Wanita Positif HIV Juga Bisa Lahirkan Bayi Tanpa HIV

4004
Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Kulihat mendung menghalangi pancaran wajahmu.
Tak terbiasa kudapati terdiam mendura.
Apa gerangan bergemuruh di ruang benakmu.
Sekilas kilau mata ingin berbagi cerita.
Kudatang sahabat bagi jiwa
Saat batin merintih
Usah kau lara sendiri
Masih ada asa tersisa …
Dekapkanlah tanganmu di atas bahuku
Biar terbagi beban itu dan tegar dirimu
Di depan sana cahya kecil ‘tuk memandu
Tak hilang arah kita berjalan
Menghadapinya …

Siapapun Anda yang pernah hidup dan besar di Indonesia pada era 90-an tentu tidak akan asing lagi dengan potongan lirik lagu milik Katon Bagaskara ini. Pernah begitu populer di jamannya, lagu yang dinyanyikan bersama Ruth Sahanaya itu didedikasikan untuk para penderita AIDS, atau Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Saat itu, kasus AIDS di Indonesia baru diketahui. Temuan kasus AIDS pertama kali di Indonesia adalah di Bali, yang terjadi pada tahun 1987.

Sejak saat itu, penderita HIV di Indonesia terus mengalami peningkatan. Menurut data Kementerian Kesehatan yang didasarkan pada banyaknya penderita yang melakukan layanan konseling dan terapi, hingga September 2015 lalu saja setidaknya ada sekitar 184.929 kasus HIV di tanah air. Dimana jumlah kasus tertinggi ditemukan di DKI Jakarta, yaitu sebanyak 38.464 kasus. Posisi kedua ditempati Jawa Timur (24.104 kasus), kemudian diikuti Papua (20.147 kasus), Jawa Barat (17.075 kasus) dan Jawa Tengah (12.267 kasus).

Penularan HIV ini sendiri disebabkan oleh banyak hal, mulai dari hubungan seks tidak aman pada heteroseksual, penggunaan jarum suntik yang tidak steril – terutama di kalangan pengguna narkotik suntik – transfusi darah, hingga ibu hamil kepada bayinya.

Penyebaran terbesar disebabkan oleh hubungan seks heteroseksual, sehingga risiko tertinggi penderita HIV baru adalah bayi dan ibu dari bayi tersebut.

Tidak seperti pria penderita HIV yang tidak langsung menularkan HIV kepada anaknya, wanita atau ibu lebih rentan menularkan HIV ke anak. Hal ini dikarenakan ibu mengandung janin yang sangat berisiko tertular virus HIV dari tubuhnya.

Menurut data WHO, hingga 30 persen bayi lahir dari ibu terinfeksi HIV akan tertular HIV. Pun demikian jika ibu menderita HIV menyusui bayinya, risiko keseluruhan naik menjadi 30-50 persen. Ibu yang memiliki Viral Load (VL) tinggi lebih dapat menularkan infeksi pada bayinya.

Lantas, apakah itu berarti wanita dengan HIV tidak boleh melahirkan dan memiliki anak tanpa HIV? Dalam perkembangan ilmu kedokteran, hal ini memungkinkan meski risiko tetap mengintai. Ibu penderita HIV harus lebih ekstra dalam menghadapi kehamilan meski kondisi ini tidak serta merta menurunkan risiko kesehatan pada ibu. Perlu persiapan tersendiri untuk wanita dengan HIV atau memiliki pasangan HIV untuk memiliki anak, terutama agar si anak tersebut tidak ikut terinfeksi.

Wanita dengan HIV dapat mengunakan terapi antiretrovilar (ARV) pada saat hamil atau akan hamil untuk menurunkan risiko penularan kepada bayi. Pada prinsipnya, penggunaan ARV selama hamil dapat menurunkan jumlah virus dalam darah ibu sehingga mengurangi paparan HIV dari ibu ke bayi. Dengan terapi ini, risiko penularan hanya 1–2 persen kepada bayi. Itupun dengan catatan, sang bayi juga harus diberi obat. Salah satunya adalah golongan AZT, yang diberikan tak lama setelah ia lahir, sebelum akhirnya dilanjutkan dua kali sehari selama seminggu untuk pencegahan.

Terapi ARV dianjurkan beberapa dokter untuk tidak dilakukan pada trisemester I. Alasannya ada tiga, yakni risiko dosis dilewatkan karena mual dan muntah, risiko cacat lahir meski hingga kini belum terbukti cacat lahir, dan ARV dapat meningkatkan risiko kelahiran dini atau bayi lahir dengan berat badan rendah. Meski demikian, terapi sangat disarankan.

Katakan saja bayi dalam kandungan dinyatakan negatif HIV, namun tidak berarti bahwa ia akan benar-benar terlahir tanpa HIV. Pasalnya, risiko bayi tertular saat proses persalinan tetap terbuka, yakni lewat darah atau cairan vagina yang mengandung HIV. Oleh karena itu, proses persalinan yang cepat pun dianjurkan guna menurunkan risiko penularan. Di saat yang bersamaan, pengobatan ARV pun harus tetap dijalankan.

Pasca melahirkan biasanya seorang ibu ingin memberikan Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif kepada bayinya dalam enam bulan pertama. Bagi ibu dengan HIV disarankan untuk tidak melakukan hal ini. Pasalnya, ASI penderita HIV dapat menurunkan virus ke bayi. Sehingga dianjurkan untuk memberikan susu formula kepada bayi sebagai pengganti ASI. Pun meski hingga kini hanya 5 – 20 persen saja bayi yang tertular HIV dari ASI. Risiko penularan HIV melalui ASI ini sendiri terjadi karena masitis atau luka di puting, luka di mulut bayi, prematuritis dan fungsi kekebalan tubuh.

Meski bayi terlahir dengan HIV tetap harus diberikan imunisasi terutaman vaksin BCG yang berfungsi untuk mencegah penyakik tuberkolosis. Hal ini dikarenakan bayi dengan HIV lebih rentan terserang penyakit BCG.

Buang stigma negatif soal ODHA
Meski terapi ARV mampu menurunkan angka kematian akibat HIV hingga dibawah 2 persen, namun penambahan infeksi baru di Indonesia masih cukup tinggi, dengan angka 20 ribu – 25 ribu jiwa per tahun. Itu sebabnya, program pencegahan menjadi sangat penting untuk dilakukan.

Sayang, stigma negatif dan diskriminasi terhadap ODHA di masyarakat kadung berkembang, dan ini menjadi hambatan besar keberhasilan program pencegahan, pengobatan dan rehabilitasi penderita. Tidak sedikit ODHA yang enggan menjalankan terapi karena malu akibat stigma negatif yang ada. Nah, di sinilah peranan orang sekitar dan masyarakat umum menjadi sangat penting. Sekali lagi, seperti potongan lirik lagu milik Katon Bagaskara, jangan kucilkan ODHA.

Berjabat tangan dengan penderita HIV tidak akan menimbulkan risiko penularan. Pun demikian jika Anda berbicara dengan mereka. Kenapa? Karena virus ini tidak hidup di udara, air dan kebanyakan zat lainnya di luar tubuh.

Please follow and like us:
Loading...