Asma, Si Pembunuh Diam-Diam

150
Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Sekilas, penyakit asma terlihat seperti penyakit ringan dan bisa ditangani dengan cepat. Cukup dengan mengantongi inhaler di saku, serangan asma dadakan pun bisa ditangani dengan mudah.

Itu mungkin bayangan orang yang bukan penderita asma. Namun, lain cerita bagi si penderita asma. Gangguan napas akut ini membuat mereka tak bisa bernapas normal dan lega seperti orang-orang lainnya. Mereka juga harus memaksa dirinya untuk tetap bernapas, sekalipun sesak, agar pasokan oksigen tak terputus dan berakibat fatal untuk mereka. Tak cuma sesak napas, asma juga ditandai dengan adanya nyeri dada, batuk, sampai napas yang berbunyi atau mengi.

Apa, Sih, Sebenarnya Asma?
Asma merupakan penyakit pada saluran pernapasan akibat peradangan dan penyempitan saluran napas. Serangan asma dapat muncul secara tiba-tiba dan terjadi lebih dari sekali. Biasanya, serangan asma berlangsung cepat. Terkadang lebih dari satu hari, dan serangan yang kedua dapat berlangsung lebih parah dan berbahaya daripada serangan pertama.

Saluran udara yang ada di paru-paru, yang bernama bronchial, mengalami semacam penebalan, kemudian pembengkakan, lalu memproduksi banyak lendir.

Jumlah Penderita Asma di Indonesia
Tanpa disadari, asma merupakan salah satu jenis penyakit yang diderita oleh banyak orang Indonesia. Artinya, asma menjadi salah penyakit dengan prevalensi penderita yang cukup tinggi di tanah air.

Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), pada 2014 lalu, asma menjadi penyebab kematian ke-13 terbesar di Indonesia. Indonesia juga menempati posisi ke-20 sebagai negara dengan tingkat penderita asma terbanyak di dunia.

Berdasarkan RISKEDAS (Riset Kesehatan Dasar) 2013 dari Kementerian Kesehatan, setidaknya, satu dari 22 orang di Indonesia menderita asma. Namun, cuma sekitar 54 persen di antara mereka yang berhasil terdiagnosis, sementara hanya 30 persen di antaranya yang bisa terkontrol dengan baik.

Pada 2017, prevalensi asma di Indonesia mencapai 4,5 persen atau setara dengan 11,8 juta pasien. Sementara itu, prevalensi penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) mencapai 3,7 persen atau setara dengan 9,7 juta jiwa. Hanya 29 persen dari populasi penderita dewasa penyakit asma yang dirawat, sisanya tidak terawat atau terawat sebagian.

Lantas, apa sebenarnya yang menyebabkan banyak pasien asma tak terawat? Salah satu alasannya adalah keterlambatan diagnosis. Mengutip berbagai sumber, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes Lily S. Sulistyowati mengatakan saat ini ditemui fakta banyak orang yang tidak sadar mereka telah terjangkit asma dan PPOK.

Tak dimungkiri kalau ketidaksadaran seseorang terhadap asma ini juga disebabkan oleh belum ditemukannya penyebab pasti asma, setidaknya sampai saat ini. Meski demikian ada beberapa penyebab yang diduga memicu kemunculan gejala penyakitnya, antara lain infeksi paru-paru dan saluran napas yang umumnya menyerang saluran napas, alergen, dan paparan zat berbahaya di udara misalnya polusi.

Selain itu hal-hal lain seperti kondisi cuaca buruk, stres, emosi berlebihan, alergi makanan, sampai penyakit GERD (refluks gastroesofageal) juga menjadi pencetus asma.

Pembunuh Diam-Diam
Siapa bilang kalau asma adalah penyakit yang lebih ringan dan tak mungkin bisa membunuh seseorang dibanding serangan jantung atau stroke? Nyatanya, asma juga bisa menjadi pembunuh diam-diam bagi penderitanya.

Seperti pencuri, asma bisa datang atau kambuh kapan saja tanpa peringatan dan membunuh penderitanya.

Faktanya, dalam satu tahun setidaknya 1.600 orang meninggal karena asma dan jumlahnya makin bertambah setiap tahunnya.

Penelitian yang dimuat dalam The Lancet Respiratory Medicine merilis hasil penelitian terbaru mereka dan menyebut ada dua penyakit paru-paru yang paling mematikan dan telah membunuh 3,6 juta orang di seluruh dunia, yaitu COPD dan asma yang menyebabkan 400 ribu orang meninggal.

Untuk kasus penyakit asma, prevalensi naik hingga 13 persen hingga menjadi 358 juta orang di dunia. Namun angka kematian menurun hingga seperempatnya. “Penyakit ini kurang mendapat perhatian dibandingkan penyakit kronis tidak menular lainnya seperti kardiovaskular, kanker, atau diabetes,” kata Theo Vos, pemimpin penelitian.

Sekalipun tak pandang bulu akan usia korbannya, asma menelan korban yang sebagian besarnya adalah anak-anak di bawah usia lima tahun. Di Baltimore, AS, lebih dari 400 orang selama lima tahun terakhir tewas karena asma. Asma setidaknya merenggut kebebasan bernapas lima juta anak usia sekolah di Amerika.

Di Bandung, jumlah kematian akibat asma juga terus meningkat. Di tahun 2017, ada lebih dari 8.000 kasus asma terjadi dan menyebabkan 68 orang meninggal dunia. Tahun 2018 kasusnya meningkat menjadi 12.000, dan jumlah meninggal dunia mencapai 120 orang.

Faktor pokok penyebab kematian akibat asma adalah karena ketidaktahuan seseorang jika dia mengidap sakit asma dan juga keterlambatan deteksi. Ketika seseorang tak sadar memiliki riwayat sakit asma, maka kebanyakan dari mereka tak akan peduli dengan gejala dan ‘kambuhan.’ Mereka pun tak akan melakukan pengobatan akan penyakit ini.

Ketika beragam gejala asma kecil tak diperhatikan maka akan berpotensi menyebabkan masalah yang lebih besar di kemudian hari. Masalah fatal akan muncul ketika si penderita yang tak sadar ini melakukan berbagai aktivitas yang berat dalam waktu lama dan intensitas tinggi. Saluran napas yang menyempit dan berlendir akan membuat mereka tak bisa bernapas dan akhirnya meninggal dunia.

Faktanya juga bukan hanya orang yang menderita asma parah yang berisiko meninggal dunia, tapi juga orang yang memiliki asma dengan gejala ringan dan tak rutin minum obat. Nah, adakah kasus seperti ini terjadi di sekitar Anda? [IM]

Please follow and like us:
Loading...