Ayu Siti Maryam – Just Do The Best, God Will Do The Rest

49
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail

 

Wanita yang memiliki attitude dan wajah se-ayu namanya ini sungguh beruntung.
Dengan dukungan penuh dari suaminya, ia tak ragu mengambil keputusan yang sangat penting dalam hidupnya: direktur ITPC Sydney. Apa saja yang menarik dari perempuan enerjetik dan cerdas ini, yuk kita ikuti ceritanya?

IDE INOVATIF MENGENAI POMOSI PRODUK-PRODUK TANAH AIR

Bagaimana Ibu menginisiasi MoU antara Kemendag dan UTS yang baru saja berlangsung 15 Juni kemarin?
Berawal dari akhir tahun lalu, ketika kantor kami pindah ke Macquarie Place dari
Botany Road. Saya mikir-mikir, gimana caranya supaya institusi apa pun di Australia
lebih aware produk Indonesia. Gimana caranya membuat koneksi selain B2B, yang
sudah kami lakukan? Lebih ke B2Community.

Lalu, timbullah ide untuk mengadakan ekskursi. Anak-anak sekolah kan suka ikut ekskursi. Nah, saya terpikir apakah bisa anak-anak sekolah di Sydney bisa melakukan ekskursi ke kantor ITPC supaya mereka bisa melihat produk Indonesia. Eh, ternyata ada kesempatan ngobrol dengan Profesor Lesley, penanggung jawab jurusan Internasional di UTS. Waktu saya memberikan ide ini, beliau bilang bisa dilakukan. Pembicaraannya ternyata makin serius. Dari yang tadinya hanya ide ekskursi, ternyata malah terlembagakan, yaitu bagaimana caranya mahasiswa UTS lebih aware dengan produk Indonesia.

Kedua pihak memiliki tujuan lewat ide ini. ITPC punya kepentingan mempromosikan produk Indonesia dari sisi pendidikan, sedangkan pihak UTS, karena sedang pandemik, tetap dapat menjalankan program “mengirimkan” mahasiswanya ke negara lain untuk mendapatkan pengalaman bekerja dengan pihak asing, seperti melakukan deal, berkomunikasi, dan magang. Pandemik membuat program itu terputus. Ide ITPC
membuka peluang untuk dapat terus berjalan, sehingga mereka langsung menyambut baik. Saya juga dibantu oleh Ibu Kesti dari Indo Literature Club yang mempertemukan kami. Dari obrolan santai, terlembagakanlah mata kuliah, yaitu Indonesia Design Studio untuk mahasiwa fakultas Design dan mahasiswa fakultas Global Studies.

Apakah program yang inovatif dan kreatif ini juga dijalankan ITPC di negara-negara lain?
Belum. Jadi, ini pertama kali. Dunia marketing memungkinkan kita melakukan berbagai cara, salah satunya inisiasi ini, yang membuat kita langsung masuk, mengilfiltrasi mahasiswa UTS. Jadi, mereka lebih aware terhadap produk-produk Indonesia yang
bagus-bagus ini. Para mahasiswa punya kapasitas word of mouth-nya. Mudah-mudahan, mereka bisa menyebarkan cerita produk Indonesia yang bagus-bagus. Bagusnya lagi terlembagakan menjadi mata kuliah, yaitu Indonesia Design Studio. Mata kuliah ini membuat mereka harus magang di ITPC untuk Fakultas Design, yang dimulai Desember tahun ini. Tugas akhirnya adalah sketsa membuat windows display kantor ITPC dengan produk-produk Indonesia. Hasil yang terbaik akan kami wujudkan.

Nah, untuk Fakultas Global Studies itu mulainya Agustus sampai September tahun ini,
2 bulan saja. Mereka akan belajar tentang Indonesia dan produknya. Mereka akan mewawancarai langsung UMKM, juga mungkin dengan beberapa pemangku kepentingan
di Indonesia untuk menerbitkan info tentang produk Indonesia. Kalau mereka tugas akhirnya berupa kampanye produk Indonesia. Jadi, saya happy karena promosi produksi tidak hanya menjadi tanggung jawab kita, tapi justru dilakukan juga oleh para mahasiswa ini, orang Australia sendiri.

Sejauh ini, bagaimana antusiasme dari para mahasiswa UTS sendiri?
Sekarang ini baru dalam tahap sosialisasi. Namanya program magang kan tidak bisa
reach out sampai puluhan orang, karena sifatnya intesif. Jadi, mungkin antara 8-10 orang untuk Fakultas Global Studies. Mereka akan intens datang ke ITPC, seminggu 2 kali selama 2 bulan untuk belajar.

Siapa saja yang akan membimbing para mahasiswa magang ini di ITPC?
Kami masih menyusun kurukulum bersama UTS juga. Kami sendiri sudah punya beberapa sektor unggulan: furniture and homewares (homedecor), fashion and jewelry, food and beverages, dan textile (apparel). Nanti, mungkin Pak Wakil Menteri juga akan bicara lagi, juga Pak Duta Besar akan memberikan Selayang Pandang hubungan Indonesia-Australia. Lebih detailnya pasti dari asosiasi terkait karena mereka kan lebih tahu.

Apa isu paling baru yang Ibu tawarkan lewat wacana magang ini?
Sesuatu yang membuat Ibu percaya diri untuk mewujudkannya?
Oh, sustainability. Jadi, kita akan memilih produk-produk yang sustainable. Hal itu terkait dengan kerjasama kami dengan institusi pendidikan, di mana saya memang mau memperkenalkan produk yang ada value-nya. Maksudnya, kami kaitkan dengan tren konsumen di Australia yang cenderung menyukai produk ramah lingkungan, sustainable, dan memiliki isu sosial. Contohnya, sepatu. Kami pilih sepatu yang dibuat oleh UKM
yang dikelola dan dibuat secara ramah lingkungan. Nah, contohnya Pijak Bumi.
Mereka membuat sepatu kulit yang proses tannery-nya yang ramah lingkungan.
Kira-kira, seperti itulah yang ingin kita tonjolkan di program ini.

INDONEDIA DAN DAYA SAING PRODUKNYA

Ibu sangat getol mempromosikan produk Tanah Air di luar negeri, khususnya Australia. Secara pribadi, Ibu sendiri melihat produk Tanah Air seperti apa?
Produk Indonesia saat ini sudah bagus-bagus banget. Saat kunjungan kerja ke daerah
atau pabrik, saya sangat amazeddengan hasilnya. Contoh, sebelum saya berangkat bertugas di ITPC Sydney, saya dan teman-teman dikirim ke berbagai perusahaan, salah satunya Sritex. Saya terpukau sekali dengan produknya. Bagaimana mereka memproduksi suatu barang. Produk Sritex ternyata dipakai oleh hampir 60 negara. Dan, itu bukan produk sembarangan, tapi seragam militer yang memiliki kualitas tinggi. Bayangkan, tentara Jerman dan Belanda memakai produknya Sritex. Mereka bikin seragam anti-nyamuk, anti-api. Dan, dibuatnya from the scratch! Mereka bikin garmennya di pabrik, bukan impor. Dari garmen sampai baju jadi, semuanya diproduksi di situ. It’s amazing!

Kita punya sumber dayanya. Itu sebabnya pemerintah sekarang mulai getol membuat Free-Trade Agreement dengan banyak negara. Tanpa itu, kita nggak kompetitif dibandingkan dengan negara lain yang sudah lebih dulu punya FTA. Saingan kita juga berada di Asia Tenggara, seperti Vietnam, Thailand, Malaysia. Karena kita semua punya sumber daya yang sejenis, produk yang dihasilkan juga cenderung sejenis. Itu sebabnya kita menjadi kompetitor mereka. Kalo kompetitor sudah dulu memiliki FTA, kenapa kita nggak? Kalau nggak punya FTA, kita jadi nggak punya preferentialsaat melakukan perdagangan dengan negara lain.

Jadi, bukan sekadar karena Indonesia memiliki tenaga kerja yang murah?
Kita harus melihat hubungan trade dan investasi dalam hal itu. Pemerintah, melalui UU Cipta Kerja, ingin membidik investor dari mana pun untuk bisa masuk ke Indonesia. Karena, saat investor masuk, otomatis perdagangan akan doubling, lebih besar. Misal, kita membidik inverstor, taruhlah Australia, perusahaannya let’s say Oroton. Kita minta mereka bikin pabrik di Indonesia, nantinya dia bisa jual produknya ke mana-mana, daripada dibikin di China atau di Vietnam, misalnya. Otomatis, ketika Oroton buka di Indonesia, dia akan ekspor kembali ke Australia. Dengan begitu, perdagangan akan meningkat. Jadi, yang kita incar itu bukan untuk perdagangan domestik, melainkan ekspor. Ada salah satu pabrik di Bandung, Namanya Fortuna, dia perusahaan sepatu yang khusus membuat sepatu ekspor ke Jepang. Mereka sama sekali nggak jual ke dalam negeri.

Memang banyak pabrik memiliki code of conduct, yaitu perjanjian yang membatasi atau melarang penjualan produk di wilayah atau negara tertentu, tapi harus dijualnya ke “suatu tempat”. Pemerintah kita bersifat visioner, dari situ ada tren kita bisa bikin sendiri. Itulah yang dilakukan oleh China beberapa puuh tahun yang lalu. Mereka jadi dapur nggak apa-apa. Lihat sekarang, kita tahu sendiri negaranya sudah (maju) seperti itu. Jepang juga melakukannya. Mungkin, di tahun 70-an, dia terkenal dengan imitate produk Amerika. Kemudian, dia buat sendiri. Sekarang Jepang dikenal sebagai negara penghasil teknologi tinggi. Itulah tren untuk memulai sebagai negara maju. Investasi, lalu ada transfer of knowledge di situ. Setelah itu, kita bisa berdikari membuat produk. Dan, itu targetnya.
Kita bisa mulai memperkenalkan produk kita ke negara lain.

DI BALIK PERAN DIREKTUR

Bu, cita-citanya apa, sih, waktu masih kecil?
Ah, umumlah, seperti anak Indonesia lainnya: dokter. Saya dulu juga latah. Tapi, cita-cita yang cukup lama melekat di benak saya sampai kuliah adalah wartawan. Waktu berkuliah di UGM, saya bergabung di semacam ekskul, namanya “Mahkamah”, kelompok pers mahasiswa. Sampai saya lulus, saya masih berkecimpung di dunia jurnalisme, sempat juga di majalah politik dan hukum “Forum Keadilan”. Setelah itu, saya jadi PNS di Kemendag. Ini adalah karier yang tidak direncanakan. Mungkin, waktu jadi jurnalis, saya harus berurusan dengan deadline ketat dan kerja sampai jam 3 pagi, jam 7-nya sudah harus stand by lagi untuk “dikirim” ke mana. Saya kurang kuat ternyata dan sempat sakit. Jadi, ketika ada pembukaan untuk PNS, saya daftar. Eh, ternyata, jam kerja PNS lebih gila lagi. Hehehehe…

Kalau boleh mengevaluasi hidup, apakah cita-cita Ibu sudah tercapai?
Hmm… kalau saya lihat, mungkin dengan modal keinginan jadi jurnalis, saya jadi punya karakter senang “ngorek-ngorek” yang menurut saya berguna buat pekerjaan saya saat ini. Artinya, saya senang kalau ngobrol dengan orang, pasti ada yang saya korek-korek, yang nantinya saya jadikan dasar (data) untuk pekerjaan saya. Saya terbiasa dengan prinsip 5W1H (What, Why, When, Where, Who & How).

Bagaimana Ibu melihat diri ibu 10 tahun ke depan?
Nah, ini dia. Saya bukan tipe orang yang suka “narget”. Ini bukan dalam konteks pekerjaan, ya. Ini soal personal. Saya menjalani aja, deh. Saya nggak pernah punya mimpi untuk jadi ini dan itu. Di dalam hidup, saya hanya melakukan yang terbaik. I’m doing best, let God do the rest. Saya menjalani hidup ini semaksimal yang saya bisa. Saya yakin, hasil tidak pernah mengkhianati proses. Soalnya, saya takut kecewa. Saya orangnya coward hehehe. Untuk meminimalisasi rasa kecewa itu saya tidak menargetkan diri saya untuk menjadi “sesuatu” in the future.

Repot nggak, sih, Bu, LDR-an dengan suami?
Repot, sih, nggak karena teknologi sudah maju. Tapi, ya, sedih juga karena pandemik ini. Tadinya, dia bisa ke sini bolak balik hampir 2-3 bulan sekali. Yang agak mengejutkan buat dia, anak kami (seorang putri berusia 11 tahun) sedang dalam masa peralihan dari anak kecil menjadi remaja, dan ada perubahan fisik yang sangat signifikan. Kalau terakhir ketemu bapaknya dia masih berbentuk anak kecil banget, tetiba setelah nggak ketemu hampir 2 tahun, bapaknya jadi terkaget-kaget tiap kali komunikasi via vidcal.
“Kok, dia udah gede banget, ya… “

Resto Indo yang jadi favorit Ibu karena makanannya apa saja, Bu?
Saya suka banget, karena dulu kantornya di Botany Road, Dapoer Shalom.
Saya suka banget ayam goreng dan sambelnya, terus nasi goreng jawa-nya.
Enak banget. Terus, gado-gado Kantin Willis. Enak banget!

Bagaimana Ibu menyeimbangkan peran sebagai wanita karier dan ibu?
Yang paling penting adalah kita harus punya support system yang bagus. Artinya, pasangan kita, kemudian keluarga kita, dan pihak-pihak lain yang bisa mendukung kita, sehingga kita leluasa atau maksimal dalam menjalankan karier. Saya menyeimbangkannya dengan mendidik anak saya untuk mandiri sejak dia masih kecil. Saya bukan tipe yang ibu yang lemah lembut. Saya nggak keras, tapi mengajarkan pemahaman buat dia bahwa saya nggak bisa 100% ada di rumah buat dia. Dan, ketika di rumah pun, saya masih harus ngurusin pekerjaan. Saya tipe yang lebih memberikan contoh ke dia. Sedih juga kadang, tapi, gimana, ya… saya juga punya tanggung jawab profesi.

Waktu pertama-tama tinggal di sini, apakah Ibu mengalami gegar budaya?
Pasti. Contohnya nyetir. Di Indonesia, kalau kita nge-dim, artinya minta jalan ato marah. Sebaliknya, di sini, nge-dim artinya kasih jalan. kedua, ekspresi orang sini kalau marah yang kasih gestur mengangkat kedua tangan dengan telapak tangan menghadap ke atas. Saya belum ngerti. Waktu itu, berdua sama suami, kami cari parkiran kosong. Ternyata aturan di sini nggak boleh nge-cup parkir yang kosong. Saya bilang ke suami untuk turun mobil dan berdiri di spot parkir kosong karena masih harus memutar. Tiap kali orang mau parkir di situ, ya nggak bisa, karena ada suami saya berdiri. Setiap orang yang lewati dia memberi gestur “angkat tangan”. Saya jadi baru tahu ternyata gestur itu artinya orang marah sekali.

IA-CEPA DAN HUBUNGAN BILATERAL YANG UP-DOWN, UP-DOWN

Mencapai kedudukan sebagai direktur ITPC adalah pencapaian yang luar biasa. Bagaimana Ibu menoleh ke belakang sampai ke titik ini sebagai seorang wanita?
Memang ada stigma perempuan Indonesia harus bisa mengurus Dapur, Kasur, Sumur. Kayaknya kalo sekarang, secara umum, stigma itu sudah nggak ada lagi, deh. Rata-rata, sekarang perempuan Indonesia sudah maju. Contohnya saja di Kemendag. Saya sama sekali nggak punya hambatan dalam hal karier dan kesempatan. Semuanya sama, perempuan dan laki-laki. Dulu, sebelum saya berangkat, direktur saya, Ibu Made, perempuan. Kemudian, user langsung saya, juga perempuan. Kemudian rekan saya
yang satu level, perempuan juga. Memang jauh lebih berat karena bagi mereka yang di keluarganya ada stigma bahwa perempuan harus melayani. Di kantor, dia harus perform, meski nggak ada diskriminasi. Tapi, di rumah, kalau support system-nya tidak mendukung, pasti jadi berat sekali. Alhamdulilah, saya punya support system yang bagus. Suami saya bukan tipikal yang menuntut, karena kami sama-sama dari pers mahasiswa, jadi stigmanya berbeda. Kami saling mengerti iramanya. Kami sama-sama sejajar. Dia adalah partner saya, sama-sama membesarkan anak dan menjalani hidup. Saya tertolong. Alhamdulilah.

Ceritakan, dong, awalnya jadi mengepalai ITPC Sydney?
Sebenarnya, waktu itu, di Kemendag, proses seleksinya terbuka, jadi ada proses bidding. Dari biro kepegawaian mendorong seluruh pegawai untuk ikut, tapi harus ada rekomendasi dari user masing-masing, yaitu pimpinan langsung. Waktu itu saya direkomendasikan
dan ikut seleksi, wawancara sampai tingkat menteri perdagangan. Dari situ, hasilnya
saya ditetapkan sebagai kepala ITPC Sydney. Saya siap melaksanakan! Saya langsung prioritaskan ke IA-CEPA (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement), karena background saya di perundingan bilateral. IA-CEPA harus terinformasi dengan baik pada para pebisnis. Saya langung pelajari agreement-nya. Terus terang,
saya agak ngeper juga karena Australia negara besar dan nuansa politiknya juga tinggi karena hubungan Indonesia-Australia up and down, up and down.

Bagaimana Ibu melihat IA-CEPA?
IA-CEPA adalah hasil negosiasi yang berlangsung hampir 9 tahun. Ini bukan semata-mata FTA. IA-CEPA lebih luas lingkupnya. Kalau FTA hanya mengurusi perdagangan barang saja, misalnya penurunan bea masuk non-tariff barrier. IA-CEPA lebih luas dari hanya perdagangan barang, ada goods and services, investment, economic cooperation,
financial services. Sangat sangat luas.

Menurut Ibu saat ini, apa saja kendala IA-CEPA di pasar atau produsen Indonesia? Tantangannya apa sajakah?
Kalau dari sisi produsen Indonesia, tantangannya adalah bagaimana caranya supaya non-tariff barrier. Karena Australia sudah terkenal sebagai negara yang sangat tinggi standarnya, upaya mereka melindungi konsumennya juga sangat tinggi. Saya melihat perspektifnya sebagai upaya negara melindungi warganegaranya. Nah, ketika turun dalam mekanisme perdagangan, khususnya ekspor impor, peraturan mereka memang ektremnya jauh lebih rigid. Khususnya untuk produk makanan minuman. Kalau produk yang lainnya nggak se-rigid itu. Sekarang ini, saya sangat bangga dengan para importir Indonesia, baik dari diaspora (Ibu Sully, Pak Antonius, Pak Irwan), dan yang di Melbourne. Mereka dengan sukarela memberikan edukasi kepada eksportir Indonesia. Jadi, kalau mau ekspor ke Australia mereka memberikan asisten, seperti cara packaging dan labelling. Kita nggak membicarakan perusahaan besar, karena mereka nggak ada masalah masuk Australia. Yang harus diedukasi dan perhatian yang lebih besar adalah produk UKM, yang 70% adalah makanan. Itu sebabnya, fokusnya adalah sektor food & beverages. Bagaimana produk-produk ini bisa meet-up dengan standar dan bisa menaklukkan non-tariff barrier-nya Australia.

Selama pandemik apakah perdagangan bilateral berjalan normal atau tersendat?
Surprisingly, trennya justru positif, meningkat. Bahkan, kalau kita bandingkan antara 2020 ke 2019, meningkat. Kemudian kuartal pertama 2021 dibandingkan kuartal pertama 2020 juga meningkat. Kuartal pertama 2021 itu angkanya bahkan meningkat hampir 44% buat Indonesia, dibandingkan angka dari kuartal pertama 2020. Luar biasa! Mayoritasnya dari produk kayu, karet, dan furnitur yang sedang naik trennya. Saingan Indonesia dalam impor kayu ke Australia hanya China. Indonesia nomor dua setelah China. Australia mengakui standar kayu dari Indonesia, yaitu sertifikasi legalitas kayu, sebagai upaya
untuk menghindari illegal logging.

Bagaimana dengan perdagangan Australia sendiri ke Indonesia?
Bisnis harus sama-sama menguntungkan. Hubungan kita dengan Australia bukan negara kompetitor. Jadi, 10 tahun yang lalu, para negotiator IA-CEPA ini bersedia melakukan perundingan karena satu alasannya adalah Australia bukan negara kompetitor, melainkan dua negara yang saling membutuhkan. Australia butuh Indonesia karena dia bukan negara manufaktur. Dia butuh Indonesia sebagai salah satu sumber untuk produk manufaktur. Nah, sebaliknya, yang kita butuhkan dari Australia adalah sereal, gandum, dairy product, daging, sebagai bahan baku untuk kemudian diolah menjadi produk jadi yang bisa diekspor ke negara-negara lain, termasuk Australia juga. Jadi, hubungan kita saling membutuhkan. [IM]

Previous articlePAKET DUKUNGAN COVID-19 DARI PEMERINTAH NSW
Next articleCongress Indonesian Diaspora (CID6) Virtual