RAMAI-RAMAI MEWARNAI, YANG KECIL HAPPY YANG BESAR JUGA HAPPY!

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Mendengar kata ‘mewarnai gambar’ yang terlintas di pikiran kita pastinya adalah kegiatan yang identik dilakukan oleh anak-anak TK maupun SD. Ya, mewarnai memang identik dengan aktivitas yang dilakukan oleh anak-anak. Tapi jangan salah, saat ini kegiatan mewarnai gambar tak hanya populer di kalangan anak-anak saja. Orang-orang dewasa pun sekarang mulai melirik kegiatan tersebut.

Beberapa orang mulai menggemarinya dan menganggap aktivitas tersebut menyenangkan. Kesenangan mewarnai ini pun perlahan menjelma menjadi sebuah tren baru yang membuat orang-orang dewasa menyerbu toko buku untuk mencari buku mewarnai. Tentu saja buku mewarnai yang digunakan ini berbeda dengan buku mewarnai anak-anak. Buku mewarnai bagi orang dewasa ini memiliki desain yang lebih detail dan dengan tingkat kesulitan yang lebih rumit.

Munculnya tren mewarnai bagi orang dewasa ini bukan tanpa alasan karena ternyata kegiatan mewarnai ini sendiri diyakini bisa membantu mengurangi stres bagi orang dewasa yang setiap harinya menghadapi berbagai tantangan dan masalah hidup. Selain bisa mengurangi stres, kegiatan ini juga diyakini menghadirkan perasaan tenang serta merangsang area otak yang berhubungan dengan keterampilan motorik, indra, dan kreativitas. Dengan mewarnai, banyak orang merasa lebih rileks.

Dalam ilmu psikologi, kegiatan mewarnai ini dapat diterapkan ke dalam terapi relaksasi. Psikolog yang pertama kali menerapkan teknik ini adalah Carl.G Jung di awal abad ke 20. Carl mendesain gambarnya sendiri mulai dari bentuk lingkaran hingga siku-siku segitiga menyerupai jendela gereja tua. Carl menganggap bahwa mewarnai adalah salah satu cara mengaktifkan kedua belahan otak dan merangsang area otak yang berhubungan dengan keterampilan motorik, indera, dan kreativitas. Pendiri psikologi analitik ini pun menyarankan kegiatan mewarnai bagi pasiennya agar lebih tenang dan memusatkan perhatian.

Seorang psikolog lain bernama Gloria Martinez Ayala mengatakan bahwa ketika mewarnai, orang akan mengaktifkan dua bagian otaknya. Kegiatan ini melibatkan kedua logika, yang kita bentuk warna, dan kreativitas, saat mencampur dan mencocokkan warna. Ini menggabungkan bidang korteks serebral yang melibatkan keterampilan motorik halus. Relaksasi bagian dasar otak kita terlibat dalam mengendalikan emosi yang dipengaruhi oleh stress. Dengan mewarnai, orang akan melatih fokus sebab membutuhkan konsentrasi dan secara bersamaan juga membawa orang berimajinasi kembali ke masa kecil dimana lebih banyak hal-hal yang sifatnya menyenangkan dan minim tingkat stres.

Sedangkan psikolog lain, Antoni Martinez merekomendasikan mewarnai sebagai langkah menuju ketenangan pikiran. Ia menganjurkan mewarnai sebagai teknik relaksasi. Saat memilih warna, suasana hati orang tersebut akan menentukan. Jadi ia menyarankan untuk membiarkan warna dan gerakan tangan mengalir tanpa diatur saat hendak mewarnai. Pendapat senada akan manfaat dari mewarnai ini juga disampaikan oleh seorang hipnoterapis dari Klinik Prorevital yang bernama Dr Erwin SpKj. Mengutip pernyataannya yang dimuat oleh Liputan 6, ia menuturkan bahwa tubuh yang sehat ditandai dengan adanya keseimbangan kombinasi warna pada aura. Mulai dari merah sampai ungu. Sehingga warna bisa mempengaruhi kondisi kesehatan seseorang.

Saat ini di Indonesia tren ini belum menyebar luas tapi untuk negara-negara Eropa dan Amerika tren ini sedang mewabah. Tren menerbitkan buku mewarnai untuk dewasa berkembang pesat di Eropa dan Amerika. Bahkan di Spanyol, sebuah penerbit melibatkan kartunis terkenal, Forges, untuk menyusun buku mewarnai. Buku-buku gambar khusus orang dewasa pun laris manis. Di situs belanja Amazon misalnya, buku mewarnai untuk dewasa berada di deretan produk paling banyak dibeli dan menjadi populer di Inggris juga Perancis. Penerbit Hachette asal Perancis bahkan memiliki koleksi yang disebut Art-Therapie dengan dua puluh volume de-stres termasuk semua jenis gambar dari buku-buku berupa kupu-kupu dan bunga untuk cupcakes, grafiti dan pola psychedelic.

Di tempat lain, kreator buku mewarnai untuk dewasa, asal Skotlandia, Johanna Basford, sudah mengeluarkan buku bertajuk Secret Garden dan Wonderlands yang penuh dengan ilustrasi dongeng hutan. Ia bisa dibilang menjadi pionir munculnya tren mewarnai di kalangan orang dewasa ini. Sejak diluncurkan pada 2013, The Secret Garden telah terjual lebih dari 1,4 juta kopi dan berada di urutan ketujuh sebagai buku terlaris di Amazon.

Buku bertitel ‘Adult Coloring Book; Stress Relieving Patterns’ juga terbilang laris manis dan berada di urutan keempat sebagai buku terlaris. Semakin berkembangnya tren mewarnai, membuat ilustrator asal Indonesia, meluncurkan sebuah buku dengan judul “My Own World”. Karya buku yang disusun oleh Khalezza dan Tria N ini menjadi buku mewarnai untuk dewasa pertama yang dirilis oleh orang Indonesia sendiri. Buku ini ditujukan untuk mereka yang suka mewarnai, mengeksplorasi warna, dan tentu menjadi terapi anti stres di tengah banyaknya rutinitas atau kegiatan. Buku yang dibandrol seharga Rp. 69.000 ini menjadi ramai dibicarakan di sosial media.

Tak disangkal, peran media sosial pun semakin memopulerkan tren ini. Ada sekitar 66 ribuan postingan di Instagram dengan hashtag #colouringbook, yang kebanyakan menampilkan foto hasil karya mereka mewarnai gambar-gambar di buku tersebut. Buku menggambar khusus orang dewasa ini sebenarnya tak berbeda dengan buku gambar anak-anak. Esensi utamanya adalah memberi warna pada ilustrasi gambar hitam-putih. Namun pada buku khusus orang dewasa, gambar-gambarnya lebih rumit dan diperlukan ketelitian tinggi saat mewarnai agar hasilnya jadi menakjubkan.

Beberapa pihak ada yang berpendapat bahwa fenomena mewarnai ini adalah kerinduan orang dewasa untuk merasakan sensasi masa kecil di tengah dunia yang serba digital seperti sekarang. Fenomena ini dinilai baik untuk orang dewasa agar tidak terus-menerus berkutat dengan gadget dan kehidupan media sosial yang seringkali membuat orang lupa akan kehidupan nyata yang sesungguhnya.

Please follow and like us: