09-02-2010 23:20:07  Cost & Reward

article details   
Siapa sih yang nggak mau menjadi chief executive officer (CEO) sukses yang mendunia? Penghasilan setiap bulan (pasti) di atas miliyaran. Belum lagi kehidupan yang didukung oleh berbagai fasilitas mewah nan canggih?! Rasanya semua pengorbanan dan perjuangan from zero to ‘hero’ terbayarkan. 


Lihat saja ‘kegigihan’ para CEO perusahaan-perusahaan besar di dunia. Mereka tak mendadak begitu saja menjadi seorang CEO. Berbagai halangan, rintangan, dan cobaan harus mereka lalui sampai akhirnya sukses berada di posisi ‘atas’.  Yukkk… kita lihat kisah kegigihan dan keseharian mereka:



Steve Ballmer

Steve Ballmer lahir pada 24 Maret 1956 - campuran dari ayah Swiss-American dengan Ibu Jewish-American. Ia tumubh di Farmington Hills, Michigan. Ayahnya merupakan manajer pada Perusahaan Ford Motor Co. Pada tahun 1973, Ballmer lulus dari Detroit Country Day School dan pada tahun 1977 ia lulus dengan predikat magna cum laude dari Harvard University di bidang Matematika dan Ekonomi.


Lalu, Ballmer bergabung dengan Microsoft pada 11 Juni 1980 dan menjadi manajer bisnis pertama yang diangkat oleh Bill Gates. Ketika Microsoft melakukan incorporation, Ballmer menanamkan saham 8% di perusahaan tersebut. Baru pada Januari 2000, ia resmi diangkat menjadi chief executive officer. Tugasnya sebagai CEO adalah mengatur keuangan perusahaan, sementara Bill Gates tetap ‘menguasai’ kontrol dalam ‘technological vision’.


CEO yang tahun 2009 lalu mendapat penghasilan bersih sekitar US$ 11 miliar ini, ternyata terkenal dengan tingkah laku yang eksentrik dan ‘over-the-top’. Penampilannya yang ‘flamboyant’ ketika berada di atas panggung saat acara Microsoft tersebar di luas di internet. Dalam video tersebut, Ballmer tertangkap ‘mengejek’ Microsoft Windows 1.0. 



Steve Jobs

Kehidupan Steve Jobs sangat berbeda dengan kehidupan Steve Ballmer yang sudah berkecukupan sejak kecil. Pria kelahiran San Fransisco yang kini menjabat sebagai CEO Apple dan Pixar Anomation ini harus ‘benar-benar’ berjuang dari nol sampai akhirnya berada di posisi tersebut.


Dari lahir saja Jobs sudah harus merasakan ‘penderitaan’. Ibu kandungnya menginginkan Jobs diadopsi oleh keluarga yang berkecukupan – agar Jobs bisa mengenyam pendidikan hingga bangku kuliah. Kenyataannya, orangtua angkat Jobs termasuk keluarga sederhana. Mereka berusaha menyekolahkan Jobs sampai perguruan tinggi dengan menggunakan seluruh tabungan yang mereka kumpulkan seumur hidup. 


Merasa tak tega, Jobs pun berhenti kuliah. Siapa sangka kalau itu keputusan terbaik yang dibuatnya? Kalau tidak DO, mungkin ia tidak akan pernah masuk kelas kaligrafi yang mengantarkannya untuk mendesain komputer Macintosh – komputer pertama bertipografi cantik.


Tragisnya, dengan berkembangnya Apple, Jobs justru ‘ditendang’ dari perusahaan yang sudah susah payah ia rintis. Tapi ia tak menyerah begitu saja. lima tahun berikutnya, Jobs mendirikan perusahaan bernama NeXT dan Pixar. Melalui rangkaian peristiwa yang ‘menakjubkan’, Apple membeli NeXT dan Jobs pun kembali kepada Apple - bahkan diangkat sebagai CEO. 


Kesuksesan Jobs tentu mendatangkan penghasilan yang berlimpah. Tahun 1982, Jobs membeli sebuah apartemen di The San Remo, New York City. Tetangganya antara lain Demi Moore, Steven Spielberg, dan Princess Yasmin Aga Khan. Jobs lalu merenovasi apartemennya yang terletak di dua lantai paling atas di menara Utara - yang pada akhirnya ‘berpindah tangan’ ke vokalis U2, Bono. 


Pada tahun 1984, Jobs kembali menghabiskan uangnya guna mendapatkan 14 bedroom Spanish Colonial Mansion di Woodside, California - dikenal dengan Jackling House. Jobs hidup di mansion tersebut selama 10 tahun dan pada Juni 2004, ia memutuskan untuk menghancurkan mansion tersebut dan membangun kembali rumah yang lebih kecil. Tapi sayang, pemerintah daerah tidak mengizinkan.


Dalam kesehariannya, Jobs yang vegetarian itu biasa menggunakan black long-sleeved, mock turtleneck buatan St.Croix, blue jeans Levi’s 501, dan New Balance 991 sneakers. Sangat casual untuk ukuran CEO terkenal dan kaya!

  


Putera Sampoerna

Kalau tadi kita sudah melihat kisah dua CEO dunia, sekarang mari kita menengok kisah CEO dalam negeri, Putera Sampoerna - generasi ketiga dari keluarga Sampoerna di Indonesia. Putera merupakan putra dari Aga Sampoerna dan cucu dari Liem Seeng Tee (pendiri perusahaan Sampoerna). Tak heran, jika ia menjadi Presiden ketiga dari salah satu perusahaan terbesar rokok di Indonesia, PT. HM Sampoerna.


Putera memperoleh pendidikan di Diocesan Boys School (Hong Kong), Carey Baptist Grammar School (Melbourne, Australia), University of Houston (Texas, Amerika Serikat). Lulus dari sekolah, ia tidak langsung melibatkan diri dalam bisnis keluarga. Bersama istrinya, Katie, warga Amerika Serikat keturunan Tionghoa, Putera tinggal di Singapura dan mengelola perkebunan kelapa sawit milik pengusaha Malaysia. Baru pada tahun 1980, Putera kembali ke Surabaya untuk bergabung dalam operasional PT. Sampoerna.


Pria yang memiliki angka favorit ‘9’ ini diangkat sebagai CEO setelah ayahnya meninggal pada tahun 1994. Putera dikenal luas sebagai nakhoda perusahaan yang lihai dalam melakukan inovasi produk utama perusahaan dan jeli melihat peluang bisnis di segmen usaha lain. Termasuk ketika memutuskan menjual Sampoerna pada Phillip Morris.


Putera adalah sosok yang dikenal menggemari judi. Wajar, jika ia menjadi salah satu pemilik perusahaan judi raksasa yang bermarkas di Gibraltar. Selain itu, Putera juga membeli kasino Les Ambassadeurs di London dengan harga 120 juta poundsterling. (DKP/ Berbagai Sumber)