22-10-2009 16:02:27  Kita dan Lifecycle Investment

article details   
Saya sering ditanya oleh saudara dan teman, ‘enaknya investasi apa ya’ ?
Setelah 25 tahun+ belajar dan bekerja di perusahaan perusahaan MNC, saya masih bingung menjawab pertanyaan seperti ini. Investasi untuk mendapatkan income atau apa ? Ketika terjadi krisis moneter di Indonesia tahun 1998, saya sempat menangani investment fund perusahaan. Fokus utamanya pada waktu itu adalah fund security dan matching commitments dan bukan investment growth ataupun yield.
Jadi enaknya investasi apa ya ?  Property, Saham, Obligasi, Forex, Term Deposit atau apa ya ? Untuk ini kita harus bertanya tujuan investasi untuk apa dan untuk jangka waktu berapa lama. Kemudian kita perlu tahu tingkat toleransi kita terhadap resiko investasi. Kita juga perlu ingat umur kita.

Tujuan investasi bisa untuk mendapatkan growth/capital gains, yield/income atau dua dua nya. Bisa juga untuk membayar hutang dan komitment di kemudian hari, atau untuk tujuan pensiun ataupun lainnya. Kalau untuk tujuan pensiun kita perlu ingat bahwa berdasarkan statistik kita bisa berumur sampai 80+ tahun. Untuk hidup dimasa pensiun ‘katanya’ kita perlu income sebanyak A$35,000/th untuk hidup lumayan, A$20,000 untuk hidup pas pas -an dan A$45,000/tahun untuk hidup enak.

Yang paling penting adalah jangka waktu investasi. Karena ini menentukan pilihan jenis instrument investasi. Untuk dibawah dua tahun, mungkin pilihannya terbatas pada term deposit atau forex. Investasi di saham biasa nya untuk jangka waktu 3 – 5 tahun. Property atau obligasi untuk jangka waktu 5 – 10 tahun. Jadi sebelum melakukan investasi kita mestinya harus tahu terdahulu untuk jangka berapa lama, ini sangat penting sekali !.

Tingkat toleransi kita terhadap resiko mentukan sub klasifikasi jenis instrument investasi. Untuk term deposit, di bank mana, untuk forex untuk currency pairs yang mana. Untuk obligasi, yang mempunyai rating berapa. Untuk property apakah yang off plan dan dari developer yang mana dengan leverage hutang berapa %. Untuk saham apakah yang  blue chip, small cap, speculative, local atau saham internasional, saham growth atau saham defensive. Ini semua perlu kita kaitkan kembali dengan tujuan investasi kita. Term deposit memberikan income/bunga tapi tidak ada growth tapi malahan depresiasi buying power. Forex juga memberikan bunga/income tapi fluktuasi conversion rates nya bisa menyebakan capital gains/capital loss. Lokasi dan luas property biasanya menentukan tinggi rendahnya income yield ataupun growth . Obligasi umumnya memberikan fixed income.

Kita melakukan investasi juga perlu mengingat umur kita. Ini inti dari Lifecycle Investment Strategy  dan ini adalah rekomendasi dari  OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development)

Kita perlu memindahkan investment kita ke jenis asset yang beresiko lebih kecil ketika kita makin tua. Kita semua akan menjadi tua, tapi janganlah sampai menjadi tua dan miskin. Jadi kalau umur sudah kepala 5, mungkin kita perlu melakukan alokasi 50% di defensive (income)  investment dan 50% di aggressive (growth) investment. Makin muda umur kita prosentase aggressive investment kita bisa makin lebih tinggi dari pada prosentase defensive investment .

Kalau kita mau bisa tidur dengan nyenyak dan untuk jangka waktu panjang, property mungkin pilihan utama investasi, asal saja kita ingat dan hati hati dengan leverage pinjaman.
Investasi saham untuk jangka lama mungkin hasilnya tidak banya berbeda dengan property, hanya saja property lebih tangible dan bisa memberikan rasa bangga dan fisiknya kelihatan dan bisa dipegang.

Sedangkan saham, karena listed di stock exchange fluktuasi harga saham bisa kelihatan setiap menit, ini bisa membuat kita gembira dan sedih setiap saat. Dengan property harga real nya tidak ketahuan sebelum kita berniat menjualnya, jadi umumnya kita bisa tenang. Perbedaan utama antara property dan saham adalah di acquisition cost-nya.

Kalu beli lotere gimana ya ? Beli lotere bukan investasi. Tahun 1776 di bukunya ‘Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations, Adam Smith, philosopher dan ‘bapak kapitalisme’  mengatakan  bahwa  ‘the more tickets you adventure upon, the more likely you are to be a loser.
Mungkin investasi yang paling berhasil adalah property investasinya John Jacob Astor si “Manhattan Landlord’ di tahun 1840an di New York. Sebelum meninggal dia  berkata  bahwa kalau bisa hidup lagi, dia akan membeli setiap jengkal tanah yang ada di Manhattan. Astor meninggalkan warisan $20 juta dollar untuk keluarganya yang kalau dihitung uang sekarang setara dengan $450 milyar lebih atau Rp.4,500 trilyun. Bukan main. (al Kusuma).