All Things Local – Tiga Hari di Melbourne

115
Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Bulan ini, Indomedia jalan-jalan sedikit jauh ke kota tetangga, yaitu Melbourne. Ibukota negara bagian Victoria ini menjadi rumah bagi hampir 5 juta jiwa. Selama beberapa tahun terakhir, kota ini mendapat gelar “The Most Liveable City” atau kota yang paling layak huni (tahun ini, gelar itu direbut oleh Wina, di Austria). Nah, di edisi Ulang Tahun Indomedia ini, aku mau ajak kalian ikut ke acara jalan-jalanku yang padat di Melbourne. Dengan waktu hanya kurang lebih 3 hari, bisakah kita mendapatkan Melbourne experience?

Aku tiba di Tullamarine Airport pada hari Selasa malam, dan langsung menuju penginapan Airbnb dengan Uber. Dari bandara ke CBD, lokasi penginapan kami, harganya kurang lebih AUD50. Dihitung-hitung, masih lebih murah karena kami berempat. Sedangkan harga SkyBus yang biasa dipakai untuk transportasi dari bandara ke city AUD18/orang. Kartu transportasi di sana disebut Myki harus dibeli dengan harga $6, meskipun banyak zona gratis di CBD.

Tidak mau rugi, kami langsung pergi mencari makan malam. Well, karena Melbourne memang terkenal dengan kulinernya, sudah pasti kami mau makan sebanyak mungkin! Hehe (tertawa miris sambil nangis lihat timbangan naik). Our first meal is Hakata Gensuke. Saat kami tiba, antrian masih cukup panjang, padahal sudah jam setengah sepuluh malam. Kami mengantri di luar dengan udara Melbourne yang cukup dingin. Tampaknya, di sana masih winter! Tetapi itu terbayar dengan semangkuk ramen yang lezat dan gyoza yang luar biasa. Di jalan pulang, kami mampir ke Nam Loong Chinese Restaurant yang menjual bakpau telur asin atau Golden Sand Bun. Setelah itu kami jalan balik ke Airbnb dan… nugas, deh (maklum, masih anak uni).

Keesokan harinya, kami road trip. Dengan mudah, kami sewa mobil Go Get seharian dan cabut dari pusat kota Melbourne. Tujuan pertama: St Kilda. Di sana, kami menikmati sarapan siang (brunch) di Matcha Mylkbar. Dengan tema matcha, tempat sarsi (sarapan siang) ini mengintegrasikan teh hijau Jepang itu itu ke berbagai makanan. Mungkin masalah selera, tapi aku pribadi kurang suka. Selain itu, kami melewati Luna Park (serasa di Sydney) dan berfoto di jejeran pohon kelapa (serasa di LA).

Food at Matcha Mylkbar

Selanjutnya, kami pergi ke Brighton, salah satu pantai paling terkenal di Melbourne, atau bahkan di Australia, karena jajaran rumah pantai kecil yang berwarna warni. Seperti kebanyakan turis, kami menghabiskan hampir satu jam berfoto di rumah-rumah itu. Lalu, kami melanjutkan perjalanan ke Mornington Peninsula, tujuan road trip kita hari ini. Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar satu jam dari pantai Brighton.

Kami mengunjungi Enchanted Adventure Garden, yang merupakan kumpulan taman, permainan, maze, dan juga berbagai aktivitas luar ruang. Biaya masuk untuk umum $30. Sejujurnya, rasanya entah sepadan atau tidak. Jika berpergian dengan anak-anak ($20) mungkin sangat sepadan dengan banyaknya permainan luar ruang dan aktivitas yang bisa dilakukan. Tapi, buat kami, yang sudah besar-besar begini, sedikit malu berada di antara anak-anak mengantri untuk naik Tube Slides, perosotan memakai ban.

Kembali ke roda empat, kami melaju ke Cape Schanck. Tempat ini terkenal dengan menara mercusuarnya dan untuk alasan yang baik. Pemandangannya pun sangat indah. Setelah berfoto di sana dan berjalan-jalan di sekitarnya, kami melanjutkan perjalanan ke pantai St Paul’s untuk mengejar matahari terbenam. Sayang, sesampainya di sana, jalan menuju ke pantai sudah ditutup karena air pasang naik. Kami pun hanya bisa melihat dari atas (hiks). Merasa kurang puas, kami pun kembali ke Cape Schanck untuk melihat pemandangannya di waktu malam. Kali ini kami mengambil jaur di samping jalan mercusuar (dari arah parkiran). Nah, setelah berjalan beberapa menit, kami tiba di tangga-tangga menuju ke pantai. Sepertinya, tempat berfoto yang bagus juga di siang hari. Namun, karena malam begini, semuanya gelap gulita (ke sana pun harus pakai senter).

Namun demikian, di kegelapan malam, bintang-bintang di langit terlihat indah sekali (belum bisa dibilang stargazing karena kurang malam). Kami diam di sana beberapa menit sambil memandangi bintang, dengan tubuh menggigil karena dinginnya angin. Tiba-tiba, di sisi seberang, ada sebuah cahaya kemerahan yang memancar.

“Lho, itu matahari?”
“Kan sudah terbenam!”
“Mungkin itu cahaya kota”

Kami kebingungan beberapa saat sebelum akhirnya kami sadar…

“Itu bulan! bulan terbit!”

Kami terperangah melihatnya. Kalau matahari terbit atau terbenam dan stargazing, sudah biasa. Tapi, melihat bulan naik dari ujung ufuk, ini pertama kalinya. For me, this is the highlight of our trip today.

Dengan kelelahan dan kelaparan, kami menuju balik ke CBD. Tempat makan malam kami adalah restoran Thailand yang terkenal di Melbourne, yaitu Jinda Thai. Entah karena sudah kelaparan atau apalah namanya, semua pesanan kami rasanya lezat sekali! Kepiting soka (soft-shell crab) dan ikannya benar-benar patut dicoba. Untuk hidangan penutup, kami pergi ke Pidapipo untuk gelato dan Yo-chi untuk yogurt beku. Tempatnya sangat lucu dan instagrammable, lho!

Di hari ketiga, pagi-pagi kami pergi ke Lune Bakery yang sangat terkenal dengan croissant-nya. Apakah mengantri setengah jam sepadan untuk croissant ini? Silakan Anda yang menimbangnya sendiri. But I guess it’s a must-try thing! Lalu kami sarsi di Sir Charles. Sajian egg benedict-nya sangat lezat, padahal biasanya aku kurang suka telur.

Antrian di Lune Bakery

Di kota, aku mengunjungi State Library of Victoria dan juga Carlton Garden, yang menjadi rumah bagi museum Melbourne dan Royal Exhibition Building. Untuk makan siang, kami pergi ke Menya yang terkenal dengan gyutandon-nya. Kami juga sempat pergi makan Dragon Hot Pot dengan kuah malatang-nya yang lezat dan memesan ayam goreng untuk malam hari.

Akhir perjalananku di Melbourne cukup kalang kabut. Masih banyak tempat yang belum sempat kukunjungi. Well, ini artinya aku harus kembali lagi suatu hari nanti, bukan? Secara keseluruhan, Melbourne has been great. Meskipun cuacanya membingungkan–hujan yang datang dan pergi dalam sekejap–dan perlu penyesuaian dengan transportasi umumnya, banyak sekali tempat menarik untuk dikunjungi dan makanan lezat untuk disantap. Dengan sedih aku meninggalkan kota ini kembali ke Sydney. It has been a great weekend getaway and we’re ready to explore more of Sydney suburbs in All Things Local next month. So be ready! [IM/Natasha Ingelia]

Please follow and like us:
Loading...