Jokowi, 2019?

969
Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Sebuah acara diskusi kebangsaan bertajuk “Jokowi, 2019?” diadakan di Ashfield Town Hall, Ashfield pada hari Sabtu 18 November 2017 lalu.

Acara diadakan oleh NKRI OZ Community Inc. dipandu oleh blogger senior Indonesia, Donny Verdian, menampilkan dua narasumber, Dr. Nur Arif Makful, MSc, dosen di beberapa universitas dan penggiat kebhinekaan serta kebangsaan dan Bhatara Ibnu Reza, senior research IMPARSIAL dan kandidat doktoral dalam bidang International Humanitarian Law and Military Affairs di University of New South Wales, Australia.

Peserta yang datang kebanyakan warga diaspora Indonesia di Sydney dan sekitarnya, kaum pelajar Indonesia serta beberapa guru dari sekolah asuhan ordo imam Serikat Yesus (kolese) Indonesia yang kebetulan sedang ditugaskan untuk belajar di Sydney.

Dalam sambutan pembukaan, presiden NKRI OZ Community Inc., Andrew Wanandy, menekankan pentingnya untuk ikut ambil bagian dalam diskusi tentang keindonesiaan meski kebanyakan yang hadir adalah warga yang telah menetap di Australia.

“Indonesia memiliki posisi penting terhadap Australia sehingga baik-buruknya Indonesia amat berpengaruh terhadap kita di sini.”

Memulai acara diskusi, Nur Arief yang tumbuh dan besar dalam tradisi NU menyampaikan materi yang lebih menekankan pada keadaan Indonesia saat ini dari sisi demografi penduduk Indonesia lalu masuk pada evaluasi kerja pemerintahan Jokowi-JK berdasarkan survey kepuasan dalam beberapa parameter penilaian hingga elektabilitas Jokowi jika ia memutuskan maju tahun 2019 mendatang.

Di sisi lain, Nur Arief juga membahas tentang maraknya isu radikalisme dan anti-kebhinekaan serta beberapa isu yang kemungkinan akan dihadapi Jokowi dalam pemilihan dua tahun mendatang.

Tanpa jeda, Bhatara Ibnu Reza melanjutkan acara diskusi dengan presentasi yang lebih menekankan pada analisa pentingnya mengenai calon lawan Jokowi serta kemungkinan akan adanya movement politik “asal bukan Jokowi’ yang berkelindan dengan politik sektarian. Bhatara juga mengemukakan fakta tingkat toleransi yang rendah di berbagai daerah. “Ini sangat mengkhawatirkan dan dapat mempengaruhi politik nasional.”

Tak lupa, profil wakil presiden akan jadi faktor penentu yang penting dalam Pilpres 2019. Baginya, kandidat calon wakil presiden haruslah dari yang memiliki track record baik.

Dalam sesi tanya jawab (Q&A), beberapa pertanyaan diajukan dan salah satu yang menarik adalah dari Alfonsa, seorang guru dari Kolese Kanisius Jakarta yang sedang tugas belajar di Sydney. Ia menanyakan bagaimana sebaiknya memberikan pendampingan terhadap murid-muridnya yang termasuk dalam kategori pemilih pemula.

Oleh Donny Verdian

Please follow and like us:
Loading...