salut yang punya hobi jalan-jalan dan berenang!

Bagaimana Anda mengenang masa kecil Anda?
Masa kecil yang bersahabat dengan alam. Di saat yang sama pula saya mulai berkenalan dengan mainan modern.

Apa cita-cita Anda semasa kecil dan remaja?
Sewaktu kecil maunya jadi pilot, setelah remaja ganti jadi konsultan.

Siapakah pahlawan Anda dulu dan saat ini?
Bapak Presiden B.J. Habibie. Beliau terkesan cerdas, pintar, open-minded, dan banyak pengalaman internasional.

Makanan kesukaan Anda?
Pempek, mendoan, dan sate padang.

Nah, sekarang kita masuk pertanyaan serius, ya, Prof. Anda adalah seorang demographer. Bisa ceritakan apa, sih, yang sebenarnya yang dilakukan oleh demographer?
Demographer adalah sebuah profesi yang berkaitan erat dengan bidang keilmuannya, yaitu demografi. Ilmu ini berhubungan dengan masalah kependudukan. Cakupannya memang agak luas, mulai dari persoalan dinamika kependudukan di suatu wilayah/negara sampai pada persoalan perilaku penduduknya sendiri. Misalnya, perilaku perpindahan penduduk atau migrasi dan perilaku kesehatan masyarakat, baik itu anak kecil, remaja atau orang tua. Persoalan penduduk menua juga menjadi perhatian seorang demographer. Hal-hal seperti itu, yang berkaitan dengan kependudukan akan dikaitkan dengan beberapa keilmuan lain. Seperti saat ini saya mengajar di Macquarie Business School, maka saya mengaitkannya dengan peluang dan tantangan bisnis dari aspek demografi.

Dalam aplikasinya, apa peran sentral seorang demographer? Selain bisa sebagai pengajar, seorang demographer bisa kerja di bidang apa saja?
Karena sifatnya yang sangat luas, demographer dapat bekerja dalam banyak bidang. Beberapa teman saya yang kuliah bareng saat sekolah, ada dari mereka yang juga menjadi dosen dan juga konsultan di beberapa perusahaan, ada juga di marketing, properti, investasi, bank, dan bahkan di beberapa lembaga internasional, seperti WHO, UN/PBB, atau ASEAN. Bahkan ada juga yang mendirikan usaha dalam bidang survei dan riset.

Masyarakat awam nyaris tak pernah tahu profesi ini, apalagi dicita-citakan seorang anak kecil. Tepatnya, kapan Anda memutuskan untuk menjadi seorang demographer dan mengapa?
Minat saya menjadi demographer terbentuk sejak saya bergabung dengan Lembaga Demografi di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia pada tahun 1995-an. Saat itu, saya belum lulus kuliah dan diajak oleh teman saya dari FEUI. Saat itu saya bertemu dengan Profesor Aris Ananta, seorang pakar ekonomi UI yang juga ahli dalam bidang ekonomi kependudukan. Dari beliaulah saya dan beberapa kawan lainnya yang baru mendapat nasihat–kami bilangnya “rayuan”–untuk mendalami ilmu ini. Betul, sebagian besar kami tahu ada ilmu demografi ya baru saat itu. Sebelumnya, asing. 

Berkat dorongan beliau, kami sampai akhirnya belajar ke luar negeri untuk bidang yang ada kaitannya dengan kependudukan. Saat itu, belum ada program demografi tingkat S-3 di Indonesia. UI saja baru sampai jenjang S-2. Saya pergi belajar S-3 di Belanda, Universitas Groningen. Sementara teman-teman saya ada yang pergi ke Inggris, Amerika Serikat, dan Perancis pada tahun 1998 sampai 2002.

Pada awalnya, saya melihat ilmu ini sangat kering. Tapi, setelah belajar dan mengenal lebih jauh, ternyata ilmu ini sangat berkaitan dengan banyak disiplin ilmu lain. Hal itu membuat saya semakin jatuh cinta. Bayangkan, ketika kita ingin mengetahui pola perilaku penduduk, kita mau tidak mau harus belajar atau tahu juga soal sosiologi, filsafat, budaya, dan sejarah penduduk setempat. Sementara itu, ketika kita ingin mengetahui profil atau estimasi jumlah penduduk, kita harus mengerti juga statistik. Intinya, ilmu bervariasi dan tidak membosankan, jadi saya bisa banyak belajar. Apalagi ketika dikaitkan dengan bisnis. Ya, paling tidak kita juga harus belajar soal manajemen dan bisnis.

Anda belajar demografi sampai ke tingkat doktoral dan mendedikasikan diri sebagai pengajar. Apakah Anda memang suka dunia pendidikan?
Pada awalnya saya tidak memulainya sebagai pengajar, tetapi sebagai peneliti karena sifat pengerjaannya yang menarik, menurut saya. Mirip seperti seorang konsultan yang memulai sebuah proyek. Seorang peneliti akan memulai pekerjaannya dengan sebuah pertanyaan besar dan tujuan dia adalah mencari jawabannya. Oleh karena itu, saya memulai dengan menjadi peneliti.

Hanya saja, network dari pekerjaan awal saya banyak dengan peneliti dari beberapa universitas di banyak negara. Dari hasil berteman dan bekerja itulah akhirnya saya memutuskan untuk juga bergabung dalam dunia universitas, yang tugas utamanya adalah mendidik. Macquarie University adalah tempat saya pertama kali menjadi dosen, sementara di tempat lain saya lebih banyak menjadi peneliti dalam sebuah riset.

Apakah saat ini Anda sedang melakukan penelitian? Jika ya, bisakah ceritakan sedikit? Jika tidak, mengenai apakah penelitian terakhir Anda?
Penelitian saya saat ini ada beberapa hal, terutama dalam bidang dampak Covid-19 terhadap kesehatan penduduk. Bersama dengan mahasiswa, kami melihat bagaimana pandemi ini berpengaruh sangat besar terhadap aspek kesehatan, baik dari tingkat kematian dan juga kesehatan mental, terutama para pekerja kesehatan. Untuk aplikasi di bidang bisnis, bersama kolega di kampus, saya juga sedang melakukan penelitian soal entrepreneurship yang dilakukan oleh penduduk asli Australia. Secara mandiri, sebagai bagian dari diaspora Indonesia, saya juga tetap melakukan riset yang berkaitan dengan diaspora Indonesia. Hal ini akan selalu menjadi agenda yang tidak akan ditinggalkan.

Anda sudah mengajar di Australia sejak 2011. Apakah Anda akan terus mengajar di sini, atau akan kembali ke Universtas Indonesia?
Tugas utama saya memang saat ini adalah mengajar di Australia. Tapi, sejak tiga tahun lalu, saya mendapat appointment sebagai adjunct peneliti di Lembaga Demografi UI. Tugas saya di sana adalah bersedia memberikan kuliah tamu atau juga menjadi tim peneliti atau penasihat dalam beberapa proyek penelitian yang bisa saya bantu. Dengan kata lain, tempat tinggal kita tidak harus menjadi penghalang untuk kita terus berbakti kepada Tanah Air. Apa pun itu profesi kita.

Anda pernah mengajar di beberapa universitas terkemuka di beberapa negara. Adakah perbedaan karakteristik mahasiswa yang Anda ajar? Dan apa sajakah keunikan karakteristik mahasiswa di tiap-tiap negara ini?
Di universitas sebelumnya, posisi utama saya adalah peneliti tapi juga terkadang mendapat kesempatan untuk mengajar mahasiwa. Saat mengajar di Amerika Serikat dan Kanada, karakter mahasiswanya lebih direct dan to the point. Mereka lebih sering menyapa dosennya hanya dengan sebutan nama pertama, tanpa panggilan profesor atau sir/madam. 

Sementara di Eropa, dan juga kadang di Australia, lebih bervariasi karakter mahasiswanya. Mereka yang berasal dari negeri Asia dan Afrika masih sungkan untuk menyapa dosen dengan nama langsung. Kalau dari segi intelektualitas, rasanya hampir sama. Ada mahasiswa yang sangat cerdas dan ada juga mahasiswa yang masih harus selalu diberikan motivasi. Banyak terjadi di tingkat bachelor karena mereka baru selesai high school. Sementara kalau untuk tingkat MBA, Master atau PhD, lebih banyak yang mature dan mandiri.

Menurut Anda, masalah kependudukan di Indonesia apa saja, Pak? Dan, menurut Anda, apakah solusinya?
Masalah kependudukan di Indonesia masih pada kualitas penduduk. Benar adanya tingkat pendidikan dan ekonomi semakin membaik, tetapi kualitas hidup dan berakibat pada kualitas penduduk masih tertinggal jauh dari negara-negara tetangga. Solusinya terus belajar dari kesalahan dan berusaha untuk memperbaikinya, terutama dalam hal pendidikan, kesehatan, dan nutrisi.

Nah, kita menyinggung ke calon ibukota baru, nih, Prof. Apakah pesona Pulau Jawa akan memudar jika ibukota Indonesia pindah ke Kalimantan?
Saya rasa pesona Pulau Jawa tidak memudar, masih tetap akan menarik untuk orang datang. Kenapa? Sejarah perkembangan pembangunan (sosial dan ekonomi) di Jawa saat ini adalah hasil perjalanan panjang, bahkan sejak jaman dulu kala. Ada nilai-nilai keterikatan dalam hal budaya, sejarah, dan juga perasaan yang menjadi alasan mengapa orang untuk tetap ke Jawa.

Sementara itu, Kalimantan akan juga mulai menarik perhatian orang untuk datang, terutama jika ada kepentingan dan kesempatan berusaha karena wilayah ibukotanya. Tetapi daya tarik itu tidak akan mengurangi daya tarik Jawa, dengan beragam alasan lainnya.

Kita tidak memungkiri bahwa “rumput” di negara lain lebih hijau dan migrasi pun tak terelakkan. Adakah yang bisa dilakukan oleh sebuah negara agar penduduknya tidak pindah?
Jaman sekarang adalah masa globalisasi, di mana dimensi geografi semakin tidak berbatas. Selain itu, sebagian besar negara di dunia ini adalah demokrasi, termasuk Indonesia. Oleh karenanya, tidak mungkin sebuah negara dapat dengan mudah melarang penduduknya untuk berpindah, karena itu adalah bagian dari hak asasi manusia yang paling dasar.

Pada intinya, mengapa orang melakukan perpindahan karena ada motivasi/alasan. Yang paling sering adalah prinsip “ada gula ada semut”. Ketika masih ada persepsi, atau bahkan kenyataan bahwa peluang lebih baik ada di seberang, maka kemungkinan untuk berpindah pun masih akan terjadi. Yang dapat dilakukan adalah menciptakan persepsi, atau bahkan membuktikan kalau negeri kita pun banyak peluang besarnya. Pada saat yang sama mungkin juga mengambil pengalaman positif dari mereka yang pernah berada di seberang atau masih merantau.

Seperti halnya dengan para diaspora, mereka saat ini masih berada di luar Indonesia, tapi mereka masih dapat bermanfaat dan membangun negeri dengan cara mereka masing-masing.

Dilihat dari sisi positifnya, apa sajakah kelebihan Indonesia di mata Anda?
Kelebihan Indonesia adalah orang-orangnya, dengan latar belakang suku-budaya dan keragaman yang berbeda, tetapi tetap berusaha satu sejak jaman dulu bahkan sampai sekarang. Hal ini jarang dimiliki oleh negara-negara lain. I am proud to be an Indonesian diaspora.

 Nah, terakhir. Tiga kata yang mewakili karakter Anda?
Mandiri, explorer, dan networking. [IM]

Previous articleSIAPAKAH PAHLAWANMU?
Next articleGETTING INTO @IZZYFOODDIARIES