| 26-07-2010 13:25:59 Obat ‘Mujarab’ Patah Hati |
Lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati… (“Sakit Hati” - Meggy Z.) Sepenggal lagu dangdut yang sangat ‘tersohor’ masih laku keras digunakan sebagai ‘ledekan’ kepada mereka yang sedang merasakan sakit hati. Ketika hati hancur berkeping-keping. Patah berserakan. Bagaikan dunia telah berakhir. Selama berbulan-bulan kita berkubang dalam sakit hati. Berliter-liter air mata terkuras habis. Kita tak sanggup melangkah tanpa kehadiran pacar yang telah berubah status menjadi mantan. Lalu, mau sampai kapan kita terus bertahan dalam situasi itu? Ingin selamanya mendekam dalam rasa sakit hati? Tentu tidak, kan? Kata orang, obat patah hati yang paling mujarab adalah jatuh cinta lagi. Kehadiran tangan baru yang membelai dan menopang ampuh menghilangkan rasa sepi akan sendirian. Namun, betulkah ‘obat’ itu mampu menyembuhkan hati kita? Atau jangan-jangan hanya cinta pelarian? Sekadar mengobati hati secara semu tapi justru beresiko tinggi menorehkan luka yang lebih pedih? Sebenarnya, obat patah hati yang paling mujarab adalah…. waktu. Ya. Waktu. Waktu mampu meredakan sakit sekaligus menyembuhkannya. Walaupun tak bisa secara instan. ‘Meraung-raung’ akibat patah hati itu wajar. Apalagi kalo kita merupakan ‘korban’ yang diputuskan secara sepihak dan dalam kondisi tidak siap. Alhasil, muncul berbagai macam perasaan, marah, sedih, tak rela, merasa dicampakkan, hingga harga diri merasa terluka. Kemudian, dari perasaan itu muncul beragam reaksi. Ingin membalas dendam, berusaha mati-matian merebut kembali cinta kekasih, sampai tak henti-hentinya meratapi dan mengasihani diri sendiri. Nah, dalam situasi dan kondisi seperti ini, yang paling diperlukan adalah mengambil ‘waktu tarik nafas’ sejenak (normalnya antara 1-6 bulan) guna membenahi hati yang hancur berantakan. Proses pembenahan itu sendiri memiliki beberapa tahap. Tahap pertama adalah masa ‘berduka cita’ (saatnya menangis sepuasnya atau ‘menikmati’ kesedihan). Periode ini sangat penting, meski terkesan cengeng. Bagaimanapun air mata manjur untuk membersihkan ‘racun-racun’ yang menggerogoti tubuh dan jiwa. Tahap kedua, masuk ke masa ‘buang sampah’ alias curhat sana-sini. Makin banyak sampah yang dibuang, semakin lega pula hati. Tapi jangan sampai ‘buang sampah’ sembarangan… Pilihlah orang yang tepat dalam menumpahkan segenap perasaan kita. Orang itu haruslah dipercaya dan mampu menguatkan hati, bukannya justru ‘ngompor-ngomporin’ secara negatif. Setelah melewati kedua tahap tersebut, saatnya ke tahap ketiga yaitu kembali bersosialisasi atau menjalankan hobi, setelah sebelumnya ‘menikmati’ sedih dalam kesendirian selama berhari-hari atau bermingu-minggu. Kalau kita berhasil melewati ketiga tahap ini, berarti sudah 75% sembuh. Baru setelah itu, kita bisa mempertimbangkan kembali kehadiran cinta baru dengan lebih rasional, sehat, dan bebas dari trauma ‘cinta’. Sayangnya, kita kadang sulit untuk bersabar melewati proses tersebut, terlebih bila seseorang datang menyodorkan cinta baru. Rasanya bagai setetes air di tengah padang tandus. Celakanya, cinta baru sering disambut terburu-buru dan dijadikan sosok pelarian agar cepat sembuh dari penderitaan atau membalas dendam pada mantan kekasih. Wah kalau sudah begini bisa berabe… Kondisi serba tak siap itulah yang biasanya mengundang resiko tinggi untuk jatuh ke lubang yang sama. Kita cenderung hanya menuruti emosi daripada logika. Alhasil, bukannya menyembuhkan hati yang luka, yang ada hati kita malah ‘dobel’ hancurnya. Namun, tidak selamanya cinta pelarian berbahaya atau berakhir gagal total. Mungkin saja sosok pelarian itu justru jodoh kita yang sesungguhnya. Ada satu hal yang perlu ditekankan. Terlepas dari hati kita sudah sembuh atau belum, bila memutuskan untuk menerima cinta baru dari pria lain, janganlah terburu-buru melakukan aktivitas seksual. Dengan melakukannya, kita bisa merasa seolah sudah mengenal dia luar-dalam. Padahal, sebenarnya, keintiman itu hanya bersifat semu. Untuk mencapai kedekatan emosi antara sepasang kekasih, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar, dan aktivitas seksual bukanlah penentunya. (Dini Kinanti) |








