AWAS, HATI-HATI KENA SINDROM SOK TAHU

373
Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Dalam kehidupan ini, banyak sekali peristiwa yang kita yakini adalah sebuah kebenaran tapi tanpa disadari adalah sebuah kesalahan. Yang ada malah terkadang bukan kebenaran tapi pembenaran. Kita seringkali merasa diri kita pandai, kompeten, dan lebih baik dari orang lain padahal belum tentu faktanya demikian. Kita juga tentu pernah bertemu dengan orang yang banyak omong dan sok tahu, padahal kalau diperhatikan lebih lanjut, pengetahuan dia terkait subjek yang dibahas mungkin mendekati nol. Orang-orang ini berbicara dengan kepercayaan diri tinggi seolah-olah orang selain dirinya itu lebih bodoh, seolah-olah dialah yang paling benar dan semua pendapat lain salah.

Mungkin juga anda pernah bertemu dengan kebalikan orang ini, sebetulnya pintar, tapi tidak kelihatan karena mereka jarang mengutarakan pendapatnya atau mereka memilih untuk tidak membahas karena merasa di luar sana ada orang yang lebih paham dan lebih kompeten dibanding mereka dalam subjek yang sama. Dalam situasi yang pertama bisa jadi orang tersebut terkena sindrom sok tahu. Pernahkan anda mendengar sindrom sok tahu?

Ini bukanlah mitos tapi sebuah fakta yang telah diuji. Nama ilmiahnya efek Dunning-Kruger. Fenomena ini pertama kali diuji dalam serangkaian eksperimen yang dipublikasikan tahun 1999 oleh David Dunning dan Justin Kruger dari Department of Psychology, Cornell University. Studi ini diinspirasi oleh kasus McArthur Wheeler, seorang pria yang merampok 2 bank yang menutupi wajahnya dengan lumuran jus jeruk karena yakin bahwa hal itu akan mencegah wajahnya bisa terekam oleh kamera pengawas. Jelas saja keyakinan itu salah.

Saat itu, Dunning dan Kruger menerbitkan sebuah jurnal ilmiah berjudul “Unskilled and unaware of it: how difficulties in recognizing one’s own incompetence lead to self-assessments.” Saat ini dunia mengenalnya dengan sebutan yang lebih populer, yaitu efek Dunning-Kruger. Jurnal tersebut menyatakan bahwa ada orang yang sebenarnya tidak berkompeten dalam bidang tertentu, tapi dirinya merasa berkompeten pada bidang tersebut melebihi orang lain. Pada individu dengan Dunning-Kruger Effect akan merasa dirinya mempunyai kemampuan atau pengetahuan yang lebih tinggi dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Padahal, pada kenyataannya tidak. Sayangnya mereka tidak menyadari dan tetap merasa percaya diri meski sesungguhnya mereka di bawah rata-rata.

Kebanyakan fenomena Dunning-Kruger Effect ini terjadi pada individu yang mempunyai kecerdasan di bawah rata-rata. Mungkin karena mereka sanking bodohnya, sehingga tidak menyadari kalau mereka di bawah rata-rata. Hasilnya, orang-orang seperti ini akan terlihat sok pintar, tapi pendapatnya sangat mudah dipatahkan. Tapi tidak hanya pada invidu di bawah rata-rata, kadang Dunning-Kruger Effect juga dapat terjadi pada individu yang baru saja mempelajari suatu kompetisi atau pengetahuan baru. Misalnya, ada individu yang baru saja mempelajari sebuah materi A, tapi merasa sudah menjadi ahli materi A tersebut.

Melalui penelitian yang dilakukan, Dunning dan Kruger menemukan hubungan bahwa kebanyakan orang yang tidak kompeten justru tidak menyadari bahwa mereka sebetulnya memiliki kemampuan yang kurang, tapi masih menilai dirinya lebih baik dari mayoritas orang. Ketika ada beberapa responden diminta untuk menilai kemampuan dirinya sendiri dalam skala 1-10, mereka memberikan angka yang tinggi. Akan tetapi ketika para responden itu diuji melalui rangkaian tes, kelompok responden itu justru mendapatkan nilai yang tergolong paling buruk. Sedangkan orang-orang yang mendapatkan nilai tes tertinggi adalah orang-orang yang ternyata menilai bahwa diri mereka biasa- biasa saja, atau bahkan merasa kemampuan mereka di bawah rata-rata.

Perlu pula disadari bahwa studi tentang efek Dunning-Kruger cenderung berfokus kepada orang-orang Amerika. Studi serupa dengan sasaran orang-orang Asia Timur menyimpulkan hal yang berbeda dengan efek Dunning-Kruger. Saat diminta melakukan asesmen diri mereka, orang-orang Asia Timur cenderung merendahkan penilaian terhadap kompetensi diri mereka, dan melihat kinerja yang rendah sebagai peluang untuk mengembangkan diri mereka. Artinya, orang Asia Timur cenderung tidak mau menonjolkan dirinya, kendatipun sebenarnya mereka termasuk orang-orang yang berkemampuan.

Lebih lanjut lagi, Dunning dan Kruger menjelaskan bahwa individu-individu yang paling berkompeten cenderung sedikit meremehkan kemampuan mereka tetapi pada individu umumnya cenderung melebih-lebihkan kemampuan mereka, dan semua orang mengira kemampuan mereka melebihi rata-rata. Keduanya menyimpulkan bahwa kesalahan dalam menilai orang yang tidak berkompeten berawal dari kesalahan menilai diri sendiri yang mana mereka merasa dirinya lebih berpengetahuan.

Beberapa ciri dari seseorang yang mengalami Dunning dan Kruger effect ini adalah cenderung berlebihan menilai tingkat keahliannya, tidak mampu untuk mengenali keahlian diri orang lain, tidak mampu untuk mengenali aspek buruk dari ketidakcakapannya, serta mengenali dan mengakui kekurangan keahlian diri. Setelah diteliti, penyebab dari Dunning-Kruger Effect yang paling besar adalah ego. Tidak ada satu orang pun yang berpikir dirinya adalah orang yang tidak mempunyai kemampuan sehingga mereka akan meningkatkan penilaian mengenai dirinya.

Saat seseorang mengabaikan penilaian atas dirinya sendiri, maka ia akan lebih mudah mengakui diri berkompeten daripada mengetahui dan menilai kelemahan diri, sehingga hal inilah yang menciptakan ilusi. Di sinilah penting bagi setiap orang untuk mengenal kapasitas diri. Mengapa memahami dan mengenali kemampuan diri itu penting? Karena saat kita mampu melakukannya itu berarti kita sadar diri dan sadar diri adalah fondasi dasar untuk kita dapat mempunyai kecerdasan emosional. Selain itu, jika kita tidak mau terkena Dunning-Kruger Effect ini, kita juga dapat melakukan beberapa hal seperti berpikir kritis terhadap apa yang menjadi kemampuan diri kita sendiri, logis dalam berpikir, dan selalu berada dalam kerendahan hati.

Please follow and like us: