Sisi Gelap Media Sosial Bagi Manusia

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Media sosial bukan lagi produk baru di kalangan masyarakat. Meski masih menggunakan platform internet, tetapi kehadiran media sosial memberikan dampak yang sangat besar dan perubahan di berbagai sektor kehidupan. Berbagai fenomena mulai muncul, mulai dari foodporn, selfie, ootd, dan berbagai keriaan lain yang lahir di platform media sosial.

Semakin ke sini, media sosial juga menjadi medium yang semakin serius. Tak lagi hanya berisi cuit curhat atau ocehan santai, tetapi menjadi media distribusi informasi yang cukup valid dan aktual. Banyak kabar dan informasi yang lebih dulu tersebar di media sosial daripada media konvensional seperti televisi, koran, radio bahkan portal berita. Uniknya, beberapa media bahkan mulai menjadikan media sosial sebagai sumber dari berita yang mereka rilis. Sayangnya, media sosial juga memiliki dampak buruk yang cukup menyeramkan.

Dampak Buruk Media Sosial Bagi Remaja

Terlepas dari segala kebaikan tersebut, sebuah penelitian dari Glasgow University, Skotlandia, membawa kabar baru yang cukup mencengangkan para pecinta media sosial. Penelitian mereka menyebutkan jika remaja yang gemar mengakses media sosial, apalagi hingga larut malam, cenderung mudah cemas dan depresi. Hasil itu dirangkum dari analisa pada 467 remaja pengguna media sosial yang diteliti. Hasilnya, sebagian besar dari mereka merasa cemas dan tertekan ketika harus memberi atau menerima respons berupa teks atau gambar yang dikirim oleh teman-teman.

Pada penelitian yang sama, Dr. Heather Cleland Woods menjelaskan bahwa ukuran kualitas tidur, kepercayaan diri, kecemasan dan depresi remaja yang menggunakan media sosial lebih mengkhawatirkan. Ada sebuah istilah FOMO yang berarti ‘Fear of Missing Out’ atau rasa takut ketinggalan dari tren dan aktivitas di media sosial. Akibatnya, perasaan tersebut akan memaksa mereka untuk terus terhubung sesering mungkin.

Sebanyak 90 persen responden remaja mengaku sulit jauh-jauh dari ponsel atau gadget sepanjang malam karena ingin selalu mendapat update di media sosial. Tak hanya mencuit atau mengunggah sesuatu, kebanyakan remaja juga mengaku sering “terjebak” pada jelajah dari satu akun ke akun lain hingga lebih dari empat jam setiap malam.

Sebuah penelitian lain dengan subjek serupa juga diselenggarakan oleh Lembaga Pelayanan Warga Inggris (NCS). Lebih dari 1.000 remaja dengan usia 12-18 tahun mengalami stress pada 12 bulan terakhir. 88 persen remaja mengaku penyebab stress mereka adalah tuntutan terlihat keren di media sosial, menjadi populer di sekolah dan menemukan pacar. Dampaknya, sebagian besar penderita mulai mengalami insomnia, depresi dan gangguan nafsu makan.

Ajang Pamer yang Bahaya Bagi Orangtua

Pasti kita sering menemui unggahan foto anak kecil yang menggemaskan di linimasa media sosial. Biasanya foto itu diunggah oleh orangtua yang bahagia dan ingin berbagi kelucuan buah hati dengan teman-teman. Sayangnya, foto itu justru bisa menjadi bumerang berbahaya bagi anak dan orangtua.

Aktivis dan peneliti teknologi informasi Donny B.U. pernah menuturkan via Twitter perihal bahaya pedofilia di internet. Sebuah organisasi yang fokus pada hak anak Terre des Hommes di Belanda pernah membuat karakter rekaan seorang bocah perempuan 10 tahun bernama Sweetie di media sosial. Akun itu dibuat untuk memancing respons yang membahayakan anak kecil ketika berada di media sosial. Hasilnya, hanya dalam waktu 2,5 bulan Sweetie berhasil membongkar lebih dari 20.000 predator di 71 negara yang mengakses internet.

Disamping itu, Konvensi PBB pun sudah mengatur hak privasi anak, termasuk yang berkaitan dengan anggota tubuh. Maka dari itu sebaiknya orangtua tidak mengunggah foto-foto anak dalam keadaan telanjang ke dalam media sosial.

Sebuah penelitian lain di University of Maryland, Amerika Serikat, membuktikan secara langsung bahwa media sosial memang memiliki pengaruh besar pada angka penculikan anak. Dengan fitur advanced search, para penculik di internet bisa langsung menarget anak-anak kecil di internet.

Dan hal itu juga bukan merupakan sesuatu yang jauh dari budaya masyarakat Indonesia, melainkan sangat akrab dan sudah terbukti banyak terjadi. Banyak kasus penculikan dan pelecehan seksual pada anak-anak di Jabodetabek. Bahkan, penyanyi dangdut Nassar pun pernah kehilangan putrinya, Nana, lantaran diculik.

Pemicu Perceraian

Data statistik dari lembaga survei Pew Research Centre menyebutkan sebanyak 25 persen pasangan merasa hubungan mereka terganggu karena masih berteman di media sosial. Sekitar 8 persen pasangan bahkan pernah bertengkar karena suami atau istri lebih banyak menghabiskan waktu di layar ponsel atau gadget.

Ian Karner, pakar hubungan asal New York, menuturkan jika media sosial bisa menjadi pemicu kesalahpahaman sekaligus perdebatan. Hal itu bisa disebabkan karena jarangnya komunikasi, sering mengeluh di media sosial dan curiga dengan konten-konten yang tidak dipahami dari pasangan. Salah satu cara yang paling tepat untuk menanggulangi hal tersebut adalah dengan unfriend pasangan di semua media sosial.

Please follow and like us: