Mengenal Konjen RI Baru – Bpk Heru Hartanto Subolo

2117
Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Dengan berakhirnya masa tugas konjen Sydney Bapak Yayan G.H Mulyana pada akhir 2017 lalu, kini kita ucapkan selamat datang kepada konjen baru Bapak Heru Hartanto Subolo yang akan memulai masa tugasnya selama 3 tahun ke depan.

Pria kelahiran Pucangsawit-Solo, 27 September 1966 ini sebelumnya juga pernah bertugas di KJRI Houston, Texas USA; KBRI Oslo, Norwegia dan KBRI Washington DC. Beliau menikah dengan Ir. Sinta Ekawati dan dikaruniai dengan tiga orang anak.

Bpk Heru Hartanto Subolo & Ibu Sinta Ekawati

Untuk mengenal lebih jauh dengan sosok konjen baru kita ini, seperti biasa Indomedia mengulas sekilas latar belakang serta visi yang akan dikerjakan oleh Konjen Heru Subolo.

Berikut ulasannya:


Sudah berapa lama Bapak masuk dalam Kementrian Luar Negeri?

Saya bertugas di bawah Kementrian Luar Negeri selama 27 tahun. Setelah selesai kuliah di Universitas Padjajaran – Bandung, saya masuk di Kementrian Luar Negeri pada tahun 1991 melalui Sekolah Dinas Luar Negeri.

Apa yang mulai membawa Bapak untuk tertarik masuk ke lingkungan ini?

Yang pertama, adalah karena passion saya yang senang untuk menjalin hubungan dengan masyarakat dimana saja berada, di Indonesia maupun di luar negeri.

Yang kedua, karena saya berkeinginan menjalin komunikasi dengan masyarakat di luar negeri dimana saja mereka berada dan berbuat sesuatu yang terbaik buat bangsa. Dan ditambah lagi dengan jurusan yang saya ambil ketika menjalankan kuliah yaitu di hubungan Internasional. Ini merupakan satu subjek yang sangat dinamis dan menantang karena banyak bidang-bidang ilmu yang terkait satu sama lain dan semua ini bermuara kepada suatu hubungan yang baik, memajukan hubungan yang akrab antara satu negara dengan negara lainnya, yang juga sejalan dengan passion saya untuk bisa menjalin hubungan yang baik.

Bagaimana gaya kepemimpinan bapak? Apakah ada filosofi atau prinsip tertentu yang dijalankan?
Tidak ada prinsip yang khusus, tapi saya ingin menjadi bagian dari sebuah keluarga yang inclusive. Jadi saya ingin membawa semua kolega dan staff dalam suatu hubungan kebersamaan. Untuk style, saya suka yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara.

Apakah ada kisah unik dalam penugasan Bapak sebelumnya?
Sebuah kisah unik pada saat saya berada di Washington dulu adalah bagaimana menjadikan Indonesia bisa melekat di hati para pelajar disana. Sesuai dengan kolaborasi dengan sistem pendidikan di Washington DC, kami menemukan satu cara yang unik untuk mempromosikan Indonesia yaitu melalui makanan. Kami temukan bahwa pelajar di sekolah-sekolah bisa berkumpul bersama untuk makan siang dengan menu yang dimasak oleh kantin di sekolah tersebut.

Jadi yang kami lakukan melalui kerja sama dengan sistem pendidikan di Washington DC adalah menjajaki untuk menyajikan salah satu menu makan siang mereka dengan makanan Indonesia. Oleh karena itu kami dan tim dari KBRI Washington DC mulai mendidik chefnya untuk belajar memasak makanan Indonesia selama sebulan. Menu yang kami tawarkan sempat di revisi untuk memenuhi standar ingridient yang sehat dan cara memasak yang benar.

Hingga akhirnya, pada satu hari seluruh sekolah di Washington DC berkumpul dan menikmati makan siang dengan menu makanan Indonesia yang sama. Jumlahnya ada sekitar 5000 siswa saat itu. Saya yakin itu merupakan pengalaman yang luar biasa buat mereka. Menunya sangat unik dan cara memakannya juga dengan cara Indonesia.

Apakah ada kesulitan selama masa penugasan Bapak yang berpindah-pindah?
Secara pribadi kesulitan kami relatif bisa terpecahkan dengan baik. Mungkin yang agak berat adalah anak-anak, karena kadang waktu sekolah mereka tidak pas saat pindah dan anak-anak harus bisa cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Ada dimana saat mereka tidak bisa langsung masuk sekolah tapi harus melalui kelas khusus bahasa dan sebagainya, dan itu butuh waktu dan perjuangan buat mereka.

Buat saya sendiri mungkin sebuah tantangan yang baru saat pindah ke tempat lain, karena kita harus menjalin hubungan dengan orang-orang baru. Tapi ini menarik buat saya, karena saya anggap setiap penugasan itu punya keunikan tersendiri, dan dinamika itu sangat saya nikmati sekali.

Apa ada program yang sudah disiapkan untuk KJRI selama masa penugasan Bapak?

Yang pertama, kami akan jadikan kinerja KJRI Sydney yang terbaik melalui Smart Consulate. Program Smart Consulate adalah digitalisasi sistem kerja di KJRI yang menggunakan teknologi IT yang bisa menjangkau seluruh masyarakat Indonesia di wilayah kerja (NSW, QLD dan SA) serta masyarakat Australia yang menggunakan fasilitas KJRI

Yang kedua, adalah meningkatkan visibilitas Indonesia di wilayah kerja kami. Artinya apapun kegiatan yang menggunakan logo Indonesia atau menjadikan Indonesia menjadi subjek kegiatan, saya akan dukung penuh dan kami akan memfasilitasikannya.

Yang ketiga, adalah mendekatkan hubungan antar manusia atau people to people contact masyarakat Indonesia dan Australia. Tentunya program diplomasi ekonomi harus jalan melalui digital ekonomi. Jadi paradigma baru ini ingin saya bangun dalam rangka kami melaksanakan tugas-tugas yang hakikatnya menjadikan hubungan Indonesia dan Australia menjadi sangat akrab, sangat dekat dan bermanfaat satu sama lain.

Saat acara perkenalan dulu, Bapak pernah membagikan nomor HP Bapak. Apakah boleh di share juga nomornya untuk penonton dan pembaca Indomedia?
Oh dengan senang hati. Nomor HP saya adalah 0450 892 616. Saya akan berusaha untuk menggunakan media yang sama seperti WA Group, website KJRI, Facebook, dll untuk berkomunikasi dengan masyarakat Indonesia di New South Wales, Queensland dan South Australia. Jadi walaupun jarak kita agak jauh dengan kota yang lain, tapi saya harapkan hubungan yang hangat bisa terus terjalin dan dirasakan oleh masyarakat.

Ada kata-kata mutiara yang bisa disampaikan?

Bekerjalah dengan hati, turuti passion dan pastikan bahwa apa yang kita lakukan bermanfaat bagi masyarakat banyak.

Ikuti bincang-bincang lengkapnya di IndomediaTV – Click here

Interviewer: Natasha Ingelia
Videographer: Odi Winata
Photographer: Pudi Muliawan

Please follow and like us: