WAE REBO: Si Mutiara Hitam dari Flores

1109
Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Pernahkah terbayang ada sebuah desa di pedalaman Indonesia yang berhasil memikat hati tamu wisatawan baik nasional maupun internasional? Konon, tempat ini mampu menghadirkan pesona surgawi yang menyegarkan mata bagi kita yang mengunjunginya. Ya, Wae Rebo memang indah dan menakjubkan! Jauh dari hiruk pikuk kota, desa ini menyuguhkan kedamaian dengan sensasi yang berbeda. Diselimuti oleh kabut tipis di seluruh perkampungan, tak berlebihan rasanya kalau ia mendapat julukan “kampung di atas awan.”

Secara geografis kampung ini terletak diatas ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Wae Rebo merupakan bagian dari Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai Barat, Flores. Desa Wae Rebo berada di barat daya kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Untuk bisa sampai ke lokasi memang tidak mudah karena letaknya yang di atas gunung. Wae Rebo yang berada di lembah diantara pegunungan, hanya bisa ditempuh melalui jalan kaki dari Denge, desa terdekat dengan Wae Rebo yang masih bisa diakses oleh mobil.

Perjalanan menuju Wae Rebo memakan waktu 2-4 jam tergantung stamina masing- masing wisatawan. Di awal perjalanan wisatawan akan memasuki wilayah ladang penduduk. Vegetasi didominasi tumbuhan ladang seperti sayur-mayur serta kopi. Beberapa juga ditemui tumbuhan kopi. Jalur berbatu serta agak menanjak bisa jadi mulai menyita napas wisatawan. Setelah berjalan selama kurang lebih 1,5 jam, wisatawan akan menjumpai anak sungai dan tanah datar. Inilah yang disebut Pos Satu jalan menuju Wae Rebo.

Di sepanjang perjalanan, wisatawan biasanya akan bertemu penduduk Wae Rebo yang sedang membawa hasil bumi dari desa mereka, terutama kopi. Wisatawan tidak akan mampu menyangkal kehangatan tegur sapa yang mungkin jarang mereka jumpai di tempat lain. Pos selanjutnya adalah Pos Ponco Roko. Di tempat ini biasa wisatawan mendapatkan sinyal untuk telepon seluler mereka. Tempat ini berupa jalur yang agak luas dengan pembatas besi pada tepian sebagai pengaman dikarenakan berbatasan langsung dengan jurang. Pemandang dari pos Ponco Roko begitu indah. Wisatawan dapat melihat Desa Dintor di kejauhan.

Dari Ponco Roko perjalanan dilanjutkan dengan medan yang mulai turun. Pemberhentian berikutnya adalah Ponto Nao. Diperlukan waktu kurang lebih 45 menit dari Ponco Roko menuju Ponto Nao. Ponto Nao ditandai dengan bangunan kerucut dengan atap terbuat dari ijuk dan berfungsi sebagai pos pemantau. Di sini wisatawan akan membunyikan gong sebagai pertanda permisi untuk berkunjung. Dari Ponto Nao mulai terlihat bangunan kerucut atap ijuk sebagai ciri khas rumah adat masyarakat Wae Rebo. Setelah berjalan selama 5 menit, wisatawan akan tiba di kampung adat Wae Rebo. Sebelum diperbolehkan melakukan aktifitas di sini, wisatawan akan dipandu untuk upacara penyambutan tamu.

Meski telah dikenal di taraf internasional, desa Wae Rebo tetap melestarikan kearifan lokal sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia. Salah satu yang dilakukan adalah ritual Pa’u Wae Lu’u. Ritual ini dipimpin oleh salah satu tetua adat Wae Rebo yang bertujuan meminta ijin dan perlindungan kepada roh leluhur terhadap tamu yang berkunjung dan tinggal di Wae Rebo hingga tamu tersebut meninggalkan kampung ini. Sebelum selesai ritual ini, para tamu tidak diperkenankan untuk melakukan kegiatan apapun termasuk mengambil foto.

Setalah ritual, wisatawan dapat menikmati pemandangan alam berupa gunung-gunung yang berpadu dengan rumah adat berbentuk kerucut. Ini tentu akan memberi kesan tersendiri bagi setiap pengunjung yang pernah datang ke Desa Wae Rebo.

Please follow and like us:
Loading...