Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Ketika aku pertama kali berangkat ke Sydney, aku membayangkan ‘living in the west’ experience seperti belajar di taman, makan makanan barat and bascily looking at Sydney Opera House everyday (hehe…). Tapi, di suburb tempat tinggalku, meski membuatku nyaman dan betah, kenyataannya tidak persis seperti itu. Aku dikelilingi kebisingan pasar Asia, taman bermain anak-anak dan well, belajar dengan nyaman di kehangatan tempat tidur di kamarku. Yak, “belajar”.

Namun, bulan ini Indomedia menemukan suburb yang “luar negeri banget” (at least on my imagination) which is Waverton. Terletak di Lower North Shore, hanya sekitar 4 kilometer dari CBD, Waverton menjadi tempat tinggal bagi lebih dari 3,000 orang. Sebelum dinamai Waverton pada tahun 1929, stasiun kereta di daerah ini dikenal sebagai Bay Road selama hampir 40 tahun. Pada tahun 2015, suburb ini dinilai oleh Urban Living Index sebagai one of Sydney’s most livable suburbs beriringan dengan Crows Nest.

Ketika aku meliput suburb ini, aku kembali disinggahi perasaan terkesima yang kurasakan saat pertama kali menginjakan kaki di negeri kangguru ini, kurang lebih satu setengah tahun yang lalu. Mengapa? Berikut ini beberapa hal dari Waverton yang membuatku merasa seperti benar-benar tinggal di Sydney:

1. Parks and walking/jogging tracks (with view to Sydney Opera House!)
Ada dua taman yang menarik untuk dikunjungi jika kalian ke Waverton. Pertama adalah, the well-known Balls Head Reserve. Lebih tepat disebut bushland, Balls Head Reserve adalah lahan berukuran 9 hektar yang masih dipenuhi pohon dan tanaman. Daerah ini diberi nama dari Henry Lidgbird Ball, seorang komander salah satu kapal First Fleet yang tiba di Botany Bay pada tahun 1788. Sebelumnya, tempat ini dihuni oleh suku Cammeraygal. Nama Aboriginal dari daerah ini adalah Yerroulbine. Di bagian ujung yang menonjol dari area ini adalah The Balls Head Lookout dimana kita bisa menikmati pemandangan kota dan ikon dari Sydney, yaitu Harbour Bridge and Opera House. Di malam tahun baru, tempat ini juga bisa menjadi salah satu spot yang strategis untuk menikmati pertunjukan kembang api.

Taman yang kedua adalah Waverton Peninsula Reserve. Meski tidak sebesar dan sepopuler tetangganya, taman ini juga memiliki sejarah yang cukup menarik dan pemandangn yang tidak kalah indah. Pada abad ke 20, tempat ini digunakan sebagai tempat penyimpanan minyak. Pembaharuan daerah ini dimulai di tahun 1993 dan dibuka kembali sebagai area rekreasi di tahun 2005. Sekarang, Waverton Peninsula dikelilingi oleh walking track yang mudah untuk ditelusuri.

2. Brunch places with western classics
Tentunya aku menyempatkan diri untuk mencicipi sedikit makanan dari suburb ini. Daerah makanan di suburb ini terlihat terpusat di sekitar station dan sebuah restaurant menarik perhatianku. Terletak di seberang station, restaurant dengan dekorasi yang nuansa taman ini terisi oleh beberapa orang yang tampak nyaman bersenda gurau. Menu yang kupilih adalah Steak Sandwich khas Australia dengan isi beetroot. Rasanya pun seenak tampangnya ternyata! Aku juga meminta tukar chips nya dengan sweet potato crisp, a good decision because the crisp was so good.

Setelah makan aku meninggalkan suburb ini dengan perasaan gembira. That’s one day of feeling (and tasting) my expectation of Sydney. Tapi apakah begitu Sydney yang seharusnya? Bisa jadi. I guess it depends who you ask. Buatku sendiri, meski begitu ekspektasiku dulu, Sydney dipikiranku sekarang bukanlah hanya belajar di taman, makanan barat dan Sydney Opera House. It’s so much more. It’s a multicultural city and a city that will never cease to surprise you with its hidden gems. Kalau penasaran, ikuti terus perjalanan kita di All Things Local … dan jangan lupa tonton video nya di IndomediaTV!

See you next month! Same time, always different places.

by Natasha Ingelia

 

Please follow and like us:
Loading...