Baby Blues: Sendu Sesaat Pasca Melahirkan

1120
Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Kelahiran seorang bayi merupakan keadaan yang luar biasa. Semua wanita yang mempunyai kesempatan untuk melahirkan pun merasakan kebahagiaan yang mungkin sulit digambarkan dengan kata-kata. Ya, si kecil yang selama ini hanya bisa disentuh dari luar perut ibu, kini betul-betul bisa dipeluk, digendong, dan disusui. Pusat perhatian keluarga pun tertuju kepada sosok manusia kecil yang masih terbatas geraknya itu. Berbagai perayaan pun tak jarang dilakukan untuk menyambut kedatangan si buah hati. Atmosfir sukacita begitu nyata menyelimuti sang ibu, keluarga, dan juga kerabat.

Namun ternyata dalam beberapa hari setelah kelahirannya, ibu merasa sangat lelah. Tiba-tiba ibu menangis tanpa alasan yang jelas, merasa sedih luar biasa, padahal ibu merasa seharusnya berbahagia dengan kedatangan si kecil. Mood ibu juga berubah, menjadi sangat mudah tersinggung dan marah, padahal biasanya tak seperti ini. Ibu juga jadi sulit berkonsentrasi, sehingga melakukan berbagai kesalahan yang tak biasanya dilakukan. Orang-orang di sekitar mulai menyarankan untuk beristirahat, namun yang ada ibu pun sulit memejamkan mata walaupun yakin si kecil telah tidur dengan pulas.

Apabila sekitar lima hari setelah kelahiran si kecil, seorang ibu merasakan berbagai hal seperti itu maka sangat mungkin ia mengalami ‘baby blues syndrome’. Apa sih baby blues itu? Baby blues adalah suatu keadaan dimana seorang ibu yang baru melahirkan mengalami perasaan sedih, cemas, sulit tidur. Umumnya terjadi pada dua minggu pertama setelah melahirkan dan terlihat sangat berat pada hari ke 4 atau ke 5. Seberapa cepat kemunculan gejala baby blues sering kali dipengaruhi bagaimana bayi dilahirkan.

Sebuah data menyebutkan bahwa sekitar 70-80% ibu baru secara mengejutkan memiliki perubahan mood dan perasaan yang negatif terhadap bayi mereka setelah melakukan proses persalinan. Perubahan mood inilah yang banyak disebut sebagai baby blues tadi. Banyak orang yang menyamakan baby blues dengan sindrom pasca melahirkan. Keduanya memang mirip secara gejala, bahkan hampir semua gejala baby blues muncul ketika seseorang mengalami sindrom pasca melahirkan. Bedanya, sindrom ini ditandai dengan kelalaian ibu dalam mengasuh si kecil. Inilah mengapa sindrom ini butuh penanganan yang lebih lanjut.

Gangguan pasca melahirkan bervariasi pada tiap ibu baru, berkisar dari yang ringan yaitu baby blues postpartum, memasuki tingkat menengah yaitu postpartum depression (PPD), dan paling parah yakni psikosis postpartum. Meskipun hampir setiap ibu baru bisa saja mengalaminya – 80 persen pada baby blues, sekitar 14 persen mengalami PPD, dan sangat jarang untuk Psikosis – kondisi ini kerap diabaikan. Hampir 85 persen ibu baru tidak mencari atau menerima bantuan terkait baby blues dan PPD karena kondisi ini kurang dipahami sekaligus dianggap kompleks. Padahal, sejumlah penelitian menyebutkan bahwa efek gangguan pasca melahirkan yang tidak teratasi bukan hanya pada ibu, melainkan berimbas pada ayah, juga bagi perkembangan perilaku dan emosional bayi.

Apa yang kita tahu mungkin seragam, bahwa baby blues dan PPD disebabkan perubahan hormon. Tentu tak salah, karena persepsi itu pun berangkat dari fakta bahwa penelitian yang ada sejauh ini hanya menemukan hubungan, antara gangguan pasca melahirkan dengan perubahan fisik (hormon) dan perubahan emosional (stres) akibat kurang tidur dan sebagainya. Namun, studi baru telah memberi pencerahan. Melansir Sciencealert.com, dengan menggunakan model tikus, periset dari Tuft University School of Medicine berhasil mengidentifikasi untuk pertama kali penyebab biologis sebenarnya bagi kondisi tersebut. Yakni disfungsi pada sumbu HPA (hipotalamus-hipofisis-adrenal axis) akibat kekurangan protein di otak.

Sumbu HPA merupakan sistem neuroendokrin yang mengendalikan bagaimana kita merespons stres. Stres diketahui mengaktifkan sumbu HPA, dan memicu respons stres terkenal yang disebut mekanisme “Flight or Fight” (kabur atau bertarung). Khusus selama dan setelah kehamilan, aktivasi semacam itu biasanya ditekan untuk melindungi janin dari stres. Pada tubuh manusia ketika mengalami stres, otak – terutama disekresikan oleh sekelompok neuron di hipotalamus yang disebut nukleus paraventrikular (PVN) – akan melepas jenis hormon yang dikenal sebagai hormon pelepas kortikotropin (CRH). Hormon ini juga menjadi pendorong utama respons stres, yang mengaktifkan sumbu HPA.


GEJALANYA APA AJA YA?

Gejala baby blues bisa bermacam-macam, antara lain rasa bersedih dan ingin menangis tanpa alasan, ketidaksabaran diri, kurang konsentrasi, menurun selera makan, kelelahan, perasaan kurang nyaman, cemas, sulit tidur, hingga perubahan mood secara tiba-tiba. Sering juga baby blues ditandai dengan rasa takut untuk menjadi ibu yang baik. Biasanya gejala ini bisa sembuh sendiri dalam hitungan hari atau minggu, dan akan lebih cepat jika mengatasinya didukung orang terdekat.

Sementara PPD, tanda dan gejalanya lebih intens serta tahan lama. Ini bisa berasal dari perpanjangan baby blues yang tidak teratasi, atau muncul begitu saja setelah beberapa minggu pertama hingga 6 bulan usai melahirkan. Selain mengalami gejala depresi standar seperti perubahan suasana hati ekstrim, ibu baru yang menderita PPD akan kesulitan menjalin ikatan dengan bayinya. Pun menarik diri dari keluarga dan teman, sampai berpikiran untuk menyakiti diri sendiri dan bayinya. Riset menyebutkan kondisi ini sangat kompleks, maka tidak akan ada satu jenis perawatan pun yang bisa berhasil untuk semua.

Meski begitu, temuan mereka juga penting sebagai modal dasar riset lanjutan untuk menguji senyawa terapeutik baru bagi gangguan pasca melahirkan, sekaligus pemahaman orang untuk menjaga kesehatan mental dan perilaku kehamilan pasca melahirkan.

======================================================

Jangan takut dengan Baby Blues Syndrome!

Anda bisa mengatasinya dengan melakukan hal-hal berikut ini:

• Melakukan persiapan melahirkan mulai dari fisik, mental, dan materil. Saat ibu siap dengan kehadiran si buah hati, maka rasa cemas saat si kecil lahir tidak akan membuat ibu merasa tertekan namun justru merasa bahagia.

• Mencari banyak informasi seputar persalinan penting dilakukan ibu agar tidak “kaget” saat mulai merawat si kecil. Bicarakan dengan dokter mengenai cara merawat si kecil sekaligus menjaga kesehatannya. Ketika ibu tahu cara dan siap merawat si kecil, maka Baby Blues Syndrome pun dapat dihindari.

• Berbagi beban bersama pasangan adalah cara terbaik untuk menghindari Baby Blues Syndrome. Bicarakan masalah merawat si kecil serta berbagi tanggung jawab dengan pasangan dapat meringankan beban ibu baik secara fisik dan psikis.

• Berbagi pengalaman dengan ibu-ibu lain melalui komunitas online maupun dengan sahabat yang juga seorang ibu.

Please follow and like us: