Arti Penting Cowra Di Hari Pahlawan Nasional

33
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


#AADC bergema di kalangan diaspora Indonesia menjelang Hari Pahlawan. Ini bukan nobar, tapi sebuah napak tilas ke Cowra. Mari kita ikuti seseruan Ada Apa di Cowra pertengahan November lalu.

Off We Go!
Pagi-pagi benar, sekitar 30-an orang berkumpul di halte dekat pintu masuk Central Station, termasuk Indomedia. Tepat jam 5, bus kami rencananya berangkat. Ngaret tidak terelakkan karena peserta perjalanan AADC ini berasal dari suburb yang cukup jauh dari meeting point. Come on, weekend pula, kan…

Jarum jam nyaris menyentuh angka 5.30 ketika akhirnya bus mulai melaju dengan mantap. Panitia yang dikomandai Bang Erwin dan Bang Frans dari Diaspora Indonesia Sydney ini memulai perjalanan dengan doa yang dipimpin Pastor Isaac.

Selama perjalanan ke Cowra yang memakan waktu 4,5 jam ini, kegiatan di bis dipenuhi karaoke lagu-lagu daerah yang membuat kangen Tanah Air. Setelah melewati kawasan Blue Mountain, bis berhenti untuk brekkie dan toilet stop selama 15 menit saja di Macca’s Lithgow. Di sana, rombongan diaspora berpapasan dengan rombongan Konsulat Jenderal RI yang juga akan menuju Cowra.

Karena waktu stop yang diberikan sangat terbatas, semua peserta buru-buru menuntaskan sarapannya untuk segera kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan yang masih dua jam-an lagi.

Taman Makam Pahlawan Cowra
Di Doncaster Drive, terdapat Cowra War Cemetery, taman makam yang menjadi tempat peristirahatan para tahanan/pahlawan Perang Dunia II dari beberapa negara yang menjadi lawan sekutu, salah satunya Indonesia yang menjadi jajahan Belanda. Nun di masa itu, terdapat 1.200 orang Indonesia yang ditahan di Cowra POW Camp. Mereka terdiri dari dua kelompok. Pelaut yang berdagang dan para nasionalis yang diasingkan di Boven Digul, kini bernama Papua. Kelompok kedua diasingkan karena terlibat pemberontakan di tahun 1926.

Mereka diduga kuat akan melawan Belanda dengan memanfaatkan kedatangan Jepang di Indonesia ketika itu. Pemerintah kolonial Belanda kemudian memutuskan untuk membawa sekitar 500 orang tahanan ke Cowra, yang terletak 325 km dari arah barat Sydney. Banyak di antara mereka yang meninggal dunia karena ketidaksiapan dalam menghadapi cuaca Australia di bulan Juni yang merupakan awal musim dingin.

Berdasarkan catatan historis, ke-13 pejuang kemerdekaan Indonesia yang dimakamkan di Cowra merupakan sebagian kecil dari sekitar 300 orang Indonesia, yang terdiri dari laki-laki, perempuan, anak-anak, dan awak kapal. Mereka umumnya meninggal di Cowra antara tahun 1942-1943 karena sakit.

Mengetahui keberadaan makam ini, pada tahun 1997, pemerintah Indonesia mendirikan sebuah memorial di General Section di Cowra Cemetery. Makam ini sendiri baru diketahui berkat info seorang mahasiswa jurusan Asian Studies University of Sydney bernama Jan Lingard.

Dan, kini, hampir setiap Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November, pemerintah Indonesia yang diwakili Kedutaan Besar Indonesia, Konsulat Jenderal RI Sydney, dan Diaspora Indonesia yang selalu semangat menjadi pendukung.

Udara Sendu dan Para Tamu VVIP
Tanggal 13 November, pemerintah dan diaspora Indonesia dengan para tetamu superpenting dari jajaran pemerintahan daerah Cowra berziarah ke makam ini. Di luar dugaan, udara hangat dan suhu 30 derajat Celsius yang seharusnya berkunjung di hari itu berganti sendu dan sangat dingin sekitar 9 derajat Celsius. Hujan dan angin kencang menyambut kedatangan rombongan Sydney dan Canberra. Tapi, tentu saja, hal itu tidak menghalangi kami untuk mengadakan upacara kecil dan berziarah.

Setidaknya, ada 70 orang berpartisipasi dalam kegiatan ini, termasuk di antaranya Walikota Cowra, Bill West, Wakil Walikota, Judi Smith, Atase Pertahanan KBRI Canbera, Laksma TNI Agus Rustandi, beserta beberapa pejabat KBRI Canberra, Konjen RI Sydney Vedi Kurnia Buana beserta staf, serta masyarakat dan diaspora Indonesia.

Dalam sambutannya, Walikota Bill West menyampaikan penghormatan kepada para pejuang kemerdekaan Indonesia yang disemayamkan di Cowra. Menurutnya, momen ini sangat penting karena, “Adanya pengakuan dan pemahaman untuk para pahlawan Indonesia yang dimakamkan di sini. Sungguh disayangkan mereka harus meninggal di sini. Mereka menjadi bagian dari pemakaman ini, mereka juga dimakamkan dengan rasa hormat yang tinggi. Mereka menjadi bagian dari komunitas kami. Kami juga sangat terhormat untuk bisa menjadi bagian dari acara ini bersama-sama dengan pemerintah Indonesia. Hal ini menunjukkan hubungan istimewa di antara kami. Saya berharap acara ini dapat terus dilakukan, dan dapat meningkatkan saling pengertian dan komunikasi di antara kami,” demikian disampaikan Walikota West.

Sedangkan Wakil Walikota Judi Smith menyatakan, “Ini adalah acara yang luarbiasa untuk Cowra yang menjadi pusat persahabatan ini dan menjadi wadah agar lebih dekat lagi dengan orang-orang Indonesia. Tentunya, ini adalah acara yang membuat hati kita sedih. Namun, dari kesedihan ini jika kita bekerja keras dan memiliki perilaku yang benar pasti muncul hubungan pertemanan yang luar biasa. Ini yang terjadi antara kami dan orang-orang Indonesia. Senang sekali bisa melihat begitu banyak orang Indonesia yang sungguh hangat di hari yang sangat dingin.”

“Acara ini tentunya terkait dengan momentum Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November. Kami sudah mengadakan upacara di kantor masing-masing tentunya, baik di Indonesia maupun di seluruh perwakilan. Untuk Cowra, kami melihat ada 13 makam orang Indonesia, yang dulu di jaman Perang Kemerdekaan dibawa oleh Sekutu. Sebagian besar tahanan ini kembali ke Indonesia, tapi 13 pahlawan ini meninggal di sini. Keberadaan mereka di sini membuat kita untuk terus mengingat jasa-jasa para pahlawan. Tujuan lainnya adalah untuk terus membangun kerjasama dengan pemerintah Australia, dalam hal ini council di Cowra Shire. Kegiatan ini sangat positif, dan saya sangat bahagia melihat orang Indonesia yang datang, juga walikota dan wakilnya dari Cowra Shire juga datang. Ini suatu hal yang luar biasa menurut saya,” papar Pak Vedi, Konjen RI Sydney dalam kesempatan itu.

Sedangkan Laksma TNI Agus Rustandi menyatakan, “Acara ini merupakan penghargaan kepada para pahlawan yang berada di mana pun. Sebenarnya, di Australia, makam pahlawan Indonesia tidak hanya di Cowra, termasuk ada di Brisbane. Inilah salah satu bentuk penghargaan kita, para generasi muda, kepada pahlawan, karena kemerdekaan itu tidak bisa dicapai jika tidak ada mereka. Jadi, kita memang harus bisa mengenang jasa mereka. Kita juga akan melakukan momentum ini setiap tahun. Sayangnya, dua tahun kemarin kita tidak bisa melakukannya karena pandemi Covid. Padahal kita sudah merencanakannya sejak 2019, nah saat inilah baru kesampaian. Mudah-mudahan setiap tahun terselenggara, bekerjasama dengan Mensosbud, atase pendidikan, karena ini adalah bagian dari pembelajaran buat kita, terutama untuk warga Indonesia yang berada di Australia.”

Sedangkan Chrissia Monica yang mendapat tugas memainkan lagu kebangsaan Indonesia dan Australia serta beberapa lagu nasional lainnya lewat permainan biolanya merasa sangat bangga dan senang menjadi bagian acara ini. Karangan bunga pun diletakkan di tiap-tiap pusara pahlawan Indonesia. Ya, meskipun hujan cukup deras dan anginnya mana tahan!

Makan Siang dan Pulang!
Setelah upacara peletakan bunga, kami dibawa ke bekas kamp tahanan Perang Dunia II. Beberapa monumen peringatan didirikan dan foto-foto serta latar belakang cerita diberikan dalam bentuk papan-papan informasi. Di monumen peringatan tahanan perang Indonesia, diaspora Indonesia berkumpul dan … berfoto bersama!

Puas foto-foto, kami diantar ke Japanese Garden, sebuah restoran khas Jepang dengan tamannya yang luas dan sungguh indah. Terdapat juga galeri yang memamerkan kebudayaan Jepang. Kedekatan Cowra dan budaya Jepang juga cukup kental karena banyaknya tahanan Jepang yang juga ditahan di Cowra.

Setelah itu, Laurence dari Cowra Council membawa kami ke World Peace Bell yang terletak di Cowra’s Civic Square. Tiap-tiap peserta rombongan mendapat kesempatan untuk membunyikan bel yang terbuat dari koin-koin sumbangan dari 106 negara anggota PBB yang dilebur.

Lalu, sebelum pulang, kami juga diajak mengunjungi Pusat Informasi Cowra untuk melihat beberapa benda-benda peninggalan Perang Dunia II yang terpelihara sangat baik.

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore ketika supir bus kami mengingatkan untuk segera kembali ke bus dan pulang ke Sydney. Meskipun pergi sebelum matahari terbit, rupanya energi para diaspora Indonesia tak susut sepanjang jalan. Tak lelah-lelahnya kami tertawa dan bercanda. Wah, sungguh pengalaman yang tidak terlupakan. Terimakasih sudah mengundang Indomedia, Diaspora Indonesia. Sampai ketemu di acara lainnya. [IM]

Previous articleBea Siswa IISMA Untuk Kuliah di Australia National University
Next articleACARA Diaspora Night 2021 Diikuti di 11 Negara