Kenali Gejala Autoimun, Jangan Anggap Remeh!

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Kesehatan selalu menjadi keinginan setiap orang. Tidak ada orang yang ingin sakit. Namun kenyataannya, penyakit itu ada di sekitar kita. Tak peduli status sosial dan gaya hidup kita, penyakit bisa saja dengan tiba-tiba menghampiri kita. Hari ini nampak sehat, besok bisa lain ceritanya. Oleh karena itu, kita pun perlu lebih teliti dalam memperhatikan kondisi tubuh kita. Dalam beberapa situasi, tubuh seringkali sudah memberikan sinyal-sinyal bahwa ia dalam keadaan yang tidak baik. Namun karena menganggap remeh, kita pun menyangka hal tersebut bukanlah masalah yang serius dan mengabaikannya begitu saja.

Misalnya saja rasa lelah tanpa sebab, sering sariawan, sakit persendian, penglihatan yang kabur, atau jari-jari kesemutan mungkin hanyalah gejala sesaat yang tidak berbahaya, namun jika gejala ini terus menerus terjadi bisa jadi merupakan tanda awal sebuah penyakit serius yang sulit disembuhkan, yaitu autoimun. Memang tidak bisa langsung disimpulkan bahwa saat seseorang mengalami gejala-gejala di atas artinya mengidap penyakit autoimun, namun tidak ada salahnya untuk kita lebih berhati-hati dan lebih memperhatikan tubuh kita.

Bicara soal penyakit autoimun, apa sebenarnya penyakit autoimun itu? Penyakit autoimun adalah penyakit yang tidak disebabkan oleh virus atau bakteri tetapi oleh kesalahan dalam sistem kekebalan tubuh seseorang. Gangguan autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang keliru menyerang jaringan tubuh sendiri. Alih-alih menyerang kuman berbahaya, sistem kekebalan tubuh justru menyerang jaringan tubuh sendiri secara membabi-buta seolah seperti “senjata makan tuan”. Hal ini karena sistem itu tidak bisa membedakan mana sel-sel asing dan mana yang sel-sel tubuh itu sendiri.

Pada tubuh orang normal, sistem kekebalan tubuh menjadi kumpulan sel-sel khusus dan zat kimia yang berfungsi melawan agen penyebab infeksi seperti bakteri dan virus serta membersihkan sel-sel tubuh yang menyimpang misalnya pada kanker. Hal ini terdengar baik bukan? Karena tubuh telah mempunyai sistemnya sendiri untuk melawan bakteri atau virus. Namun sayangnya, pada mereka yang mengalami gangguan autoimun, situasinya malah sebaliknya. Secara sederhana, apa yang di dalam tubuh menyerang tubuh itu sendiri. Tentu hal ini bukan suatu kondisi yang baik.

Ganggguan autoimun dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu organ spesifik dan non-organ spesifik. Organ spesifik berarti satu organ tertentu yang terkena, sedangkan non-organ spesifik artinya sistem imun menyerang beberapa organ atau sistem tubuh yang lebih luas. Beberapa akibatnya adalah reaksi peradangan yang parah. Hampir semua organ atau jaringan dapat mengalami kerusakan, dari mulai syaraf, otak, mata, jantung, persendian, sampai otot-otot di seluruh tubuh. Penyakit crohn, lupus, rematik, multiple sclerosis (MS), diabetes tipe 1 adalah contoh-contoh penyakit autoimun yang paling terkenal.

Banyak orang yang bertanya-tanya mengapa sistem kekebalan bisa menyerang sel-sel tubuhnya sendiri. Dalam penjelasan secara medis, sistem kekebalan tubuh bekerja dalam dua langkah, yaitu membedakan sel-sel asing dengan sel-sel tubuh sendiri dan mengambil tindakan terhadap sel-sel asing. Jika langkah pertama tidak beres, maka ada dua kemungkinan. Pertama, sistem kekebalan tubuh diredam dan tubuh tidak lagi mengenali patogen asing. Ini adalah kasus pada AIDS di mana sistem kekebalan tubuh melemah. Kedua, sistem kekebalan tidak diredam sehingga menyerang sel-sel tubuh sendiri maupun sel-sel asing tanpa kecuali. Ini adalah kasus pada penyakit autoimun. Sistem kekebalan tubuh Anda menjadi benar-benar di luar kendali.

APA PENYEBABNYA?

Meskipun telah dilakukan banyak riset yang intensif, para ahli belum berhasil mengetahui secara pasti penyebab penyakit autoimun. Namun, diketahui bahwa ada sejumlah faktor risiko yang berperan. Selain kecenderungan genetik, infeksi dan faktor lingkungan turut berperan penting sebagai pemicu penyakit autoimun.

• Genetik. Penyakit autoimun cenderung diwariskan dalam keluarga. Pada studi kembar diketahui bahwa jika seorang kembar identik menderita penyakit autoimun, kembarannya kemungkinan 30-50 persen juga menderita penyakit yang sama. Tapi tidak 100 persen, yang berarti bahwa gen tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas timbulnya penyakit. Seringkali, penderita dapat mengkompensasi cacat genetik dan dia hidup normal tanpa penyakit autoimun.

• Infeksi. Sistem kekebalan yang rapuh dapat rusak oleh faktor pemicu seperti infeksi virus. Hal ini mungkin terjadi karena kelemahan genetik menyebabkan sistem kekebalan tubuh tidak dapat mengatasi virus tertentu. Mereka kesulitan membedakan protein virus dengan protein tubuh dan menyerang keduanya. Ibarat tentara yang tidak bisa membedakan pasukan musuh dan rakyat sehingga ia akan menembaki keduanya. Virus Epstein – Barr diduga menjadi pemicu multiple sclerosis. Pemicu lain adalah virus Coxsackie, yang juga diduga memicu diabetes tipe 1.

• Lingkungan dan makanan. Dibandingkan dengan nenek moyang kita, kita jauh lebih banyak terpapar oleh berbagai zat kimia yang membanjiri sistem kekebalan tubuh kita. Ketika sel-sel kekebalan di dalam usus menyortir setiap zat yang kita makan apakah berbahaya dan tidak, kemungkinan terjadi kesalahan meningkat. Penyakit autoimun dapat terjadi melalui reaksi kebingungan terhadap zat yang masuk, apakah berbahaya atau tidak. Rotavirus sangat mirip dengan molekul fotoreseptor tertentu di mata. Kebingungan ini diduga menyebabkan uveitis, yang pada akhirnya dapat merusak penglihatan.

Please follow and like us: