The Rise of Modern Superwomen

56
Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Menjadi seorang perempuan modern saat ini sama dengan selalu bersiap menghadapi situasi yang berubah sedemikian cepat. Kalau ditambah super, itu artinya seorang perempuan yang yang selalu siap bergerak dalam segala aspek perannya: perempuan, istri, ibu, pekerja profesional, dan lainnya.

Sebutlah nama Michelle Obama, yang baru saja merilis buku “Becoming”. Kita mengenalnya tak hanya sebagai mantan first lady sebuah negara paling terkenal di dunia. Ia juga seorang ibu dua putri remaja, aktivis pemberdayaan generasi muda, pengacara, dan kini, yang terbaru, penulis. Tentu saja, dengan sederet peran yang ia sandang, Nyonya Obama memiliki jadwal superpadat. Cobalah sebutkan nama-nama perempuan yang memiliki segudang peran, dimulai dari orang rumah.

Ibu saya, salah satunya. Perempuan beranak lima yang secara praktis membesarkan anak-anaknya sendiri, karena suaminya 10 bulan dalam setahun berada di tengah laut. Saat anak terkecilnya sudah bisa dititipkan kakak-kakaknya, ia belajar manajemen catering, kursus kue pengantin, mengajar paket C (murid-muridnya kebanyakan orang lanjut usia), mangajar berbagai kursus masak, dan membuka bisnis catering kecil-kecilan. Itu belum termasuk menjahitkan kami pakaian untuk hari raya dan acara khusus, membetulkan genting yang pecah, membantu kami mengerjakan pekerjaan rumah, dan ini yang epik, menjadi mandor pembangunan rumah kami sendiri. Dia mengecek dan mengawasi pekerjaan para tukang, dan mengatur keuangan yang mengalir seret, sampai rumah kami terbangun seluruhnya. Saya mengagumi kinerjanya yang sistematis dan realistis.

Siapakah Superwoman itu?

Banyak sekali perempuan yang, baik karena terpaksa maupun karena memang menyukainya, naik kelas menjadi perempuan super. Dalam pengertian saya, perempuan super adalah mereka yang dapat mengerjakan fungsinya sesuai fitrahnya dan hal lainnya. Fenomena ini bertambah tahun bertambah marak, sebuah hal yang tentunya luar biasa, bukan? Pertanyaannya kemudian adalah apakah perempuan super dilahirkan? Saya rasa tidak. Setiap perempuan memang dilahirkan. Semua perempuan memiliki potensi berkelas “super”. Tapi, dengan menyesal saya menyatakan bahwa perempuan super tidak dilahirkan. Ia mengusahakannya sendiri. Kita terinspirasi oleh mereka. Tapi, menjadi mereka? Belum tentu.

Saat pertanyaan itu muncul dalam pikiran saya, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari artinya di kamus. Dan inilah dia: seorang perempuan dengan kekuatan super atau seorang perempuan yang memiliki performa bagus dalam berbagai tuntutan perannya.

Alam telah mendesain kaum hawa sedemikian rupa sehingga untuk beberapa peran dapat dilakukan dengan lebih efisien. Seperti mengatur berbagai hal dan memainkan berbagai peran. Seorang ibu, secara alamiah, adalah seorang perempuan super. Dari merawat anak-anaknya, rumah, sampai bekerja penuh waktu di kantor. Seorang ibu melakukannya tanpa mengeluh karena mengerti akan tanggung jawabnya. Jika mengeluh, namanya bukan wanita super, dong.

Belajar dari Lilly Singh

Ada seorang perempuan yang bukan seorang ibu, juga tidak memiliki kemampuan super khusus, namun patut disebut perempuan super karena perjalanan hidupnya dan bagaimana ia memberi inspirasi jutaan perempuan di seluruh dunia untuk mengejar impiannya. Namanya Lilly Singh, seorang perempuan Kanada berdarah India. Saya mengenal profilnya dari kanal Youtube-nya. Tapi, yang tak saya kenal tentang Lilly adalah perjalanannya memerangi depresi hingga menjadi salah satu YouTuber perempuan yang dibayar paling malah di dunia.

Lilly Saini Singh lahir 26 September 26 1988 di Scarborough, Toronto. Orangtuanya pindah ke Kanada dari Punjab, India. Lilly kecil adalah anak yang ekstrover. Kepandaiannya berbicara membuatnya menjadi the life of the party di mana pun ia pergi. Dalam salah satu wawancara, Lilly berkata ia ingin menjadi power ranger dan raper, tapi orangtuanya ingin ia menjadi konselor. Lilly menyelesaikan S1-nya di bidang psikologi atas keinginan orangtuanya. Kenyaatannya, Lilly khawatir akan masa depannya karena ia sama sekali tidak ingin menjadi konselor. Tekanan orangtua dan keinginan hatinya saling berbenturan. Lilly mengambil waktu setahun tidak melakukan apa pun dan berada dalam kondisi depresi. Kepercayaan dirinya runtuh.

Untuk mengatasi perasaannya yang tak menentu, Lilly mulai membuat vlog yang ia pos di YouYube di tahun 2010. Saat itu, YouTube belumlah sepopuler saat ini dan tidak ada yang berpikir untuk hidup dari mengepos vlog. Banyak temannya juga mengepos vlog untuk kesenangan belaka. Saat berlibur di pantai bersama keluarganya, Lilly yang sangat tidak bahagia mulai bertanya pada dirinya sendiri ‘apa yang membuatku bahagia?’ ‘Apa yang akan kulakukan?’ Lalu muncullah jawabannya, ‘‘Menghibur orang lain membuatku sangat bahagia.” ‘Apa yang sedang kulakukan yang ada hubungannya dengan jawaban itu?’ “Vlogging di YouTube!” Sejak itu, Lilly memfokuskan dirinya membuat vlog dan terus memacu dirinya untuk berkarya.

Pulang berlibur, Lilly tak lagi bertanya dan depresi. Ia menyadari ketenaran dan kesuksesan yang ia raih saat ini bukanlah sihir yang dibuat dalam sekejap. Tapi ketekunan dan kebahagiaannya membuat vlog membuatnya terus berjalan bahkan di saat vlog yang ia pos tidak banyak yang menonton dan memiliki sedikit subscriber. “Setiap vlog dan cuitan dihitung,” katanya pada sebuah majah wanita terkenal Marie Claire. “Peningkatan saya pelan. Saya naik dengan tangga bukan eskalator.”

Saat ini, Lilly memiliki dua kanal di YouTube, “Superwoman” dengan lebih dari 14 juta subscriber dan “Superwomanvlogs” dengan hampir 3 juta subscriber. Majalah Forbes memasukkannya ke dalam daftar YouTuber wanita berpenghasilan tertinggi dan tiga besar YouTuber berpenghasilan tertinggi di dunia dengan nilai US$7.5 juta per tahun. Lilly juga meraih MTV Fandom Award, empat Streamy Award, dua Teen Choice Award, dan sebuah People’s Choice Award.

Apa yang membuat vlog Lilly begitu menarik? Begini jawabannya, “Menurutku harus ada keterkaitannya. Saya pikir mereka menyukainya karena saya bukanlah orang yang sempurna. Saya tak ragu membuat video saat sedang berjerawat atau mengalami bad hair day. Semua orang mengalami hal-hal yang sama, bukan? [IM]

========================================================

Dua perempuan hebat ini memberikan wacana bagaimana menjadi wanita super di bidangnya masing-masing.

Dewi Wahdiniasih, VP di sebuah perusahaan IT di Jakarta

1. Tantangan apa yang Anda temui sebagai perempuan yang berkarier di dunia teknologi?
Stigma masyarakat yang kadang beranggapan bahwa perempuan tidak mampu menjadi pemimpin di dunia teknologi merupakan tantangan yang menarik. Pembuktian bahwa perempuan mampu mengetahui detail teknis, dan mampu hands-on kadang membutuhkan waktu cukup lama daripada saat pria yang diminta untuk melakukan pembuktian.

2. Apa nasihat terbaik yang membuat Anda berani terjun dunia teknologi?
“Jangan mau kalah dengan pria dalam hal apa pun.” Almarhum papa saya yang bilang bahwa manusia dikaruniakan Tuhan sama dalam hal kapasitas otak dan kemampuan menyerap informasi. Bahkan, anugerah dari Tuhan bahwa wanita mampu melakukannya secara multitasking ini yang harusnya menjadi modal untuk terjun ke dunia “rumit” seperti teknologi.

3. Nasihat apa yang dapat Anda berikan pada wanita yang berniat mengikuti jejak Anda?
Jadilah pandai untuk diri sendiri dan untuk keluarga. Wanita pandai akan sangat dihargai. Wanita yang paham teknologi akan mampu merubah dunia, merubah kehidupan Anda dan keluarga menjadi lebih baik.

4. Bagaimana Anda memberi imbangan terhadap karier dan menjadi ibu buat anak-anak yang masih membutuhkan perhatian, saat mereka kecil sampai kini?
Anak-anak diberi pengarahan sejak masih sangat kecil bahwa ibunya punya tanggung jawab lain selain mengasuh mereka. Dan, pengertian bahwa ibu yang bekerja tetap mampu memberikan perhatian dan kehidupan yang baik dan hangat sama seperti ibu yang tidak bekerja formal. Bahkan, working mom bisa menjadi ibu yang lebih baik untuk anak-anak karena punya lebih banyak informasi dan lebih update dengan dunia luar, sehingga mampu menjadi partner diskusi yang baik untuk anak-anak.

5. Bagaimana sikap rekan pria, terutama yang berada di bawah Anda, terhadap kepemimpinan Anda?
Selama ini suportif. Saya pernah memimpin perusahaan di mana dua direktur di bawah saya adalah pria. Mereka sangat suportif dan memberikan ruang kepada saya untuk berkarya semaksimal mungkin tanpa melupakan kodrat saya sebagai wanita.

6. Bagaimana Anda terus belajar agar tetap, bahkan naik terus dalam jenjang karier di dunia tech?
Jangan pernah berhenti belajar dan perbanyaklah networking. Belajar tidak harus dalam bentuk membaca atau di ruang kelas. Belajar bisa dari ketemu hal baru, orang baru, dari mendengarkan penjelasan seseorang, atau bahkan dari pengamatan dari apa yang terjadi saat ini.

7. Apa visi Anda melihat perempuan dan bidang teknologi di Indonesia secara khusus?
Perempuan Indonesia pasti akan menjadi salah satu tonggak sejarah untuk perubahan yang masif di revolusi industri 4.0.

========================================================

Ernita Siregar, fotografer & videographer, pemilik Absolute Fashion Photography di Sydney

1. Bagaimana Anda beraktivitas sehari-hari?
Saya memulai hari dengan mendengar lagu-lagu rohani, seperti dari Hillsong, membaca renungan harian dari Joseph Prince, dan mendengarkan podcast Steven Furtick. Setelah itu mengecek e-mail, jadwal, dan menelpon klien untuk mengatur strategi pemotretan. Biasanya, saya mulai memotret di pagi menjelang siang karena cahaya sedang bagus-bagusnya, saya juga dalam kondisi segar. Sore biasanya untuk lihat-lihat lokasi, dan malam untuk bersantai dan mencari ide-ide kreatif.

2. Tantangan apa yang Anda temui sebagai perempuan yang berkarier di dunia yang mayoritas digeluti pria ini?
Challenging traveling, lokasi, kepribadian yang berbeda-beda, jadwal, marketing, pricing, dan ekspektasi yang tinggi adalah bagian dari menjadi seorang fotografer. Selain itu, mengarahkan sekelompok orang dalam berfoto juga punya tantangan tersendiri, lalu berada di berbagai tempat nyaris pada saat yang sama untuk mengambil peristiwa yang sedang terjadi, semuanya itu harus dibarengi dengan kualitas kerja yang sangat baik, kreatif, dan penuh estetika. Itulah motivasi nomor satu saya di balik alasan saya menciptakan timeless, fine art photographs. Itulah tantangannya.

3. Apa nasihat terbaik yang membuat Anda berani terjun dunia teknologi?
Daya tahan, berpikir out-of-the-box, kreatif, dan tidak pernah menyerah

4. Nasihat apa yang dapat Anda berikan pada wanita yang berniat mengikuti jejak Anda?
Bertemanlah dengan orang-orang yang kompeten dan passionate. Bangunlah tim kreatif yang kuat untuk membantu Anda mengeksekusi visi Anda. Cari orang-orang yang bertalenta untuk membantu Anda membangun bisnis Anda dan memperbesar kapasitas Anda. Dunia fotografi tentunya membutuhkan karakter pemimpin yang kuat. Namun, seorang pemimpin yang kuat tetap membutuhkan tim yang baik untuk meraih tujuan bersama.

5. Bagaimana Anda memberi imbangan terhadap karier dan menjadi seorang istri di rumah?
Bekerja dengan efektif, memiliki pengaturan waktu yang baik, dan jangan lupa prioritas.

6. Bagaimana Anda terus belajar agar tetap menjadi yang terbaik?
Menggali dan mengerjakan konsep-konsep baru dan mengembangkan seri-seri foto baru untuk memutakhirkan portfolio.

7. Apa visi 10 tahun Anda ke depan?
Mengajar atau mengerjakan loka karya fotografi

Please follow and like us:
Loading...