James Sulaiman

84
Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Halo para pembaca setia Indomedia! Kali ini, Indomedia mewawancarai seorang product designer bernama James, seorang pelajar Indonesia di UNSW yang saat ini berada di Sydney. Yuk langsung aja kita simak James dan karirnya di industrial design.

Halo, James! Apa kabar? Boleh nih sharing sedikit tentang bisnis tas dan jam tangan nya?
Halo juga Indomedia! Kabar gue sih luar biasa hahaha. Kalo sharing sih boleh-boleh aja kok…tapi gue lurusin dikit yah. Sebenernya tas sama jam tangan tuh bukan bisnis yang gue tekuni (walaupun memang ada customers yang purchase dari gue). Sebetulnya sih, gue cuma ingin showcase my skill sebagai industrial designer, atau kebanyakan orang taunya sebagai “product designer” kali ya. Jadi sebenernya tas dan jam tangan itu cuma contoh hasil dari skill yang gue pelajari selama ini.

Wow, hebat juga yah! Gak ditekuni saja produknya begitu laris manis! Apalagi ditekuni hahahaha. Sumber inspirasi James dari mana nih …sampai bisa mendesain produk kerenz gitu?
Kalo ditanya siapa sumber inspirasi, mungkin susah ya untuk menyebutkan satu. Semua desainer kelas dunia punya gaya desain dan daya tariknya sendiri, dimana tentu saja ada beberapa detil yang bisa kita gunakan sebagai inspirasi. Semua desainer yang baru masuk ke dunia ini pasti punya mimpi untuk menciptakan gaya dan personal touch nya sendiri, dan ini mungkin salah satu yang susah dan butuh proses dari desainer tersebut. Jadi sebetulnya, apa yang menginspirasi gue dalam mendesain produk itu ada banyak… gak bisa satu. Contohnya aja dari customers atau stakeholders terus material atau bahan dasar, proses pembuatan, culture atau mungkin moment, dan tentunya masih banyak hal lainnya soalnya inspirasi bisa dateng dari mana aja kan. Jadi kebanyakkan design gue punya inspirasi tersendiri dari berbagai moment dan kriteria-kriteria diatas.

I see… Terus, gimana sih caranya bisa terus “up-to-date” mengikuti tren masa sekarang? Karena kan proses desain cukup lama dan kadang bisa memakan waktu beberapa tahun…jadi tentunya desainer harus jeli mengikuti tren.
Menurut gue, ‘tren’ sendiri sebenernya adalah waktu dimana suatu gaya menyatu atau sinkron dengan jaman atau moment yang pas. Penting buat gue sebagai desainer untuk selalu up to date dengan perkembangan jaman yang cepet banget kayak sekarang ini, terlebih lagi di dunia industrial design yang mencakup semua aspek di dunia industri. Industrial designer bekerja berdampingan dengan teknologi dan penemuan-penemuan baru, dimana semua itu bisa menjadi sumber inspirasi di dalam project atau desain gue. Kembali ke tren waktu dalam pembuatan, semua desain yang udah di-publish mempunyai waktu proses pembuatan yang berbeda, tergantung dari akar masalah yang harus dipecahkan dan detil-detil yang terus diperbaiki dari desain tersebut. Terus kalo proses pembuatan melewati tren yang ada, menurut gue sih kita sebagai desainer justru harus berpikir untuk membuat tren sendiri ketimbang mengikuti tren. To be honest, tren products itu nggak bakal longlast di market karena produk tersebut cuma serve customers sebagai tren.

Banyak orang mengatakan bahwa sebagai seorang desainer, mereka harus mempunyai style tersendiri? Kalo begitu…gaya desain atau style-nya James apa sih? Apakah ada hubungannya dengan nama grafis “James Sulaiman” untuk branding?
Tentang design style gue, pertanyaan ini mungkin susah buat gue jawab karena gue nggak mau limit myself into a particular style, karena gue yakin di satu momen pasti gaya kita sebagai desainer nggak bakal fit in ke brief atau project yang lagi kita kerjain. Style ato gaya desain bisa dipakai kalo project yang lu kerjain itu bener-bener project sendiri dimana lu punya kontrol mutlak atas produk lu, tapi di dunia nyata, sebagai desainer kita itu nggak bekerja sendiri dan banyak stakeholder yang harus kita berikan kompromi. Gue percaya kalo style dan gaya dari seorang desainer itu penting, tapi style dan gaya itu hampir selalu cuma gimmick karena yang penting adalah gimana cara membuat produk yang bisa memecahkan akar masalah. It’s not always about the style, ya kan. Percuma kalo styling dan estetikanya bagus tapi nggak bekerja dengan apa yang customers atau stakeholders inginkan. Tapi kalo keduanya bisa fit in, maka itu akan menjadi nilai plus buat sang desainer. Kalo ditanya tentang design style gue, mungkin gue akan menjawab: timeless and functional. I like the idea on how a product can fit in any trends or time but still perfectly functional dan udah pasti harus bagus secara estetika. Dan hubungannya dengan nama gue, gue ingin orang setelah berinteraksi dengan produk gue itu inget dengan siapa pembuatnya jadi kita sebagai designer bisamendapatkan hasil. Kalo customers senang kita juga pasti akan senang, kan.

Terus gimana caranya untuk menentukan bahan yang pantas dipakai buat produk yang didesain? Misalnya produk-produk tas James…emang James suka bahan kulit yah? Apa kulit emang bahan yang terbaik untuk tas?
Seperti yang gue bilang sebelumnya, tas itu cuma salah satu hasil dari skill yang gue pelajari selama ini, jadi itu bukan produk yang bakalan selamanya gue desain. Tentang cara menentukan bahan dan material untuk produk yang lagi ongoing ya tentu aja jawaban nya research dan belajar. Salah satu keunikan sebagai industrial designer adalah bahwa kita dipaksa untuk mengerti secara dalam tentang detil-detil dari project yang kita lagi kerjain. Contohnya, kalo kita lagi di industri automotif, kita akan dipaksa untuk menjadi ahli dalam bidang automotif tersebut, mulai dari bahan sampai ke mesin. Jadi, kalo dalam konteks tas, pastinya gue harus memahami dan belajar material atau bahan dasar apa aja yang baik atau kurang baik buat gue pakai. Terus, terkadang bahan yang butuh paling banyak dana dan bagus itu nggak seterusnya jadi pilihan. Jadi kita sebagai desainer emang harus mendetail dalam menentukan bahan. Kebetulan gue memang suka banget sama kulit soalnya material ini adalah salah satu dari beberapa material yang bisa aging atau menua seiring waktu. Jadi, orang yang mempunyai produk yang sama bisa mempunyai karakter yang berbeda-beda seiringnya waktu. Itu kenapa gue suka banget sama kulit.

James, gimana sih caranya untuk mengimbangi kuliah sambil men-develop bisnis seperti kamu? Pasti gak gampang kan. Apa sih rahasianya?
Emang keliatannya nggak segampang itu ya tapi sebenernya sederhana sih, jawabannya cuma time management. Itu memang yang terpenting sih. Gue selalu set my schedule 1 week ahead; gue selalu tentuin deadline-deadline dalam menyelesaikan produk gue. Terus gue punya prinsip untuk selalu say no pada kata “nanti”, karena dengan menunda-nunda – bahkan sekecil apapun contohnya mungkin ngeprint atau apalah yang gampang – pada akhirnya yang kecil-kecil itu bakalan numpuk. Jadi I always set my schedule way before it’s due and say no to delaying things. Itu aja sih menurut gue. Oh ya satu lagi, try to get up as early as possible, it helps!

Terakhir, pelajaran terbesar apa yang kamu pernah terima selama berkecimpung di industri desain? Dan apa yang menjadi visi dan impian James sebagai seorang product desainer?
Mungkin ini pertanyaan yang paling gue suka. Dari awal, gue masuk jurusan Product Design ini seperti kebanyakan orang yang juga mau masuk jurusan ini. Gue berpikir kalo jurusan ini bisa mengasah diri gue untuk belajar gimana caranya menjadi lebih sensitif terhadap warna, bentuk, form, dan lain-lain. Tapi dari semua yang gue pelajarin di jurusan ini, satu hal yang bikin gue makin cinta lagi dengan dunia ini adalah how to be more emphatical to people: gimana kita sebagai desainer bisa lebih memperhatikan para pengguna sebuah produk atau jasa. Dari konsep empati ini, ada emotional connection antara pengguna produk dan sang desainer. Dan pada akhirnya, hubungan antara pengguna produk dan sang desainer itu yang bakal menciptakan kenangan dan membuat sebuah brand image yang bagus terhadap para konsumen, yang bakal berakhir di nama desainernya. So obviously my dream is to be that designer that can be emphatical but also fun on the other side. Jadi para konsumen bisa engage with the products and get that emotional feeling with it.

Thank you buat waktunya, James! Indonesia pastinya bangga sama anak muda seperti kamu. Di usia yang masih muda, umur 21, tetapi berpikiran matang, pantang mundur, tidak ragu dan berpendirian kuat untuk mendalami suatu bidang sambil merintis bisnis sendiri. Sukses terus, ya!

Interviewed by Sinta Cahyadi and Celine Witarsa

Please follow and like us: