| 26-07-2010 16:32:15 Sajian Nusantara di ’Kampung’ Pejaten |
Makan ibarat bernapas. Banyak makan, banyak rejeki. Sekali makan, dua-tiga piring terlampaui. Besar makan daripada diet. Makan pangkal sehat. Sepandai-pandainya kita makan, akhirnya nambah juga. Motto-motto menyedihkan semacam inilah yang menjadi ’prinsip’ kami setiap kali melakukan wisata kuliner. Asyik, yak! Pernahkah Anda merenungkan setiap suapan yang masuk ke dalam mulut Anda? Pernahkah Anda benar-benar menikmati setiap suapan, sambil mengucap syukur atas berkat Tuhan sehingga Anda bisa makan? Zaman sekarang sudah canggih, serba cepat, serba terburu-buru. Orang-orang sudah tidak punya waktu lagi untuk sungguh-sungguh menikmati makanannya. Tapi tidak demikian dengan kami, para pecinta kuliner di manapun ia tersaji. Karena itu, lewat guratan kata, kami ingin mengajak Anda menikmati ’wisata kuliner’ kami yang bertema ”Nusantara”. Enjoy! ....... oke, sebenarnya kami tidak ’beneran’ keliling nusantara. Iyalah, gimme a break! Zaman sekarang, sudah lumrah menemui hidangan khas daerah di satu tempat saja. Salah satunya adalah ”Kemiri”. Kemiri identik dengan nama bumbu masak (spice) yang digunakan hampir pada setiap jenis masakan Indonesia. Karena itulah sentra kuliner terbaru di Pejaten Village, Jakarta Selatan, ini memakai nama bumbu masak ’sakti’ tersebut. Baru langkah kaki pertama, suasananya sudah terasa ’Indonesia bangeeeet’. Sambutan ramah para penerima tamu yang memakai seragam semi kebaya plus kain batik langsung mengantarkan kami pada suasana alam. Pertama-tama mereka memberikan kartu yang menandakan nomor meja. Setelah itu, kami langsung menuju meja, duduk sebentar, berdoa (supaya nggak kalap pas memesan), dan mulai berpencar menjelajahi area seluas 1.400 m2 itu.
Kemudian, mulailah wisata kuliner yang sesungguhnya. Aneka minuman mulai dari jus buah sampai es campur berbagai rasa, makanan pembuka seperti serabi solo, lumpia udang mayonnaise, asinan, roti bakar hingga aneka gorengan. Lalu papan menu di tiap counter memamerkan menu andalannya antara lain; seafood bakar, kambing guling, kambing ungkep lada, tongseng kambing, aneka sate (marangi, cilacap, prentul pedas), empal gentong, sop buntut, nasi liwet Solo, tahu campur, gado-gado, aneka soto, baso, siomay, pempek, mie jawa, rujak plus es goyang lengkap dengan gerobaknya. Jiwa kami terguncang (woelahhh…). Begitu banyak pilihan menggiurkan, didukung dengan interior yang mengagumkan. Kami memilih menu sendiri, tapi tetap ada waiters/waitress yang siap untuk melayani dan mengantar pesanan ke meja. Untuk urusan pembayaran, baru terasa sentuhan modernnya. Ingat kartu yang kami terima di pintu masuk? Nah, kartu itu di-swap oleh masing-masing counter saat kita memesan. Setelah nanti selesai makan, kami tinggal menunjukkan kartu pada kasir di pintu keluar. Salah satu dari kami memesan kambing guling (oh yes, kam-bing gu-ling) dan lontong. Persis seperti di ’kawinan’ – mereka mengguling-guling si kambing itu di counter. Rasanya enak banget, dagingnya lembut dan tidak amis. Ada juga yang memesan nasi uduk dengan lauk paru, tahu, dan empal. Dengan dengan lebay-nya dia berulang kali bilang, “Ini enak banget, Jos. Ini enak banget.” Well, they better be since they’re kinda pricey! Hehehe… (motto: price don’t lie). Selain itu, ada lagi yang pesan tongseng kambing di counter yang berbeda, serta soto lamongan.
Setelah menunaikan acara makan dengan kenyang, kami mulai meresapi suasana sekitar. Dilihat dari harganya, Kemiri masuk kelas menengah atas. Kami sudah pasti tidak mampu makan tiga kali sehari di sini (ya iya lah). Tapi mungkin Kemiri berhasil ’menebus dosanya’ dengan tidak hanya menyajikan pengalaman kuliner, tapi juga suasana - berjalan keliling, melihat-lihat counter sambil mendengarkan musik tradisional setiap daerah di Indonesia. Tidak heran kalau Kemiri menjadi ’senjata andalan’ Pejaten Village dalam menggaet ekspatriat yang banyak tinggal di kawasan Pejaten. Jadilah Kemiri memegang dua peran; sebagai sentra kuliner bagi para penikmat makanan khas Indonesia, sekaligus destinasi wisata bagi para turis lokal maupun internasional. Anda tertarik mencobanya ketika balik ke Indo? Ajak-ajak kami yaaa! (Kemiri @Pejaten Village, Jakarta Selatan, visited by Jossie and the Eaters) |

Nuansa alami outdoor ditunjukan oleh dinding bambu yang tertembus sinar matahari dan tempat duduk yang terbuat dari kayu. Desain gerai-gerai makanan pun beraneka ragam. Ada yang model saung dan rumah buatan bertingkat (lengkap dengan jemuran baju!), ada juga yang menghias diri dengan sangkar burung warna-warni. Terus terang, kami terkesima juga melihat desain interior ‘zaman baheula’ di Kemiri. Feel old school-nya dapet banget. Beberapa detil dekorasi pun diperhatikan, seperti sepeda ontel yang parkir di dinding, pepohonan rindang, plus layangan putus yang tersangkut di pohon itu.
Menurut pengakuan si pemakan tongseng kambing, rasanya enak dan dagingnya banyak. Si pemakan soto lamongan juga sampai tambah nasi saking doyannya. Kami jadi curiga, apakah semua makanan di sana enak? Uniknya, di sana porsi nasinya kecil-kecil tapiiii boleh satu kali nambah nasi, gratisss (yang disambut gembira oleh kami semua). Ide yang patut dihargai; mereka yang kelaperan bisa nambah, sedangkan bagi yang makannya sedikit (layaknya manusia normal, bukan seperti saya) atau sedang tidak terlalu lapar, porsinya pas sehingga tidak mubazir.






