Agus Abdul Majid: Dulu Sekolah, Kini Kembali Ke Aussie Sebagai Atase Imigrasi

248
Facebooktwitterpinterestlinkedinmail


Ya, beliau ini orang di balik repotnya mengurus paspor di masa pasca-pandemik. Meski mendapat “banjir bandang” pengurusan paspor WNI se-NSW dan sekitarnya, Bapak ini masih sempat meluncurkan berbagai layanan yang membuat mudah mengurus paspor, terutama bagi para lansia dan mereka yang sedang sakit. Yuk, kenalan dengan Atase Imigrasi kita yang baru.

Jika Anda punya keperluan mengurus paspor, ingat nama ini ya, Agus Abdul Majid. Pria kelahiran Jakarta, 14 Agustus 1982 ini menjabat sebagai Atase Imigrasi yang berkantor di KJRI Maroubra, Sydney. Pak Majid, begitu sapaan akrabnya, meski masih muda, tapi jam terbangnya di dunia keimigrasian cukup tinggi. Beliau juga bukan orang “baru” di benua Kangguru. Pendidikan tingginya dihabiskan di sini. Menikah dengan Cut Nina Meliya Sari, ayah tiga anak yang hangat dan murah senyum ini memiliki passion dalam melayani publik sekaligus jalan-jalan. Yuk, berkenalan dengan Pak Majid, biar kalau ketemu di jalan bisa lebih akrab

Jadi Diplomat Karena Yellow Pages
Pekerjaan saya ini sepertinya more like a passion. Dulu, waktu kecil, cita-cita saya mau jadi ABRI-sekarang TNI. Waktu SD dan SMP, setiap saya ditanya cita-cita, pasti jawabannya ABRI. Karena mereka itu terlihat gagah, pakai seragam. Ayah saya sendiri seorang guru dan ibu full time di rumah. Nah, seiring berjalannya waktu, di SMA, ternyata syarat masuk tentara harus memiliki mata yang tidak minus dan gigi rapi. Dan saya juga punya keterbatasan relasi. Masa-masa itu kan kalau mau masuk instansi harus ada yang “bawa”.

Lalu, saya daftar ke perguruan tinggi kedinasan. Kalau masuk kedinasan kan dapat seragam juga. Di bawah Kementrian Hukum dan HAM, dulu namanya Kementrian Kehakiman, ada Akademi Imigrasi dan Akademi Kemasyarakatan. Dulu itu belum banyak internet dan gadget, jadi, saya mencarinya di Yellow Pages. Ini true story… Soalnya, ayah saya kan hanya guru SMP, pasti nggak bisa membiayai saya sekolah tinggi. Jadi, saya cari sekolah gratis. Sekolah tinggi yang gratis, ya… akademi militer, polisi, IPDN, saya cari itu, termasuk Akademi Imigrasi. Saya dapatkan infonya di Yellow Pages. Saya telepon, kebetulan mereka sedang membuka pendaftaran.

Ndilalah, saya nggak punya koneksi di Imigrasi. Waktu ditanya tahu Akademi Imigrasi dari mana, bahkan saya nggak tahu imigrasi itu apa, tahunya irigasi… Jadi, ya, artinya, saya benar-benar blank. Mungkin ini sudah menjadi petunjuk Tuhan bagi saya, saya telepon dan kebetulan sedang pembukaan. Diuji dan lulus, masuklah saya di sana. Imigrasi kan karakternya berhubungan dengan orang asing. Dulu, waktu masih belajar, saya tahunya imigrasi yang pekerjaannya kasih cap di bandara. Selain ada kriteria tinggi badan, kami juga harus fluent dalam bahasa asing, terutama Inggris dan satu bahasa asing lainnya. Jadi, dulu, saya belajar bahasa Mandarin, Jepang, Arab, dan Belanda. Tapi, yang nyangkut hanya Inggris. Hehehe  

Jadi, terkait pertanyaannya apakah jabatan saya ini adalah cita-cita, ini lebih seperti passion. Jadi, setelah lulus S-1 dan S-2 saya mendaftar beasiswa ke Australia karena didorong oleh passion untuk melanglang buana, mencari budaya dan wawasan baru. Senang rasanya saat bertugas di perwakilan dapat bertemu dengan counterpart dari negara setempat dan bisa membangun jejaring. Pastinya, saya punya tugas dari negara untuk kepentingan negara. Saat kita memiliki jejaring, sedikit banyak pasti membantu tugas kita.

Kaya Pengalaman dan Ikatan Batin
Bertugas ke luar negeri, karena ini passion, saya jelas senang sekali. Jangankan yang ke Sydney, waktu saya ditugaskan ke Filipina tahun 2014-2018, saya sudah senang sekali karena bisa merasakan penugasan. Mungkin kalau ke negara-negara lainnya hanya untuk short visit saja, dua-tiga hari. Bahkan, paling lamanya untuk ikut short course hanya sebulan. Nggak pernah yang lama. Baru waktu di Filipina saja dan merasakan jadi diplomat, bagaimana kita promoting Indonesia, connecting… saya senang sekali.

Ketika dapat penugasan ke Sydney, selain saya, keluarga pun senang. Kami sudah punya bayangan bahwa saat libur bertugas, kami akan meluangkan waktu untuk holiday. Jalan-jalan. Anak-anak pun punya kesempatan untuk belajar di sini. Mereka akan punya pengalaman dan terekspos dengan budaya setempat. Hal ini akan menjadi tambahan value buat mereka. Selain untuk saya dan istri, anak-anak akan mendapatkan manfaat luar biasa dalam hidupnya.

Waktu di Filipina pun demikian. Meski sesama negara Asia, tapi karakteristiknya berbeda, karena dari segi sejarah, mereka dijajah Spanyol ratusan tahun, lalu ada Amerika juga. Di sana, mayoritas Katolik, tapi ada juga muslimnya. Kesamaan dan perbedaannya dengan Indonesia menjadi pengalaman berharga buat kami dan anak-anak. Memang ada shock pada anak-anak.

Anak pertama saya baru 7 bulan waktu saya bawa kuliah di Australia. Umur 5 tahun pulang ke Indonesia sebentar, lalu berangkat lagi ke Filipina dan sekolah di sana 4 tahun. Sepulang di Indonesia, saya ditugasi di Jambi dan Jakarta. Mereka harus switch lagi: ya keadaan, mental, bahasa. Jadi, ya, minusnya dia agak stres. Ketemu suasana dan tempat baru membuat dia agak stres.

Tapi, saat beradaptasi di Australia, saya amati, mereka sangat nyaman. Mungkin karena si sulung kan pernah tinggal di sini, ada pengalaman. Dia bahkan masih ingat masa-masa kindy-nya di Adelaide. Kalau yang kedua memang lahir di Adelaide. Mereka seperti punya ikatan batin begitu istilahnya. Jadi, selain mendedikasikan hidup buat negara dan pekerjaan, saya juga merasa enjoy, menerima manfaat dari hidup di Sydney ini.

Badung Tapi Pandai
Masa kecil saya? Waduh, nakal! Saya lahir dan besar di Tangerang. Kalau saya trace ancestry saya, nggak ada keluarga yang dari luar Jakarta. Semua garis ibu saya dari Petamburan. Kalau ayah dari Ciledug, perbatasan Jakarta-Tangerang. Jadi, kalau ditanya asli mana atau kampungnya di mana, bingung saya jawabnya. Paling, ya, Jakarta. Kalau orang pulang kampung, saya bingung mau pulang ke mana… 

Mencoba menggambarkan saya kecil, ya badung. User-user-nya (pusaran rambut di kepala) aja dua. Kata almarhum ibu saya, si Agus (panggilan kecil saya) badung. Kalau saya main dengan anak tetangga, pasti ada yang nangis. Nah, saya mulai switch itu pas akil balik. Istilahnya, puber. Barulah saya mulai punya rasa malu, maunya terlihat dewasa. Mulai ikut organisasi, seperti OSIS, kerohanian, Paskibraka. Lalu, belajar public speaking. 

Tahun 2012, saya pernah jadi pengibar bendera di Wisma KJRI Sydney. Paskibra juga yang memotivasi saya ikut keguruan tinggi kedinasan. Balik ke masa kecil, meski badung, saya pinter, lho. Rangking satu terus waktu SD. Mungkin SD-nya di kampung juga, jadi saingannya sedikit.

Saya sendiri melihat diri saya cukup berani, punya kepercayaan diri… Tapi, believe it or not, saya nggak pernah pacaran. Saya sangat jaga image, lah… Saya ketemu istri saya karena dia adiknya teman saya. Saya sangat nggak berpengalaman kalau untuk bergaul dengan lawan jenis. Jadi, waktu kenal dengan istri, saya masih taruna. Waktu kami belum dekat, saya dapat beasiswa ke Australia setelah lulus taruna. Mungkin karena orang tua saya masih konservatif, mereka menyuruh saya untuk sekalian melamarnya. Waktu itu, dia masih SMA. Akhirnya, kami pacaran tapi sudah terikat. Kami pacaran jarak jauh, saya di Adelaide, dia di Purwokerto. Akhirnya, setelah saya lulus kuliah tahun 2006, tahun depannya kami menikah.

Saya berasal dari keluarga besar. Saya punya lima saudara kandung, dan anak nomor lima. Beberapa di antara kami jadi guru, menurun dari profesi ayah. Mungkin karena orang melihat profesi guru itu kan memerlukan karakter yang ulet dan sabar. Saya sendiri juga ada passion menjadi pengajar. Waktu baru kembali dari Adelaide, saya beberapa kali diundang menjadi dosen tamu, baik di Akademi Imigrasi maupun di kampus-kampus umum. Pun, setelah menyelesaikan S-3, masih diundang menjadi dosen tamu, seperti di UGM dan Muhammadyah, UIN…

Mengurus WNI
Hanya ada di 22 perwakilan RI di seluruh dunia, dan itu yang sibuk saja. Maksudnya, yang banyak WNI-nya atau kasus yang terkait WNI. Kalau tidak ada imigrasi, maka pejabat dinas luar negeri yang melakukan tugas-tugas kekonsuleran. WNI tetap bisa dilayani. Hanya saja, dari sisi kuantitas, perwakilan kecil misalnya, Wellington di Selandia Baru. Nah, itu jenis yang pelayanannya kecil. Dia nggak ada imigrasi karena kecil. 

Bahkan, di Australia sendiri, perwakilan RI Sydney lah yang paling sibuk. Lebih sibuk daripada Melbourne, Perth dan Darwin. Sekarang ini, Perth dan Darwin juga tinggi. Secara legal, pejabat dinas luar negeri dapat pula menjalani fungsi-fungsi keimigrasian, contohnya di Melbourne dan Perth. Khusus di Sydney, karena ada bagian Imigrasi, maka ada pemisahan tanggung jawab. Khusus untuk paspor, visa, dan kewarganegaraan menjadi tanggung jawab Imigrasi. Lainnya menjadi tugas konsuler (pengutipan akta, lapor diri, perlindungan WNI).

Nah, di tempat-tempat lain yang sibuk juga, seperti Jeddah, itu WNI-nya luar biasa banyak. Di sana, pelayanan paspor mendekati 500 per hari. Kuala Lumpur dan Singapura juga tinggi. Jadi, bagi perwakilan-perwakilan yang memang tugas dan tanggung jawab keimigrasiannya tinggi pasti ada bagian imigrasi. Di Malaysia ada 4 (Kuala Lumpur, Penang, Johor, Tawau, Kota Kinabalu), Filipina 1 (Davao), di benua Austraia ada 1 (Sydney), Amerika 1 (Los Angeles), Eropa 2 (Den Haag dan Berlin), Timur Tengah 1 (Jeddah), Asia Timur 3 (beijing, Guangzhou, Hongkong), dan lainnya.

Untuk penugasan ke luar negeri kita harus mengikuti proses open bidding. Jadi, proses saya ke Sydney dimulai Agustus 2020, berangkat Agustus akhir 2021. Panjang sekali prosesnya: seleksi, pendaftaran, kesiapan administrasi, tes yang berlapis, sampai wawancara. Dari situ ada short listing dan ada dewan yang menilai performance para calon. Nanti diurut lagi rangking-nya. Setelah itu diserahkan ke pak Dirjen dan diwawancarai Bu Menteri sebelum akhirnya berangkat ke sini.

Komitmen Sang Istri
Saat kami menikah, sebenarnya sudah ada impian-impian. Kami memiliki komitmen bersama untuk berbagi tugas. Saya pursue karier di Imigrasi, dan membutuhkan istri untuk menjaga dan mengasuh anak-anak. Pasalnya, bekerja di imigrasi ini mobilitasnya tinggi sekali–sering berpindah-pindah.

Kalaupun saya tidak bertugas di luar negeri, saya pasti akan bertugas di kota lain. Ada 126 kabupaten kota yang memiliki kantor imigrasi, belum lagi kanwil kemenkumham di 34 wilayah. Belum lagi ada rumah detensi imigrasi sejumlah 13. Itu semua adalah wilayah kerja keimigrasian. Lalu ada direktorat jenderal imigrasi, dan lainnya. Itu belum termasuk kantor-kantor di wilayah sangat terpencil, lho. Kami punya kantor imigrasi di Ranai, Laut China Selatan. Pulau itu masih masuk kepulauan Riau dan Pak Jokowi juga pernah ke sana.

Dengan mobiltas yang tinggi, istri saya pasti sulit untuk ajeg berkarier, kecuali jika dia mau ambil pekerjaan online… Tapi, dia sudah ambil keputusan untuk menjadi full-time housewife.

Selaras: Menjemput Bola
Kami ada layanan akhir pekan sebulan sekali. Khususnya untuk mengakomodir pemohon yang tidak bisa datang di hari kerja. Kalau bicara pelayanan, kami mencoba untuk membuka kesempatan untuk memberikan pelayanan ekstra, karena kuota kami kan terbatas sekali di hari kerja. Maunya saya, sih, layanan ini bisa ada setiap akhir pekan, tapi saya juga harus memahami staf yang masih muda yang masih perlu jalan, liburan di akhir pekan… Jadi, saya batasi pelayanan ekstra ini sebulan sekali saja.

Lalu kami juga ada layanan Selaras (Sambangi Lansia dan Orang Sakit) yang melayani lansia dan orang sakit yang tidak bisa datang ke KJRI, jadi kami yang mendatangi di rumah. Ini merupakan inovasi baru, dan belum officially launched. Bagi mereka yang berusia di atas 60 tahun, atau kondisi sakit, dan tidak bisa datang ke KJRI, silakan kirim e-mail ke kami, dan kami akan fasilitasi pelayanan di rumah. Contohnya, ada orang tua yang sudah lanjut usianya dan habis jatuh juga, pakai tongkat. Jadi, memang nggak bisa datang ke KJRI. Kami berikan layanan. Lalu, ada juga yang berusia 100 tahun, kelahiran 1922. Dan, luar biasa, beliau masih tertib untuk memperpanjang paspornya. Kami biasa melakukan ini di siang hari, saat jam makan siang. Biasanya, di sekitaran Sydney, ya nggak sampai satu jam. Berangkat 12.30, layani, balik lagi jam 14.00, dan masih bisa melayani sampai sore di kantor.

Impian Mengunjungi Opera House
Waktu kuliah, saya pernah liburan ke Sydney, menginap di King Cross, tempatnya backpacker murah. Waktu itu mau lihat Opera House, yang menjadi mimpi saya. Senang sekali bisa melihatnya pertama kali. Lalu, ulang lagi ke Sydney, New Year tahun 2006. Waktu itu paspor saya hilang. Jadi, dulu, saya juga pernah jadi salah satu pemohon di KJRI Sydney.

Kejadiannya, sebelum New Year, ramai sekali kan, karena ada Boxing Day. Saya jalan-jalan ke QVB, dan tas saya hilang. Kemudian saya datang ke KJRI Sydney. Konjennya waktu itu Pak Wardana. Saya pede aja mendatangi KJRI jam 8 pagi, dan belum buka. Selagi menunggu, tiba-tiba mobil Pak Konjen lewat. Beliau melihat saya dan mengenali saya karena beliau pernah ke Adelaide dan waktu itu saya ketua PPIA nya. Yah, akhirnya senanglah saya waktu bisa ke Sydney, bisa mampir ke The Rock, makan pancake 

Sulit Urus Paspor?
Memang yang perlu dipahami oleh masyarakat adalah keterbatasan SDM dan infrastruktur yang dimiliki saat ini, sehingga memaksa kami untuk membuka kuota layanan per hari 25-30 saja, kalau lebih dari itu pasti keteteran. Dulu, staf imigrasi ada 5, sekarang hanya 3. Waktu kondisi lockdown, itu masih lumayan tertangani karena sedikit yang mengurus.

Nah, begitu lockdown berakhir di bulan Oktober, orang berbondong-bondong mau urus paspor. Lalu, saat border Australia dibuka dan orang bisa traveling lagi, masyarakat banyak yang mau bikin atau perpanjang paspor. Jadi, ini ada lonjakan drastis. Menurut pejabat sebelum saya, biasanya tidak pernah sampai 25 per hari. Mungkin karena di masa pandemi yang membuat nggak bisa ke mana-mana, orang jadi menunda bikin atau memperpanjang paspor. Imbasnya ya saat dibuka.

Selain itu, yang masyarakat harus pahami adalah bahwa paspor kurang dari 6 bulan sudah bisa diperpanjang, lho. Jadi, kita dapat menghindari kondisi kepepet. Jadi, kalau, misalnya, paspor Anda expired di bulan September, Anda sudah bisa melakukan registrasi di bulan Desember atau Januari guna menghindari sifatnya yang urgent. 

Jadi, saran kami buat masyarakat, jika paspor Anda masih tinggal 6 bulan masa berlakunya, silakan melakukan pendaftaran untuk book appointment perpanjangan. Ini semua dilakukan secara online, sehingga Anda punya waktu yang cukup dan dapat memilih tanggal yang sesuai. 

Mengubah Sistem Agar Tidak Lama
Dengan sistem yang lama, sebelumnya hanya dibuka booking appointment selama 99 hari ke depan saja. Ketika itu sudah penuh, maka tanggal kosong, tidak bisa dipilih. Sistem ini sudah saya ubah. Selain kuotanya ditingkatkan–sebelumnya hanya 20 kini 27, antriannya kini jadi 1 tahun. Jadi, misalnya paspor Anda habis enam bulan lagi, silakan daftar dari sekarang.

Untuk hal-hal yang mendesak, ada legal alternative yang diperbolehkan secara hukum, yaitu perpanjangan paspor secara manual. Itu bisa dipakai untuk pulang ke Indonesia, urus visa dan perijinan di Australia. Silakan lihat syarat dan prosedurnya di website kami. Harap untuk selalu cek syarat, ketentuan dan prosedurnya. Kalau ada yang kurang syaratnya,
pasti ada kendala di kami untuk memrosesnya. Kadang ada beberapa keluhan seperti, “Kok, lama, ya… katanya 4 hari kerja”. Tapi, karena dokumen yang diminta nggak lengkap, dan kami coba telepon juga nggak diangkat, jadi prosesnya semakin lama.

Melayani dengan Maksimal
Telepon sulit masuk? Begini, telepon yang kami terima jumlahnya itu ratusan, sedangkan operator kami hanya satu. Jadi, bisa coba gunakan alternatif lainnya, seperti Whatsapp dan e-mail. Kami sendiri sudah berusaha memberikan pelayanan terbaik. Saya setiap hari juga harus menyisihkan waktu antara 3-3,5 jam hanya untuk merespons e-mail dan Whatsapp.

Semakin ke sini, saya sudah mulai menemukan ritmenya, sehingga orang mulai merasa nyaman. Sebelumnya ada tiga alamat email, yaitu untuk visa, imigrasi, dan paspor. Kini saya sudah tutup email untuk visa dan imigrasi, sehingga saya bisa fokus menjawab soal paspor yang langsung saya hubungkan dengan ponsel saya, sehingga anytime bisa saya respons. Saya ingin, kami semua berupaya untuk tanggap responsif terhadap keinginan masyarakat.

Dan, jangan juga lupa untuk selalu mengecek website kami untuk menemukan syarat, ketentuan, dan prosedur layanan yang Anda butuhkan sehingga kami dapat maksimal melayani Anda. [IM]

Previous article7 Hal Yang Perlu Diketahui Dalam Pernikahan Beda Budaya 
Next articleThe Violin Stories