Sebuah Lukisan dari Dua Mata

114
Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Bagaimana kalau sebuah lukisan dilihat dari dua mata yang berbeda? Tak terpikirkan, pastinya!

Banyak orang berpendapat kalau sebuah karya lukis itu menampilkan isi pikiran dan hari dari sang pelukis. Namun, menurut saya, karya seni itu sesuatu yang sangat dinamis dan personal. Oh, bukankah kita semua memiliki sudut pandang, cara pikir, dan perasaan hati yang berbeda? Bukan sesuatu yang salah jika kita tidak dapat dengan tepat menangkap makna pelukis. Namun, justru di situlah seni dari kesenian, yaitu sebuah karya yang indah bisa memberi menyentuh penikmatnya dengan cara yang berbeda-beda.

Tentu, makna sebenarnya dari sang pelukis tidak boleh dihiraukan juga. Alangkah baiknya dan menariknya kalau kita bisa membandingkan makna dan tujuan lukisan itu dibuat dengan makna dan hasil yang kita dapatkan! Yuk, kita kepoin karya-karya seniman Australia melalui dua mata. Mata sang pelukis dan mata awam teman-teman kita; Andani, Aliq, dan Vidya (wawancara video ketiga wanita cantik ini ada di IMTV, so go check it out!)

1. Potrait of Vincent Van Gogh by John Peter Russel

Mata kita:
Dari antara ketiga narasumber IM, hanya satu orang yang berhasil menebak dengan tepat lukisan apa (atau lebih tepatnya ‘siapa’) ini. Mungkin kita semua tidak asing dengan nama pelukis terkenal ini maupun karya-karyanya. Namun, berapa banyak dari kita yang mengenali tampang di balik Starry Night ini? Memang benar ya perkataan orang-orang kalau pelukis itu dikenal dari karyanya. Jujur, aku pun tidak mengetahui wajah Van Gogh sebelumnya (hehehe). Sebuah teguran bagi kita untuk dapat juga mengapresiasi artist di balik karya seni besar.

Mata pelukis:

John Peter Russel melukis sosok Van Gogh ini di Paris. Mereka pertama kali bertemu di studio milik Fernand Cormon dan mereka lantas berteman. Pada tahun 1886, ia melukis temannya ini dengan gaya realistis konvensional. Banyak yang berkata bahwa lukisan ini adalah lukisan yang paling tepat menggambarkan Van Gogh. Beberapa tahun setelah itu, Van Gogh menulis pada seorang bernama Theo, katanya, “Jaga hati-hati lukisan potretku yang dibuat oleh Russel. Lukisan itu sangat berarti bagiku.” Lukisan itu sekarang terpajang di Van Gogh Museum, Amsterdam. Konon, para peneliti seni menemukan tulisan “Vincent, In Friendship” dilukis dengan warna merah di atas kepala Van Gogh. Mungkin sekali, di mata Russel ketika melukis ini, dia tidak menggambarkan Van Gogh sang seniman legendaris, melainkan seorang teman baik.

2. Bailed Up by Tom Roberts


Mata mereka:

Ketika melihat kereta kuda dan seragam prajurit menghadapi “lawan”, wajar sekali kalau pikiran pertama yang terlintas adalah… perang. Apalagi dengan keadaan sekitarnya yang tampak gersang atau hancur akibat peperangan. Ada juga yang melihat lukisan ini sebagai suatu perjalanan, melihat dari kereta, dan barang-barang yang dibawanya.

Mata pelukis:
Ketika Tom Roberts mengunjungi Inverell di New South Wales Utara, dia mendengar kisah yang terjadi tiga puluh tahun silam dari penduduk kota Inverell. Lukisan mengenai bushranger ini menggambarkan kejadian seorang pengendara kereta berkuda bernama Silent Bob Bates dicegat oleh bushranger lokal, yaitu Captain Thunderbolt’. Mungkin anda sering mendengar kata ini ketika membaca sejarah Australia. Bushranger adalah semacam Robin Hood atau sebutan bagi perampok yang tidak mengambil hasil rampokan untuk diri sendiri, melainkan untuk dibagikan ke komunitas miskin di sekitarnya. Orang-orang berkomentar kalau lukisan ini sangat tepat menggambarkan situasi kejadian masa itu, termasuk iklim panas maupun sosok-sosok yang menyerupai penduduk lokal Inverell. Dulu, tidak ada yang tahu kisah penuh makna ini karena tersembunyi di sebuah kota kecil. Berkat lukisannya, Tom Roberts mengenalkan kota Inverell dan bushranger pemberani bernama Captain Thunderbolt ini ke seluruh dunia. Mungkin, saat itu Roberts tidak berpikir akan sampai seperti ini populernya. Mungkin, saat itu ia hanya ingin mengabadikan kisah itu dalam kanvas dan warna.


3. The Galaxy by Sidney Nolan


Mata mereka:

Seperti sebagian besar (atau bahkan semua), lukisan abstrak, sulit sekali ditangkap maknanya bagi orang awam. Contohnya, ya, lukisan di atas ini. Ketiga narasumber IM, bahkan saya sendiri kebingungan menebak arti yang ingin disampaikan oleh sang pelukis. Tapi, justru di sinilah seni bekerja, yaitu untuk bukan menunjukan isi hati sang seniman melainkan isi hati kita. Bagi Andani, lukisan ini hanya bersifat abstrak saja tanpa arti tertentu. Bagi Vidya, lukisan ini menggambarkan kehidupan di tengah masalah, sementara Aliq merasa lukisan ini merupakan kerumunan orang yang dikelilingi sesuatu. Bagiku, ini terlihat seperti sebuah perjalanan. Entah mengapa aku melihat lukisan ini seperti perjalanan orang Israel yang keluar dari Mesir ke Tanah Perjanjian. Bagaimana dengan kalian? Apa yang kalian lihat?

Mata pelukis:

Sebenarnya, lukisan ini memiliki sebuah judul alternatif, yaitu Soldiers Shelled While Bathing. Nah, lukisan ini adalah salah satu dari kumpulan lukisan Sidney Nolan yang bertemakan Gallipoli. Gallipoli adalah tempat prajurit perang Australia dan New Zealand (ANZAC) bertugas. Di lukisan ini, Sidney Nolan melukis sosok bagaikan hantu yang dilingkari tetesan hijau. Hal ini mengilustrasikan time-warp, sebuah memori mengenai perang dan prajurit yang gugur. Cipratan cat itu menggambarkan partikel-partikel bom atom yang menjadi ketakutan bagi para saksi Perang Dunia 1 yang penuh dengan ancaman nuklir. Bagian ini diikuti dengan kehitaman yang pekat, yaitu sisa-sisa eksistansial yang sia-sia. Sungguh mengerikan dan menyedihkan. Dari mata Sidney Nolan, inilah dunia yang berperang. Semoga kita tidak akan pernah benar-benar melihatnya dengan mata kepala sendiri. [IM/Natasha Ingelia]

Please follow and like us:
Loading...